
Bagaikan panah yang lengkap dengan busurnya sehingga siap untuk memanah ke sesuatu yang ingin dipanah atau ditaklukkan, seperti itulah suasana hati Dimas saat ini.
Zalfa memberikan senyuman semangat untuknya dan Zalfa juga sudah mengetahui akan rasa cintanya. Kini Dimas tinggal menunggu jawaban dari Zalfa. Meskipun masih menunggu itu tak menjadi penghalang kebahagiaan yang ia rasakan hari ini.
Malah situasi tersebut memunculkan ide dimana dengan waktu yang ada sembari Zalfa memberikan jawaban Dimas akan mememberikan kejutan lain untuk Zalfa. Kejutan itu juga sebagai tanda keseriusan cintanya pada Zalfa. Dan ia juga berharap dengan usaha dan doa yang ia lakukan Zalfa akan mencintainya.
Dimas menelfon seseorang, ia mencari informasi dimana tujuan Zalfa dan Ayunda pergi. Setelah mengetahui keberadaan mereka, Dimas kembali menelfon seseorang lebih tepatnya penjual buket bunga yang ia kenal. Ia meminta tolong kepada seseorang itu agar menyiapkan buket bunga beserta kartu ucapan yang bertuliskan "semangat dan berbahagialah selalu!"
kemudian Dimas memberikan instruksi agar seseorabg itu menyertakan foto semacam animasi kondektur pada kartu ucapan itu. Tujuannya agar Zalfa menebak sendiri kira-kira siapa yang memberikan bunga itu padanya. Setelah buket bunga siap, Dimas memberikan instruksi lagi agar mengirimnya di hari esok. Setelah itu, seperti biasa Dimas kembali melaksanakan tugasnya dengan sebaik dan seprofesional mungkin.
Beralih ke SDN 1 Bumi Pertiwi kota S ...
Tepat pada pukul 13.00 waktu setempat Zalfa dan Ayunda sampai di SDN 1 Bumi Pertiwi kota S.
Disana telah berjejer rapi guru-guru SDN 1 Bumi Pertiwi yang berdiri menyambut setiap guru yang didelegasikan dari berbagai SDN dikota S termasuk salah satunya SDN Nusa Bangsa kota S yang dalam studi banding tersebut diwakilkan oleh Zalfa dan Ayunda.
Zalfa dan Ayunda bersama semua guru-guru yang menjadi peserta studi banding langsung menuju ke tempat studi banding yang telah disiapkan oleh SDN 1 Bumi Pertiwi selaku tuan rumah pada kesempatan kali ini.
Studi banding tersebut diawali dengan opening dan pengenalan lebih dalam mengenai SDN 1 Bumi Pertiwi dengan bermacam prestasi yang pernah diraih dan keunggulan sistem pembelajarannya.
Dan studi banding tersebut akan berlangsung sampai nanti malam sekitar pukul 20.00 waktu setempat.
...----------------...
Detik demi detik telah berganti ke menit, menit demi menit telah berganti ke jam dan tanpa terasa, kini siang sudah menjelang petang.
Pergantian waktu terasa begitu cepat tanpa dirasa oleh Dimas. Hari telah berganti petang, maka Dimas bergegas untuk kembali pulang. Jam kerjanya telah selesai dan kini bergantian dengan sip pegawai selanjutnya.
__ADS_1
Dimas berjalan keluar dari stasiun menuju tempat pertukaran uang dan pengiriman uang. Dimas berniat menepati janjinya, membayar uang cincin kepada orang beretnis Cina berkebangsaan Indonesia (pemilik cincin) yang tadi siang cincinnya Dimas berikan ke Zalfa sebagai hadiah.
Hanya butuh waktu beberapa menit pengiriman uang sudah selesai Dimas lakukan. Ditangannya kini struk bukti pembayaran telah dipegangnya.
Berniat memasukkan struk itu ke sakunya tetapi sebuah panggilan masuk menghentikan niatnya.
"Hallo Pak Dimas! Owe ucapkan terimakasih pada lu orang. Kapan-kapan kalau lu orang butuh cincin atau perhiasan lu orang bisa pesan saja ke owe. Owe akan carikan barang terbaik dan berkualitas untuk lu orang."
