Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Hanya Mengungkapkan Kriteria


__ADS_3

"Terlebih kepada wanita---"


"Pendek."


Ups Dimas begitu menyesal rasanya harus mengatakan itu kepada Zalfa yang diam-diam ia cintai. Dan untuk sekejap Dimas memejamkan matanya karena merasa bersalah pada Zalfa.


"Haduh, Dimas kenapa kamu mengatakannya?" dalam hatinya Dimas begitu menyesal dan menggerutu sendiri,"kalau dia marah gimana? Bisa gagal pendekatannya apalagi kalau dia sampai menangis? Duh, gimana jadinya coba?"


Dan saat ini Dimas benar-benar menunggu bagaimana tanggapan dari wanita di depannya yang tidak lagi menggunakan high heelsnya. Yang seketika itu memperlihatkan kalau ia tidak tinggi. Meskipun begitu Dimas suka kok🀭😌.


"Terimakasih ya Pak atas pengakuannya tersebut tapi sayangnya untuk memperbaiki kekurangan saya yang satu itu, memang saya sudah tidak bisa Pak, karena usia saya yang sudah tidak memasuki fase pertumbuhan." Zalfa mulai memberikan tanggapannya dan mengeluarkan apa yang dirasakan oleh hati dan jiwanya dengan nada purau,"selain itu, dulu pun saya sudah sering melakukan berbagai usaha mulai dari olahraga juga minum susu peninggi badan. Tapi ..."


Belum selesai menjelaskan kepada Dimas, Zalfa telah lebih dulu menjeda perkataannya dan nampak begitu sedih karena tidak memiliki tubuh yang tinggi, tinggi badannya tergolong rata-rata berkisar antara 150-155 cm saja.


Dimas menjadi penyimak dan pendengar yang baik untuk Zalfa, tetapi ia begitu ingin gemas dan geram pada Zalfa yang berulah seperti dia yang sering menjeda perkataan saat akan mencapai pokok dari inti pembicaraan.


Dimas pun bergantian menginterogasi Zalfa sekaligus berusaha menebak lanjutan dari perkataan yang dijeda Zalfa tersebut.


"Tapi apa?" Dimas cukup penasaran.


"Tapi---" Zalfa ragu dan tampak malu menyebutnya.


"Tapi tidak menjadikan tubuh kamu tinggi?" Dimas menebak dengan sengaja.


Belum sempat Zalfa membalas ucapan Dimas, tiba-tiba Ibu-Ibu hamil yang tidak sengaja mendengar obrolan dari Dimas dan Zalfa ikut menyahut,


"Pak kondektur, jangan dibuat sedih donk Mbak yang sudah berbaik hati mengalah demi saya dan dedek bayi dalam kandungan saya!"


Dimas menampakkan wajahnya dari sudut pintu dan menyunggingkan senyuman diwajahnya menanggapi ucapan Ibu-Ibu hamil tersebut.

__ADS_1


Zalfa pun menahan tawanya begitu mendengar pembelaan dari wanita hamil yang ia suruh untuk menempati kursinya.


Tanpa hitungan menit, dengan cepat Dimas kembali memasang wajah menginterogasi kepada Zalfa. Dan Zalfa berlagak tidak tau apa-apa dan menjawab sesuai realitanya saja,


"Iya ... yang seperti Anda lihat saat ini pada diri saya, Pak!"


Dengan tiba-tiba Zalfa pun menyunggingkan senyuman diwajah cantiknya itu.


Melihat perubahan dari mimik wajah Zalfa, Dimas merasa ikut lega dan bahagia. Zalfa tidak tersinggung dengan perkataannya namin Zalfa malah bersikap dewasa walaupun sempat membuat Dimas cemas.


Tanpa menunggu lama, Dimas pun langsung bertanya kembali pada Zalfa dengan wajah leganya,


"Sudah enggak sedih?"


"Emm ... sebenarnya sih masih, tapi udah tinggal beberapa persen saja kok."


"Sebenarnya saya sering dapat cibiran atau omongan kayak gitu, Pak. Awalnya sih serasa nyesek tapi lama-kelamaan karena udah terbiasa dan memang kenyataannya juga demikian, jadi lebih berbesar hati dan melatih kesabaran aja." ujar Zalfa lagi dengan santai.


