Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Ini Benar-benar Kamu!


__ADS_3

Tak dapat Dimas hindari air matanya menetes seketika itu pula bersamaan saat ia berlaih memegang dan mengusap punggung tangan Zalfa.


"Katakan Zalfa, bagaimana seseorang tak bahagia saat yang dirindukan hadir tepat didepannya? Bagaimana bisa seorang yang merindu menyembunyikan rasa berjuta-juta syukurnya kepada Sang Pencipta yang telah mengobati kerinduan yang mendera dalam lubuk hatinya?"


"Pak Dimas ...!" Zalfa yang tak tau lagi harus berkata seperti apa kepada Dimas yang larut dalam rasa syukur dan bahagianya. Dapat pula Zalfa rasakan tulus dan besarnya rasa cinta yang dimiliki Dimas untuknya.


Beberapa menit yang lalu tepatnya. Dimas begitu merindukan sosok yang berada dihadapannya saat ini. Dan kini bukan mimpi ataupun sekedar khayalan, Zalfa telah bangun dari komanya dan mereka bisa saling meluapkan rasa rindu dan cinta masing-masing.


Dengan haru dan mata berbinar yang masih menyisakan bulir mata yang mengenang di pelupuk matanya, Dimas masih memandangi wajah Zalfa. Cukup enggan beralih karena senangnya.


Dalam benaknya Dimas merasa ini seakan mimpi tapi patut ia syukuri karena itu bukanlah sekedar mimpi belaka. Karena dengan nyata ia bisa melihat kembali wajah dengan senyum manis itu kini telah kembali terpancar dengan nyata. Wajah yang dulunya pucat sekarang sudah lebih membaik.


Mulut Dimas pun bergetar menyebut nama seseorang yang ia cinta dan jaga dengan segenap jiwa dan raganya.


"Zalfa Aristya Az Zahira?" Ucapnya sekali lagi.


"Ini benar-benar kamu!" Jawabnya sudah begitu yakin.


Dengan mengangguk penuh keyakinan Zalfa memberi isyarat bahwa yang dihadapannya memanglah Zalfa Aristya Az Zahira yang dicintai, diperjuangkan, serta dijaga olehnya.


Dimas tau ini semua memang nyata, maka dengan cepat Dimas bergegas bangkit mendekat ke Lukman yang berdiri dibelakang Zalfa dan dirinya. Begitu berhadapan dengan Lukman, Lukman sempat tersenyum karena ikut bahagia atas kebahagiaan Dimas. Namun sesaat kemudian Lukman malah tercengang dengan yang dilakukan Dimas padanya.


"Dim, kenapa kamu meluk saya?" Tanya Lukman yang tiba-tiba dipeluk oleh Dimas walaupun hanya dalam hitungan detik.


Bukan cuma Lukman, Zalfa, Bu Ambar, Ica dan Rere pun turut serta merasakan hal yang sama dengan apa yang difikirkan oleh Lukman saat itu.


Zalfa berdiri di samping kursi dimana ia duduk bersama Dimas.


Dimas mendekat pada Zalfa dan mengatakan sesuatu yang membuat semua orang yang tadinya tercengang malah salut kepada Dimas.


"Saya masih normal, bahkan saya bisa menjamin kalau saya normal." Dimas mencoba menjelaskan sikapnya tadi,"saya tidak ingin melakukan kesalahan kedua kalinya karena telah memeluk Zalfa kembali. Cukup saat peristiwa satu bulan yang lalu di stasiun ini yang menjadi awal dan akhir dimana saya memeluk Zalfa sebelum ada kata halal diantara saya dengan Zalfa."


Ucapan Dimas membuat Zalfa berkaca-kaca seketika itu. Betapa seseorang yang mencintainya bukanlah seorang laki-laki sembarangan tetapi laki-laki yang mencintainya ternyata begitu ingin menjaga marwahnya.


"Maaf Zalfa terkadang saya telah lancang menyentuh kamu, tetapi tolong percayalah bahwa mulai sekarang, saya akan membatasi diri saya dengan kamu."


"Saya tidak akan menyentuh kamu sebelum kata ijab saya ucapkan." Lanjutnya dengan mantap.

__ADS_1


Zalfa mengusap air mata yang sudah berhasil lolos dikedua pipinya. Ia mengatur nafas baik-baik dan berkata, "Pak Dimas terimakasih atas semua yang kamu berikan pada saya. Cinta, perhatian, waktu dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Saya sangat bersyukur Allah menghadirkan Pak Dimas dalam hidup saya."


Mereka hanya saling memandang tanpa saling menyentuh. Tetapi sorot cinta tulus begitu terpancar antara keduanya.


Disamping Dimas dan Zalfa ada Lukman, Rere, Bu Ambar, Ica dan Satya yang ikut bergejolak merasakan apa yang mereka rasakan.


Saat saling hening. Tanpa disangka dari suatu arah datang dua orang yang sangat tak asing terlebih lagi bagi Dimas.


"Hubungan kalian harus segera disahkan baik secara hukum dan agama!" Tutur seorang wanita dengan jilbab yang membalut kepalanya dengan tatanan yang begitu rapi.


"Bu ...?" Zalfa ingin menyebut nama dari wanita yang tiba-tiba hadir ditengahnya namun belum mengingat namanya.


Tak hentinya Zalfa berusaha mengingat nama Ibu wanita tersebut namun belum sempat Zalfa mengingat kembali nama wanita tadi, kedatangan seorang laki-laki disamping wanita tersebut, seketika itu langsung membuat Zalfa teringat nama dari wanita tadi tanpa ia sebut.


Reflek Zalfa langsung menyebut dan menyapa laki-laki tersebut, "Pak Wijaya?" Spontan Zalfa beralih ke Bu Anis dan kembali menyapanya juga.


