Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Kue Pandan Coklat


__ADS_3

Malam sudah menunjukkan pukul 21.00 PM.


Rasa kantuk sudah mendera mata sipit yang dimiliki Ica. Uapan dari mulutnya juga sudah beriringan menyerangnya. Tak tega dengan adik sepupunya yang sudah mengantuk, Zalfa menyudahi perbincangan luapan rindu serta tukar cerita dari ia dan Ica.


"Ica istirahatlah! Besok kita lanjutkan kembali."


Dikursi ruang keluarga yang ia duduki dengan Zalfa, Ica bangkit dengan pelan dan keluar meninggalkan ruangan dengan pelan juga mengantisipasi agar Tantenya tidak bangun dari tidurnya karena usai kak Zalfanya khawatir kalau tantenya marah, Zalfa dan Ica menyuruh dan mengantarkan Bu Ambar untuk istirahat lebih dulu.


"Ica balik ke rumah dulu ya Kak." tutur Ica masih diambang pintu.


"Eh, bentar-bentar!" Zalfa teringat sesuatu,"Ini Ica buat kamu dan Aunty!"


Menyerahkan sebuah kotak berisikan kue basah. Kue yang sengaja dibeli Zalfa untuk camilan ia dan Mamanya saat di kereta.


"Kue pandan coklat?" Ica berbinar mendapati kue yang diberikan Zalfa untuknya.


"Iya Ica," balas Zalfa seraya menegaskan kembali kalau itu kue untuk Ica dan Mama Ica,"itu buat kamu sama Aunty."


"Makasih Kak, pengertian banget sama Ica dan Bunda yang suka banget sama kue pandan coklat."


Zalfa mengangguk dan membalas dengan, "Sama-sama."


"Ica pulang dulu Kak, sekali lagi terimakasih. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Zalfa memandang hangat kepergian Ica namun ketika Ica akan menutup pagar dari rumah Zalfa, Zalfa dengan buru-buru menghentikan Ica dan menghadangnya. Ica yang mendapat serangan mendadak ia begitu tersentak kaget dan bingung sendiri juga.


"Ica, mulai sekarang kamu harus berikan kunci serep rumah Kakak ke Kakak!" Tegas Zalfa ingat akan niat nya yang sedari awal ingin meminta kunci serep yang Ica punya.


"Kakak?" wajah kaget Ica langsung berubah drastis menjadi melankolis.


"Ica!" Zalfa kembali menegaskan dengan kali ini dengan berkacak pinggang.


"Tapi Kak ...!" Ica masih tak rela.


"Ica gak baik loh kamu punya kunci serep rumah seseorang meskipun orang terdekat kamu. Kalau kamu mau kasih surprise gampang kamu tinggal pasang surprisenya di meja tempat menunggu." Zalfa mengucapkan dengan senyum kemenangan seraya mengangkat kedua alisnya.


"Gak seru Kak jadinya!"


Hampir saja Zalfa kehabisan cara menghadapi Ica, tapi ia tau kalau mendengar kata dewasa pasti Ica akan tau bahwa tanggungjawab nya semakin besar pula.


"Ica kamu sudah tambah dewasa sekarang, kurang enak dipandang orang lain kalau Ica yang sudah dewasa dan tambah cantik ini masuk ke rumah tantenya secara diam-diam. "

__ADS_1


Ica mengerucutkan bibir nya mencerna baik-baik ucapan Kak Zalfa benar juga.


"Kalau Ica mau kasih kejutan berupa makanan akan lebih seru lagi kalau kita memasak nya bersama-sama. Jadi, Ica tinggal siapin bahan yang ingin Ica buat terus nanti kita masaknya sama-sama dan makannya pun sama-sama."


Mendengar hal itu Ica sangat bahagia dan setuju akan ide Kak Zalfa nya.


Ica juga langsung memberikan kunci serep miliknya kepada Zalfa.


"Makasih Ica. "


"Ica juga makasih sama Kakak, Kakak sudah menunjukkan hal yang benar sama Ica."


Zalfa merentang kan kedua tangannya dan tanpa tunggu lama Ica berhambur ke pelukan kakak sepupunya itu.


Zalfa menyusul sang Mama beristirahat disisi lain


Dimas juga telah selesai melaksanakan tugasnya.


...----------------...


Di malam menjelang pagi tepatnya 2 minggu kemudian semenjak pertemuan pertamanya dengan Zalfa.


Atau sebut saja dua minggu kemudian ...