Jiwa ketenangan Zalfa begitu mendominasi dirinya sehingga ia pun menjelaskan secara gamblang bagaimana rasanya saat mendapat omongan seperti itu dan bagaimana cara ia berusaha untuk menerima kenyataan dan memilih bersabar saja.


"Tapi, kalau boleh jujur saya suka wanita mungil seperti kamu!" Dimas spontan mengatakan itu tanpa sadar dan sekarang ia jadi salah tingkah sendiri, sementara Zalfa termenung dan masih tak percaya dan masih mencerna baik-baik yang Dimas katakan.


"Maksud saya wanita mungil dengan lekuk tubuh seperti gitar spanyol itu lebih saya suka."


"Apa maksud Anda Pak? Anda ..." Zalfa menyeringai curiga kemana arah pembicaraan Dimas.


"Tidak! Bukan maksud saya berfikir yang tidak-tidak tapi saya hanya mengungkapkan kriteria wanita yang saya suka." Dimas menegaskan kepada Zalfa yang walaupun pendek tapi tetap begitu cantik dan menarik.


"Begitu?" Zalfa tak mau terlalu pusing memikirkan perkataan Dimas.

__ADS_1


Sedangkan Dimas, ia mengangguk dan seperti biasa ia akan berucap, "Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu!"


Dan seperti biasa pula Zalfa mempersilahkan dengan lapang dada,


"Silakan Pak!"


Dalam hitungan menit Zalfa menengok ke tempat dimana Dimas yang sempat berdiri disampingnya tapi dalam hitungan menit pak kondektur tampan itu sudah menghilang kembali dari hadapannya.


Tak ingin berfikir macam-macam apalagi kepikiran dan GR sendiri atas apa yang diucapkan Pak Kondektur tentang kriteria wanita yang disukainya, Zalfa lebih memilih untuk menatap rintik hujan dalam kereta itu.


Disamping itu, siapa yang bisa menahan rasa saat berada bersama seseorang yang berarti dan dicintai olehnya? Siapa yang bisa menahan gejolak perasaan yang membara seakan meminta untuk diutarakan dan mendapatkan titik temu yang indah? Siapa? Dimas Adityama Putra Wijaya, apakah dia bisa menahan gejolak perasaan yang sangat ingin hatinya utarakan? Entahlah ...?


Dibalik pintu itu Dimas bimbang. Ia, masih mengatur nafas dan jantungnya yang sedari tadi berpacu tak menentu.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengutarakan perasaan ku pada Zalfa hari ini?"


fikir Dimas dalam hatinya dan tubuhnya masih berdiri dan bersandar pada pintu kereta. Iyaa, Dimas belum pergi jauh dari Zalfa. Dimas masih berada di pintu yang dibelakangi oleh Zalfa.


Dimas mengatur nafas dan posisinya kembali. Menetralisir perasaannya yang berkecamuk tak karuan, yang serasa meminta untuk diutarakan karena ini adalah sebuah kesempatan dimana ia bisa bertemu kembali dengan Zalfa wanita yang dicintainya.


"Heemmm ... Huuuft" Dimas merelaksasi kan dirinya sembari membenarkan penampilannya dengan merapikan jaznya kembali. Dan saat itulah Dimas memegang bagian saku pada jaznya. Sesuatu yang cukup mengganjal dan Dimas langsung mengeluarkan sesuatu itu.


"Cincin ini?" Dimas ingat akan cincin milik Zalfa. Ia segera membuka kembali pintu kereta terakhir yang dibelakangi oleh Zalfa, namun padangannya langsung terhenti selesai membuka pintu kereta.


Rupanya Zalfa sudah mendapat tempat duduk karena ada penumpang yang akan segera turun.


Dimas pun megenggam cincin itu dalam genggamannya dan sedikit merasa kesal karena kesempatannya untuk mengutarakan perasaannya telah hilang begitu saja. Lantas harus bagaimana lagi sekarang? Apa ia harus menemui Zalfa dikursi yang banyak penumpang itu? Dimas bisa saja langsung mengutarakannya di depan umum tapi ia belum ada persiapan sama sekali untuk itu. Dan mengungkap rasa cinta bukanlah perkara yang mudah nyatanya.


Dengan sangat terpaksa ia kembali menyimpan cincin itu dan berpaling meninggalkan pintu kereta penumpang terakhir dan kembali ke pintu kereta awal secara berurutan.

__ADS_1


__ADS_2