
Sebelum membaca, Sedikit informasi bahwa akan ada episode yang menggembirakan di episode ini. Karena itu, mohon untuk bisa menyesuaikan suasana hati!
Dan sedikit informasi pula bahwa akan terdapat adegan berbau (kekerasan) dalam episode ini. Karena itu, mohon untuk bijak dalam membaca! ADEGAN BERBAU KEKERASAN / KEJAHATAN TIDAK UNTUK DITIRU!
Sekali lagi, diharap tidak mencontoh hal yang tidak sepatutnya dicontoh, karena adapun hal tersebut author tulis hanya sebagai pelengkap cerita ini.
Terimakasih atas perhatiannya!🙏
Selamat membaca!
.......
.......
.......
.......
.......
Awan indah menyelimuti langit putih pagi itu.
Riangnya burung-burung yang bertebangan seakan-akan ikut menari bahagia atas pernikahan Dimas dan Zalfa yang akan segera terlaksana.
Dimas dan Zalfa sudah berparas menjadi mempelai pengantin pria dan wanita.
Dimas terlihat begitu tampan dengan setelah jaz hitam yang membalut tubuh atletisnya. Songkok hitam yang pada pagi hari ini menghias kepalanya pun begitu berhasil menambah kadar tampan dan wibawanya.
Tak dapat Dimas hindari rasa gugup menghampiri dirinya yang saat ini ia telah berada di kursi pelaminan.
Dari arah belakang, Zalfa datang menuju kursi pelaminan untuk menjalankan prosesi akad nikahnya bersama Dimas yang sudah menunggu kehadirannya.
Senang, bahagia, gugup, penuh syukur mendominasi dalam hati Dimas tatkala melihat pengantin wanitanya yang tampil begitu anggun dan cantik dengan kebaya putih modern yang membalut tubuh Zalfa. Kerudung putih berhias mahkota pun turut menambah kesan manis pada Zalfa sang pengantin wanita pagi itu.
Tanpa sengaja mereka saling memandang satu sama lain. Dalam hati terdapat pujian yang belum terungkap oleh keduanya.
Penghulu dan saksi pernikahan telah hadir di pelaminan. Dimas menjabat tangan penghulu. Penghulu mulai membacakan ayat pernikahan. Dengan khidmat dan seksama seluruh tamu dan keluarga mendengarkan baik-baik apa yang dilafalkan oleh penghulu.
Dan sampailah pada kalimat, "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Dimas Adityama Putra Wijaya dengan Zalfa Aristya Az zahira binti Fariz Setia Wibowo dengan mas kawin sebesar 1000.000 rupiah dibayar tunai."
Dengan lantang dan sekali nafas Dimas menjawab dan mengucapkan, "Saya terima nikah dan kawinnya Zalfa Aristya Az zahira binti Aris Setia Wibowo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
__ADS_1
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Barakallahulakuma wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fiikhoiir,"
"Al Fatihah ...!"
Semua pun khusuk membaca surat Fatihah.
Menit demi menit berganti, sekarang Dimas dan Zalfa telah resmi menjadi suami dan istri. Zalfa mencium tangan Dimas, Dimas mengecup kening Zalfa dan melafalkan do'a pernikahan pada umumnya.
Mereka saling menatap dan mencurahkan rasa cinta dan bahagianya satu sama lain. Terlebih lagi Dimas. Tanpa aba-aba Dimas meraih tangan Zalfa yang kini sudah sah menjadi istrinya. Memegang kedua tangan Zalfa dengan begitu lembut serta mengecupnya dengan tulus.
Bibirnya turut mengutarakan isi hatinya saat ini.
"I love you forever my wife Mrs. Dimas Adityama Putra Wijaya." Mengecup dengan begitu dalam serta tulusnya.
Wanita mana yang tak suka diperlakukan seromantis itu, apalagi yang memperlakukan romantis adalah suaminya sendiri.
Bersemu merah itulah yang terjadi pada Zalfa saat Dimas memperlakukannya dengan sikapnya yang romantis. Meskipun begitu ia juga teramat senang.
Detik berikutnya bergantilah Zalfa meraih kedua tangan Dimas dengan cukup posesif (erat).
Moment romantis itu diakhiri tatapan cinta yang terpancar dari keduanya.
Prosesi akad telah terlaksana dengan lancar. Dimas dan Zalfa kini beralih di panggung pernikahan.
Saling menyematkan cincin satu sama lain dan berfoto bersama.
Aura kebahagiaan menyertai hati Bu Ambar dan Bu Anis. Kini mereka telah resmi menjadi besan. Keduanya kembali berpelukan dalam rasa bahagia dan syukurnya.
