
Sebelum membaca, sedikit informasi bahwa akan terdapat adegan kekerasan dalam episode ini.
Dan mohon untuk bijak dalam membaca! ADEGAN BERBAU KEKERASAN / KEJAHATAN TIDAK UNTUK DITIRU!
.......
.......
.......
Namun dalam hitungan detik Rere akhirnya berhenti dari isak tangisnya tersebut. Perlahan ia mengusap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Lukman.
"Kamu benar Lukman, semua akan tetap seperti ini adanya. Karena memang inilah yang terbaik meskipun hatiku enggak sedang baik-baik aja."
kembali menangis dengan sesenggukan.
"Hey Rere! Katanya mau udahan nangisnya?" Lukman berinisiatif agar Rere tak sesenggukan.
Rere langsung bangkit dari bersandar dibahu Lukman dan secara perlahan menghapus air matanya.
"Iya aku enggak akan nangis lagi karena kebahagiaanku adalah saat melihat orang yang aku cinta bahagia." menatap ke arah Lukman.
"Meskipun ..." Lukman mencoba mengetes keikhlasan hati Rere.
"Meskipun kebahagiaannya ...," Rere mengatakannya dengan masih menghadap ke Lukman namun seketika pula langsung beralih ke arah Dimas dan Zalfa dan Rere pun meneruskan perkataannya yang belum terselesaikan,"bukanlah bersama denganku."
Rere masih memerhatikan Dimas dan Zalfa dari arah tak jauh dari tempat ia berdiri bersama Lukman.
"Re, aku akan selalu bersama kamu. Kamu jangan pernah merasa sendiri!" Lukman mengatakan kepada Rere dengan begitu tulus tapi Rere hanya diam dan berusaha tak mengerti maksud perkataan Lukman padanya.
Lukman tau kalau Rere sebenarnya tau maksud perkataannya tapi Rere belum mau menerimanya.
__ADS_1
Lukman pun berucap dalam hatinya, "Aku akan membahagiakan kamu dengan caraku dan dengan cintaku untuk kamu Rere, dan suatu saat aku yakin kamu pasti akan bisa menerimaku dan mencintaiku."
Sementara itu, di salah satu sudut yang jarang dijangkau orang, seseorang dengan mengenakan pakaian serba hitam serta dengan mengenakan jaket kulit dan topi yang menutupi wajahnya, seseorang itu menyembunyikan dirinya dengan tangannya yang sudah memegang senjata api yang telah terisi peluru di dalamnya, bahkan ia juga mengawasi baik-baik gerak gerik dari sasarannya.
Sesaat ia ragu melakukannya tetapi begitu mengingat sesuatu yang membuatnya begitu marah dan emosi, jari telunjuknya langsung memegang kendali senjata itu. Sesuatu yang selalu mengiang-ngiang di kepalanya dan sesuatu itu adalah...
Saat di hari kemarin, saat ia kembali bertemu dengan Zalfa di stasiun kota S. (Episode "Cincin Pengganti").
Saat ia hendak memperbaiki sekaligus memulai hubungannya kembali dengan Zalfa, dan saat itu pula derap langkah kaki seseorang dan sentuhan yang sedikit mencengkeram dari belakang merusak niat awalnya yang tak sengaja bertemu dengan Zalfa kembali setelah cukup lama. Belum lagi, kata-kata dari seseorang itu membuat Edo sangat marah kalau boleh jujur tapi ia menahannya karena dia sedang di stasiun saat itu.
"Tolong lepaskan tangan kotor kamu itu dari Zalfa!" titah laki-laki berjaz hitam dengan tegas kepada Edo dan membuat Edo sangat ingat betul perkataan tersebut. Karena tak mau diamuk masa, Edo yang tau akan profesi dari laki-laki yang menegurnya, ia beringsut melepaskan tangan Zalfa dan meminta maaf.
Sementara itu laki-laki berjaz hitam itu menegaskan kembali kepada Edo, "Tolong kamu jauhi Zalfa karena Zalfa sekarang adalah milik saya!"
Saat itu Edo menatap tak percaya, dan seseorang itu kembali memberi penegasan padanya agar ia percaya, "Iya, kamu tidak percaya? Apa kamu fikir, Zalfa masih sendiri dan belum bisa move on dari laki-laki seperti kamu begitu?"
Hari itu karena tak mau dikepung massa di stasiun kereta api tersebut, Edo langsung beranjak pergi tanpa merespon perkataan dari laki-laki berjaz hitam yang tak lain dan bukan adalah Dimas, lebih dulu. Namun hari ini ia sudah menyusun rencana membalaskan rasa sakit dan tidak terimanya kepada Dimas.
...
"Kamu fikir, kamu bisa miliki Zalfa? Kalau aku enggak bisa miliki Zalfa kembali maka kamu pun demikian Pak Kondektur yang terhormat."
"Sekarang terimalah akibat dari rasa percaya diri kamu yang bisa memiliki Zalfa." ucapnya melanjutkan kembali perkataannya.
