Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Malam Panjang


__ADS_3

Hari berganti dan Dimas pun turut mempersiapkan pernikahan yang cukup mendadak untuknya dan Zalfa. Tapi ia memilih berkhusznudhon kalau itulah yang terbaik untuk mereka berdua. Mengikat diri dalam janji suci merupakan hal yang baik kan? Apalagi ketika dua insan sudah saling cinta dan mantap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Hari itu juga, Dimas bersama Zalfa mereka pergi bersama untuk mengurus beberapa persyaratan nikah.


Selesai melakukan pas foto bersama di KUA sejenak mereka menghabiskan waktu bersama untuk bertukar cerita dan lebih saling mengakrabkan diri antara satu sama lain.


Hal itu nampaknya tidak luput dari sepengetahuan Bu Anis yang dengan sengaja mengikuti Dimas dan Zalfa secara sembunyi dengan alasan sedang mengajak cucunya bermain. Pak Wijaya yang melihat tingkah istrinya seperti itu jadi malu sendiri. Niat mereka mengajak bermain sang cucu ke taman kota malah bergeser ke kafe taman yang terletak tak jauh dari taman kota.


Untuk beberapa saat Pak Wijaya merasa sangat lega dan bahagia karena sang cucu mendadak rewel dan ingin pergi dari cafe itu.


"Iya, iya sayang kita pergi dari sini." Bu Anis membujuk cucunya agar tidak rewel lagi,"udah yaa jangan nangis!"


Beranjak pergi dari cafe dengan langkah pelan dan mengendap-endap agar Dimas maupun Zalfa tak mengetahui keberadaannya.


Sekilas Dimas merasa mendengar suara Mamanya yang membujuk keponakannya, tapi setelah ia menengok ke berbagai arah, tetapi ternyata dia tidak melihat Mamanya berada ditempat yang sama dengannya.


"Ah, mungkin cuma perasaanku aja!" Dimas sambil menyeruput caffe late pesanannya.


"Kenapa?" Tanya Dimas mengetahui gerak gerik aneh dari laki-laki didepannya itu.


Dimas mengulas senyumnya, meyakinkan Zalfa bahwa tidak terjadi apa-apa dengannya tadi.


Dan mereka pun kembali meneruskan pembicaraannya kembali. Membahas mimpi-mimpi mereka kedepannya.


...----------------...


Beberapa hari kemudian ...


Satu persatu dengan seiring berjalannya waktu dan bergantinya hari semua persyaratan pernikahan mereka pun terpenuhi sudah.

__ADS_1


Dan tibalah kini saat yang dinanti-nanti...


Dimalam yang sunyi, tapi tidak teruntuk dua insan dimana ketika malam telah berganti pagi, mereka akan saling mengikat janji suci.


~ Di Rumah Zalfa di kota M ~


Suasana malam di rumah Zalfa begitu ramai


dengan kedatangan sanak keluarga yang berdatangan lebih awal untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan dari Zalfa sang pengantin wanita. Tak tertinggal pula, wedding organizer yang juga sudah menghias dan menata dekorasi pernikahan sederhana namun tampak eksotik sesuai keinginan Zalfa.


Tak dapat ditepis oleh Zalfa, akan kecemasan yang melanda hatinya karena teringat akan kondisi sang Mama yang sebenarnya.


Bu Ambar menghampiri dan mendekati Zalfa yang sedang dikerumuni oleh para kerabatnya termasuk Ica yang juga ikut didalamnya.


Bisa Bu Ambar lihat dengan jelas beberapa kerabatnya menghias tangan Zalfa dengan begitu lihainya. Hiasan tangan berwarna putih natural pun terlukis dengan begitu indahnya menambah kecantikan pada tangan Zalfa yang sudah putih, cerah dan bersih dari sananya.


Mengetahui sang Mama yang turut serta dalam kurumunan yang mengerumuni dirinya, Zalfa dengan berbakti memanggil Mamanya agar Mamanya semakin dekat dengannya. Rasa cemas yang masih menyelimuti hati Zalfa membuat Zalfa menanyakan kembali akan bagaimana kondisinya saat ini.


Ucapnya tak dapat menyembunyikan kecemasannya.


Bu Ambar berjalan lebih dekat kepada Zalfa. Beberapa kerabatnya pun menjauh untuk memberi ruang kepada Zalfa dan Mamanya untuk berbincang.


