Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Mereka Mirip?


__ADS_3

"Silakan masuk Bu Ayunda!"


iya guru itu adalah Ayunda. Ayunda Syaharani istri Pak Raffa yang tinggal dikota M dan mengajar pula dikota M. Kota dimana sang suami dilahirkan.


"Terimakasih Bu Zalfa." jawab guru bernama Ayunda dengan senyum ramah menghiasi wajah ayu nan cantik yang dimilikinya.


"Sedang memperbincangkan apa Bapak dan Ibu sekalian? Sepertinya cukup serius."


"Iya Bu, sekolah akan ada studi banding dan rencananya akan ada beberapa guru yang harus mengikuti nya."


"Dan ... Anda masuk dalam kategori itu ya Bu Ayunda..." ucap salah satu Guru wanita dengan nada sedikit meremehkan dan tak suka.


"Wah saya harus ikut juga kah Pak?" tanya Ayunda kepada Pak kepala sekolah yang turut hadir di kantor guru saat itu.


"Iya Bu Ayunda nanti Anda akan ditemani pula oleh Bu Zalfa."


 


"Mohon maaf sebelumnya Pak. kenapa harus saya? Sebenarnya ..." belum selesai Ayunda menjelaskan alasannya kepala sekolah memotong dan memberikan perintah kepada Zalfa dan Ayunda.


"Jelaskan itu diruangan saya. Saya tunggu kalian, Bu Zalfa dan Bu Ayunda di ruangan saya untuk dicari kemufakatan bersama."


Pak Kepsek sudah berlalu pergi dari kantor guru tersebut. Hawa panas sepertinya sedang menerpa salah satu guru yang sedari tadi amat tidak suka kalau Zalfa terlebih Ayunda yang didelegasikan untuk mengikuti studi banding.


"Sudah diterima saja! Bukankah itu kesempatan luar biasa?" ucap salah satu guru wanita yang menyuruh Ayunda untuk menerima tugas itu namun anehnya ia menyuruh dengan nada seperti meremehkan (tak suka/iri). Kemudian guru wanita yang sebenarnya merasa tak suka akan keputusan kepala sekolah yang mendelegasikan Zalfa dan Ayunda yang akan mengikuti studi banding, ia berlalu pergi bangkit dari tempat duduk dan menatap sekilas pada Zalfa dan Ayunda dengan tatapan sinisnya.


Zalfa membalas dengan sabar dan tetap tersenyum padanya. Begitu pula Ayunda yang tau betul bagaimana sikap guru wanita yang memang sedari awal cukup tak suka dengan mereka. Katanya, sebab Zalfa dan Ayunda terlalu pintar dan cerdas untuk ia kalahkan, karena itu ia tak suka. Terlebih saat ada acara seperti itu selalu saja yang diusulkan Zalfa dan Ayunda.


Secara bersamaan Zalfa dan Ayunda juga ikut keluar kantor guru untuk menemui kepala sekolah di ruang kepsek.


~ Ruang Kepsek ~

__ADS_1


Zalfa dan Ayunda sudah duduk di depan kursi tepat di hadapan kepala sekolah. Tanpa tunggu lama kepala sekolah langsung masuk ke inti persoalan.


"Bu Zalfa dan Bu Ayunda terkadang kita diharuskan  mengesampingkan urusan pribadi kita untuk kepentingan lain yang lebih urgent dan bisa membawa dampak yang lebih baik lagi untuk sekolah kita."


"Baiklah saya bersedia Pak karena bagaimanapun ini sudah menjadi tanggungjawab yang harus saya laksanakan." Zalfa kemudian Ayunda secara bergilir. Mereka menyadari akan tanggungjawab yang ada di pundak mereka. Dan mereka tak boleh egois karena lebih mementingkan kepentingan pribadi mereka.


Begitu mendengar jawaban dari Zalfa dan Ayunda yang langsung bersedia untuk ikut, Pak Kepsek merasa senang dan pilihannya memilih Zalfa dan Ayunda memang tidak salah lagi.


"Bagus, memang tidak salah saya memilih Bu Zalfa dan Bu Ayunda karena selain kalian ahli dalam bidang kalian masing-masing, kalian juga mempunyai integritas yang tinggi pada lembaga ini.


"Baik, kalau begitu sudah disepakati bersama bahwa pelaksanaan studi banding di SDN 1 Kota S akan diikuti oleh Bu Zalfa dan Bu Ayunda. Kegiatan studi banding ini berlangsung selama kurang lebih 2 hari.


Besok Bu Zalfa dan Bu Ayunda akan diantar oleh mobil sekolah beserta pulangnya." Pak Kepsek memperjelas dan menyudahi pertemuan mereka,


"Baiklah saya kira semua sudah jelas, jadi Bu Zalfa dan Bu Ayunda silakan nanti disiapkan keperluan untuk besok studi banding."


