
Bukannya marah Rere malah tertawa karena ekspresi Lukman yang begitu lucu saat mengatakan unek-unek dihatinya itu.
"Aku lucu yaa?" Lukman kembali bertingkah.
"Bukan kamu yang lucu Lukman tapi cara bicara kamu yang lucu," Rere menjawab Lukman yang begitu percaya diri,"udah kayak motivator aja!"
"Demi kamu aku siap belajar untuk jadi motivator dadakan Re!"
Rere menanggapi omongan Lukman dengan geleng-geleng tak percaya. Dan mengetahui ada seseorang yang menjadi tim kerjanya Dimas lewat, Rere dengan cepat mengejar seseorang itu.
"Satya!" panggil Rere kepada pegawai kereta yang bekerja satu tim dengan Dimas.
"Bu Rere!" Satya balik menyapa sembari bertanya gerangan apa yang membuat Rere memanggilnya, "ada apa Bu Rere?"
"Saya mau tanya tentang Pak Dimas ke kamu," Rere mengatakan tujuannya memanggil Satya,"kamu kan satu tim kerja sama Dimas." manambahi keterangan.
"Iya Bu saya memang satu tim kerja sama Pak Dimas, lalu Bu Rere mau tanya apa tentang Pak Dimas?"
"Tadi selama kerja, Pak Dimas ketemu sama seseorang enggak? Kayak ceweknya atau siapanya gitu?"
Satya dalam mode diam, ia mengingat kembali kejadian demi kejadian yang terjadi pada hari ini.
"Tadi siang Pak Dimas itu bertemu dengan orang tuanya di stasiun kota M."
"Jadi ketemu sama orang tuanya doank? Enggak ada yang lain lagi? Ayo kamu ingat-ingat lagi, Satya!" Rere memohon.
"Makanya jangan dipotong dulu penjelasan saya Bu Rere," ujar Satya cukup tak suka tapi tetap dengan nada bercanda.
"Maaf ... maaf!"
"Tadi siang saat di kereta Pak Dimas itu sempat menolong seorang wanita yang mau terhuyung jatuh."
"Apa? Berarti Dimas pegang wanita itu donk? Terus mereka juga pelukan gitu?" Rere yang sudah tak bisa menahan shock dan emosinya.
"Tidak berpelukan Bu Rere, Pak Dimas cuma megang dari belakang, menahan tubuh wanita tadi yang mau terhuyung." jelas Satya kepada Rere yang sudah beranggapan yang tidak-tidak.
"Terimakasih Satya atas informasinya."
"Sama-sama Bu Rere. " jawab Satya kemudian pergi.
Rere kembali merasa bete dan sangat kesal mendengar penjelasan dari Satya. Lukman yang masih setia berada di belakang Rere, dengan segera ia menghampiri Rere dan berusaha menghibur Rere kembali.
"Udahlah Re, jangan terlalu difikirkan! Bukannya jodoh enggak akan kemana dan," Lukman langsung bernyanyi dengan gaya seperti Afgan saat berkata kepada Rere kalau,"jodoh pasti bertemu!"
"Lukman! Please yang nyanyi!" Rere masih merasa sedih.
Lukman mengangkat dagunya seolah-olah mengajukan pertanyaan kepada Rere mengapa ia tak boleh bernyanyi?
"Soalnya kamu kalau nyanyi enggak sebagus dan semerdu Afgan." Rere memberitahu alasannya.
"Harap maklum Re!" kata Lukman dengan tertawa meringis.
Rere merupakan wanita yang sebenarnya Lukman cintai tapi sayangnya di hati Rere hanya ada Dimas. Walaupun begitu Lukman bertekad akan selalu ada untuk Rere karena cintanya kepada Rere tulus dan tak terbatas.
__ADS_1
Rere ikut tertawa melihat ekspresi Lukman yang tertawa meringis karena tidak bisa bernyanyi dengan baik seperti Afgan. Melihat Rere bisa tersenyum dan tertawa kembali merupakan hal yang begitu berarti untuk Lukman. Keadaan hati Rere sudah kembali membaik, maka Lukman dan Rere yang mendapat sip malam berangsur kembali melaksanakan tugas mereka.
...----------------...
Malam kebimbangan kembali menemani Zalfa. Ya Zalfa masih bimbang kepada cinta Dimas untuknya. Rasa takut diperlakukan sama seperti yang telah Edo lakukan padanya menjadi penghalang utama untuknya menerima cinta dari Dimas.
