Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Sempurna!


__ADS_3

Senin pagi menyambut Zalfa bersama dengan para siswa yang sudah berbaris dengan begitu rapi untuk upacara apel pagi hari Senin. Dengan penuh khidmat dan semangat para guru dan siswa mengikuti upacara tersebut.


Dalam pidatonya diakhir, Pak Wijaya selaku kepala sekolah mengimbuhi ucapan selamat datang dan bergabung kembali untuk Zalfa yang beberapa bulan sempat tidak mengajar dikarenakan hal yang sama sekali tidak diinginkan.


"Terakhir, sebelum saya akhiri, saya ucapkan selamat datang dan bergabung kembali kepada Bu Zalfa untuk berbagi ilmunya dengan kita semua!" Pak Wijaya diakhir pidatonya.


Para guru dan siswa pun bertepuk tangan, bersorak-sorai bahagia atas hadirnya Zalfa kembali ditengah-tengah mereka.


Sambutan hangat, keceriaan, ketulusan begitu ketara pada wajah mereka semua (para guru dan murid). Seulas senyum serta raut sumrigah pun terpancar di wajahnya Zalfa.


Suasana haru dan bahagia menjadi satu dalam hati Zalfa tatkala melihat bahagianya para siswa dan segenap dewan guru termasuk Meta yang sudah kembali sehat setelah menjalani masa pemulihan.


Satu persatu susunan upacara telah terlaksanakan.


Para siswa berhamburan pergi begitu upacara selesai. Sementara itu, segenap guru termasuk Meta, berjabat tangan dengan Zalfa sebagai bentuk kesan welcome kembali kepada Zalfa.


Meta yang dulunya cukup tak suka dengan Zalfa, kini sudah berubah menjadi sayang padanya. Tak cuma menjabat tangan Zalfa, tak tanggung-tanggung ia juga menyambut Zalfa dengan pelukan hangatnya.


Tangan Zalfa juga dibuat cukup kuwalahan membawa beberapa buket bunga serta cokelat dari para guru serta siswanya sebagai ucapan selamat datang atas bergabungnya kembali dirinya.


Moment itu harus terhenti sejenak, saat Pak Satpam sekolah meneteng sebuah buket bunga yang ukurannya cukup besar ditangannya yang ditujukan kepada Zalfa.


Zalfa menerimanya juga berterimakasih kepada Pak Satpam yang sudah repot-repot membawakan bunga buket yang Zalfa sudah menyangka itu dari Dimas pastinya.


"๐“‘๐“พ ๐“ฐ๐“พ๐“ป๐“พ๐“ด๐“พ ๐”‚๐“ช๐“ท๐“ฐ ๐“ฌ๐“ช๐“ท๐“ฝ๐“ฒ๐“ด, ๐“ผ๐“ฎ๐“ถ๐“ช๐“ท๐“ฐ๐“ช๐“ฝ ๐”‚๐“ช!๐Ÿ˜š


๐“ข๐“ฎ๐“ต๐“ช๐“ถ๐“ช๐“ฝ ๐“ถ๐“ฎ๐“ท๐“ฐ๐“ช๐“ณ๐“ช๐“ป ๐“ด๐“ฎ๐“ถ๐“ซ๐“ช๐“ต๐“ฒ ๐“‘๐“พ ๐“ฐ๐“พ๐“ป๐“พ!"โ˜บ๏ธ


๐“‘๐”‚: ๐“œ๐“พ๐“ป๐“ฒ๐“ญ ๐“ฏ๐“ช๐“ฟ๐“ธ๐“ป๐“ฒ๐“ฝ๐“ถ๐“พ ๐“ช๐“ต๐“ฒ๐“ช๐“ผ ๐“ถ๐“พ๐“ป๐“ฒ๐“ญ ๐”‚๐“ช๐“ท๐“ฐ ๐“ถ๐“ฎ๐“ท๐“ฐ๐“ช๐“ฐ๐“พ๐“ถ๐“ฒ๐“ถ๐“พ, ๐“ผ๐“ฎ๐“ซ๐“พ๐“ฝ ๐“ผ๐“ช๐“ณ๐“ช ๐“ช๐“ด๐“พ ๐““๐“ฒ๐“ถ๐“ช๐“ผ ๐“๐“ญ๐“ฒ๐“ฝ๐”‚๐“ช๐“ถ๐“ช ๐“Ÿ๐“พ๐“ฝ๐“ป๐“ช ๐“ฆ๐“ฒ๐“ณ๐“ช๐”‚๐“ช.๐Ÿฅฐ


Sepenggalan bait kalimat dalam kartu ucapan yang tersemat di buket tersebut, membuat Zalfa tersenyum dan tertawa kecil begitu membaca identitas pengirimnya.


"Emang paling bisa ngebuat aku terbang bahagia kamu, Mas." Ucapnya dalam hati.


