
Tidak ada yang tau bagaimana keadaan hari ini ataupun esok setiap manusia. Yang pasti mengusahakan yang terbaik dalam setiap kenikmatan disetiap harinya merupakan hal yang harus kita lakukan. Mensyukuri dengan memberikan yang terbaik dengan cara yang terbaik pula.
Dimas dan Zalfa menerima permintaan maaf Meta. Mereka juga berterimakasih kepada Meta sudah bersedia menjadi pendonor untuk Bu Ambar.
Zalfa memandang Meta dengan mata yang berkaca-kaca dan meluapkan isi hatinya,
"Bu Meta saya ucapkan terimakasih banyak atas apa yang sudah Bu Meta lakukan untuk saya dan Mama saya."
"Sama-sama Bu Zalfa." Jawab Meta kemudian ia juga berterimakasih karena Zalfa dan Dimas sudah menerima maafnya, "terimakasih juga, karena kalian semua mau memaafkan apa yang sudah terjadi."
"Sintia sekarang sudah menerima hukuman yang sudah seharusnya didapat." Meta melanjutkan pembicaraannya. Dan untuk sesaat Meta tak bisa menahan air matanya yang lolos begitu saja dari kedua pipinya.
Zalfa memeluk Meta kembali. Berusaha menenangkan dan menguatkannya.
"Tapi tidak papa, dia harus mendapatkan hukuman itu agar dia sadar. Dan saya, meskipun begitu, saya akan selalu ada bersamanya."
"Tidak salahkan Bu Zalfa kalau saya tetap peduli pada Sintia?" Meta yang merasa kalut dengan apa yang sudah terjadi namun dalam hatinya ia juga tidak bisa jika harus mengabaikan Sintia.
"Tentu tidak Bu Meta. Bagaimanapun kalian memiliki ikatan hati dan ikatan hati tidak bisa terlepas begitu saja apapun yang terjadi." Tutur
Zalfa dengan halus seraya memberi semangat ke Meta agar tidakk larut dalam rasa sesak dalam hatinya menerima kenyataan yang ada didepannya.
...----------------...
Beberapa hari kemudian...
Bu Ambar sudah semakin membaik.
Zalfa dan Dimas begitu senang dan bahagia melihat perkembangan pada kondisi Bu Ambar.
"Mama" Zalfa memeluk Mamanya posesif begitu pula Bu Ambar memeluk Zalfa dengan erat.
Serasa cukup untuk berpelukan, Bu Ambar mengalihkan perhatiannya kepada sosok lelaki yang berdiri tegak disamping Zalfa.
Bu Ambar pun menyunggingkan senyuman saat mendapati kalau kini putrinya tidak lagi sendiri. Putrinya sudah mempunyai imam yang selalu menjaga dan membimbingnya.
"Mama, mulai sekarang harus makin sehat dan kuat, ya Ma!" Zalfa mengingatkan
"Lihat! sekarang menantu idaman Mama sudah sah menjadi suami Zalfa." Zalfa mengalihkan pandangannya ke Dimas.
Bu Ambar menganggukkan kepala seraya tersenyum. Dalam hati ia benar-benar merasa bersyukur atas bermacam-macam nikmat yang Allah berikan padanya. Nikmat sehat, nikmat memantu dan masih banyak lagi yang tidak bisa ia hitung bagaimana pun caranya karena sanking banyaknya.
Dimenit berikutnya Zalfa dan Dimas mendekat dan menghamburkan diri mereka untuk memeluk Bu Ambar.
Semuanya telah kembali baik-baik saja. Bu Ambar sudah semakin membaik, begitu juga dengan Meta yang sekarang menjadi pasien istimewanya Dokter Rubi guna pemulihan Meta secara total setelah menjadi pendonor.
...----------------...
Hari demi hari telah berlalu. Zalfa tetap selalu setia menjaga dan merawat Mamanya. Sedangkan Dimas sudah mulai bekerja kembali.
Hari itu, Zalfa masih menyuapi Mamanya dengan begitu telaten.
Bu Ambar mengamati secara dalam wajah putri kecilnya yang sekarang sudah dewasa dan menjadi seorang istri.
Tangan lembutnya meraih wajah Zalfa.
"Fa!"
"Iya, Ma." Melihat dan menjawab panggilan sang Mama.
"Kamu tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan suamimu?"
