Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Ah, suasana senja sore hari itu benar-benar melengkapi kebahagiaan Dimas dan Zalfa.


Tentunya disini Dimaslah yang lebih, lebih dan lebih bahagia. Ya, bagaimana ia tidak bahagia? Zalfa memberinya sebuah kejutan yang tak pernah terfikirkan olehnya. Dan ia juga baru tau kalau Zalfa ternyata begitu romantis.


Langit senja mulai meredup dan berganti malam hari. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, tak ingin kehilangan momen romantis dan kebersamaannya itu, maka mereka menutup makan malam berbalut nuansa senja itu dengan sebuah pelukan. Pelukan pasangan yang halal yang masih berlebel pengantin baru.


"Fa, terimakasih untuk kejutan yang luar biasa ini!"


Zalfa tak mengatakan apapun ia hanya memilih menganggukkan wajahnya dalam dekapan dada bidang Dimas. Dan Dimas pun dapat mengetahui dan merasakannya walaupun Zalfa tak menjawab ucapan terimakasihnya.


"Aku bahagia sekali Fa! Aku benar-benar bahagia! Aku bisa memiliki kamu dalam hati dan hidupku!"


Zalfa mulai merenganggkan pelukan mereka. Ia menatap dalam Dimas dengan membalas apa yang Dimas katakan padanya,"Aku juga bahagia bisa memiliki kamu dalam hidup dan hatiku."


"Iya? Lantas, seberapa besarkah tempatku di hatimu Fasya?" Melakukan hal yang sama dengan yang Zalfa lakukan padanya.


Bukannya langsung menjawabnya, Zalfa malah tersenyum dan menampilkan barisan giginya yang bersih dan rapi itu. Dan membuat Dimas semakin gemas padanya.


Mendapat tatapan misterius dari Dimas, Zalfa malah tiba-tiba berlari dengan wajah blushing dikedua pipinya. Dengan cepat Dimas berhasil mengejar dan berada tepat didepan Zalfa.


Dimas menggelengkan kepala dengan senyum kemenangannya karena merasa berhasil menghentikan Zalfa yang ingin memperlambat untuk menjawab pertanyaan yang ia berikan.


Kalau Dimas menampilkan senyum kemenangannya yang dilakukan Zalfa pun sekarang demikian. Ia juga tersenyum bahagia walaupun artinya ia harus segera menjawab Dimas.


"Kamu adalah juara dihatiku!"


"Sampai kapan?" Sorot mata antara keduanya bertemu.


"Akan selalu seperti itu sampai kapanpun itu." Zalfa.


Pernyataan dan jawaban dari Zalfa membuat Dimas runtuh dalam pertahanannya, membuat ia cukup terbuai, namun untung saja Zalfa berhasil lolos dari Dimas dan akhirnya mereka pun benar-benar pergi dari tempat itu.


Menyusuri jalanan kota M dengan menaiki sepeda motor bersama Dimas melengkapi kebersamaan mereka setelah makan bersama dengan tema nuansa senja tadi.


Rasa bahagia tak membuat Dimas lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menunaikan ibadah shalat maghrib. Dimas pun membelokkan motornya ke masjid yang berada tepat di kiri jalan raya yang mereka lewati bersama.


Jamaah sudah berhamburan pergi karena waktu jamaah shalat maghrib di masjid tersebut sudah selesai. Dan akhirnya mereka pun shalat jamaah berdua di masjid itu. Moment seperti inilah yang paling Zalfa suka dan inginkan dalam hidupnya dan kini menjadi kenyataan. Keduanya pun khusuk dalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim dan muslimah.


Langit yang semula cerah dengan cepat berubah menjadi awan mendung dan belum sempat mereka melanjutkan perjalanannya ternyata hujan berpesan kepada mereka agar bersabar dan bisa menghabiskan waktu bersama lagi.


Masjid yang begitu indah, besar dan megah, bergaya ala Timur Tengah dengan dipadukan nuansa Nusantara Indonesia menyajikan suasana tersendiri untuk mereka berdua. Mereka pun memilih bersabar menunggu hujan reda karena mereka juga tidak membawa mantel hujan.


Menunggu sambil melihat, mendengar, dan menghirup aroma hujan adalah hal yang sangat Zalfa suka. Membuat ia teringat pula akan kenangan masa kecilnya saat bersama Papanya.

__ADS_1


Saat itu ia bersama Mama dan Papanya sedang menikmati waktu libur bersama. Saat selesai jalan-jalan mengelilingi kota S kota dimana ia tinggal dan dilahirkan, dalam perjalanan pulang tiba-tiba hujan datang dan mereka tidak membawa jaz hujan. Akhirnya mereka berhenti disebuah tempat makan yang menjual bakso, mie ayam dan Tomyam juga ada dalam daftar menu warung makanan itu. Suasana makan Bakso dan mie ayam dan tomyam bersama Mama dan Papanya saat itu benar-benar begitu berbeda dan istimewa untuknya.


Zalfa memang teringat akan kenangan manisnya bersama Papanya, tapi ia tak menyangka kalau akan ada aroma bakso dan mie ayam menganggu indera penciumannya saat ini. Ternyata menikmati hujan di teras Masjid membuat ia tak cuma menikmati aroma hujan tetapi juga bakso dan mie ayam. Bagaimana bisa ada aroma bakso dan mie ayam? Yang terlintas dibenak Zalfa begitu indra penciumannya memainkan perannya.


Ternyata tak jauh dari masjid itu ada semacam tempat makan yang berukuran cukup luas yang menjual bakso, mie ayam bahkan tomyam juga.