Dimas mulai membasuhkan air secara berurutan pada bagian yang harus dikenakan air wudhu. Wudhu selesai Dimas lakukan tak tertinggal do'a sesudah wudhu pun ia panjatkan.


Sajadah panjang sudah membentang, songkok putih pun sudah ia kenakan beserta sarung kesayangan. Niat shalat ia ucapkan dengan begitu mantap dalam hati saat kedua tangannya membaca takbir.


Takbiratul ihram sudah terlafadzkan dalam hati, berlanjut pada surat Al-Fatihah dan surat pendek . Kemudian pada rakaat kedua pun juga demikian hanya saja tidak perlu melafalkan takbiratul ihram cukup melafalkan kalimat takbir. Dua rakaat sudah Dimas selesaikan. Ia pun berdo'a mencurahkan segala perasaan, isi hati, dan persoalan yang tengah ia hadapi agar dimudahkan dan diberkahi.


Beberapa saat kemudian ...


Tepat diwaktu subuh.


Adzan subuh berkumandang dengan begitu merdu, suara lantunan dari sang muadzin membuat insan yang masih terlelap menjadi tergerak hatinya untuk bangun dan melaksanakan kewajiban.


Muadzin itu merupakan Dimas Adityama Putra Wijaya. Ya Dimas sudah berada di masjid tempat area dimana ia bersama rekan kerjanya tinggal. Tak cuma itu bahkan Dimas pun ternyata begitu merdu dan fasih dalam mengumandangkan adzan.


Selesai subuh, Dimas sudah bersiap kembali. Menjalankan profesinya sebagai kondektur di perkeretaapian bersama kru yang bertugas dengan penuh semangat dan rasa tanggungjawab yang tinggi. Memastikan penumpang nyaman selama perjalanan menggunakan kereta merupakan tugas utamanya. Dengan menerapkan prinsip 7 S tentunya. Prinsip yang harus dipegang dan dijalankan dengan sebaik mungkin.


~Pukul 07.00 AM di Sekolah Ternama di kota M~


Sama seperti Dimas bersama kru yang bertugas menjalankan profesi mereka dengan sebaik mungkin, seorang wanita dengan semangat dan senyum ceria yang tersirat pada wajah cantik nya berjalan memasuki sebuah ruangan.

__ADS_1


Di dalam ruangan yang sudah duduk dengan rapi dan teratur anak-anak usia 10 tahunan.


Dengan semangat dan antusias Zalfa memberi salam kepada anak-anak itu yang tak lain dan tak bukan adalah murid-muridnya.


Sama seperti Dimas bersama kru yang bertugas menjalankan profesi mereka dengan sebaik mungkin, disuatu tempat seorang wanita dengan semangat dan senyum ceria yang tersirat pada wajah cantik nya berjalan memasuki sebuah ruangan.


Di dalam ruangan yang sudah duduk dengan rapi dan teratur anak-anak usia 10 tahunan.


Dengan semangat dan antusias Zalfa memberi salam kepada anak-anak itu yang tak lain dan tak bukan adalah murid-muridnya.


"Good morning everybody!"


Zalfa


"Good morning Miss ..." Murid-murid Zalfa dengan ikut semangat dan antusias.


"How are you today?"


"I'm fine"


"Okay, today we are a studying english together. Are you ready to studying English together today?


"Yes, I'm ready!" jawab satu persatu dari murid-murid Zalfa.


"Now, please open your book on page 15! Then read and look carefully at the theme on page 15!"


5 minutes later ...


"Done Miss!"


"Very nice! Now, listen carefully!"


"I will explain the theme on page 15 to all of you."


Zalfa pun menerangkan tema yang terdapat pada halaman 15 di buku bahasa Inggris tersebut.


Kegiatan belajar mengajar telah selesai tibalah waktu yang cukup dinanti dan membahagiakan bagi setiap murid-murid di sekolah tak terkecuali murid-murid Zalfa yaitu waktu istirahat.


Semua murid-murid dari kelas 1-6 SD, mereka berhamburan pergi ke kantin untuk membeli makanan kesukaan mereka masing-masing. Untuk Zalfa dan guru-guru yang lain mereka memasuki kantor dan ikut istirahat dengan perbincangan santai sesekali serius menjadi isinya.


Dan muncul yang paling ditunggu siapa lagi kalau bukan guru yang paling bijaksana diantara yang lain kalau menurut Zalfa. Zalfa pun salut dan kagum pada guru satu itu.


Siapakah guru itu??? πŸ™‚

__ADS_1


__ADS_2