Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Siapa dia?


__ADS_3

Di beberapa masjid, dimana waktu fajar subuh telah datang, bedug bergema dengan suara khasnya, dan adzan subuh pun berkumandang dengan indah nan syahdunya.


Dingin mencekam tak menyurutkan kegigihan sepasang kekasih halal yang sedang berjauhan untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai muslim.


Waktu subuh datang dan doa mereka panjatkan untuk satu sama lain karena dengan doa yang jauh pun terasa dekat. Begitulah kata Dimas dan Zalfa.


Rapalan doa terlukis indah keluar dari lisan mereka. Mereka tak bersama tapi hati mereka selalu bersama. Mereka jauh tapi hatinya selalu dekat.


Tidak ada yang paling baik untuk dilakukan usai subuh sebelum menjalankan aktivitas yaitu selain dengan membuka hari itu dengan membaca Ayat suci Al-Quran walaupun hanya 1 halaman ataupun 5 ayat.


Lantunan ayat suci terlafadzkan dari lisan Dimas dengan fasihnya. Jauh disana Zalfa pun turut melafazkan meskipun tidak sefasih Dimas suaminya. Tapi membaca Ayat suci Al-Quran memberikan ketentraman baik itu untuk yang bacaannya fasih ataupun sedang.


Pagi yang cerah, dimana Dimas dan Zalfa mereka sudah saling bersiap dengan mengenakan seragam dinas masing-masing meskipun tidak ditempat yang sama. Jaz hitam kebanggaan sudah rapi ia kenakan begitu pun tap/topinya. Dimas begitu terlihat tampah dan penuh karisma saat ini. Sejenak, pandangannya beralih ke handphone yang berada dinakas. Tangannya asik membuka handphonenya. Mencari ID kontak nama istrinya untuk berkabar pagi dengannya.


Di depan cermin Zalfa sedang merapikan kembali pasmina yang ia kenakan. Tak terlupa ia menyematkan bross pemberian Dimas untuknya. Begitu menyelesaikan masalah penampilan, pandangan Zalfa teralihkan dengan panggilan video call dari suaminya. Bahagia jadi satu saat mereka bisa melihat wajah satu sama lain walaupun secara virtual. Tak ubahnya seperti tadi malam mereka saling menyemangati dan mengungkapkan perhatian dan cintanya satu sama lain dalam berlangsungnya panggilan video call tersebut.


Suasana pagi yang selalu menjadi sahabat bagi Dimas dan Zalfa. Pagi yang hangat sehangat sinar matahari yang menyinari disertai sehangat semangat sepasang suami istri yang saling berkabar dan menebar energi positif antara satu sama lain meskipun berjauhan.


"Cantik banget sih ... Bidadari surgaku ...!" Dimas dalam video call pagi itu dengan Zalfa.


"Emm ... bisa aja mujinya!" Zalfa tak tergoda.


"Beneran Fasya!"


"Oh ya Fasya, aku udah siapin sesuatu buat kamu. Kamu tunggu kejutannya ya nanti!"


"Kejutan? Kejutan apalagi Mas? Kamu sering banget sih kasih kejutan?" Zalfa merengek antara suka dan tak tak suka.


"Kejutannya enggak terlalu besar kok sayang, kejutan sederhana tapi penuh makna."


"Tuh kan, kalau aku jadi kangen sama kamu, kamu harus tanggungjawab, titik!"


"Iya ntar aku tanggung jawab pokoknya, bahkan kalau kamu hamil pun aku dengan senang hati akan tanggungjawab." Dimas kemana-mana.


"Hust ... Mas! Jangan keras-keras donk! Ntar Ica denger, enggak baik nanti!"


Mereka pun saling melempar tawa kecil dari panggilan video call tersebut.


Diam sejenak, tiba-tiba Dimas menampilkan senyuman yang membuat Zalfa bertanya-tanya,

__ADS_1


"Kenapa tersenyum gitu Mas?"


Dimas menggelengkan kepalanya masih dengan senyum yang sulit diartikan.


Zalfa semakin tau maksud senyuman Dimas itu.


"Besok kalau kamu cuti kita honeymoon ya Mas, okay?"


Mata berbinar, wajah antusias penuh semangat, ekspresi sumrigah tampak pada Dimas saat mendengar apa yang Zalfa katakan. Seulas senyum yang diberikan oleh satu sama lain menjadi penutup panggilan video call tersebut.


Dimas dengan wajah sumringah serta semangat berjalan keluar dengan motornya menuju stasiun.


