
NOTES : ONLY 18+
PERHATIAN: MOHON UNTUK SIAPKAN HATI DAN PERASAAN UNTUK EPISODE INI!
.......
.......
.......
.......
.......
Suara spatula dibarengi suara nyanyian yang cukup samar namun terdengar begitu merdu membuat Dimas menggeliat bangun dari tidur nyenyaknya semalam usai moment hujan deras coklat hangat yang terjadi antara mereka berdua.
Tubuh Dimas masih cukup malas beranjak dari tempat tidurnya. Sesaat ketika melihat berantakannya kamarnya saat ini membuat ia tersenyum puas dan bahagia.
Momen indah hujan kemarin malam begitu mengesankan dan penuh kejutan untuk Dimas sendiri. Ya, ia tak mengira kalau hawa hujan yang dingin membuat mereka bersatu dalam kehangatan. Apalagi saat mereka harus basah kuyup karena hujan yang tak kunjung berhenti.
Kenangan manis kemarin malam saat makan Mie ayam, bakso dan tomyam pun menghampiri ingatan Dimas kembali.
~๐๐ต๐ช๐ผ๐ผ๐ซ๐ช๐ฌ๐ด ๐๐ท~
Dimas masih tak tau harus bagaimana menghadapi dan membujuk Zalfa yang salah faham karena ucapannya yang belum terselesaikan, tetapi terburu dipotong oleh Zalfa.
Begitu Dimas menawarkan agar Zalfa memakan makanannya, sebenarnya Zalfa masih malas untuk memakannya namun aroma makanan dan kuah yang begitu menggugah selera benar-benar meruntuhkan kemalasan Zalfa saat itu juga.
Suapan pertama.
Zalfa begitu menikmati tomyam yang masuk ke mulutnya.
Suapan kedua, ia juga masih menikmati rasa kuah dari tomyam yang sangat sesuai dengan indra pengecapnya saat ini. Membuat Zalfa menyeduhnya berkali-kali sesekali memejamkan mata.
Saat masih asik-asiknya menikmati kelezatan makanan yang tersaji didepannya, Zalfa dikagetkan oleh beberapa notifikasi yang tiba-tiba muncul dari layar handphonenya.
Membuat ia fokus pada serentetan notifikasi tiba-tiba itu. Apalagi saat melihat notifikasi terakhir dari pengirim.
Membaca notifikasi itu saja seketika membuat bulu tubuhnya menegang, detak jantungnya berpacu kian cepat, dan hampir saja ia tersedak namun belum sampai tersedak ia sudah menghentikan makannya.
Notifikasi dari Ica yang menginfokan kalau Bu Ambar baik-baik saja bersama Ica jadi mereka tak perlu khawatir.
"Kak, Tante baik-baik saja sama Ica, " Chat pertama Ica.
"Kakak jangan cemas, Tante udah aman di sini sama Ica." Chat kedua Ica.
"Kakak have fun saja sama suami Kakak! ๐ฅฐ" Chat ketiga Ica.
"Menikmati moment hujan turun dengan derasnya ๐ฅถ, emmm ... cocok banget deh untuk pasangan pengantin baru๐คญโ." Pesan terakhir dari Ica entah apa maksud Ica mengirimkan chat seperti itu.
"Apa maksud Ica?" Zalfa shock melihat pesan ke empat dari Ica seraya membatin dalam hati apa maksud Ica mengatakan itu semua? Ya meskipun Zalfa sebenarnya cukup mengerti maksud perkataan Ica.
Apalagi laki-laki didepannya saat ini. Yang notabenenya sekarang adalah suami sahnya, tanpa sempat Zalfa menyembunyikan pesan dari Ica itu kepada Dimas, sayangnya Dimas sudah turut membaca pesan terakhir dari Ica yang nampak dari layar handphone Zalfa.
Entah karena apa? Dimas langsung menghentikan menikmati makanannya. Dan kini ia menatap Zalfa dengan tatapan seolah-olah Zalfa yang duduk manis saat ini lebih menarik dan memikat dari makanan di mangkuk nya.