"Baik Pak terimakasih atas kesempatan dan kepercayaan ini." Zalfa


Apa mungkin mereka Ayah dan anak? Tapi bukankan anak Pak Kepsek ini cuma cewek dan sudah berkeluarga pula.


"Mereka mirip? Ahh ... mungkin cuma perasaan ku kali yaa? " Zalfa membatin dalam hatinya.


Usai semua itu guru-guru pun kembali untuk mengajar hingga jam pelajaran selesai sesuai jadwal.


 


...----------------...


Waktu sudah menunjukkan untuk pulang sekolah. Para siswa keluar gedung dengan tertib. Begitu juga dengan para guru yang memastikan para siswa sudah dijemput oleh orang tua maupun orang terdekat mereka.


Dalam perjalanan keluar gedung sekolah ...

__ADS_1


Zalfa dan Ayunda sempat berdiskusi mengenai acara mereka besok. Dalam sesi diskusi tersebut tak pernah akan terkira kalau akan jadi sesi curhat juga di dalamnya oleh kedua wanita seprofesi tapi sedikit beda usia itu. Zalfa berusia 22 tahun dan Ayunda 27 tahun.


"Oh ya, Bu Zalfa tinggal sama Mama kan?"


"Iya Bu Ayunda. Sebenarnya itu cukup menjadi kendala bagi saya," Zalfa menjawab sekaligus mengeluarkan isi hatinya,"maksud saya begini Bu, saya khawatir sama Mama saya kalau saya tinggalin Mama saya berhari-hari. Tapi mau bagaimana lagi? Kalaupun Mama tau, kalau saya dapat tugas ini dari Pak Kepsek, pasti tanpa ragu Mama akan mendorong saya agar menjalankan tugas ini."


"Sama Bu Zalfa. Meskipun saya ibu dari 3 anak, kalau mengenai tugas dan tanggung jawab, suami dan mertua saya apalagi, pasti akan mensupport saya untuk menjalankan itu dengan sebaik mungkin."


Mendengar penjelasan dari Ayunda teman seprofesinya, Zalfa semakin tak menyangka kalau Bu Ayunda yang baru dikenalnya (beberapa bulan lalu tepatnya saat ia mulai mengajar di lembaga tersebut) ternyata Bu Ayunda memiliki support sistem yang luar biasa menurutnya.


"Wah! Enak sekali kehidupan Bu Ayunda, bisa menikah dengan orang yang dicintai, punya mertua baik dan penyayang pula." dalam hati Zalfa tersenyum kecut akan nasib cintanya yang harus kandas karena Edo kekasihnya malah menikah dengan wanita lain padahal Edo bisa dibilang Edo adalah laki-laki yang amat ia cintai sebenarnya.


Ayunda tersenyum tenang kepada Zalfa, sesekali ia juga ingat bagaimana ia sampai dititik sekarang ini dan karena itu ia mengatakan sesuatu kepada Zalfa. Sesuatu yang Zalfa tidak mudah menerimanya begitu saja sebab Zalfa yang lebih rasionalis.


"Alhamdulillah Bu Zalfa. Asalkan Bu Zalfa tau, berdasarkan apa yang saya alami dalam hidup ini saya menyakini bahwa "segala sesuatu akan indah pada waktunya"."


"Bagaimana Anda bisa menyakini hal itu Bu Ayunda? Maaf Bu bukannya apa atau apa, tapi saya perlu sebuah alasan untuk saya percaya akan hal tersebut."


Masih dengan tersenyum tenang dan seperti sosok seorang motivator, Ayunda mengatakan dan menjelaskan kembali akan pernyataannya kepada Zalfa. Tapi di sini Ayunda lebih memposisikan dirinya sebagai teman Zalfa. Dimana mereka bisa saling curhat dan bertukar fikiran secara santai dan leluasa.


"Bu Zalfa, mari kita tatap matahari yang terbit dengan indah dan menerangi seluruh alam di siang hari ini."


Zalfa mengikuti arahan Ayunda. Mereka menyipitkan mata mereka dan melihat ke arah langit hari itu.


"Matahari bersinar dengan sinar yang banyak membawa manfaat untuk kehidupan pada siang hari, sedangkan bulan dan bintang bersinar dengan sinar yang terang dan gemerlap menghiasi langit malam menambah keindahan langit malam pada malam hari. Nah seperti itulah perumpamaan dari perkataan saya tadi."


Zalfa diam termenung dan meresapi sesuatu yang membuat hatinya seakan-akan menjadi lebih tenang.


Zalfa membenarkan perkataan Ayunda dalam hati dan fikirannya bahwa semua memang telah diatur oleh Sang Maha Kuasa secara sistematis seperti matahari, bulan dan bintang yang beredar pada masanya.


"Ya Rabb semoga suatu saat lika liku cinta yang sempat hamba lalui akan menemukan titik terangnya dan akan menjadi indah pada waktunya."

__ADS_1


Harapan yang terucap begitu tulus di hati dan lisan Zalfa untuk masa depan cintanya.


__ADS_2