Zalfa duduk diatas tempat tidur di penginapan yang disediakan oleh SDN 1 Bumi Pertiwi. Ia mengamati dan memutar-mutar cincin pemberian dari Dimas tersebut.
Zalfa masih belum memakainya walaupun Dimas mengatakan kalau sebaiknya Zalfa memakai cincin itu bukan untuk tanda penerimaan akan cintanya melainkan sebagai hadiah.
Zalfa benar-benar merasa pusing dan tak tau harus apa lagi. Dimas memang laki-laki baik kalau tidak baik mana mungkin ia diterima menjadi kondektur perkeretaapian? Dan dari latar belakang keluarga Dimas saja Zalfa tau betul bagaimana karakter Pak Wijaya. Dan tak dapat dipungkiri kalau mereka sama. Mereka sama-sama memiliki kepribadian dan wajah yang mirip. Dan kemiripan itu hampir sama persis 100%.
Zalfa meletakkan cincin itu diatas nakas. Diatas nakas itu pula Zalfa tadi meletakkan kartu nama dari Dimas.
Zalfa mengambilnya dan mengamati baik-baik kartu nama beserta no HP yang tertera pada kartu nama itu.
Zalfa kembali berfikir apa yang harus ia lakukan dengan kartu nama itu? Apa dia harus memasukkan no itu kedalam kontak smartphonenya? Atau cukup disimpan saja bersama cincin pemberiannya?
Zalfa yang sudah merasa sangat pusing memikirkan itu semua, ia akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, ia ingin berwudhu tapi ia tidak sedang dalam keadaan suci, jadi tak baik kalau ia berwudhu.
Ayunda yang baru selesai melaksanakan ibadah shalat witir rutinitasnya sebelum tidur, ia mencari keberadaan Zalfa tapi begitu mendengar gemericik air, Ayunda pun menggurungkan niatnya mencari Zalfa.
Selesai membereskan peralatan shalat, Ayunda memeriksa smartphonenya. Dan panggilan masuk berturut-turut memenuhi notifikasi layar smartphonenya.
Begitu tau siapa yang melakukan panggilan masuk dengannya tersebut, Ayunda langsung melakukan panggilan kembali ke nomor tersebut.
Tak butuh waktu lama panggilan pun terhubung antara keduanya.
"Assalamu'alaikum Bu Anisa." sapa Ayunda ditelfon.
"Mohon maaf Bu Anis saya baru sempat mengangkat panggilan masuk dari Anda."
"Tidak masalah Bu Ayunda! Saya paham pasti Anda masih cukup sibuk sekarang." Bu Anis tidak mempermasalahkan Ayunda,"saya yang minta maaf mungkin sudah menganggu."
"Tidak Bu Anis! Tidak sama sekali!" Ayunda menekankan.
Bu Anis yang sudah tak sabar begitu melihat foto yang dikirimkan Ayunda kepadanya, ia merasa sependapat dengan pilihan Ayunda.
"Bu Ayunda saya ucapkan terimakasih atas masukannya. Telah merekomendasikan Bu Zalfa untuk putra saya, Dimas."
"Sama-sama Bu, sebenarnya itu juga tidak sebuah ketidaksengajaan."
"Apa mungkin mereka memang berjodoh ya Bu?"
"Kita sama-sama berdoa saja Bu! Semoga mereka memang berjodoh."
Bu Anis sangat mengaaminkan hal tersebut. Tak henti-hentinya kini ia bahagia dan menceritakan pada Pak Wijaya tentang wanita pilihannya untuk Dimas.
Pak Wijaya dan Uni yang ada diruang keluarga bersama Bu Wijaya alias Bu Anis, mereka begitu penasaran. Alhasil Bu Anis pun mendapat pertanyaan beruntun dari mereka berdua.
"Siapa Ma?" Pak Wijaya dilanda penasaran.
"Siapa Ma? Siapa?" begitu juga Uni Riaswati adik dari Dimas.
__ADS_1
"Adalah Pa, Papa sudah mengenal wanita pilihan Mama ini sedari dulu." Bu Anis memberi kode.
"Pa sebaiknya Papa ingat-ingat wanita muda yang Papa kenal!" ujar Uni begitu penasaran.
"Siapa sih Ma?" Pak Wijaya masih tak bisa menebak.
