
Jika ada hal indah nan sakral itu adalah pernikahan. Jika ada momentum indah nan sakral yang berkelanjutan itu ngunduh mantu.☺🙏
~ Kediaman Pak Wijaya/Bu Wijaya Kota M ~
Awan putih kembali menyelimuti suasana pagi setengah siang dimana acara ngunduh mantu di kediaman Dimas atau Pak Wijaya tanpa terasa akan segera terlaksana.
Gerombolan manusia berjejer dan berdiri rapi dengan gaun yang senada plus serasi. Dengan pandangan matanya menyorot tak sabar menemukan sosok yang sudah mereka tunggu.
Burung merpati pun menggepakkan sayapnya datang dan pergi kesana kemari, mereka turut mengabarkan seolah-olah mereka tak sabar menanti serta menyambut orang yang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya di tempat itu.
Tak butuh waktu lebih lama lagi.
Merekahnya bunga mawar, begitulah perumpamaan sesuatu yang menyiratkan kebahagiaan keluarga, kerabat dan para tamu undangan, saat mereka semuanya menemukan orang yang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya.
"Itu mereka!" Ungkap dari mereka yang berjejer dan berdiri dengan rapi dengan mengenakan gaun senada dan serasi di barisan terdepan,"itu mereka!"
Tak mau ketinggalan situasi yang ada di depan sana (di halaman kediaman Dimas atau Pak Wijaya lebih tepatnya), para tamu undangan dan sanak keluarga terlebih tuan rumah secara reflek ikut histeris tak sabar menengok ke arah halaman.
Dapat dilihat, beberapa rombongan mobil telah berhenti tepat di halaman kediaman Pak Wijaya dan Bu Wijaya.
Hitungan detik berlalu, muncullah sosok yang sudah ditunggu-tunggu yaitu sosok Dimas dan Zalfa.
Zalfa keluar dari mobil dengan digandeng oleh Dimas.
Gaun pengantin berwarna hijau sage yang melekat pada tubuh Zalfa, membuat para hadirin tertegun menyorot pengantin wanita yang nampak begitu cantik. Sosok pendampingnya. Yang mengenakan jaz senada dengan gaun yang Zalfa kenakan, ia juga mendapatkan sorotan sama dari seluruh tamu undangan juga para kerabat yang ada di kediaman Pak Wijaya saat ini.
Kedua pengantin itu merapatkan diri berjalan beriringan secara anggun dan gagahnya. Anggun untuk mempelai wanita dan gagah untuk mempelai pria.
Sempat untuk sesaat mereka saling pandang serta berbincang sebelum benar-benar sampai di hall pernikahan dimana para tamu telah menunggu kedatangan keduanya.
"Mas Dimas, keluarga kamu sepertinya sangat bahagia menyambut kedatangan kita." Zalfa melihat bagaimana kebahagiaan dan antusias dari setiap orang yang hadir di kediaman mertuanya.
"Bukan kita, tapi kamu. Keluargaku merasa sangat beruntung aku bisa memiliki kamu sebagai istriku, Fasya."
"Begitukah?" Cukup tak percaya namun begitu terharu bahagia jika memang itu sangatlah benar adanya.
__ADS_1
Dimas hanya mengangguk sesekali tersenyum.
Ah, Zalfa benar-benar tak tau harus bagaimana mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya selain hatinya tak hentinya memuji akan nikmat Allah SWT yang telah menganugerahkan semua ini padanya.
Sekilas ia mencuri pandang dan mengamati Dimas baik-baik. Tak perlu menunggu lebih lama, ia mengatakan sesuatu padanya, "Kalau keluarga kamu beruntung karena kamu memiliki aku sebagai istri kamu, maka aku dan keluargaku sangatttt lebih beruntung karena aku memiliki kamu sebagai suamiku."
Sesudah berkata demikian, Zalfa dengan cukup manjanya memegang dan menyentuh lengan kekar Dimas yang berbalut jaz hijau sage.
Belum sempat Dimas merespon ucapan serta usapan tangan lembut Zalfa yang menyentuh lengannya, Zalfa lebih dulu telah mengajaknya untuk berjalan. Tapi yang pasti Dimas begitu tersanjung atas apa yang Zalfa katakan padanya.
Dan keduanya pun berjalan beriringan layaknya pengantin pada umumnya saat akan menuju hall pernikahan. Tangan kanan Zalfa dengan manja menyentuh dan merangkul bahu kekar Dimas dengan erat disertai rasa cinta dan kasih sayangnya. Dimas menyambut itu dengan mengenggamnya dengan hangatnya cintanya untuk Zalfa.
Tampak pula, Pak Wijaya dan Bu Wijaya yang sudah menantikan kehadiran anak serta mantunya di sudut paling depan di hall pernikahan dengan bahagianya.
Ya, bagaimana Bu Anis tak bahagia? Keinginannya melihat putra sulungnya menikah sudah terwujud. Terlebih lagi dengan perempuan yang ia idamkan sedari awal untuk jadi mantunya.
Tak jauh berbeda dengan Bu Anis, Bu Ambar Mama dari Zalfa juga merasakan apa yang Bu Anis rasakan. Kedua Ibu itu dibuat bahagia atas terwujudnya mimpi mereka satu sama lain.