Dimas tidak tahu menahu bagaimana kedua orang tuanya secara tiba-tiba datang ke stasiun. Padahal Pak Wijaya dan Bu Anis hari itu sudah berencana menjenguk Zalfa serta menyusul Bu Ambar dan Ica yang belum juga kembali ke kota M. Dan hal yang begitu luar biasa yang dinanti selama ini terkabul sudah semuanya. Insting mereka untuk menjenguk Zalfa dan menyusul Bu Ambar ke kota S tidak salah.


Begitu mendapat pemandangan yang diinginkan semenjak satu bulan yang lalu, Bu Anis dengan antusias merentangkan kedua tangannya dan memeluk Zalfa saat itu juga.


"Alhamdulillah kamu sudah sadarkan diri sayang!" Memeluk Zalfa dengan semakin erat.


"Tidak baik bukan jika menunda-nunda hal baik?", Bu Anis kembali serius dan melepas ppelukannya,


"iyakan?"


"Benar sekali Bu Anis!" Bu Ambar setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bu Anis. Tanpa basa basi Bu Ambar beralih merangkul dan memeluk Bu Ambar saat itu.


Dan pagi itu, di stasiun terbesar kota S dipenuhi rasa bahagia tak terkira atas kenikmatan dimana Zalfa yang sudah sadarkan diri kembali. Ditambah lagi Dimas dan Zalfa yang akan segera merencanakan pernikahan.


Ditengah rasa bahagia yang tidak cukup jika hanya diungkapkan hanya sekedar dengan kata-kata, Zalfa sedikit merubahnya menjadi rasa penasaran saat ia berucap,


"Tapi, sebelumnya ada yang ingin aku sampikan ke Pak Dimas." Ujar Zalfa tanpa memberi kode terlebih dahulu.


Kedua belah keluarga itupun terfokus pada Zalfa yang katanya ingin menyampaikan sesuatu.


"Kemarin, satu bulan yang lalu tepatnya. Ditempat yang sama, di stasiun ini juga. Aku menerima cinta Pak Dimas dengan disaksikan oleh orang-orang yang aku sayangi dan Pak Dimas sayangi. Namun saat diakhir ternyata aku belum sempat menyampaikan ke Pak Dimas, kalau---" Menjeda sejenak perkataannya.

__ADS_1


Detik demi detik terlewati dan Zalfa pun melanjutkan ucapan yang cukup membuat orang-orang menunggu.


"Pak Dimas, aku mencintai kamu karena Allah. " Sambung Zalfa penuh ketulusan hatinya yang begitu jelas terpancar diraut wajahnya.


Denyut hati Dimas pun bergetar dan berdegup dengan kecepatan yang tidak biasa. Semangat bertambah berkali-kali lipat begitu mendengar apa yang disampaikan oleh Zalfa. Sesuatu yang sejujurnya ingin Dimas dengan sedari awal sebelum peristiwa penembakan yang menyerang dirinya dan Zalfa.


"Terimakasih karena kamu masih mengingatnya. Dan sekarang izinkan saya mengatakannya sekali lagi."


Dengan penuh keyakinan Dimas mengucapkan kata azimat perilah perasaannya kepada Zalfa,


"Zalfa Aristya Az Zahira saya mencintaimu karena Allah."


Momen manis Dimas dan Zalfa ternyata berhasil membuat Rere dan Lukman hanyut dalam khayalannya masing-masing.


"Rere, aku Lukman Saputra dengan ini menyatakan bahwa, Lukman Saputra mencintai Rere Veronika karena Allah."


"Dengan ini pula, Rere Veronika menjawab bahwa, Rere Veronika mencintai Lukman Saputra karena Allah."


Mereka berdua Rere dan Lukman saling berkhayal dan senyam seyum sendiri.


Keluarga Dimas dan Zalfa yang tak sengaja mengetahui apa yang terjadi dengan Rere dan Lukman menaruh curiga dengan apa yang kedua sejoli itu fikirkan.


Mereka memandangi keduanya dengan sesekali berusaha menyadarkan mereka, "Hayo, pasti pada baper kan?" Goda Ica karena gemas dengan tingkah aneh Rere dan Lukman.


Berusaha mengalihkan pembicaraan, Lukman dengan cepat mengajak Dimas untuk siap-siap bertugas.


Keluarga Dimas dan Zalfa pun melepas kepergian Dimas dengan suka rela karena memang sudah menjadi tanggungjawab Dimas melaksanakan tugasnya.


Dari kejauhan Zalfa mengulas senyum seraya melambaikan tangannya. Hal yang sama pun Dimas lakukan. Ia melambaikan dan mengulas senyuman kepada Zalfa yang nampak masih berat menyaksikan kepergiannya. Mungkin karena ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Dalam hati Dimas berucap, "Tapi, lebih baik kita berpisah dulu untuk sesaat Zalfa agar kamu bisa lebih bisa memulihkan kondisi tubuh kamu."


Namun apa boleh buat kehendak hati Zalfa menuntutnya untuk menyusul Dimas. Dan untuk sekejap saja mereka sudah saling berhadapan kembali.


Dengan lembut Dimas mengatakan apa yang terlintas dihatinya tadi kepada Zalfa, "Zalfa, lebih baik kita berpisah dulu untuk sesaat agar kamu bisa lebih memulihkan kondisi tubuh kamu!"


Zalfa tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya diatas alisnya. Ia menaruh hormat pada Dimas sebagai jawaban kalau ia siap melaksanakan perintah tersebut.


Dimas juga tersenyum, ia melakukan apa yang Zalfa lakukan padanya.

__ADS_1


....


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2