Dan ditempat yang masih sama, Dimas dan Zalfa masih saling memeluk. Beberapa saat setelahnya Dimas tersadar ia telah melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan sebelum ada kata "Halal" diantara ia dan Zalfa. Ia pun secara perlahan merenggakan pelukan mereka.
Bersamaan dengan Dimas yang hendak merenggangkan pelukannya, kini tangan seseorang (Edo) yang berpakaian serba hitam itupun sudah siap melepas peluru yang sudah terpasang dalam senjata yang ia pegang, dan bagai dihitung hitungan mundur 3, 2,1... tangannya menarik titik inti yang dapat melepas peluru yang ada dalam senjata itu, dan...
Dorr ... Dorr!
Dan dengan begitu cepatnya sesuatu yang tak pernah terlintas pada Dimas ataupun seseorang yang ada di stasiun, sesuatu telah terjadi dengan begitu nyata saat itu juga.
__ADS_1
Satu kali senapan peluru berhasil menebus tubuh belakang Zalfa. Niat awal Dimas yang ingin melepas pelukan mereka, seketika berpindah menyentuh luka Zalfa yang terkena tembakan tepatnya luka tembakan tersebut mengenai punggung Zalfa bagian atas. Dan tangan Dimas pun kini bersimpuh darah segar yang keluar dari punggung Zalfa.
Bu Anis yang hendak melerai agar mereka tidak lama-lama dalam berpelukan, belum sempat ia melerai ia dikagetkan dengan bunyi suara tembakan dan tangan anaknya yang bersimpuh darah mengetahui Zalfa lah yang tertembak.
Bukan hanya Bu Anis, Pak Wijaya, Ayunda juga Bu Ambar dan Ica mereka pun sangat shock melihat kejadian nyata di depannya saat ini.
Begitu tau bahwa yang terkena tembakan itu adalah Zalfa, seketika itu pula Dimas layu tak berdaya melihat wanita yang dicintainya bersimpuh darah di atas pangkuannya.
Ditempat itu Dimas menjerit merasa sesak dan pilu saat baru saja ia hendak mengantarkan Zalfa ke kereta yang ditujunya tapi satu peluru berhasil menembus tubuh Zalfa. Dan Zalfa pun tersungkur dalam pangkuan Dimas. Sebelum pingsan Zalfa mengucapkan sesuatu pada Dimas.
"Pak Dimas ... Pak Dimas ja ... jangan menangis! Sa ... saya akan ba ... ik-baik saja. Bu ... bukankah kamu sudah berjanji akan mencintai, memiliki dan menyayangi sa ... saya karena Allah?" ucap Zalfa masih tersadar dengan menahan rasa sakit ditubuhnya karena luka tembakan.
"Iya Zalfa, iya. Saya mencintai kamu karena Allah, saya ingin memiliki kamu karena Allah dan saya menyayangi kamu karena Allah." Dimas merasa begitu hancur dan sebisa mungkin berusaha menahan darah yang keluar dari pundak atas Zalfa yang terkena tembakan,"Jangan pergi dari saya Zalfa, jangan! Kamu, kamu enggak boleh pergi, Zalfa! Enggak boleh! Kamu harus bertahan Zalfa! Kamu harus bertahan!"
Dimas panik dan tak serasa hidupnya ikut terhenti saat itu juga.
"Bukankah kamu ingin kita segera menikah?" Dimas yang masih berusaha membuat Zalfa agar tetap kuat dan bertahan untuk masa depan yang mereka rencanakan.
Zalfa yang masih tersadar sekuat tenaga ia berusaha untuk meraih tangan Dimas dan menggenggamnya erat-erat. Dalam genggaman tersebut Zalfa berucap,
"Pak ... Dimas terimakasih sudah mencintai Zalfa," Zalfa dengan cukup terbata-bata karena menahan rasa sakit luka tembakan ditubuh belakangnya,"Zalfa juga mencintai ..." belum sempat Zalfa meneruskan ucapannya, Zalfa langsung memejamkan matanya (pingsan) di detik itu pula dengan tangannya yang sempat menyentuh wajah Dimas.
Tangan yang semula menggenggam dan menyentuh Dimas pun terkulai lemas dan jatuh begitu saja. Dan Dimas benar-benar panik begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya termasuk kedua orang tuanya dan Mama Zalfa yang masih ditenangkan oleh Ica.
"Tidak ... tidak! Ini tidak mungkin! Zalfa bangun, bangun Zalfa! Kamu jangan tinggalkan saya Zalfa jangan!" Dimas menggoyangkan tubuh Zalfa yang sudah pingsan.
"Zalfa kamu harus kuat dan bertahan!" Dimas merapikan pasmina yang dikenakan oleh Zalfa dan
membopong tubuh Zalfa ke mobil ambulans.
Rere dan Lukman saling tatap. Dalam tatapannya mereka seolah-olah saling bertanya bagaimana ini semua bisa terjadi?
__ADS_1
Tak mau menghabiskan waktu karena terlalu banyak berfikir, Rere dan Lukman memilih untuk segera membantu Dimas. Dan berusaha akan turut serta mencari tau dan menangkap pelaku penembakan tersebut.