
Cincin pemberian dari Dimas itu masih berada tepat di atas telapak tangan Zalfa yang terbuka. Zalfa masih serasa tak yakin dengan apa yang dilakukan oleh Pak Kondektur tampan putra kepala sekolah itu beberapa menit yang lalu.
Sedari perjalanan di kereta memang ia begitu lebih akrab dengan Zalfa. Lama termenung dan berfikir macam-macam Zalfa pun dengan begitu cepat Zalfa mengejar Dimas dan kejadian yang mendebarkan pun terjadi kembali diantara mereka berdua. Kali ini Dimas menolong Zalfa yang hampir saja tersungkur kalau tidak segera dibantu oleh Dimas.
"Hati-hati!" tutur Dimas dan pandangan mereka saling bertemu.
Dengan cepat Zalfa bangun dari tangan Dimas yang menyangga tubuhnya. Dan membenarkan kembali posisi berdirinya.
"Terimakasih Pak Dimas."
Zalfa ingin tau kenapa dengan begitu tiba-tiba Dimas menyatakan perasaan padanya? Lalu apa yang membuat Dimas mencintainya? Dan seberapa besarkah Zalfa dapat percaya kalau Dimas laki-laki yang baik yang layak untuk bersanding dengannya? Dan Zalfa rasa, ia harus mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang begitu ingin ia ketahui jawabannya tersebut.
"Pak Dimas sebelumnya terimakasih atas cincin ini," memperlihatkan cincin yang diberikan oleh Dimas tepat didepan Dimas.
Spontan Zalfa memegang tangan Dimas (lengan) yang terbalut jaz dan meminta tolong agar Dimas membuka telapak tangannya.
Mengikuti alur dari Zalfa, Dimas pun membuka telapak tangannya, seketika cincin itu beralih ke tangan Dimas.
"Maaf Pak Dimas saya belum bisa menerima ini. Saya belum yakin apa Pak Dimas takkan meninggalkan dan mengkhianati saya seperti yang Edo lakukan pada saya sebelumnya," Zalfa meminta maaf dan memberikan alasannya mengembalikan cincin pemberian Dimas, "lagi pula saya belum terlalu mengenal Pak Dimas begitu juga dengan Pak Dimas."
Dimas menanggapi dengan tersenyum tenang dan kembali berbicara pada Zalfa.
"Kamu tau Zalfa? Semenjak kamu menolak bantuan saya dan malah marah-marah kepada saya dan tak lama kemudian meminta maaf pada saya, sebenarnya saat itulah kamu sudah menggetarkan hati saya."
"Selain itu, kamu adalah wanita yang begitu menyanyangi Mama kamu dan sangat perhatian padanya. Melihat kamu begitu peduli dan sayang dengan Mama kamu, saya jadi berfikir betapa beruntungnya lelaki yang berhasil memiliki kamu dalam hidupnya. Lantas saya juga berfikir bagaimana bisa wanita yang begitu peduli dan sayang dengan Mamanya aku bilang wanita galak dan aneh?" Dimas menoleh ke Zalfa.
"Kamu bukan wanita galak dan aneh lagi semenjak itu bagi saya, Zalfa. Bagi saya kamu adalah wanita yang membuat saya ingin memilikimu dalam setiap nafas saya." mengungkapkan dengan begitu tulus.
__ADS_1
Zalfa hanya terlihat bimbang sesekali juga terharu dengan perkataan Dimas untuknya.
"Pak Dimas, sebenarnya Anda merupakan lelaki yang sudah membuat saya tertawa kembali setelah masa lalu pahit yang Edo torehkan kepada saya."
Zalfa menceritakan malam perjalanannya menuju kediamannya. Dimana pada malam itu Zalfa senyam senyum sendiri karena teringat Pak Kondektur Dimas yang baik hati.
"Malam itu, saat saya dalam perjalanan pulang ke rumah tiba-tiba saya ingat tingkah Anda yang mau mengembalikan cincin itu pada saya," Zalfa menjelaskan secara perlahan dan pancaran kebahagiaan pun tak dapat dihindari oleh Dimas yang mendengar penjelasan Zalfa.
