Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Kejadian yang Mendebarkan


__ADS_3

Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Zalfa berdiri sendiri dipintu itu, Dimas melihat ke arah Zalfa secara diam-diam seraya memastikan bahwa Zalfa akan benar-benar baik-baik saja. Dimas juga memperlambat/memelankan langkahnya keluar dari pintu kereta itu, dengan harapan siapa tau Zalfa akan menghentikan langkahnya dan memintanya agar tetap disini menemaninya.


"1,2,3 ... Zalfa ayo suruh aku berhenti! Dan tetap menemanimu." jerit Dimas dalam hati,


"ah, dia sama sekali tidak menghentikan langkahku."


Dimas pun keluar dari pintu kereta dimana Zalfa berdiri dipintu tersebut dengan cukup menahan kesedihan.


Sementara itu Zalfa menengok ke arah samping pintu, tempat dimana tadi Dimas baru saja berdiri dan bertanya padanya. Niat hati Zalfa mau membuat candaan dengan membuat penawaran agar Pak Kondektur Dimas itu disini saja menjadi teman mengobrolnya. Tetapi Pak Kondektur itu sudah lenyap dari hadapannya.


Zalfa pun mendesis kecewa sambil menatap pintu kereta yang menghubungkan satu pintu kereta dengan pintu lainnya atau penghubung gerbong satu dengan gerbong lainnya.


15 menit kemudian ...


Zalfa mendapat chat dari Ayunda yang mencemaskan keadaan Zalfa yang harus berdiri karena mengalah kepada seorang wanita hamil.


"Bu Zalfa, bagaimana keadaan Anda? Kalau Anda capek berdiri biar saya saja yang menggantikan Bu Zalfa berdiri. Dengan begitu Bu Zalfa bisa duduk di kursi saya." isi chat dari Ayunda.


Zalfa membuka dan membaca chat itu dan berniat membalasnya tapi,


"Awww ..." Zalfa meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


Dan secara tiba-tiba pula terdengar suara keributan dari beberapa penumpang. Dimas yang mendapat informasi langsung sigap menuju kereta (gerbong) penumpang terakhir. Saat membuka pintu kereta tersebut kejadian yang mendebarkan jantung Dimas dan Zalfa pun terjadi.


"Pak kondektur Dimas?" ucap Zalfa yang saat ini kedua lengan bahu tangannya dipegang Dimas dari belakang. Tak seperti biasa Dimas yang hanya berbicara dan menatap Zalfa dengan beberapa jarak, pada kesempatan kali ini tidak demikian. Mereka saling menatap dengan tatapan yang dekat dan intens. Zalfa melirik Dimas yang memegangnya dari belakang namun wajah tampan Dimas sangat jelas bagi Zalfa meskipun Dimas menatap Zalfa dari arah samping kiri dengan sesekali berusaha menghadapkan wajahnya ke Zalfa, memeriksa kalau Zalfa tidak kenapa-kenapa.


Sekejap waktu bagai milik mereka berdua dan sekejap itu pula para penumpang kereta memusatkan perhatian mereka kepada kedua insan yang sedang beradegan romantis di kereta itu.


Dug ... Dug ... Dug!


Debaran jantung mereka sama-sama berpacu dengan cepatnya. Namun seketika Zalfa sadar kalau ia sedang berada di kereta dan sedang menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, secepat mungkin Zalfa mengembalikan posisi berdirinya meskipun kakinya terasa sakit karena kelelahan berdiri apalagi dengan heals yang digunakannya saat ini.


"Maaf Pak, maaf!" ucap Zalfa kepada Dimas dengan menyatukan kedua tangannya. Dan menjelaskan pula kepada para penumpang kereta yang mengetahui kejadian tersebut.


"Mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu-Ibu sekalian, kami tadi sengaja. Pak kondektur hanya membantu saya yang akan terjatuh karena kaki saya yang terasa sakit karena terlalu lama berdiri dengan high heels."


"Jadi saya harap Bapak-bapak dan Ibu-Ibu sekalian tidak berfikir macam-macam kepada Pak kondektur juga saya."

__ADS_1


Semua mata yang tertuju pada Dimas dan Zalfa pun diam dan mengangguk mengerti maksud dari penjelasan Zalfa.


Dimas berpose membenarkan


kembali jaz yang melekat pada tubuhnya kemudian berdehem mengkondisifkan suasana di kereta tersebut.


Ehem ... Ehem ...!


"Anda tidak kenapa-kenapa?" tanya Dimas cukup khawatir setelah mendengar penjelasan dari Zalfa kalau kakinya terasa sakit karena terlalu lama berdiri menggunakan high heels.


Mendengar Zalfa tidak kenapa-kenapa ia kembali mengecek dan mendatangi penumpang yang membuat kegaduhan dan melerai keduanya agar mereka saling bermaafan dan kembali akur.


Meskipun sebenarnya dalam hatinya, Dimas begitu khawatir kepada Zalfa dan kakinya.


Dimas melangkah menuju dua penumpang yang duduk di kursi bagian kiri paling depan. Dua penumpang tersebut ribut karena salah satu dari mereka berdua merasa kurang nyaman dengan suara tawa penumpang sampingnya yang menerima telfon dengan tertawa begitu keras, awalnya penumpang yang duduk disampingnya tersebut berniat memberi saran tapi yang diberi saran tetapi malah tidak terima dan akhirnya terjadilah sedikit kegaduhan.