Zalfa cukup kikuk, lidahnya keluh saat mendapat notifikasi dan tatapan Dimas yang tak biasanya.
Dengan cukup pintar, Zalfa berusaha mengalihkan pusat perhatian Dimas yang semenjak tau notifikasi Ica selalu fokus pada dirinya.
Zalfa masih tersenyum kikuk. Mencoba meminum minumannya untuk menetralisir rasa yang gugup yang tiba-tiba menderanya.
Dentingan sendok dan garpu kembali menggema di mangkuk Zalfa.
Tak lupa mengajak Dimas agar meneruskan untuk Dimas memakan makanannya juga.
__ADS_1
"Ayo Mas makan lagi!" Zalfa dengan suara yang menurut Dimas suara itu begitu lembut.
"Ayo Mas dimakan lagi!" Zalfa kembali mencoba mengalihkan perhatian Dimas.
Dimas pun menahan tawanya melihat Zalfa yang gugup dan alih-alih mengalihkan perhatiannya dengan melakukan hal yang sama yang Dimas tadi lakukan.
Secara perlahan, akhirnya Dimas juga menikmati kembali makanannya.
Dimas juga menginstruksikan sesuatu pada Zalfa,
"Fasya, jangan lupa habiskan makanannya!" Dimas tersenyum misterius.
Namun Zalfa yang masih tegang tidak begitu mendengar apa yang Dimas katakan padanya.
Akhirnya ia menanyakan apa yang Dimas katakan padanya, "Kamu bilang apa Mas?"
Dimas masih asik dengan sendok dan garpunya, tapi pertanyaan Zalfa berhasil menghentikan sejenak kegiatannya dari sendok dan garpu saat itu juga.
Kini, pusat pandangan Dimas kembali terfokus pada Zalfa yang saat ini mengenakan pasmina berwarna mocca.
Tampak begitu cantik membuat Dimas enggan untuk beranjak darinya.
Sayangnya apa yang Dimas lakukan malah membuat Zalfa didera rasa cemas, tegang dan malu menjadi satu. Satu yang sulit didefinisikan oleh Zalfa.
"Habiskan makanannya sayang!" Ucap Dimas mendekatkan wajahnya ke Zalfa.
Zalfa masih cukup gugup, ia hanya diam tak bergerak saat Dimas mendekat ke wajahnya.
Zalfa menelan kasar salivanya yang terasa begitu kering saat melihat posisi wajahnya dengan Dimas saat ini.
Melihat Zalfa begitu berkeringat dan gugup perlahan Dimas memundurkan dirinya dan berucap, "Ayo habiskan makanannya Fasya!"
"I ... iya Mas." Zalfa langsung mengatur nafas, membenarkan posisi duduk seraya melahap makanannya.
Melihat tingkah gugup dan malu Zalfa membuat Dimas semakin gemas pada wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut.
Dimata Dimas saat ini Zalfa tak hanya begitu cantik tetapi juga begitu manis dengan tingkahnya saat ini.
Dalam lubuk hatinya terdalam dengan pujian yang tak terungkapkan jika hanya dengan kata-kata.
Limabelas menit telah berlalu, hujan sudah cukup reda saat mereka selesai menyantap makanannya.
Akhirnya mereka memilih melanjutkan perjalanannya kembali.
Masih dalam perjalanan.
Tanpa bisa diduga ternyata hujan mulai turun kembali.
Tujuan awal mereka kembali ke rumah sakit berganti ke tempat kontrakan Dimas berada. Karena kebetulan tempat Dimas mengontrak memang tidak jauh dari lokasi jalan yang ia lewati saat ini.
Sebelum semakin basah kuyup karena kehujanan Dimas segera memutar balikkan motornya, mengarahkan ke tempat tinggalnya selama ia bertugas di kota M.
Tanpa aba-aba, Zalfa berpegangan dengan erat pada perut Dimas. Ya, Zalfa takut saat Dimas mengendarai dengan kecepatan cukup tinggi dibawah derasnya hujan.