Zalfa hanya menunduk tak tau harus menjawab apa. Dalam hati ia begitu ingin bisa menghabiskan waktu bersama Dimas walaupun hanya untuk makan bersama.
__ADS_1
"Fa, sudah cukup. Sudah cukup selama ini kamu selalu menghabiskan waktumu bersama Mama."
"Sekarang, pergi dan siapkan kejutan spesial untuk suamimu."
"Kejutan spesial?"
Bu Ambar mengangguk dengan senyum kebahagiaan yang terlukis diwajahnya.
Zalfa berfikir kejutan spesial seperti apa yang akan ia berikan pada Dimas.
"Kak, lihat deh, di sini ada restoran yang menyajikan pemandangan yang eksotis banget!" Ica yang tiba-tiba datang langsung menunjukkan beberapa foto di instagram yang menunjukkan tempat makan dengan panorama alam yang luar biasa indahnya, ditambah lagi yang spesial dari restoran itu adalah di restoran tersebut terdapat pemandangan kereta melintas yang terlihat dengan jarak tidak jauh dan tidak terlalu dekat dari restoran tersebut.
Foto-foto yang ditunjukkan oleh Ica seketika itu langsung membuat Zalfa menemukan ide kejutan yang akan ia berikan kepada Dimas.
"Terimakasih Ica, kamu sudah memberi kakak ide." Memeluk Ica dengan senangnya.
Dengan segera Zalfa meraih tas selempangnya dan hendak pergi dari ruangan Mamanya.
Belum sempat Zalfa benar-benar keluar dari ruangan tersebut, ia menengok ke belakang dan menghampiri Mamanya kembali.
Meraih tangan Mamanya seraya meminta izin untuk keluar dan menyiapkan kejutan untuk Dimas.
Dengan senang hati Bu Ambar mengangguk dan mengiyakan putrinya untuk mempersiapkan kejutan untuk Dimas.
"Ica, Kakak titip Mama ya. Tolong jaga Mama dulu!"
Memegang tangan Ica.
Ica pun memegang tangan Zalfa seraya mengangguk dan tersenyum sebagai tanda agar Zalfa tak perlu khawatir karena Bu Ambar akan baik-baik saja bersamanya.
Zalfa menaiki taksi dan pergi ke tempat dimana restoran itu berada. Mula-mula ia mengabari Dimas agar cepat kembali ke kota M setelah menyelesaikan beberapa urusannya di kota S.
Zalfa memasuki restoran menemui manajer restoran. Ia pun menyampaikan rencana kejutan yang ingin ia berikan untuk suaminya. Manager restoran pun mengizinkan Zalfa untuk ikut memasak didapur restoran dengan beberapa syarat yang Zalfa setujui pula.
Raut wajah sumringah pun terpancar diwajah Zalfa saat itu, dengan segera ia mencoba menghubungi Mama mertuanya agar mengirimkan resep masakan yang sering mertuanya siapkan untuk Dimas.
...----------------...
Biasanya seorang wanita yang akan diajak ke suatu tempat dengan ditutup matanya dengan penutup mata, tapi kali ini seorang laki-laki tengah berjalan mengikuti arah petunjuk dari perempuannya.
Disebuah tempat berpanorama begitu indah, dengan suasana alam, sejuk menentramkan hingga mengusik hawa tubuh Dimas yang merasakan terpaan angin sejuk nan sepoi mengenai kulitnya yang saat itu mengenakan kaos pendek berwarna hitam.
Perlahan, Zalfa yaitu perempuan yang menjadi petunjuk arah Dimas, ia membuka penutup mata Dimas dari arah belakang.
Takjub dan terkejut itulah yang Dimas rasakan untuk pertama kalinya saat ia melihat dua kursi dengan satu meja disertai makanan yang tersaji diatas meja yang dihiasi berbagai mawar disetiap sudut mejanya. Sepasang minion bergambar kereta digabungkan dengan minion berbentuk sepasang pengantin membuat Dimas cukup terkesiap saat melihat apa yang Zalfa siapkan untuknya.
Perlahan, Zalfa mengambil hiasan minion yang sengaja ia letakkan di atas meja itu.
Ia mengambil dan menunjukkannya ke Dimas.
Dimas tersenyum dalam haru dan rasa bahagia yang sulit untuk ia definisikan. Diberi kejutan seperti itu oleh Zalfa adalah moment yang sungguh diluar dugaan Dimas, karena Dimas tak mau menyusahkan Zalfa. Dalam hidupnya yang ia inginkan hanyalah membahagiakan Zalfanya seorang.
