
Sesampainya dikota M...
Dengan digandeng oleh Zalfa dan Ica di samping kanan dan kiri, Bu Ambar melangkah keluar dari mobil yang membawanya kembali ke kota M.
Perlahan melangkah kedalam rumahnya. Bu Anis dan Pak Wijaya selaku calon besan, mereka tak segan untuk ikut memastikan dan mengantarkan Bu Ambar sampai ke rumahnya.
"Bu Ambar, karena sebentar lagi kita akan resmi jadi besan, Bu Ambar harus selalu jaga kesehatan ya Bu!" Tutur Bu Anis memegang dengan hangat kedua tangan Bu Ambar sebelum ia pergi dari kediaman Zalfa dan Bu Ambar.
Bu Ambar membalasnya dengan anggukan yang begitu meyakinkan. Keduanya, kemudian juga saling berpelukan.
Dan sesaat setelah itu Bu Anis dan Pak Wijaya pamit dari rumah Zalfa, "Zalfa sayang, kamu harus jadi wanita yang kuat untuk Mama kamu!" Mengusap lembut wajah Zalfa dengan penuh kasih sayang,"InsyaAllah, Mama kamu akan segera mendapatkan pendonornya. Kita sama-sama berdoa ya!"
Zalfa mengganguk antara haru dan syukur yang mendominasi menjadi satu. Ia terharu atas wejangan dari Bu Anis yang akan menjadi mertuanya. Disatu sisi ia juga bersyukur dikaruniai Ibu mertua sebaik Bu Anis. Moment pamitan itupun ditutup dengan saling memberi pelukan hangat menguatkan antara satu sama lain.
...----------------...
Di langit yang sama di tempat yang berbeda.
Malam itu, dimalam yang biasanya bintang akan muncul dan bersinar, namun dimalam itu bintang enggan untuk muncul karena sinarnya yang terhalang oleh awan mendung.
Sepertinya itu sama dengan perasaan yang melanda seorang laki-laki tampan yang baru saja beberapa menit yang lalu kembali dari rumah sakit ternama kota S. Dan itu adalah Dimas si Pak Kondektur tampan.
Mungkin langit turut mengerti apa yang Dimas rasakan. Pasalnya ia dilanda dilema yang mendalam saat ini. Bagaimana tidak, di satu sisi ia bahagia bisa segera menikahi Zalfa namun di satu sisi ia juga sedih karena keadaan calon ibu mertuanya.
Lukman yang tanpa sengaja baru kembali dari stasiun mengantarkan Rere tanpa permisi ia langsung duduk di samping Dimas. Turut menyaksikan langit malam yang terhalang mendung yang menemani mereka malam itu.
"Yang bentar lagi mau married, kenapa mukanya masih galau gitu?" Lukman to the point.
Dimas mengalihkan pandangannya ke Lukman dan mulai menceritakan apa yang masih membuatnya seperti langit dimalam itu. galau alias gundah gulana.
"Jujur saja Luk, saya itu sekarang benar-benar dilema." Dimas apa adanya.
"Dilema?" Lukman cukup tercengang tapi kemudian ia mengerti apa yang membuat teman karibnya itu merasa dilema.
"Apa saya harus mencobanya ya Luk?" Tanya Dimas cukup melantur saja.
Lukman masih belum mengerti mencoba apa yang Dimas maksud, "Mencoba? Mencoba apa Dim?"
"Mencoba menjadi pendonor untuk Mamanya Zalfa calon mertua saya."
"Hah, janganlah Dim!" Lukman tidak setuju dengan ide Dimas.
__ADS_1
"Mamanya Zalfa itu mempercayakan Zalfa kepada kamu. Bu Ambar udah milih kamu untuk jadi menantunya."Lukman mengingatkan," menjadi laki-laki yang nantinya bisa menjaga dan melindungi Zalfa kapanpun itu!"
"Tapi, saya serius Luk!" Penuh penegasan.
""Eits, Dimas ngacok aja kamu itu!" Sela Lukman tak setuju dengan ide Dimas.
Lukman pun kemudian bangkit berdiri, "Udah ah, lebih baik kita masuk kamar dan istirahat! Daripada di sini kena angin malam malah ngebuat kamu ngelantur!"
"Astaghfirullah!" Dimas mengusap wajahnya.