Zalfa yang masih larut dalam bahagianya, cukup tak sadar kalau ada guru yang dapat membaca tulisan dalam kartu ucapan tersebut.

__ADS_1


"Emm ... yang masih pengantin baru, so sweet banget sih!" Sahut salah satu guru yang secara tak sengaja dapat membaca identitas dari pengirimnya.


"Sudah Bu, jangan begitu! Namanya juga masih pengantin baru." Jawab guru yang lainnya dengan ramah.


"Semoga selalu diberikan kebahagiaan, serta keluarganya dijadikan sakinah, mawwadah dan warohmah."


Semua pun turut mengaamiinkannya dengan tulus ikhlas.


...--------------...


Pagi dan siang terlewati dengan cepat sesuai peredarannya. Dan malam pun datang memecah kesunyian yang ada.


Tampak dari suatu arah sepatu hitam yang dikenakan Dimas perlahan berjalan keluar dari dalam kereta. Pandangannya fokus ke depan dengan tetap berdiri tegap disertai wajah ramah yang senantiasa terpancar. Tanpa memerhatikan arah depannya seorang wanita dengan mengenakan seragam yang sama dengan yang Dimas kenakan menabrak Dimas saat itu juga.


Brugg ...


"Auh ..." Keluh perempuan itu sambil meringis kaget dengan memejamkan matanya.


Perlahan membuka mata dan melihat kepada sosok laki-laki yang yang tak sengaja tertabrak dengannya.


Alis hitam dengan ketebalan sedang, wajah tampan yang begitu pas dengan kulit putih bersihnya. Hidung mancung, bibir tebal dan merah bak buah leci ditambah senyum yang begitu mendominasi pun turut melengkapi ketampanannya.


Pikirannya berkelana mendefinisikan akan kelebihan demi kelebihan yang dimiliki laki-laki tampan yang ia tak sengaja tertabrak dengannya. Laki-laki yang pagi tadi ingin ia sapa untuk menjalin hubungan yang lebih baik sesama kondektur. Tetapi ia tak tau kalau ternyata dari dekat, kadar ketampanannya begitu memikat.


"Sempurna!" Pujinya dalam hati seraya tak berkedip dan menelan salivanya yang terasa sedikit kering.


Dimas hanya melihat sekilas ke perempuan itu kemudian beranjak pergi.


Tetapi, perempuan itu terus saja menyamai langkahnya. Membuat Dimas berhenti sejenak dan menanyakan apa yang perempuan itu inginkan.


"Apa mau kamu?"


"Aku Zoya, kondektur baru di sini." Mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Dimas.


Dimas menyatukan kedua tangannya dan memperkenalkan namanya.

__ADS_1


Tetap bersikap tenang, perempuan bernama Zoya itu perlahan menarik tangannya yang tidak dijabat balik oleh Dimas.


"Salam kenal Dimas!"


"Aku, minta maaf ya tadi gak sengaja nabrak kamu Dimas." Zoya cukup santai.


"Panggil dia Pak Dimas! Dia senior kamu loh!" Rere yang tiba-tiba datang dan tak sengaja mendengar.


"Maksudku, Pak Dimas!" Zoya mengulangi dan membenarkan panggilannya kepada Dimas sesuai arahan dari Rere yang termasuk seniornya jug


"Iya, panggil Dimas saja tidak papa."


"Kamu kenapa sih Re?" Dimas merasa ada yang aneh dengan Rere karena bersikap sebegitunya dengan Zoya.


Dimas sudah berpaling dari Rere dan Zoya yang masih saling menatap. Sesaat kemudian begitu selesai melihat dan mengenali baik-baik bagaimana Zoya, Rere pun beranjak pergi juga.


"Kenapa sih dengannya? Dari caranya melihatku tadi seakan-akan dia tidak akan membiarkan aku mendekati Dimas, eh Pak Dimas."


"Mungkin dia suka juga pada Dimas?" Zoya masih memikirkannya.


Handphone Dimas bergetar dari sakunya. ID dengan nama "My lovely wife" pun tampak dari layar handphonenya. Dengan segera Dimas juga turut beranjak dan pergi tanpa Zoya ketahui.


Hal itu membuat Zoya cukup kesal karena Dimas juga sudah pergi darinya, padahal ada banyak hal yang ingin ia tanyakan ke Dimas. Plus ajang pendekatan fikirnya, jika Dimas memanglah ditakdirkan untuknya.


Zoya pun mau tak mau beranjak pergi dari tempat itu dengan raut wajah cukup kecewanya.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ...!


Selamat membaca...! โ˜บ


Tetap bersyukur & bahagia! ๐Ÿค—


#BesokudahSeninaja๐Ÿฅฐ๐Ÿ’ช


See you again...! ๐Ÿ‘‹

__ADS_1


__ADS_2