
Peristiwa dalam hidup mendatangkan makna tersirat maupun tersurat dalam untaian takdir ilahi.
Fajar semakin menyingsing ...
Sebelum benar-benar berangkat untuk bertugas dengan penuh takdim Dimas menemui mertuanya.
Menjabat tangannya sebagai penghormatan bahwa Dimas meminta izin dan doa karena sebentar lagi ia akan berangkat untuk menjalankan tugasnya, "Ma, Dimas mohon do'anya selalu ya Ma!"
"Pasti Dimas! Semoga kamu selalu dijaga dan dilindungi." Bu Ambar mendoakan Dimas.
Dimas bangkit dari membungkukkan badannya usai bersalaman dengan mertuanya kemudian beralih kepada sang istri, "Fa, aku berangkat. Do'akan aku selalu!" Mencium kening Zalfa begitu pun Zalfa meraih tangan Dimas dan mencium tangan Dimas penuh kepatuhan.
...-------------------------------...
Terpaan embun pagi diiringi suara kereta melintas di rel kereta yang tampak dari lantai dua rumah sakit dapat dilihat dengan begitu jelas oleh Zalfa dari ruangan Mamanya berada.
Zalfa menyibak tirai jendela rumah sakit di ruangan Mamanya. Mengamati kereta itu baik-baik dari atas sana. Hatinya pun kembali teringat akan Dimas.
Banyak hal yang dapat membuat kita teringat akan seseorang yang amat kita cinta, begitu pulalah Dimas. Tak cuma Zalfa Dimas pun mengamati sebuah bangunan dari dalam keretanya.
Dari dalam kereta, Dimas melihat ke arah rumah sakit dimana Bu Ambar dan Zalfa berada di sana.
Rumah sakit itu tampak dari kejauhan saat ia bersama keretanya tengah melintas.
"Ya Allah jagalah mereka selalu." Do'a Dimas dalam hatinya.
Bagai ada telepati, Zalfa pun kemudian mendoakan Dimas dengan doa yang tidak jauh berbeda dari yang Dimas ucapkan, "Ya Allah, tolong jagalah suamiku selalu." Zalfa dalam hati dengan masih mengamati barisan kereta panjang yang melintasi rel itu dengan tangkas dan cepatnya.
...-------------------...
Matahari terbenam di barat dan terbit dari timur.
Hari - hari pun berganti hingga tibalah hari dimana Zalfa menerima sebuah kabar baik dihari itu, atau sebut saja ini adalah hari ke tiga setelah moment kebersamaan yang berhasil mereka lalui.
3 hari kemudian ...
Bu Ambar seorang wanita yang begitu Zalfa sayangi. Akhirnya telah dinyatakan pulih sepenuhnya dan bisa kembali pulang.
Sebuah kabar yang menakjubkan untuk Zalfa dimana Mama kesayangannya dinyatakan sudah sembuh dan bisa kembali pulang.
Moment-moment indah bersama Mamanya akan bisa ia ulang dan susun kembali.
Begitu banyak rencana yang ingin Zalfa lakukan bersama Mamanya saat mereka tiba di rumah nantinya.
Mereka sudah berkemas. Tak lupa Zalfa menyematkan sesuatu ke ujung jilbab yang ia kenakan.
~ ๐๐ต๐ช๐ผ๐ฑ๐ซ๐ช๐ฌ๐ด ๐๐ท ~
Pagi-pagi sekali dihari itu,
Dimas sudah menemui Bu Ambar dan menyampaikan rasa bahagia atas kabar baik tersebut.
Disatu sisi ia juga meminta maaf karena tidak bisa mengantar dan mendampingi mereka untuk kembali ke kota S karena tanggungjawab pekerjaannya.
Tanpa keberatan sama sekali, Bu Ambar tidak masalah dengan alasan Dimas.
Namun Zalfa, Zalfa sebenarnya cukup berat saat harus jauh dari Dimas.
Entah sejak kapan perasaan itu muncul tapi wanita mana yang sebenarnya mau jauh dari orang yang dicintainya apalagi itu suaminya?
Zalfa menjauh dari Dimas berusaha untuk tidak menampakkan kelemahannya.
Sekeras apapun Zalfa berusaha ternyata Dimas mampu merasakan apa yang Zalfa tengah rasakan.
