Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Menceritakan dan Menelfon


__ADS_3

"Bu Ayunda, sebelum saya bercerita lebih lanjut mengenai cincin ini. Tolong Anda baca pemilik kartu nama ini." Zalfa menyerahkan kartu nama Dimas kepada Ayunda.


Ayunda membacanya dengan seksama.


Rasa tak percaya bercampur bahagia menjadi satu dalam hatinya, bagaimana tidak? Bu Anis dan Pak Wijaya sudah setuju kalau memang Dimas dengan Zalfa menjalin sebuah hubungan. Dan sekarang ternyata Dimas sendiri sudah membuat tali perekat antara Zalfa dan dirinya.


Tak mau banyak berfikir Ayunda pun langsung bertanya lebih lanjut pada Zalfa, "Bu Zalfa ada hubungan sama Pak Dimas putranya Pak Wijaya?"


Begitu mendengar pertanyaan yang diajukan Ayunda padanya Zalfa menjadi sedikit tercengang. Karena dalam fikirannya saja ia belum ada hubungan dengan Dimas, ia juga belum memberi jawaban mengenai perasaan Dimas kepadanya.


"Bu Ayunda Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai hubungan saya dengan Pak Dimas." tutur Zalfa pada Ayunda yang masih menunggu penjelasan disamping Zalfa.


"Ups" sadar bahwa ia memang terlalu cepat memberi kesimpulan,"maaf Bu Zalfa, habisnya saya speechless banget begitu tau pemilik kartu nama ini."


Ayunda menutupi apa yang sebenarnya tengah hatinya harapkan untuk hubungan Dimas dan Zalfa.


Zalfa mencoba untuk tenang lebih dulu tanpa menampilkan kebimbangannya dan mulai mengatakan perihal apa yang dilakukan Dimas padanya sampai ia bisa mendapat kartu nama Dimas bahkan cincin juga.


"Cincin ini adalah cincin dari Pak Dimas untuk saya," Zalfa mengatakan dengan senyum bahagia karena ia senang ada seseorang yang ternyata menyanyanginya meskipun ia masih bimbang tentang perasaannya sendiri,"cincin ini Pak Dimas berikan sebagai cincin pengganti, pengganti cincin masa lalu saya yang hanya menimbulkan luka untuk saya lebih tepatnya." ucap Zalfa meneruskan sembari menyadari betul resikonya saat itu, saat dimana dirinya masih menyimpan cincin tunangan yang sebenarnya tidak ada untungnya sama sekali. Tapi Zalfa juga sudah pernah membuang cincin itu, hanya saja ia membuangnya hanya sekedar membuang secara asal. Alhasil cincin itu malah ditemukan Dimas.


Setelah membahas cincin pengganti dari Dimas, Zalfa diam sejenak kemudian secara perlahan namun pasti ia mengatakan sesuatu yang menjadi inti pembicaraan mereka.


"Dan asal Bu Ayunda tau saja, dengan cincin ini pula Pak Dimas mengatakan perasaan cintanya pada saya, Bu Ayunda."


Begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Zalfa, Ayunda tak berkedip dan diam seribu bahasa tak percaya dan salut pada keberanian Dimas.


Zalfa yang tidak tau bagaimana expresi Ayunda begitu mendengar perkataannya tadi, ia kembali melanjutkan ceritanya.


"Beberapa bulan yang lalu sebenarnya saya dan Edo akan menikah, kami juga sudah bertunangan. Tapi beberapa minggu sebelum pernikahan tiba, hari dimana saya mengajak Edo bertemu untuk membicarakan pernikahan yang sebentar lagi akan terselenggara, dari suatu arah datang seorang wanita memanggil Edo dengan sebutan ... SUAMIKU," Zalfa bercerita dengan air mata mengenang dipelupuk matanya. Ayunda yang tau betul bagaimana rasanya itu ia pun terbawa suasana dan ikut menitikan air mata.

__ADS_1


"Dan saat itu juga saya baru tau kalau ternyata Edo telah mengkhianati saya. Entah apa alasannya mengapa ia tega melakukan itu semua pada saya yang saat itu merasa sangat beruntung memiliki dia dalam hidup saya, tapi seperti terhempas dari istana langit yang indah Edo mematahkan rasa beruntung saya itu, saat wanita itu memperlihatkan akta nikah mereka." sambung Zalfa dan tak dapat Zalfa cegah lagi, cucuran air mata perlahan mengalir di kedua pipi Zalfa.


Ayunda yang tau betul bagaimana rasa sakit dan hancurnya Zalfa saat itu, ia merangkul dan memenangkan Zalfa, memberi kekuatan pada Zalfa agar ia selalu kuat dan tak menyerah. Toh sekarang di depan mata sudah ada sosok Dimas yang siap mencintai dan membahagiakan Zalfa.


Dan karena itu, Ayunda berkata pada Zalfa bahwa Zalfa tidak boleh merasa kalau semua laki-laki itu sama seperti Edo dan Ayunda juga menekankan serta meyakinkan pada Zalfa bahwa, "Bu Zalfa, dalam hidup ini lika-liku cinta mungkin akan kita alami tanpa kita mau kalau kita boleh mengeluhkan. Tapi mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah kan? Dan meratapi luka cinta pun kemungkinan besar tak akan membuat cinta itu kembali pada kita?"