"Bu Besan alhamdulillah ya anak-anak kita memang berjodoh!" Bu Anis terharu.
"Iya Bu Besan, alhamdulillah." Bu Ambar merangkul Bu Anis yang masih asik mengamati Dimas dan Zalfa.
"Aamiin, semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." Bu Anis mengimbuhi Bu Ambar sekarang turut meng aamiinkan harapan dari besannya itu.
Dimas dan Zalfa telah duduk manis di kursi pengantin.
Dengan khidmat Prosesi acara pun dilangsungkan satu per satu secara runtut.
Beberapa jam berlalu ...
Acara demi acara telah terlaksana dengan baik dan lancar. Menujulah ke acara yang tak kalah pentingnya. Acara dimana Dimas dan Zalfa akan pergi honeymoon ke sebuah tempat yang sudah disiapkan secara khusus oleh keluarga Dimas. Sebuah tempat yang sangat asri jauh dari hiruk-pikuk perkotaan lebih tepatnya.
Merekapun, Dimas dan Zalfa telah siap dengan motor pengantin yang sudah dihias dengan begitu apik dan unik untuk mereka berdua kendarai.
Dari suatu arah. Sorot mata seseorang yang menyempatkan untuk hadir di acara spesial Dimas, ia terus saja melihat kepada sepasang suami istri yang nampak begitu bahagia tak jauh di depannya saat ini.
__ADS_1
Secara tak sadar air mata pun telah mengenang di pelupuk matanya. Dalam hati tak dapat ia tepis bahwa hatinya masih cukup dini untuk merasakan luka dari apa yang ia lihat di hadapannya saat ini.
"Zoya?" Rere yang tau apa yang dilakukan Zoya.
Zoya mengusap matanya yang sudah berlinang air mata di pelupuk matanya. Menarik nafas, membenarkan posisinya dan menampilkan kesan baik-baik saja akan dirinya di depan Rere.
"Kamu nangis?" Rere tau betul apa yang sedang Zoya alami. Karena padahal Rere sudah sempat mencegahnya tadi. Agar tidak memaksakan diri untuk hadir karena itu hanya akan menambah lukanya.
Zoya geleng-geleng dengan maksud mengatakan pada Rere bahwa dugaan Rere itu tidak benar.
Dengan reaksi Zoya yang demikian, Rere lebih memilih tersenyum dan menepuk pundak Zoya sebagai bentuk menyalurkan kekuatan pada Zoya. Tak mau menambah beban fikiran dan perasaan Zoya itulah niat Rere.
Tanpa terduga ternyata Zoya tak tahan dan tak kuat menyembunyikan kegalauannya. Seketika itulah, Zoya langsung memeluk Rere dengan menangis serta menceritakan akan sakit hatinya walaupun dia tau dia telah salah karena tertarik dengan Dimas. Tapi bagaimana dengan hatinya yang terlanjur suka dengan Dimas? Bagaimana pun hatinya cukup sakit mendapati kenyataan jika Dimas sudah menjadi miliki orang.
"Bagaimanapun semua akan berjalan sebagaimana kehendak Sang Maha Kuasa. Karena Kehendak-Nya adalah yang terbaik, memang begitulah semestinya." Rere menenangkan Zoya yang sudah berdiri dengan posisi yang lebih tegap menampakkan bahwa ia wanita kuat.
Kini, Dimas pun melaju dengan motor antiknya membawa Zalfa menuju Stasiun. Perjalanan mereka akan ditemani dengan transportasi darat yang sudah menjadi teman akrab untuk Dimas, yaitu transportasi kereta.
Para kerabat dan beberapa tamu undangan yang ikut mengantarkan ke Stasiun. Mereka semua melambaikan tangannya kepada Dimas dan Zalfa yang sudah berjalan menuju keretanya.
Saat Zalfa masih asik melambai-lambai kepada seluruh keluarga yang mengiringnya dengan Dimas, tanpa aba-aba alias mendadak Dimas mengangkat tubuhnya dengan gaya bridal style dan membawanya untuk naik ke kereta.
Semua berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya musuh dibalik selimut. Dan semuanya bersyukur atas terlaksananya acara ngunduh mantu serta keberangkatan honeymoon Dimas dan Zalfa yang berjalan sesuai rencana.
Semuanya yang ada di Stasiun saat itu, kembali dibuat histeris karenanya.
Sementara itu, Lukman dan Rere yang selalu mencerna apa yang Dimas katakan pada mereka perihal agar segera menikah. Mereka pun terbayang jika mereka di posisi Dimas dan Zalfa. Alangkah bahagianya mereka.
"Rere ..."
"Lukman ..."
Panggil mereka satu sama lain. Mereka pun saling melempar senyum yang mengisyaratkan seolah-olah berharap kalau besok mereka akan bisa seperti Dimas dan Zalfa.
Untuk yang masih sendiri alias jomblo seperti Ica juga Zoya, mereka tetap bahagia walaupun ada rasa yang sulit untuk dijelaskan dibenak mereka masing-masing.
__ADS_1
"Sabar! Semua akan indah pada waktunya ..." Zoya dalam hatinya.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!