Satu per satu acara terlaksana dengan lancar. Dan tibalah acara khusus yang sengaja Dimas buat tanpa sepengetahuan Zalfa.
Motor antik yang sudah dihias dengan begitu indahnya sudah bertengger di halaman rumah Zalfa.
Dimas naik lebih dulu, Zalfa masih bingung apa sebenarnya yang direncanakan oleh suaminya itu. Tapi sebagai istri yang baik, ia menurut saja pada Dimas.
Semua yang hadir di acara pernikahan itu bersorak bahagia termasuk Rere dan Lukman yang menyaksikan pasangan pengantin baru didepan mereka.
Ica sebagai adik kesayangan Zalfa, kali ini ia tak cuma bahagia, seperti biasa ia menggoda pengantin baru itu, "Pegangan yang erat ya Kak! Ingat udah halal kok!" Teriak Ica cukup keras kepada Dimas dan Zalfa yang sudah mulai keluar dari halaman rumah.
__ADS_1
Beberapa iringan pengantin dari kedua belah pihak keluarga turut mengawal Dimas dan Zalfa. Begitu juga dengan Rere dan Lukman, mereka berdua akan turut mengawal dan menyaksikan kejutan dan kemesraan kedua pengantin itu di stasiun Anggrek kota S. Stasiun yang tidak terlalu ramai dan besar. Sehingga kedua pengantin dan keluarga dari kedua pengantin lebih leluasa.
Namun, siapa yang akan tau sesuatu yang bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun.
~ Di Stasiun Anggrek Kota M~
Dimas dengan mesranya masih menggenggam erat tangan Zalfa menuju kereta yang sudah siap memberangkatkan mereka berdua ke tempat yang sudah Dimas siapkan.
Saat Dimas akan mengangkat tubuh Zalfa ala bridal style untuk naik kereta, terdengar suara yang kembali mengagetkan seluruh orang yang berada di stasiun saat itu.
Dorr ...!
Dimas menurunkan Zalfa, semua orang panik dan mengecek dirinya dan orang sekelilingnya.
Dimas dan Zalfa merasa lega karena baik antara mereka berdua dan kedua keluarganya baik-baik saja.
Untuk sejenak mereka terperangah dan panik akan bunyi yang mereka dengar. Tapi mereka semua lega karena tidak ada yang terkena luka tembakan yang mereka dengar.
Meta menyipitkan matanya. Perlahan ia membuka matanya dan ia juga merasakan kalau tubuhnya baik-baik saja. Ia sama sekali tidak merasakan sakit ditubuhnya.
Meta benar-benar sudah membuka mata dan melihat ke tubuhnya ternyata tembakan itu meleset sehingga tidak ada yang terluka.
Meta begitu bersyukur, saat ia ingin menangkap Sintia dan rekannya ternyata Sintia dan rekannya sudah pergi lebih dulu dari Stasiun namun beberapa orang dan penjaga sudah mengejar dan mengurus mereka.
Zalfa melihat seorang wanita yang berusaha mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ia dan Dimas. Ia ingin mendekati wanita itu namun saat ia akan mendekat dan mengucapkan terimakasih serta menanyakan bagaimana kondisinya, Zalfa harus dikagetkan dengan Mamanya yang tiba-tiba merasa kesakitan.
"Ma, Mama kenapa Ma?"
Zalfa khawatir akan Mamanya yang tiba-tiba kesakitan.
Bu Ambar memegang Zalfa dan Dimas dengan eratnya dan tak lama kemudian Bu Ambar pingsan tak sadarkan diri.
Semua kembali cemas, secepat mungkin Dimas mengangkat tubuh mertuanya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Meta ikut dalam gerombolan tersebut dan mengikuti perkembangan kondisi Bu Ambar tanpa Dimas dan Zalfa ketahui.
Namun ada satu orang yang mengetahuinya yaitu Ayunda. Dengan segera Ayunda mengajak Meta masuk dalam mobilnya.
"Bu Meta, Anda di sini juga?" Ayunda tak menyangka kalau Meta turut hadir menyaksikan pernikahan Dimas dan Zalfa karena yang ia ketahui Meta masih menjalani pengobatan untuk sakit yang dideritanya.
"Iya Bu Ayunda, pagi tadi saya dinyatakan sembuh total dan bisa kembali pulang." Meta memberitahu Ayunda perihal kondisi terbarunya.
Ayunda ikut senang mendengar hal itu dari Meta.
__ADS_1
Dengan cepat pula ia mengajak Meta untuk memantau kondisi Bu Ambar.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!