
Sementara itu orang-orang yang berada ditempat itu ikut panik dan sedih melihat kedua kekasih yang saling bahagia karena baru saja meresmikan hubungan mereka itu harus sedih karena salah satunya terkena tembakan.
Buru-buru orang-orang ikut membantu Rere dan Lukman untuk menangkap pelaku penembakan yang berlari keluar stasiun.
Atas usaha banyak orang yang membantu menangkap pelaku tersebut, tak lama kemudian pelaku tersebut tertangkap dan segera dibawa ke kepolisian.
Setelah berhasil tertangkap, keamanan di stasiun kembali ditingkatkan dengan extra dan petugas juga memberi pengumuman agar para penumpang tidak perlu lagi cemas. Dan situasi di stasiun saat itu juga telah kembali membaik dan kondusif.
Dan itu sungguh berbeda dengan situasi di rumah sakit saat ini.
~Di Rumah Sakit Terbesar dan Ternama Di Kota S~
Dimas berlari disamping Zalfa, mengiringi laju dampar yang membawa Zalfa untuk segera dapat pertolongan yang pertama.
Dimas begitu cemas namun ada yang lebih cemas dari Dimas yaitu Bu Ambar. Bu Ambar sedari tadi terus saja menangis dengan masih ditenangkan oleh Ica.
"Tante kita harus yakin Kak Zalfa akan baik-baik saja. Kak Zalfa wanita yang kuat. Kak Zalfa akan kuat kalau Tante kuat," Ica berusaha memenangkan Tantenya meskipun ia juga cemas dan sedih,"jadi Tante harus kuat!"
Dimas mendengar betul ucapan yang dilontarkan oleh Ica. Ia salut pada Ica yang begitu kuat bahkan menguatkan Bu Ambar Mamanya Zalfa.
Dalam kesedihan yang sama seperti yang Bu Ambar rasakan Dimas mendekati Bu Ambar, dan berbicara empat mata dengan Bu Ambar, "Bu maafkan saya, saya tidak bisa melindungi Zalfa putri Ibu. Maafkan saya Bu, maafkan saya." menyentuh tangan Bu Ambar.
"Pak Dimas apa yang kamu katakan, ini semua bukan salah kamu. Bukan salah kamu!"
Dimas pun langsung berhambur ke pelukan Bu Ambar.
__ADS_1
Dengan tiba-tiba dokter keluar dari ruangan dan memberi intruksi kepada pihak keluarga agar berdo'a dan yakin akan pertolongan dari Allah karena dokter akan melakukan proses operasi untuk mengangkat peluru yang terlanjur masuk ke pundak belakang/punggung belakang Zalfa.
"Pak Bu, mohon untuk tetap tenang, berdoa dan yakin akan pertolongan-Nya!" Dokter memberi arahan. Kemudian kembali memasuki ruang operasi.
Seperti dihantam pukulan yang begitu keras, Dimas Bu Ambar Bu Anis Pak Wijaya dan Ayunda yang masih menunggu didepan ruangan tersebut.
"Bu Anis, Bu Anis harus kuat! Bu Anis harus menjadi penguat untuk Bu Ambar, Ica, Pak Wijaya dan Dimas." bisik Ayunda mengetahui Bu Anis yang sempoyongan begitu mendengar pernyataan dari dokter.
Perkataan dari Ayunda seperti air yang datang disaat sedang kehausan. Bu Anis dengan keyakinan penuh bahwa akan ada pertolongan dari Allah, ia bangkit berdiri dengan tegak dan menghampiri satu persatu dari empat orang yang harus ia kuatkan.
Ia menghampiri Bu Ambar dan Ica lebih dulu, "Bu Ambar Nak Ica kita harus yakin Allah akan menolong kita dan Bu Zalfa pasti baik-baik saja." Merangkul dan memeluk Bu Ambar dan Ica bergantian.
Bu Ambar dan Ica pun merespon dengan mengangguk yakin dan setuju pada apa yang Bu Anis ucapkan. Begitu melihat kedua orang yang disayangi Zalfa sudah lebih tenang kembali, kini Bu Anis melangkah menghampiri Dimas yang pasti begitu hancur menerima ini semua.
Bu Anis menyentuh pelan pundak Dimas seraya memanggilnya,"Dimas ..."
Sambil mengangguk sebagai tanda kalau Bu Anis mengerti apa yang tengah Dimas rasakan saat ini, Bu Anis pun berkata pada Dimas,"Kamu harus kuat dan yakin ya Nak, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya dan Bu Zalfa akan bersama kita lagi.
Dimas langsung mengambil tangan Mamanya, ia genggam erat tangan Mamanya. Ia juga mencium tangan Mamanya dan kemudian langsung memeluk sang Mama. Bu Anis pun memberi pelukan semangat dan kehangatan seorang Ibu untuk anaknya yang sedang tidak baik-baik saja.