Meskipun sudah makan nyatanya aroma bakso, mie ayam dan tomyam terlebih lagi berbalut dengan kenangannya membuat Zalfa ingin memakannya saat itu juga. Zalfa pun memanggil dan menegok Dimas yang semula ada di sampingnya. Tetapi, saat Zalfa melihat di samping kanan dan kirinya tenyata Dimas tidak ada disebelahnya. Saat melihat ke arah tempat yang menjual bakso, mie ayam dan tomyam tersebut terlihatlah Dimas yang sedang memesan makanan entah itu bakso, mie ayam atau tomyam.


Begitu Zalfa tau keberadaan Dimas, maka dengan cepat dan tanpa fikir panjang Zalfa langsung menerobos hujan dan menghampiri Dimas di tempat makan bakso, mie ayam dan tomyam itu.


Dimas menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar, ia cukup tak suka dengan apa yang Zalfa lakukan.


"Mas Dimas, please jangan marah!"


"Orang cuma kehujanan dikit aja kok, nih lihat bajuku masih kering dan enggak basah-basah banget!" Mencari pembelaan.


"Don't worry! Please!" Memegang tangan Dimas.


Senyuman sememukau bulan sabit pun menghiasi wajah Dimas.


Mereka sudah duduk ditempat yang mereka pilih.


Di dua kursi dengan meja bulat ditengahnya. Mereka kembali makan bersama, dan menghabiskan waktu bersama.


"Gimana, enak?"


"Alhamdulillah, kalau kamu suka Fasya."Dimas


Ikut berbahagia.


"Tomyamnya enak banget Mas, semua rasanya itu menyatu dan enggak bikin nyesel pokoknya."


"Kamu udah seperti endorsement aja sih sayang?" Dimas menggodanya.


Zalfa mencubit pelan dan gemas lengan Dimas saat itu.


Lengkap rasanya pemandangan yang mereka dapat dihari itu. Mereka bisa makan bersama sambil melihat pemandangan kereta melintas dikala senja dihari itu, dan sekarang mereka bisa makan bersama sambil melihat pemandangan trasportasi darat yang beroperasi serta hilir mudik silih berganti yang menlintas jalan raya tersebut. Sorot lampu pada transportasi yang melintasi jalan raya di malam hari bersamaan dengan hujan rintik-rintik yang turun menjadi hal menyejukkan sekaligus menentramkan untuk Dimas dan Zalfa. Menjadi momen-moment mengesankan dan tak terlupakan untuk keduanya.


Makan malam yang begitu mengesankan itu menjadikan Zalfa terfikirkan akan sesuatu.


"Mas, boleh enggak aku ngomong sesuatu ke kamu?"


Dimas langsung mengernyitkan dahinya, dan tak lama kemudian memegang dan memberi ruang untuk Zalfa mengatakan apapun yang ingin Zalfa katakan padanya.

__ADS_1


"Tapi, kamu janji jangan marah ya, Mas ...?" Zalfa.


Dimas dengan tetap tenang menggelengkan kepalanya.


"Emm," Memulai ingin mengatakan apa yang ingin ia katakan sambil mengaduk-ngaduk sedotan dalam minumannya.


"Andai, hari-hari kita setelah ini bisa terus bersama seperti ini, Mas?" Jawab Zalfa jujur dengan nada cukup sedih.


"Fa, jangan gini ya! Aku di sini kan kerja. Ini juga demi masa depan kita." Dimas mengerti kemana arah pembicaraan Zalfa.


Zalfa masih sedih ...


"Fa, tolong kamu percaya sama aku, aku enggak akan macem-macem! I'm yours!" Tangan kekarnya menyentuh tangan lembut Zalfa sang istri.


"Iya aku ngerti dan percaya penuh sama kamu, tapi masalah rindu kan obatnya cuma ketemu Mas. Kalau, tiba-tiba aku rindu kamu gimana?"


"Aku pasti akan rindu balik ke kamulah sayang." Dimas dengan nada santainya.


Kalau Dimas menjawab dengan nada santainya maka lain halnya dengan Zalfa,


"Itu ya harus donk, Mas!" Cukup tegas.


"Kamu enggak boleh rindu sama wanita lain selain aku. Awas aja kalau berani macam-macam!" Zalfa yang merasa cemburu.


Mendapati tingkah Zalfa yang seperti sekarang ini benar-benar membuat Dimas cukup bingung bagaimana merayu dan memenangkan hati perempuannya itu kembali.


Dimas mencoba untuk memberi penjelasan namun belum selesai menjelaskan Zalfanya sudah memotong dan menyimpulkan sendiri apa yang akan Dimas katakan. Dan itu benar-benar membuat Dimas cukup bertambah pusing. (Wkwkwk 😃🤭🙏)


"Enggak akan sayang," Dimas mecoba menjelaskan maksud perkataannya namun Zalfa malah menyimpulkan yang tidak-tidak.


"Apa Mas, kamu enggak akan rindu balik sama aku?


"Sayang, please jangan gini! Okay?" Dimas masih mencoba mengambil hati Zalfa kembali, "Maksud aku itu, rindu, cinta dan sayang aku ya cuma untuk kamu enggak akan untuk wanita lain. Maksud aku gitu, sayang!"


Zalfa masih menggelengkan kepalanya, dan itu sungguh cukup membuat Dimas dilanda pusing saat itu juga.


"Ini sayang, makan lagi aja ya! Makan lagi!"


Dimas yang masih berusaha mengalihkan perbincangan mereka. (Wkwkwk 😆🤫)


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


Happy Weekend!🥰

__ADS_1


Happy Reading! ☺


Semoga Terhibur pada episode kali ini! 🥳


__ADS_2