5 menit kemudian ...
Mereka telah sampai disebuah rumah minimalis dimana Dimas menempatinya selama ia bertugas.
Meskipun berusaha menghindari hujan,
nyatanya hujan tak ingin mereka lolos dari air dingin yang ia bawa.
Zalfa sudah benar-benar basah kuyup begitu juga dengan Dimas.
Dimas baru saja akan memutar badannya setelah memarkirkan motor dengan benar, tetapi dekapan Zalfa yang tanpa aba-aba kembali meluluhkan Dimas saat itu juga.
__ADS_1
"Mas aku kedinginan!" Ucap Zalfa samar-samar masuk dalam dekapan dada bidang Dimas suaminya.
"Kita masuk dulu ya! Nanti aku siapin air hangat buat kamu."
Mendengar pernyataan Dimas, membuat Zalfa meregangkan pelukannya. Ia langsung menggelengkan kepala dan berkata pada Dimas kalau ia bisa menghangatkan air sendiri.
"Enggak papa sayang!" Dimas mengerti bahwa Zalfa merasa tak enak jika suaminya yang malah harus repot-repot melayaninya.
Dimas masuk ke rumah.
Membuka lemari es dan mengambil beberapa bahan untuk membuat cokelat hangat.
Cokelat hangat sudah selesai Dimas buat.
Sedikit demi sedikit Zalfa meminumnya.
Hangat dan tenang itulah sensasi saat meminumnya.
Zalfa dan Dimas sama-sama menyeduh cokelat hangat.
Saling melempar senyum dengan posisi duduk yang begitu sensitif dan berhadapan tanpa ada celah antara keduanya.
Dalam manis dan hangatnya cokelat yang terseduh di indera pengecap satu sama lain, membuat mereka saling mencuri pandang kemudian menyeduhnya lagi, hingga tiba saatnya tatapan mereka pun bertemu.
Sama-sama tak berkedip, yang ada hanyalah menatap dengan tatapan dalam dan penuh cinta. Menyiratkan harapan dan keinginan dari keduanya.
Hawa dingin yang menjalar tubuh basah mereka dengan disertai hujan yang tak kunjung reda melengkapi kesempurnaan ikatan cinta suci mereka berdua.
Menjadi saksi akan sebuah malam yang indah, yang indahnya lebih dari seribu satu malam.
Malam yang seakan-akan malam itu hanya milik Dimas dan Zalfa sahaja.
....
~ ๐๐ต๐ช๐ผ๐ฑ๐ซ๐ช๐ฌ๐ด ๐๐ฏ๐ฏ ~
Malam panjang bersatu dengan guyuran hujan yang membasahi kota M juga membasahi gelora jiwa sepasang pengantin baru yang akan seutuhnya memiliki satu sama lain.
Dimas mengigat dan memikirkan kenangan antara Zalfa dan dirinya semalam.
Benar-benar malam yang indah, bahkan lebih indah dari seribu satu malam. Fikir Dimas dalam hati.
Malam pengantin yang sudah seharusnya mereka leweti akhirnya terlewati sudah semalam bersama Zalfa dengan penuh kecintaan.
Dimas tersenyum bahagia saat mengingat momen indah tak terencanakan tersebut.
Beberapa menit demi menit pun berlalu.
Kini, Dimas sudah rapi dengan seragam yang melekat pada tubuhnya setelah melakukan berbagai ritual paginya sebelum bertugas.
Zalfa melihat bagaimana gagah dan tampannya Dimas saat mengenakan seragam kebanggaan itu.
Kagum dan harap menjadi satu saat Dimas sudah berada di meja makan bersamanya. Moment sarapan pagi kembali menghiasi kisah cinta mereka.
Kisah yang sebenarnya akan baru dimulai. Kisah yang tak selalu manis namun juga ada asam, asin, pahit didalamnya.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...!
Episode kali ini hanya untuk hiburan belaka! ๐
Semoga terhibur!
Jangan lupa bersyukur!
Jangan lupa bahagia!
__ADS_1