"I love you my husband!" Zalfa berjinjit mendekatkan wajahnya dengan wajah Dimas.
Hanya dengan hitungan detik, Dimas langsung mengangkat tubuh Zalfa sambil memutar-mutarnya dan berkata,"Iove you more my wife Zalfa Aristya Az zahira" Dengan suara yang cukup lantang dan beberapa kali Dimas mengucapkannya.
Suasana senja kala matahari menampakkan sinar meganya membersamai kebersamaan dan keromantisan sepasang suami-istri baru itu.
Mereka berdua masih saling tersenyum dengan diiringi suasana senja yang menyeruak masuk menyertai keduanya.
Deru transportasi darat dengan suara lokomotif khas yang menyertai transportasi itu, membuat Dimas dan Zalfa fokus pada transportasi yang melintas dari arah tak jauh dari mereka.
"Wow, sayang kamu menyiapkannya dengan sempurna!"
__ADS_1
"Iya, ini hanya untuk kamu seorang, suamiku sayang!"
"That is train?" Dimas.
"Yes, is that!" Zalfa.
Mereka menikmati pemandangan kereta yang melintasi tempat dimana mereka menikmati waktu bersama hari itu. Ya, biasanya Dimas selalu menjadi pelaku utama dalam kereta itu, hari ini ia bisa menikmati momen yang tidak biasa baginya. Apalagi bersama wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Nikmat mana lagi yang akan ia dustakan? Itulah yang terlintas dalam benak Dimas saat ini. Bisa menikmati deru kereta dan melihatnya secara langsung dari jarak yang tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat, apalagi bersama Zalfa adalah karunia dan nikmat terindah untuknya.
"This is amazing, Fasya!"
"Sesuatu yang luar biasa untuk seseorang yang luar biasa juga!"
"Terimakasih Fasya."
"Fasya?" Zalfa menaikkan sedikit alisnya mencoba berfikir apa itu Fasya.
Dimas mengangguk.
"Apa itu Fasya?" Zalfa masih ingin tau.
Sebelum menjawab lebih dulu Dimas menarik kursi dan membawa Zalfa agar duduk di kursi tersebut.
Dimas ikut duduk. Meraih tangan Zalfa dan mengatakan apa makna dari Fasya.
"Fasya adalah Zalfa sayang" Menatap dalam manik mata Zalfa. Dan beberapa saat kemudian, sedikit mengangkat lehernya untuk mengecup kening wanita yang telah sah menjadi istrinya didepannya.
Makanan yang terjasi dengan begitu lezat mereka nikmati bersama
Kelezatan yang tidak seperti biasanya menggoyang lidah Dimas saat merasakan rasa yang berbeda dari masakan di restoran itu.
"Ini, seperti masakan rumahan dan ini rasanya seperti masakan ..." Dimas masih mencoba menebak.
"Mama Anisa." Sambung Zalfa.
Dimas mengangguk dengan ekspresi masih tak menyangka bagaimana bisa seperti ini. Fikir Dimas.
Zalfa memotong dan Menyendokkan makanan ke arah Dimas. Lantas, ia memberitahu bagaimana makanan yang Dimas makan bisa sama persis rasanya dengan masakan Bu Anisa Mamanya.
"Mama kasih tau ke aku resep makanan yang sering Mama buatin buat kamu, terus aku coba masakin kamu di dapur restoran ini. Dan ini hasilnya!"
"MasyaAllah, mungkin inilah definisi dari istri shalihah!"
Dimas memotong dan menyendokkan makanannya untuk Zalfa.
Dengan senang hati Zalfa menerima suapan dari Dimas. Lalu, apa yang dilakukan Dimas setelahnya? Dimas kembali mengecup kening Zalfa yang terbalut pasmina.
Dan mereka begitu menikmati moment kebersamaan mereka di sore hari itu. Deru kereta melintas juga turut menemani kebahagiaan mereka saat megunyah dan menikmati hidangan makanan yang di meja mereka.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫...
Sebelumnya, selamat tahun baru yaa!
Heheh maaf yaa mungkin telat juga ngucapinnya 😁✌
Emm, mumpung masih di bulan Januari nih, aku pingin semoga kita semua semakin baik lagi ditahun 2023 ini.
Selamat malam!
Selamat membaca!
Semoga bahagia dan terhibur!
__ADS_1
𝓦𝓪𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫
🥰😉👋