Mereka kembali berhadapan, Dimas pun mengeluarkan sesuatu dari sebuah kotak.
Perlahan membuka kotak itu,
seketika tampaklah sebuah bross bertuliskan nama dari "๐ฉ๐ช๐ต๐ฏ๐ช" yang tampak begitu cantik apalagi jika Zalfa yang mengenakannya.
__ADS_1
"Pakailah ini Fa! Ini akan membuat kamu tidak merasa sendiri lagi, aku akan selalu membersamai kamu kapanpun itu."
Tangan Zalfa mengambil dan melihat baik-baik bross itu.
Kemudian mengiyakan apa yang Dimas katakan kepadanya bahwa harus selalu memakai dan menjaga bross pemberian Dimas itu.
~๐๐ต๐ช๐ผ๐ฑ๐ซ๐ช๐ฌ๐ด ๐๐ฏ๐ฏ~
Zalfa tersenyum memasangkan bross itu ke jilbabnya. Suatu harapan terlintas dalam hati dan fikirannya,
"Mas, semoga Allah memberi jalan untuk kita bertemu lagi sebelum kita berpisah untuk waktu yang lama."
Zalfa mengangkat barang bawaannya, meninggalkan rumah sakit dan menuju ke stasiun.
...-------------------------------...
~ Pukul 13:00 waktu setempat di stasiun terbesar kota S~
Dari salah satu peron nampak tiga wanita sedang berjalan menuju keretanya.
Langkah salah satu wanita itu terhenti saat ada barangnya yang dirasanya terlepas dan jatuh.
Dengan cepat ia mengambil barang tersebut.Barang yang sangat berharga karena barang itu adalah pemberian dari suaminya.
Zalfa menunduk mengambil bross berinisialkan namanya yang tak sengaja terlepas saat berpapasan dengan penumpang lain.
Tangannya telah menyentuh bross itu dan ingin mengambilnya, tetapi tangan seseorang juga turut memegang bross pemberian Dimas itu bersamaan dengannya.
Zalfa mengarahkan pandangannya ke sosok yang menyentuh barang miliknya tersebut.
Rasa marah dan tak suka seketika itu berubah menjadi rasa penuh suka cita. Begitu tau siapa sosok tersebut.
Zalfa malah langsung memeluk laki-laki tersebut.
Dengan segenap jiwa laki-laki itupun juga memeluk Zalfa.
Serasa puas untuk meluapkan rasa rindu sebelum terpisah karena jarak yang berbeda, Zalfa perlahan ingin menyematkan kembali bross itu ke ujung jilbab yang ia kenakan.
Begitu cekatan Dimas menyematkan kembali bross pemberiannya itu ke ujung jilbab Zalfa.
"Cantik!" Puji Dimas kepada Zalfa istrinya.
Zalfa langsung tersipu malu namun secepat kilat wajahnya memucat sedih karena ia akan berada jauh dari Dimas.
"Hi, how are you Fasya?" Dimas cemas saat melihat ekspresi Zalfa yang tiba-tiba berubah.
Dengan segera Zalfa menggelengkan kepala agar Dimas tak perlu cemas.
"I'm fine." Ucapnya kemudian.
"Jangan bohong!"
Zalfa mengangguk untuk meyakinkan Dimas lantas berkata, "Aku cuma ngerasa sedih aja saat kita enggak bisa bersama padahal kita sudah sah."
"Jangan gini Fasya!
Kita udah pernah membahasnya kan?" Dimas memberi pengertian, "aku disini kerja, okay?"
"Iya, aku paham itu Mas, tapi ..."
"Berat ..." Lanjutnya memandang netra Dimas.
Dimas menggandeng Zalfa lantas berucap, "Saat kamu rindu aku, sebut aku dalam do'a kamu!"
Dengan mata berkaca-kaca berusaha untuk tidak meneteskan air mata karena itu akan membuat Dimas hanya semakin sedih dan berat juga, sekuat hati Zalfa mengukir senyum diwajahnya.
Lima menit berlalu, Zalfa menarik diri untuk kembali ke keretanya.
Kondektur dalam kereta yang Zalfa naiki telah berada dekat dengan kereta itu.
__ADS_1
Seakan-akan siap menginstruksikan jika sebentar lagi kereta akan berangkat.