"Yah Papa kok enggak tau sih!" Bu Anis kecewa dengan suaminya yang tidak bisa menebak wanita pilihannya.
"Pa, dia ini wanita yang mandiri dan dewasa, dia hanya tinggal bersama Mamanya karena satu tahun yang lalu papanya dinyatakan gugur dalam tugasnya menjaga kedaulatan NKRI tercinta."
Pak Wijaya mencerna baik-baik penuturan yang diucapkan oleh Bu Anisa.
Dan ia pun tau siapa wanita yang dimaksud oleh istrinya sekarang.
Senyuman kebanggaan dan kesetujuan pun mengiringi wajah Pak Wijaya saat itu juga.
"Bu Zalfa?" kata Pak Wijaya mengerti siapa wanita yang dimaksud Bu Anisa.
Sementara Uni, ia belum terlalu mengenal Zalfa tapi ia sempat bertemu dengan Zalfa saat di SDN Nusa Bangsa.
Ketiga orang dewasa itupun saling mengangguk dan menatap sebagai tanda bahwa mereka sependapat dan saling setuju.
Saat Ayunda akan meletakkan smartphone miliknya di nakas, Ayunda melihat cincin dan ada sebuah kartu nama juga. Tapi Ayunda tidak terlalu melihat siapa nama yang tercantum pada kartu nama tersebut. Ayunda fokus pada cincin tersebut.
Ayunda ingin menggeser cincin itu tanpa ada niat tertentu, ia hanya ingin memberi tempat untuk smartphonenya.
Belum sempat menggeser Zalfa tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan dengan langkah cepat mengambil cincin dan kartu nama yang diletakkannya secara asal di atas nakas.
"Bu Zalfa?" ucap Ayunda secara spontan melihat tingkah aneh Zalfa yang dengan cepat mengambil cincin dan kartu nama itu dari nakas.
Zalfa tersenyum kaku dan kikuk sendiri menyadari tingkahnya.
"Bu Ayunda," ucap Zalfa dengan tersenyum menyadari tingkah anehnya dimata lawan bicaranya.
Melihat tingkah aneh Zalfa pun membuat Ayunda menyeringai curiga kalau ada yang disembunyikan Zalfa darinya.
"Bu Zalfa, saya yakin kalau Anda sedang menyembunyikan sesuatu dari saya. Benar begitu kan Bu?"
Walaupun gugup Zalfa dengan cerdiknya ia masih berusaha tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Ayunda. Dan Ayunda pun berusaha meraih cincin dan kartu nama yang diambil Zalfa yang disembunyikan dibelakang tangannya.
"Baiklah kalau Bu Zalfa tidak menyembunyikan apapun mengenai cincin dan kartu nama itu, mengapa begitu terburu mengambilnya dari saya?" Ayunda memutar keadaan, "padahal saya hanya bermaksud menggesernya saja untuk memberi tempat smartphone saya."
"Bukan begitu Bu Ayunda! Saya tidak bermaksud seudzon pada Anda," Zalfa mengira ia telah menuduh Ayunda akan mengambil cincin itu,"saya tau betul siapa Anda, Bu Ayunda."
Mendengar Zalfa malah seperti itu, Ayunda pun malah semakin merasa bersalah. Niatnya agar Zalfa mau berkata jujur sebenarnya itu cincin apa dan nama siapa yang ada dikartu nama itu jadi gagal.
Zalfa telah salah menangkap maksud perkataannya.
Ayunda kembali mencari cara mencairkan suasana antara ia dan Zalfa.
"Bukan begitu maksud saya Bu Ayunda. Saya juga yakin Anda tidak akan berprasangka buruk seperti itu mengenai saya." jelas Ayunda.
"Saya sebenarnya pingin tau, sebenarnya itu cincin apa? Dan nama siapa yang tercantum dalam kartu nama itu? Habisnya Bu Zalfa langsung buru-buru mengambilnya saat saya akan menyentuh kedua benda itu." Ayunda mengatakan yang sebenarnya maksud dari niatnya.
__ADS_1
Zalfa pun mengerti sekarang kemana maksud Ayunda. Dan ia juga menyadari harusnya bisa tidak bertingkah seperti tadi.
Zalfa berangsur duduk di tepi ranjang dan bercerita mengenai cincin dan kebimbangan yang melanda hatinya malam itu.