Dimas dengan baik dan sopan sebisa mungkin memberikan arahan untuk mengembalikan rasa empati mereka satu sama lain.


"Pak Bu mohon maaf dengan sangat, harap tidak membuat kegaduhan saat di kereta karena itu akan menganggu penumpang lainnya!"


"Tuhkan, kamu itu enggak sadar sih? Kalau suara keras kamu saat bicara apalagi tertawa itu menganggu orang lain." jelas Ibu-Ibu yang memberi saran. "dan saya tegasin ke kamu yaa! Saya itu bukan mengata-ngatai kamu, tapi saya itu memberi saran untuk perbaikan diri kamu."


"Baik Bapak dan Ibu, disini saya tidak berniat membela salah satu dari kalian berdua, tapi saya hanya mengingatkan bahwa Anda berdua sedang di dalam kereta. Jadi mohon untuk tidak egois satu sama lain dan mohon kesediaannya untuk mau mengerti dan memahami satu sama lain!"


"Untuk Bapak, mungkin memang benar maksud Ibu ini adalah bukan mengata-ngatai Bapak tapi memberi saran pada Bapak, jadi saran dari Ibu ini mungkin bisa Bapak gunakan untuk kebaikan diri Bapak demi orang-orang yang ada disekitar Bapak."


"Dan untuk Anda Bu, saya mengerti niat Anda mungkin memberi saran untuk perbaikan Bapak ini agar orang-orang yang disekitarnya merasa nyaman dan tidak terganggu, tapi mungkin Ibu dalam memberi saran juga harus menggunakan bahasa yang sopan dan pantas yang tidak akan membuat orang lain malah menjadi tersinggung!"


Kedua Bapak-bapak dan Ibu-Ibu tersebut pun mengerti dan saling memaafkan pada endingnya.


"Begitu yaa, Bapak-bapak dan Ibu-Ibu karena kita tidak pernah tau perkataan atau sikap kita yang bagaimana yang akan menyakiti orang lain. Jadi intinya sama-sama belajar untuk lebih baik dalam bertutur."


Semua mengangguk setuju dan salut pada Pak kondektur Dimas, termasuk wanita yang masih berdiri dibelakang pintu kereta.


"Pak Kondektur bijaksana sekali! Kira-kira sudah punya pasangan atau istri belum, Pak? Kalau belum saya kenalkan sama anak saya, ya Pak?" goda salah satu Ibu-Ibu itu kepada Dimas.


Dimas hanya menanggapi dengan tersenyum kemudian pergi.

__ADS_1


"Bijaksana banget sih? Tapi kalau udah milik orang lain percuma juga aku puji dia bijaksana."


"Iyakan sepatu?"


Zalfa berbicara dengan high heels yang dilepaskan olehnya dan diletakkan tepat disampingnya.


"Anda, tadi membicarakan saya dengan sepatu Anda itu?"


"Bu---kan seperti itu Pak! Mana berani saya membicarakan Anda dibelakang, bisa-bisa Anda memberhentikan saya sebelum saya sampai ke stasiun tujuan saya."


"Apa kamu kira, saya setega itu pada seorang wanita? Terlebih kepada wanita ..." Dimas menarik kembali perkataannya.


Zalfa yang begitu penasaran maksud dari Dimas ia pun menyuruh Dimas agar menerus kan perkataan nya tadi.


"Tolong Anda lanjutkan maksud Anda tadi Pak! Maksud Anda tadi mau bilang kalau saya ini wanita apa?"


"Bukan apa-apa!"


"Ayolah Pak! Coba Anda jelaskan maksud Anda tadi, Anda mau bilang kalau saya wanita apa?" Zalfa mengintimidasi Dimas.


"Kenapa Anda begitu ingin tau? Saya tidak mau membuat Anda shock karena perkataan saya ini. Karena itu, jangan paksa saya untuk mengatakannya!"


"Pak pleaseee! Perkataan Anda akan menjadi bahan perbaikan untuk diri saya kedepannya. Jadi saya mohon katakan yang sejujurnya!", Zalfa memohon dan terus meneruskan permohonannya dengan tetap sopan,


"Please Pak kondektur! Please! Saya ini orang yang pemikiran, Pak."


"Baiklah! Baiklah! Saya akan melanjutkan perkataan saya tadi."


Zalfa memasang baik-baik telinganya dan sembari membesarkan hati mendengar perkataan yang mungkin akan kurang enak untuk dirinya dengar.


""Apa kamu kira, saya setega itu pada seorang wanita? Terlebih kepada wanita ..."


Zalfa masih begitu menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Dimas, melihat mimik wajah Zalfa yang semakin cantik kalau Dimas boleh memujinya. Dan dengan sangat terpaksa ia mengatakan yang sejujurnya pada Zalfa kalau Zalfa,


"Terlebih kepada wanita ... pendek."


Ups Dimas begitu menyesal rasanya harus mengatakan itu kepada Zalfa yang diam-diam ia cintai. Dan untuk sekejap Dimas memejamkan matanya karena merasa bersalah pada Zalfa.

__ADS_1


__ADS_2