Dimas perlahan memundurkan dirinya, satu persatu kereta dia amati baik-baik hingga menampakkan Zalfa dan Mamanya dalam kereta tersebut.
Mereka melambaikan tangannya ke arah Dimas.
Bohong kalau Dimas tak merasa berat berjauhan dengan Zalfa. Apalagi sebagai pasangan yang tergolong masih baru dalam ikatan janji suci seperti mereka.
Hidup memang tak bisa ditawar atau diubah sebagaimana takdir dalam kehidupan tersebut.
Tetapi berusaha melakukan yang bisa kita upayakan adalah kesempatan yang harus kita gunakan dengan sebaik mungkin.
Sekuat tenaga Dimas mengejar kereta yang akan keluar dari stasiun tersebut.
Menginstruksikan kepada kondektur kereta yang baru saja memberi kode kereta siap berangkat, jika Dimas lah yang akan menjalankan tugas di kereta tersebut.
Dimas memasuki kereta itu.
Kakinya melangkah dan terus melangkah.
Sembari mengingat pertemuan sebelum berpisah di pagi tadi, Dimas terus menyusuri satu persatu kereta penumpang dengan dengan tetap profesional dalam menjalankan tugas.
Dan,
tibalah ia di kereta penumpang pertama dimana di sanalah Zalfa berada.
"Selamat siang Bu, bisa tunjukkan tiketnya!" Dimas tanpa Zalfa ketahui.
Zalfa menyeka air matanya dan itu dapat dilihat oleh Dimas. Dimas ingin menyekanya tapi tidak mungkin disituasi seperti sekarang ini.
Zalfa memperlihatkan tiketnya pada Dimas melalui layar handphonenya.
Begitu melihat kalau kondektur itu adalah Dimas, Zalfa tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia begitu bahagia setidaknya ia bisa memandang wajah Dimas lebih lama lagi dalam kereta tersebut.
Tanpa memperdulikan situasi dan dimana keberadaannya, Zalfa reflek langsung berdiri dan menghamburkan dirinya ke dada bidang Dimas yang masih berbalut rapi dengan jaz hitam kebanggaan yang Dimas kenakan.
Seluruh penumpang yang berada dalam kereta itu memusatkan pandangan pada mereka berdua.
Awalnya Dimas tak menunjukkan aatu mengkode keberadaannya untuk mengantisipasi kejadian seperti ini, tapi Zalfa ternyata begitu senang dan sangking senangnya lupa dimana dia dan Dimas berada.
"Dia ini adalah istri saya."
Ucap Dimas memegang pundak Zalfa dan Zalfa langsung merenggangkan apa yang tengah ia lakukan.
Zalfa tersenyum kikuk dan malu atas apa yang sudah dilakukannya.
Tak mau memperburuk hubungannya dengan Dimas, Zalfa menyatukan kedua tangannya meminta maaf kepada seluruh penumpang dalam kereta tersebut.
Kepada Dimas ia juga meminta maaf dengan memegang kedua telinganya seperti biasanya.
"Udah Pak, dimaafin aja! Kami udah maafin kok!"
Zalfa berganti dengan menyatukan kedua tangannya, dan Dimas sangat tidak menginginkan hal tersebut dari Zalfa.
Dengan cepat Dimas memegang kedua tangan yang sudah menyatu itu, kemudian menurunkannya seraya tersenyum dan menggelengkan kepala sebagai isyarat jika Zalfa tak perlu sebegitunya kepadanya.
Seluruh penumpang kereta itupun bersorak bahagia dengan keharmonisan pasutri tersebut.
"Prok! Prok! Yeey! " Ica si paling semangat dan selalu heboh saat melihat Dimas dan Zalfa romantis.
Kebersamaan mereka pun turut menemani kereta melintas dari rute ke rute.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...!
Mohon maaf jika terdapat kesalahan atau ketidaktepatan sesuatu ataupun semacamnya dalam episode kali ini. Sekali lagi, cerita ini hanya merupakan fiktif belaka dan tidak bermaksud menyinggung ataupun merugikan pihak manapun itu.
Cerita ini hanya sebagai hiburan sahaja!
Sekali lagi, mohon maaf dan terimakasih atas perhatian serta pengertiannya ๐๐.
__ADS_1
Salam termanis+tersayang+tersemangat dari Mbak Author๐ค.