
Begitu larutnya Dimas dalam sedihnya sampai ia tak bisa berkata-kata lagi hingga pada akhirnya Dimas tertidur di ruangan tersebut. Dengan posisi wajahnya berada di samping tangannya yang masih menggenggam tangan Zalfa.
Dalam tidurnya entah karena terlalu memikirkan Zalfa atau sangking lelah fisik dan perasaannya, ia bermimpi bertemu Zalfa yang berpakaian putih bersih berbalut pasmina putih menutup kepalanya. Tak cuma itu saja, wajah cerah dan sumringah pun tampak pada Zalfa dalam mimpi Dimas tersebut.
Masih dalam mimpi, Dimas tersenyum bahagia melihat Zalfa yang ia cintai kembali sehat dengan wajah bercahaya dan sumringah yang terpancar dari Zalfa. Dengan rasa penuh syukur ia pun menyebut namanya kembali,
"Zalfa!" Binaran mata kebahagiaan dan rasa tak percaya bercampur rasa syukur menjadi satu.
Zalfa pun mendengar dan melihat bagaimana ekspresi kebahagiaan Dimas, namun Zalfa tak mengatakan apapun ia hanya tersenyum ke arah Dimas dengan waktu yang cukup lama.
Dan setelah itu ...
"Zalfa ... Zalfa?" sebut Dimas dengan nafas terengah-engah dan menatap sekelilingnya.
"Astaghfirullah." Lanjutnya tersadar apa yang dialaminya tadi hanyalah mimpi belaka.
Ia beralih menatap kembali wajah sayu Zalfa. Terlintas begitu saja mimpi yang dialaminya tadi. Mimpi yang dimana ia bertemu dengan Zalfa dan Zalfa memberikan seulas senyum untuknya. Dan nampak seperti sebuah senyum agar Dimas selalu kalau Dimas bisa mengartikan senyuman Zalfa dalam mimpinya tersebut.
Tanpa dirasa air mata pun kembali mengenang dipelupuk mata Dimas namun segera dihapus oleh Dimas.
Kali ini Dimas bangkit dari kursinya seraya membenarkan kembali selimut Zalfa. Memejamkan netranya dan berusaha untuk menguatkan jiwa dan raganya kembali.
Dari arah pintu tanpa Dimas ketahui, Bu Ambar tengah ikut masuk menilik kondisi putrinya. Sayup-sayup Bu Ambar ingin rapuh dan menangis saat masih berdiri dari arah pintu tersebut, tapi sosok laki-laki yang berdiri dan membenarkan selimut dan kerudung yang menutupi kepala Zalfa berhasil membuka kembali hati dan fikirannya.
"Zalfa, maaf kalau tadi saya begitu histeris sendiri memaksa kamu untuk bangun. Tapi setelah ini, setelah ini saya tidak akan seperti itu lagi Zalfa."
ucap Dimas dan Bu Ambar mendengarnya dengan jelas dan seksama.
"Saya janji saya akan kuat." Dimas menjeda sebentar ucapannya dan secara cepat pula melanjutkannya,"Ya saya akan kuat ... karena cinta saya untuk kamu dan cinta kamu untuk saya." Raut wajah Dimas pun berbinar seketika saat mengatakan hal tersebut. Seperti mendapatkan motivasi dalam situasi yang genting.
"Ya Zalfa saya akan kuat demi kamu. Dan dengan cinta kita berdua, itu sudah lebih dari cukup untuk saya bangkit dan menjalani hari-hari saya."
Dimas menatap teduh Zalfa.
__ADS_1
"Dan ... Cinta kita juga yang akan mempersatukan kita kembali nantinya. Saya akan bersabar, dan meminta kepada Tuhan agar Dia mempersatukan kita kembali."
"Zalfa beristirahatlah dulu, dan kamu harus segera sadar ya Zalfa." Membelai lembut kepala Zalfa yang berbalut kerudung.
"Saya akan selalu mencintai kamu apapun yang terjadi Zalfa." Lanjut Dimas terdengar begitu tulus dan lembut.
Tatapan penuh ketulusan terpampang nyata kala Dimas mengucapkan serangkaian kalimat penuh makna tersebut.
Dan Bu Ambar, ia masih berdiri dibelakang Dimas. Ia terenyuh mendegar pernyataan Dimas kepada Zalfa. Dalam hati ia sangat bersyukur Zalfa dipertemukan dengan sosok laki-laki seperti Dimas yang tulus mencintai Zalfa. Dan Bu Ambar juga sangat yakin Dimas akan selalu bisa membahagiakan Zalfa kapanpun itu.
Bu Ambar mendekat ke samping Dimas, ia menepuk pelan pundak Dimas.