Zalfa masih mendengar baik-baik penuturan dari Ayunda. Kini Zalfa benar-benar memerhatikan setiap ucapan dari Ayunda. Nampak terlihat jelas oleh Zalfa, Ayunda yang menarik nafasnya cukup dalam sebelum mengatakan pada Zalfa bahkan Ayunda juga memegang tangan Zalfa sebagai bentuk supportnya.


"Jadi Bu Zalfa, dari setiap rasa cinta yang kita dapat kita harus bisa mengambil hikmahnya dan kita juga tidak boleh menyerah apalagi terpuruk sebab kitalah pemeran utama dalam menentukan ketenangan dan kebahagiaan dalam diri kita." tutur Ayunda menguatkan Zalfa.


"Kita juga harus yakin bahwa di depan sana Allah sudah mempersiapkan kejutan yang luar biasa yang lebih baik bahkan terbaik untuk kita." sambung Ayunda pada penuturannya.


Zalfa meresapi baik-bauk ucapan Ayunda. Dalam hati Zalfa kembali membenarkan kata-kata Ayunda. Ya, Ayunda memang sosok sahabat dan penasehat untuknya.


Lantas Zalfa kembali ke cincin pemberian Dimas.


Zalfa menatap lekat cincin itu, dalam hati ia bertanya-tanya dan ia pun mengutarakannya pada Ayunda.


Dan saat ini secara mendadak Zalfa tertawa kecil dan mengatakan, "Apalagi Pak Dimas adalah putra dari Pak Wijaya. Dan mereka memiliki banyak kesamaan baik dari fisik maupun karakter. Itulah yang saya lihat dari mereka setelah saya telisik lebih dalam."


"Saya mengerti, kalau Bu Zalfa pasti takut kejadian di masa lalu itu terulang kembali. Tapi melihat dari sisi baiknya Pak Dimas tadi, saya rasa Pak Dimas layak untuk Bu Zalfa terima cintanya dan saya juga yakin perlahan tapi pasti bersama Pak Dimas insyaAllah Bu Zalfa tidak akan pernah teringat masa lalu yang menyakitkan itu. Dan saya juga yakin bersama Pak Dimas Bu Zalfa akan memahami makna cinta itu lebih dalam lagi."


Mendengar nasehat demi nasehat dari Ayunda Zalfa pun semakin mengerti dan tau apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Bu Zalfa saran saya Bu Zalfa lakukanlah apa yang hati Bu Zalfa inginkan dan jangan terbayang oleh masa lalu untuk melintasi masa depan!"


ucap Ayunda untuk terakhir kalinya sebelum Zalfa hendak melakukan panggilan ke nomor Dimas.


Di detik berikutnya, Zalfa mencoba menghubungi Dimas.

__ADS_1


Dimas yang pada awalnya ingin melakukan rutinitasnya yaitu melakukan panggilan kepada Mamanya, sejenak menghentikan niatnya tersebut beralih menjawab panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal tapi dari profil kontak yang dipasang Dimas mengerti siapa itu.


"Assalamu'alaikum."


suara salam dari Dimas yang terdengar begitu tenang dan menghangatkan. Seolah-olah dari suaranya itu Dimas siap dengan apapun yang akan jawaban dari Zalfa saat itu juga. Entah itu manis ataupun pahit.


"Wa'alaikumussalam." Zalfa canggung merasa tak enak karena harus Dimas yang lebih dulu mengucap salam dan menyapa padahal ia yang lebih dulu melakukan panggilan ke Dimas. Tapi mau bagaimana lagi, Zalfa begitu sungkan pada Dimas karena niatnya menelfon Dimas bukan untuk memberikan jawaban saat itu juga tapi masih besok di stasiun. Dan karena itu Zalfa menelfon Dimas, ia ingin memberitahukannya pada Dimas.


Untuk sementara waktu Dimas masih diam begitu juga dengan Zalfa, hingga beberapa saat kemudian Zalfa mengangkat suaranya dan berbicara langsung pada pointnya mengapa ia menelfon Dimas.


"Pak Dimas sebelumnya saya mohon maaf,"


Dimas memejamkan kedua netranya, sesaat ketika mendengar ucapan itu Dimas rasanya benar-benar hancur seketika itu juga tapi tetap berusaha untuk kuat dan bersikap lebih bijaksana dan dewasa.


Kemudian Zalfa melanjutkan kembali pembicaraannya, "Saya ..."


Dimas masih menunggu bahkan sangat menunggu, keringat dingin bercampur rasa sesak dalam hatinya menjadi satu. Hati kecilnya menjerit-jerit, sudah tak sabar lagi mendengar jawaban yang entah apa sebenarnya.


"Saya ... belum bisa,"


Dimas mencoba menstabilkan dirinya.


"Saya belum bisa, belum bisa memberikan jawaban kepada Pak Dimas melalui telfon."


Begitu tau maksud permintaan maaf Zalfa kalau ia tak mau memberikan jawaban melalui telfon, Dimas merasakan kelegaan yang tiada terkira.


Kelegaan yang rasanya sangat tak menentu dan tak terdefinisikan.


"Saya mau memberikan jawaban secara langsung besok di stasiun kota S." Zalfa menginformasikan pada Dimas tujuan sebentar menelfon Dimas,

__ADS_1


"Untuk waktunya selesai saya studi banding. Sekitar selesai waktu shalat Maghrib."


Dimas yang sudah tidak ada shift dijam tersebut sangat setuju dan langsung mengiyakan permintaan Zalfa tersebut.


__ADS_2