Ternyata yang mengubungi Dimas adalah pemilik cincin beretnis China yang tadi siang cincinnya sudah Dimas beli. Orang beretnis China tersebut rupanya mengucapkan terimakasih kepada Dimas yang sudah membayar harga kesuluruhan dari cincinnya. Selain itu juga menawarkan kesiapannya untuk melayani Dimas dengan perhiasan terbaik kalau Dimas butuh perhiasan lagi.
Mendengar penuturan dari pemilik cincin beretnis China tersebut Dimas menanggapinya dengan ramah, "Sama-sama Koh, terimakasih juga atas penawarannya Koh. Kapan-kapan kalau butuh perhiasan lagi, InsyaAllah saya akan hubungi Anda Koh."
"Oke owe tunggu lu orang pesan perhiasan lagi ke owe, Pak Dimas."
Dan Dimas pun mengakhiri panggilan tersebut dengan sopan.
Panggilan telah berakhir, dari samping Dimas datang seseorang yang tiba-tiba merebut struk bukti transfer yang telah dilakukan Dimas.
"Rere kembalikan struk itu pada saya, Re!" Rere menggelengkan kepala dan masih saja berupaya agar Dimas tak dapat mengambil struk itu dari tangannya.
Dan usaha Rere pun membuahkan hasil, Dimas tak berhasil mengambil struk itu darinya. Rere membaca baik-baik struk itu. Selesai membaca struk itu, Rere cukup tercengang mengetahui nominal yang ditransfer oleh Dimas.
Rere dengan mulutnya yang masih mengangga, ia menatap Dimas dengan tatapan sangat tak percaya dengan Dimas yang menghabiskan uang setengah dari gajinya sendiri dalam sekejap saja.
"Dim kamu habis beli apa?" Rere penasaran akan sesuatu yang dibeli Dimas dengan nominal yang tidak sedikit.
"Maaf Re, saya rasa ini bukan urusan kamu jadi saya tidak perlu memberitahukannya pada kamu." Dimas menyanggah.
__ADS_1
"Iya sih ..." Rere setuju dengan sanggah Dimas tapi tak berhenti disitu Rere terus berusaha agar Dimas mau memberitahunya juga.
"Tapi Dim, ayolah kasih tau aku juga! Kemarin malam kan aku udah pernah nolong kamu, masa kamu lupa sih?" Rere mencoba membuat Dimas teringat akan dirinya yang sudah sempat menolongnya.
Dan Dimas masih sangat ingat kalau kemarin malam Rere menemukan cincin Zalfa yang jatuh dari saku jaznya. Dengan baik hati Rere mau mengembalikan cincin itu pada Dimas. Dan Dimas pun merasa berutang budi pada Rere.
Ia jadi merasa tak enak kalau tidak memberi tau Rere sebenarnya apa yang telah dibeli Dimas dengan nominal yang tidak sedikit tersebut, tapi kalau Rere tau jangan-jangan Rere akan mencari tau lebih dalam lagi.
"Dim, masih keukeuh enggak mau kasih tau ke aku?" tanya Rere dengan cukup sebal karena terlalu lama menunggu respons Dimas.
"Maaf Re, belum saatnya kamu mengetahuinya. Besok kalau sudah saatnya pasti kamu akan tau sendiri apa yang sudah aku beli dengan nominal yang cukup banyak ini."
Dimas mengatakan itu kemudian bergegas pergi.
Sementara Rere, ia tak lagi bersemangat Dimas selalu penuh rahasia dan teka teki baginya. Ia berjalan memasuki stasiun kembali dengan wajah yang tak semangat sama sekali.
"Rere" sapa seorang laki-laki yang beratribut sama dengan yang dikenakan Dimas.
"Lukman" Rere menyapa balik.
"Bu kondektur cantik kenapa wajahnya ditekuk gitu? Biasanya juga paling semangat kalau tugas?"
"Enggak tau ahh ... lagi bete."
"Tumben? Cerita donk bete kenapa? Mungkin nanti aku bisa kasih solusi ke kamu."
Rere menatap Lukman tajam, tatapan itu menyiratkan seakan-akan Rere mempertanyakan ucapan Lukman tadi yang akan kasih solusi untuk permasalahannya."
__ADS_1
"Dih gak percaya banget sih sama aku? Giliran sama Dimas aja, Dimas belum bilang apa-apa udah percaya duluan!" Lukman kesal dengan Rere yang meragukannya.
Bukannya marah Rere malah tertawa karena ekspresi Lukman yang begitu lucu saat mengatakan unek-unek di hatinya itu.