Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Cantik Luar dan Dalam


__ADS_3

"Ton, gimana?" Tanya seorang wanita yang tak lagi muda namun masih terlihat begitu cantik dengan selendang yang ia selempangkan sebagai penutup di kepalanya.


Mengerti maksud pertanyaan dari wanita yang ia segani itu, Tono langsung mengacungkan dua jempol tangan kanan dan kirinya sekaligus.


"Ayu Ton?" Tanyanya lagi semakin penasaran saja. Dalam bahasa Indonesia ayu sama dengan cantik.


"Injih Eyang Putri." Tono dengan bahasa yang halus,"istrinya Mas Adi cantik luar dan dalam, Eyang." Lanjut Tono manggut-manggut ikut senang karena Mas Adi mendapatkan wanita seperti Zalfa.


"Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya untuk Gusti Allah." Ucap wanita yang dipanggil Tono dengan sebutan Eyang Putri tersebut.


"Ya wes, kalau begitu cepet kalian berdua tolong bantu buat persiapan untuk tasyakuran nanti sore di sini."


Mendengar kata tasyakuran Tono malah garuk-garuk kepala, lantas bergumam dalam hati persiapan tasyakuran untuk apa yang dimaksud Eyang Putri saat ini.


Melihat tingkah Tono, Eyang pun menjelaskan, "Ini tasyakuran sederhana atas pernikahan cucu dan mantu kesayanganku, Tono."


Tono pun kini sudah mengerti tasyakuran itu diadakan, "Oa ..." Jawab Tono namun segera dilanjut oleh Eyang Putri.


"lah ..." Eyang meneruskan kata yang akan diucapkan Tono.


"Ya sudah, tolong cepet dibantu ya! Keburu sore nanti." Eyang beranjak pergi dari Tono dan menuju sebuah kamar.


Di dalam sebuah kamar yang cukup luas dan besar.


"Dimana Adi dan istrinya?" tanya laki-laki sepuluh tahun lebih tua dari Eyang Putri.


"Mereka masih beristirahat di tempat khusus yang sudah disiapkan untuk mereka."


"Kamu istirahat dulu saja!" Membantu laki-laki itu untuk berbaring dari duduknya.


Dari arah pintu kamar wanita yang tadi dipanggil Budhe oleh Adi tersenyum melihat tingkah romantis pasangan suami istri yang sudah sangat berpengalaman yang ada di depannya saat ini.


Perlahan Budhe mendekati keduanya. Membantu membaringkan laki-laki yang diajak bicara Eyang dengan pelan dan penuh perhatian.


"Pak, Bapak, istirahat lagi saja! Adi sama Zalfa masih istirahat di vila. Sore nanti mereka baru ke sini."


"Kenapa enggak langsung disuruh ke sini saja to Tin?"


"Pak, mereka itu kan pengantin baru ya harus dikasih ruang sendiri supaya mereka bisa lebih leluasa menghabiskan waktu bersama."

__ADS_1


"Ntar kalau di sini sama kita, enggak honeymoon namanya, Bapak." Budhe dengan nada menghibur.


"Bener iku! Wong dulu, adiknya Dimas yo gitu. Kita suruh ke sini terus kita tempatin honeymoonnya di vila bersejarah untuk napak tilas keluarga kita, kan Pak." Eyang Putri membenarkan perkataan anak perempuan yang dipanggil Budhe oleh Dimas.


"Uhuk ... uhuk ... iya ... iya ... Bapak baru inget Buk, Tin." Ucap laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari Eyang Putri alias Mbah Kung nya Dimas.


"Ya sudah, Bapak istirahat ya. Titin mau meriksa persiapan tasyakuran sore ini." Budhe Dimas yang bernama Titin itu beranjak pergi.


........... ...


~ Di Vila tempat Dimas dan Zalfa ~


Di atas tempat tidur sudah tersiap baju kokoh putih yang akan dikenakan oleh Dimas.


Dimas baru saja akan meraih dan mengenakannya dengan satu persatu kancing baju kokoh itu ia pasang. Sementara itu, Zalfa yang kebetulan baru saja selesai menjemur handuk mengetahui apa yang Dimas lakukan, dengan cukup cekatan ia langsung mengambil alih dan mengancingkan kancing kancing tersebut.


"Selesai!" Zalfa tersenyum puas karena ia berhasil menyelesaikan tugasnya.


Sementara Dimas, Indra penciumannya kembang kempis menghirup aroma wangi rambut Zalfa yang masih terurai. Tak mau kalah, indra penglihatannya pun turut bereaksi dengan memejamkan netranya seraya menikmati aroma wangi rambut Zalfa yang menyeruak masuk begitu saja.