"Udah ah, ayok! " Lukman tanpa segan lagi menyeret Dimas masuk.
...----------------...
Keesokan harinya ...
Dimas menemui atasannya meminta izin cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahannya yang cukup mendadak.
Setelah mendapat izin Dimas tidak langsung pergi ke tempat kelahirannya di kota M. Namun ia menginjakkan kakinya kembali di tempat yang baru tadi malam ia kunjungi.
Dimas yang kebetulan tau dimana ruangan dokter yang menangani Bu Ambar, maka tak butuh waktu lama ia pun bertemu dengan Dokter Rubi. Dokter yang selama ini telah menangani Bu Ambar.
"Baiklah! Tapi, kita harus melakukan beberapa prosedur terlebih dahulu."
Dokter Rubi menginstruksikan agar Dimas melakukan pengecekan terlebih dahulu, apakah ginjalnya cocok atau tidak.
Dimas telah selesai melakukan berbagai prosedur pemeriksaan, dikarenakan hasil yang membutuhkan waktu berhari-hari, Dimas pun meminta agar pihak rumah sakit mengkonfirmasikan kepadanya bagaimana hasilnya nanti.
Usai itu, Dimas melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
Meta yang setiap pagi selalu berjalan dengan kursi roda untuk menghirup udara segar, secara tak sengaja tadi ia melihat Dimas tengah berbincang dengan Dokter di rumah sakit tersebut. Dan itu sungguh membuat Meta penasaran apa yang tengah dilakukan oleh Dimas.
Meta pun meminta tolong agar suster dibelakangnya membawanya untuk menemui dokter tersebut.
"Dok, apa yang dilakukan laki-laki tadi Dok?"
"Oh, laki-laki tadi!" Dokter langsung paham siapa yang Meta maksud.
"Laki-laki itu baru saja menyelesaikan prosedur pemeriksaaan untuk donor ginjal" Jelas dokter.
"Maksud Dokter ... laki-laki itu bersedia menjadi pendonor ginjal untuk salah seorang pasien?"
__ADS_1
Dokter mengangguk.
"Kalau, saya boleh tau, atas nama pasien siapa dok dia bersedia menjadi pendonor?" Meta memastikan kalau Dimas memang menjadi pendonor untuk Bu Ambar Mamanya Zalfa.
Belum sempat menjawabnya, Dokter Rubi mendapat panggilan telepon yang menyebabkan Meta belum mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Beberapa menit sudah berlalu namun Meta tetap kekeh menunggu Dokter Rubi di depan ruangannya.
Hingga beberapa saat kemudian...
Saat dimana Dokter Rubi ada keperluan yang mengharuskan ia keluar dari ruangannya, seketika Dokter Rubi pun kaget dengan keberadaan Meta yang masih saja menunggunya sedari tadi.
"Dok, tolong beri tau saya. Siapa nama pasien tersebut?"
"Apakah Bu Ambar?" Meta spontan mengucapkannya.
"Iya, benar sekali. Darimana kamu tau?"
"Dok, jangan biarkan laki-laki tadi menjadi pendonornya dok! Jangan!" Menyatukan kedua tangannya.
"Biar saya saja dok, biar saya saja!"
Suster yang masih setia menjaga Meta dengan sigap menyadarkan Meta akan ucapannya barusan, "Bu Meta, kenapa melakukan hal itu, kondisi Ibu sekarang sudah jauh lebih baik. Bagaimana kalau Ibu melakukan hal itu nantinya"
"Saya sudah sembuh dan saya baik-baik saja!" Tegas Meta pada suster tadi.
"Pokoknya biar saya saja jangan laki-laki tadi!" Meta tak ingin Zalfa kehilangan Dimas nantinya.
Dokter masih diam.
"Mari Dok lakukan pengecekan ke ginjal saya!" Ucap Meta sudah menyeret kursi roda yang dipakainya dengan kedua tangannya sendiri.
Sungguh mudah bagi Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah juga Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf.
Jika Meta sudah sadar dan tobat, lain halnya dengan Sintia.
Seperti saat ini, Sintia tengah menelfon seseorang untuk mengawasi Dimas begitu ia tau kalau Zalfa sudah sadarkan diri bahkan keduanya akan segera menikah dalam waktu dekat ini.
...----------------...
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
__ADS_1