Tangan hangat dan lembut Bu Ambar menyentuh wajah putrinya yang nampak begitu cerah bersinar menurutnya. Mungkin karena efek dari ritual kulit yang Zalfa gunakan sebelum menggunakan hiasan pada tangannya tadi.


"Kamu tuh yaa? Mana ada orang tua yang enggak baik-baik aja melihat anaknya akan menikah?" Berpindah mencubit dengan gemas hidung bangir milik Zalfa.


Saat itu juga ketegangan berubah menjadi canda tawa antara keduanya. Dengan posesif Zalfa menghaburkan dirinya dalam dekapan Mamanya tercinta.


"Pokoknya Mama harus janji sama Zalfa. Begitu Zalfa dan Pak Dimas resmi menikah, Mama akan tetap baik-baik saja!" Tutur Zalfa mengungkapkan dengan penuh penekanan diakhir ucapannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan berikanlah umur panjang untuk Mamaku!" Lirihnya dalam hati sambil memejamkan matanya.Tak dapat dibendung lagi oleh Zalfa air matanya mengalir begitu saja. Ia begitu berharap keajaiban akan terjadi pada sang Mama. Ia juga berharap akan datangnya orang berhati malaikat yang akan bersedia menjadi pendonor untuk sang Mama.


Merasa kalau Zalfa harus secepatnya istirahat,


Bu Ambar pun melepas pelukannya. Serta menyuruh Zalfa segera beristirahat sebab iq juga akan beristirahat agar esok hari fresh di moment pernikahan putri semata wayangnya.


Bu Ambar membelai lembut puncak kepala Zalfa dan kemudian mengecupnya. Tak lama setelah itupun Bu Ambar pergi dan menghilang dari kamar Zalfa untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Dalam kamarnya, Bu Ambar tak bisa menyembunyikan sakit yang ia tutupi dari Zalfa. Tangannya pun segera mencari obat yang dokter berikan untuk meredakan sakit yang dialaminya.


Untuk sesaat dirinya berhasil mengendalikan rasa sakit itu dan segera mengistirahatkan dirinya pula dengan lisan yang henti mengucap istighfar dan doa agar Allah menguatkan dirinya.


Malam yang panjang pun juga dirasakan oleh Dimas yang sekarang sedang berkumpul bersama keluarga besarnya di rumahnya. Menjadi kebiasaan beberapa masyarakat yakni salah satunya masyarakat ditempat Dimas tinggal, apabila ada seorang laki-laki akan menikah maka akan banyak teman atau kerabat yang datang kerumah mempelai laki-laki untuk menemani mempelai laki-laki untuk menyiapkan diri terkhusus mental dan energi saat mengucapkan ijab qobul.


Malam itu pula, Lukman dan Rere sudah hadir bersama Dimas dan keluarga besarnya. Karena mereka berdua merupakan rekan kerja sekaligus teman yang cukup dekat dengan Dimas. Dan bisa dikatakan pula, bahwa mereka adalah saksi untuk kisah cinta Dimas dan Zalfa.


Dimas dan keluarganya menyambut kedatangan Lukman dan Rere dengan hangatnya, "Silakan masuk! Silakan masuk!" Ucap Pak Wijaya menyambut dan menjabat tangan keduanya.


Pandangan Lukman dan Rere langsung menuju ke Dimas mempelai pria yang saat ini tengah duduk diruang tengah bermain bersama keponakannya.


"Ehm ... ehm!" Lukman mengkode akan keberadaannya.


Begitu tau kalau tamu istimewanya sudah datang, dengan penuh kegembiraan Dimas menyambut Lukman dan Rere.


Dimas masih asik menjabat tangan Lukman dengan sesekali terjadi canda tawa antara mereka berdua. Rere yang tak ingin ikut campur dengan urusan kedua pria itu, membuat ia memilih bermain dengan keponakan Dimas yang tengah asik bermain sendiri dengan mainannya.


Malam itu menjadi momen yang membahagiakan serta mendebarkan untuk Dimas dan Zalfa, tetapi tidak untuk seseorang yang sedang menyusun sebuah rencana untuk kepuasan dan ambisinya semata.


Siapakah seseorang itu?

__ADS_1


Sintiakah? Atau Edokah?


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2