Zalfa awalnya masih tak sadar dengan yang sedang dilakukan Dimas, begitu menegakkan kepalanya setelah mengancingkan baju kokoh Dimas, seketika itu Zalfa sadar akan apa yang sedang Dimas lakukan kepada rambutnya.


"Fasya," Dimas mendekat pada Zalfa yang sedang mengenakan pasminanya,"I love you."


"Love you too, Mas Dimas." Jawab Zalfa, dan Dimas langsung mencium pipi Zalfa sambil Zalfa masih asik dengan pasmina dan make up nya.


15 menit kemudian ...


Gamis dan pasmina berwana senada melekat indah pada Zalfa. Baju kokoh putih dan celana hitam juga sudah melekat dengan sempurna pada Dimas.


Sebuah sepeda juga telah bertengger di halaman vila. Sebuah sepeda yang akan Dimas gunakan menuju rumah Eyang Putri dan Mbah Kungnya.


Dimas lebih dulu menaiki sepeda itu. Kemudian menginstruksikan pada Zalfa agar Zalfa ikut naik di belakangnya.


Sepeda itupun melaju membawa Dimas dan Zalfa ke tempat yang mereka tuju.


5 menit kemudian ...


Sampailah mereka di kediaman Eyang Putri dan Mbah Kung dari Dimas Adityma Putra Wijaya.

__ADS_1


Alunan gema sholawat gambus bergema cukup samar-samar di kediaman itu.


Begitu sampai, mereka langsung dipersilahkan masuk karena sudah ditunggu.


"Adi, cucuku!"


Eyang menerima jabatan tangan Dimas dan langsung memeluk Dimas seketika itu pula.


Zalfa mengulurkan tangan menjabat tangan Eyang. Eyang menerima dengan salut dan senang.


Membelai lembut wajah Zalfa, "MasyaAllah, cantik sekali memantuku. Cantik luar dan dalam." Tersenyum sejenak, tak lama setelahnya memeluk hangat Zalfa.


Melihat sosok yang sangat dia sayangi, tak lupa tentunya Dimas juga menjabat laki-laki yang sangat ia sayangi, segani dan ia jadikan panutan sedari dulu ia muda sewaktu ia berkunjung di kediaman yang ia datangi sore ini.


"Mbah Kung!" Dimas berjongkok menyamakan posisinya dengan Mbah Kungnya yang duduk di atas kursi roda.


Perlahan Dimas meraih tangan Mbah Kungnya itu. Menjabat mencium tangan itu, serta memeluk Mbah Kungnya penuh kerinduan. Zalfa juga ikut melakukan apa yang Dimas lakukan.


Para tamu yang hadir di acara tasyakuran sederhana tersebut juga ikut bahagia bisa menyambut kedatangan Dimas yang cukup terkenal sedari dulu di desa tempat Kakeknya tinggal. Karena selain tampan Dimas juga sangat ramah dan berempati bagi mereka.


Mereka semua masuk dan menikmati satu persatu acara. Dan masuklah pada acara penuh kesan yaitu saat dimana mereka berfoto bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama.


"Mas Adi, sebelum pulang, monggo mampir ke rumah saya dulu!"


"Rumah saya juga, Mas!"


"Rumah saya juga, Mas, Mbak!"


Para tamu itu bersahut-sahutan karena ingin juga berkesempatan menjamu Dimas dan istrinya sebelum mereka kembali ke kota.


"Insyaallah, nanti kalau ada waktu kami akan berkunjung, Pak, Buk." Zalfa menjawabnya dengan keramahan tamahan. Melihat bagaimana sikap istrinya, Dimas pun mengiyakan dengan tersenyum bahagia karenanya.


Langit kian redup. Senja dengan kemerah-merahannya pun turut datang. Sesaat setelahnya, lantunan adzan magrib pun berkumandang.


Dipimpin oleh Dimas, shalat magrib berjamaah dilaksanakan di halaman Mbah Kung dan Eyang Putrinya.


Semua ikut berjamaah tak tertinggal Mbah Kung yang meskipun shalat dengan kursi rodanya. Baginya momentum shalat magrib berjamaah bersama dengan cucu dan menantunya merupakan momentum yang tak ingin ia lewatian begitu saja. Hadirnya Dimas dan Zalfa di tengah-tengahnya benar-benar membuat ia bahagia dan punya semangat untuk sembuh dari sakitnya. Sakit yang membuatnya tidak bisa hadir di rumah Pak Wijaya untuk melihat prosesi pernikahan cucu kesayangannya. Namun ternyata Dimas dan Zalfa lah yang hadir menemuinya di desanya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!

__ADS_1


__ADS_2