Merasa cukup dengan Dimas, Bu Anis beralih ke Pak Wijaya. Pak Wijaya seorang ayah dengan 2 orang anak sangat sedih melihat kejadian yang menimpa Zalfa. Apalagi kejadian itu nyata di depannya dan selain itu, Zalfa adalah guru yang baik disiplin dan bertanggung jawab dan lebih dari itu Pak Wijaya sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri.
"Pa kita harus kuat untuk Dimas, Bu Ambar dan Ica. Kita harus yakin Allah akan memberikan pertolongan-Nya dan Bu Zalfa akan baik-baik saja."
Bu Anis memegang bahu suaminya. Dan Pak Wijaya mengangguk setuju dengan ucapan dari istrinya tersebut. Ia harus kuat agar Dimas, Bu Ambar dan Ica yang pasti lebih terpukul tidak berputus asa dan hilang arah.
__ADS_1
Begitu pelaku penembakan Zalfa tertangkap, orang-oarang yang berhasil menangkap langsung mengiring dan membawanya ke kepolisian untuk diberikan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
(Dari sini kita dapat belajar bahwa balas dendam tidak baik untuk dilakukan, kalau pun kita punya rasa sakit hati kepada seseorang akan lebih baik kalau kita bersabar atas rasa sakit hati yang telah orang itu berikan ke kita. Dan sudah seharusnya kita tidak membalas sakit hati yang kita rasakan itu dengan hal yang tidak semestinya, karena selain merugikan orang lain itu juga akan sangat merugikan diri kita sendiri. Dan dari perbuatan Edo, kita disini dapat sama-sama mencegah/mendekati/mencoba diri kita untuk TIDAK melakukan kejahatan apapun itu apalagi sampai diluar batas hanya karena rasa benci. Dan alangkah baiknya kalau kita mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Jadi apabila kita merasakan sakit hati kepada orang lain, kita jangan membalas rasa sakit hati itu dengan melakukan hal-hal negatif. Tapi kita bisa lebih banyakin belajar sabar dan istighfar.π)
Dan yang jelas perbuatan Edo, TIDAK pantas untuk ditiru! Karena pada dasarnya Dimas berusaha melindungi Zalfa tapi Edo saja yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Karena itu mari kita sama-sama belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. π€π.
~ Di Kepolisian Kota S~
Edo adalah penembak tersebut, ia tak menyangka tembakannya akan salah sasaran. Segala rencana telah ia susun untuk menunggu moment dimana ia bisa membalaskan rasa dendam atas sikapnya kemarin saat ia mengajak Zalfa untuk kembali padanya. Hari itu juga ia membututi Zalfa dan mencari informasi lebih dalam dari mereka, hingga ia tau kalau mereka akan bertemu kembali di stasiun kota S. Maka ia pun menyiapkan rencananya sebaik mungkin. Tapi ternyata kini Zalfa lah yang harus terkena luka tembakan tersebut. Ia begitu sedih dan prustasi tapi dengan cepat ia segera meninggalkan area tersebut. Namun ia pun kalah cepat dengan orang-orang yang telah menangkapnya.
Istrinya Edo, begitu tau Edo ditangkap atas perbuatannya yang ingin membalas Dimas namun malah salah sasaran dan berujung mengenai Zalfa, istrinya Efo itu benar-benar tak habis fikir dengan tindakan yang telah dilakukan Edo tanpa sepengetahuannya.
Ia marah dan begitu kecewa pada Edo sanking marah dan kecewanya ia mengucapkan hal yang tidak semestinya pasangan ucapkan saat sudah bersuami atau beristri.
"Mas Edo aku kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu ingin Dimas celaka." ucapnya tak habis fikir,"dan apalagi kamu melakukan itu semua karena kecemburuan kamu pada Dimas yang akan menikah dengan mantan tunangan kamu."
Edo hanya diam dan tidak berani berkata sepatah katapun.
"Mas Edo, kamu anggap aku apa Mas? Aku bela-belain jadi istri kamu dan meninggalkan Dimas tapi kamu malah seperti ini."
"Harusnya kamu tidak melakukan ini semua! Harusnya kamu tetap membiarkan mereka bahasa bersama karena mereka layak dapat itu setelah rasa sakit yang kita torehkan ke mereka berdua."
Ucap Sintia saat tau korban dari ulah Edo. Dan ia tak menyangka kalau korban tersebut adalah orang yang dicintai Dimas. Dimas yang notabenenya dulu pernah jadi kekasihnya dan dengan teganya Sintia sendirilah yang meninggalkan Dimas dan lebih memilih menikah dengan Edo.
"Iya Sintia, aku sangat menyesal Sintia, aku sangat menyesal. Aku sudah mengkhianati Zalfa dan menikah dengan kamu yang dulunya adalah kekasih Dimas. Maafkan aku Sintia! Aku mohon maafkan aku!" Edo meratapi kesalahannya dan meminta maaf pada Sintia.
__ADS_1
Sintia pun hanya diam menghapus air matanya menarik nafasnya kemudian pergi dari hadapan Edo. Sedangkan Edo ia harus menerima konsekuensi dari apa yang sudah ia perbuat.