Awalnya Dimas cukup kaget siapa yang menepuk pelan pundaknya dan setelah ia tau kalau itu adalah Mamanya Zalfa alias Bu Ambar, Dimas pun bergeser dan mempersilahkan Bu Ambar untuk berganti posisi dengannya.
Sesudah berganti posisi, sesudah itu pula Dimas hendak pergi dari ruangan tersebut namun Bu Ambar mencegah kepergiannya.
Bu Ambar mengucapkan sesuatu padanya,"Pak Dimas kita semua harus bersabar. Kita semua juga harus selalu meminta kepada Tuhan, dan kita semua harus selalu yakin bahwa Zalfa pasti akan sadar."
Dimas mengangguk mengerti dan penuh keyakinan.
Tak dapat Bu Ambar tepis air mata kembali lolos di pipinya tapi ia membiarkan saja dan tetap tenang.
Dalam hati ia berdoa agar Zalfa segera sembuh dan kembali lagi bersamanya.
"Zalfa, cepatlah sadar Nak! Mama sayang sama kamu Zalfa." rintih Bu Ambar dalam hati.
Kemudian beranjak mengecup puncak kepala Zalfa.
Walaupun Bu Ambar berusaha kuat tapi ia tak dapat memungkiri tangis sedihnya saat melihat putrinya dalam kondisi seperti itu. Ibu mana yang akan sanggup melihat anaknya sedih ataupun sakit. Karena tidak ada seorang Ibu yang demikian kalaupun bisa malah merekalah yang siap untuk menggantikan posisi anaknya asal anaknya tidak sedih ataupun sakit. Sebagai seorang ibu dia begitu hancur melihat putrinya yang terbaring lemah dan tidak akan bangun sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Air mata pun mengalir di pelupuk mata Zalfa, ia mungkin tidak bisa bergerak tapi ia mampu mendengar dengan jelas setiap kata yang Dimas dan Mamanya ucapkan padanya .
Dalam hati ingin sekali ia menjawab setiap kata dari Dimas dan Mamanya. Ia juga ingin mengatakan kalau ia mencintai Dimas Pak Kondektur tampan yang begitu tulus mencintainya.
__ADS_1
Namun, untuk sekarang tubuhnya benar-benar tak bisa ia gerakkan, tubuhnya begitu terasa sakit. Dan hanya air matalah yang menjadi pengungkap kalau ia juga mendengar dan mencintai Dimas. Serta ingin segera sadar kembali kalau ia bisa memilih.
...-------------------------...
Beberapa hari kemudian ...
Bu Anis dan Pak Wijaya kembali ke kediaman mereka dikota M.
Untuk Bu Anis dan Ica mereka masih di rumah sakit merawat Zalfa. Selama itu pula keadaan Bu Ambar cukup tidak stabil, akhirnya sesaat kemudian Bu Ambar dan Ica dengan perasaan cukup berat harus kembali ke kota M, kota dimana mereka tinggal. Dan mau tak mau Bu Ambar dan Ica harus meninggalkan Zalfa di rumah sakit kota S tersebut karena hanya di sanalah Zalfa bisa mendapatkan penanganan yang terbaik dan optimal sesuai intruksi dari dokter yang mengoperasi Zalfa.
"Pak Dimas, saya titip Zalfa ya Pak." ujar Bu Ambar dengan rasa berat namun harus ia jalani karena memang itulah yang terbaik.
"InsyaAllah Bu, saya akan menjaga Zalfa dengan sebaik mungkin bahkan melebihi saya menjaga diri saya sendiri." jawab Dimas terdengar begitu tulus dan sungguh-sungguh.
Bu Ambar mengganguk percaya penuh pada Dimas. Kemudian ia beranjak melihat ke Zalfa yang masih koma dan membisikkan sesuatu pada Zalfa dengan lembutnya.
"Zalfa, Mama sudah rinduuu sekali sama kamu." kata Bu Ambar dengan mata terpejam karena begitu mendalami.
"Cepat sadar ya sayang!" mengecup dan membelai kembali puncak kepala Zalfa.
Air mata kembali mengalir pada pipi Zalfa namun Bu Ambar, Ica dan Dimas sudah pergi dari rumah sakit tempat Zalfa dirawat.
Setengah jam kemudian ...
~ Di Stasiun Terbesar Kota S~
Bu Ambar dan Ica berangsur meninggalkan kota S menuju kota M dengan naik kereta.
Dimas hanya bisa mengantarkan dan menatap kepergian orang tersayang Zalfa perlahan menaiki kereta dan pergi seiring dengan laju kecepatan kereta.
Selesai memastikan orang kesayangan Zalfa pulang dengan baik, Dimas pun kembali ke rumah sakit untuk menjaga Zalfa.
Langkah cepat pun Dimas ambil karena tak ingin Zalfa berlama-lama sendiri tanpa ada orang terdekatnya.
__ADS_1
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!