Begitu sampai di stasiun ia menghubungi seseorang untuk mengirimkan buket bunga yang ia pesan untuk Zalfa sesuai saat Zalfa tiba di sekolah tempat Zalfa mengajar. Seseorang itu pun mengangguk siap sesuai intruksi. Mendapat jawaban yang memuaskan Dimas tak lupa berterimakasih pada seseorang itu, "terimakasih Pak!"


Panggilan berakhir dan Dimas dikagetkan dengan kedatangan Lukman yang cukup tiba-tiba.


Dimas geleng-geleng dan Lukman malah menampilkan ekspresi ingin tau apa yang baru Dimas lakukan.


"Enggak boleh kepo dengan urusan suami orang!" Dimas menjawab ekspresi Lukman dan Lukman malah tersenyum kecut sekarang.


"Ehem ... Iya deh, yang sudah jadi suami dan menikmati masa pengantin barunya!" Lukman dengan wajah datar dan santainya.


"Kamu bener Dimas! Aku harus segera bertindak sebelum aku keduluan sama orang lain!"


"Bener tuh, kamu harus segera bertindak Lukman!" Rere datang tiba-tiba dengan membawa kotak makanan ditangannya.


Lukman pun bahagia bukan main saat mendengar jawaban Rere. Oh apakah ini kode? Fikir Lukman. Kode atau aba-aba jika Rere siap kalau Lukman serius padanya.


Dengan cukup ragu tapi dengan diliputi rasa kekuatan cinta yang lebih dominan, Lukman memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


"Re, kamu denger pembicaraanku sama Dimas?" Lukman ingin membuktikan kalau ucapan Rere merupakan kode karena Rere mendengar pembicaraannya dengan Dimas.


Rere melihat ke arah wajah Lukman dan mengangguk mengiyakan apa yang Lukman tanyakan.


"Berarti, kamu, kamu siap aku seriusin? Maksudnya aku halalin?" Lukman masih serasa begitu tak percaya.


"Ih, Lukman! Tanyanya kok gitu sih?" Rere cukup sebal," mana ada perempuan yang enggak mau diseriusin? Justru perempuan itu pinginnya langsung diserusin sebagai tanda kesungguhan laki-laki itu mencintainya."


"Baiklah, aku akan bilang ke orang tua aku dan kamu bilang ke orang tua kamu, setelah itu kita atur pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan kita? Gimana?"

__ADS_1


Dengan wajah merona sekaligus bahagia Rere mengangguk secara malu-malu didepan Lukman.


Dan Lukman, ia benar-benar bahagia dan semangat lagi itu sama halnya dengan Dimas.


Dengan cepat Lukman menyusul Dimas yang sudah berjalan lebih dulu karena tidak ingin menganggu perbincangannya dengan Rere.


"Lukman tunggu!" Rere tak sengaja memegang lengan Lukman yang berbalut jaz.


Lukman menghentikan langkahnya, menolong Rere yang hampir saja terpeleset karena berlari secara terburu-buru.


Beberapa menit berlalu Lukman dan Rere berdiri dengan tegap seperti sedia kala. Rere menyerahkan kotak makanan yang ia bawa kepada Lukman.


"Terimakasih ya Re!" Lukman menerimanya.


"Sama-sama." Rere dengan senyum bahagianya dan beranjak pergi.


Dari peron per peron dengan berjejer rapi dan teratur kereta sudah siap.


Dimas dan Lukman, serta ada seorang kondektur wanita yang masih cukup muda dan terlihat baru juga hadir dan siap untuk apel sebelum keberangkatan masing-masing kereta.


Dimas dan Lukman masih fokus pada apel masing-masing dari mereka, tanpa tidak ingin begitu tau tentang wanita muda yang menjadi kondektur baru di DAOP mereka saat ini.


Sejenak perempuan itu juga tidak terlalu mau tau, tapi sebagai kondektur baru ia butuh menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerjanya.


Dengan ramah ia mencoba menyapa Dimas maupun Lukman, tapi itu tak terjadi karena Dimas dan Lukman sudah lebih dulu memasuki kereta dimana mereka bertugas.


Rere yang kembali ke stasiun karena ada urusan mendadak, ia secara tak sengaja melihat akan gerak gerik kondektur perempuan itu dari arah tak jauh.


"Siapa dia?"


Rere masih cukup mengawasi, "apa kondektur baru?" Rere masih memantau tadinya, tetapi karena kondektur perempuan itu sudah tak terlihat, maka Rere pun memilih langsung masuk ke salah satu tempat untuk menyelesaikan beberapa urusannya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


Selamat datang bulan Maret, semoga di bulan Maret ini banyak kebaikan dan keberkahan yang menghampiri kita semua ya readersku tersayang.🤗


Tetap semangat & bersyukur!


Jangan lupa bahagia!

__ADS_1


See you in the next episode!😊


__ADS_2