Zalfa melihatnya, melihat Dimas pancaran wajah Dimas yang begitu bahagia mendengar cerita yang belum selesai ia jelaskan karena masih ada penjelasan selanjutnya yang mungkin akan menyirnakan pancaran kebahagiaan di wajah Dimas saat ini.
Zalfa menatap ke Dimas dengan perlahan ia meneruskan penjelasannya,
"Tapi, saya belum siap untuk memulai hubungan baru apalagi untuk ke jenjang pernikahan, saya takut Anda akan melakukan apa yang pernah Edo lakukan pada saya."
Zalfa memejamkan netranya, membuang arah dan menarik nafasnya, ia kembali melanjutkan penjelasannya, "Edo sudah bertunangan dengan saya, Pak. Tapi tinggal beberapa bulan hari pernikahan tanpa sepengetahuan saya dia malah menikah dengan wanita lain."
Tak mau berbuat kesalahan atau kemaksiatan lebih tepatnya. Dimas lebih memilih untuk menceritakan sedikit tentang peristiwa pahit juga dalam kehidupannya.
"Zalfa," panggil Dimas yang terdengar begitu halus, "asal kamu tau Zalfa, apa yang pernah kamu alami itu saya juga pernah mengalaminya Zalfa."
"Sungguh?" Zalfa tak percaya rasanya bisa kebetulan seperti ini.
Dimas mengangguk dengan tetap tersenyum tenang.
"Zalfa, itu cuma masa lalu saya. Dan sekarang saya ingin menatap masa depan." ucap Dimas begitu mantap. Kemudian melanjutkan ucapannya lagi, "Zalfa, saya tak akan memaksa kamu untuk menerima cinta saya karena yang saya tahu cinta memang tak bisa dipaksakan."
Usai mengatakan itu, Dimas dan Zat mereka saling bertatap dan berusaha menelisik ke dalam sorot mata dari masing-masing.
__ADS_1
"Saya akan menunggu dan membuat kamu yakin kalau saya bukanlah laki-laki seperti Edo." ucap Dimas meyakinkan Zalfa akan perasaan cintanya yang tulus sekaligus tak sama dengan Edo,
"Saya juga akan membuat kamu yakin untuk mencintai saya."
"Sekali lagi Zalfa, cincin ini saya kasihkan ke kamu sebagai hadiah bukan untuk tanda bahwa kamu harus menerima cinta saya." ucap Dimas dengan begitu hangat dan tenang menatap ke arah Zalfa. Seakan-akan pada saat itu juga Dimas menyatakan kalau ia sangat mencintai Zalfa setulus hatinya, "jadi saya mohon kamu mau memakainya!"
"Dan jangan lupa untuk selalu bahagia Zalfa!" ucap Dimas sekali lagi sebelum pergi dari hadapan Zalfa.
Tak butuh waktu lama setelah mengatakan itu Dimas sudah kembali menghilang dari hadapan Zalfa.
Ayunda masih mencari Zalfa kesana kemari, setelah tak lama mencari, Ayunda akhirnya menemukan Zalfa.
"Bu Zalfa!" panggil Ayunda yang berada tak jauh dari Zalfa.
Zalfa pun menoleh ke Ayunda.
Lalu dengan segera Ayunda dan Zalfa menemui jemputan dari SDN 1 Bumi Pertiwi kota S. Jemputan tersebut sudah sampai sedari tadi tanpa Zalfa ketahui. Saat akan beranjak pergi keluar dari stasiun Zalfa menyempatkan untuk menegok ke belakang ke arah kereta.
Dan dari kejauhan Zalfa melihatnya, Zalfa melihat laki-laki yang dengan tegas mengutarakan perasaan cinta kepadanya. Dari kejauhan pula Dimas juga mengetahui kalau Zalfa menengok ke belakang dan melihatnya. Melihat Zalfa yang akan pergi meninggalkan stasiun dengan seakan-akan kesempatan telah memberikan waktu kembali untuk mereka saling melihat dari kejauhan sebelum keduanya berpisah karena tugas dari profesi masing-masing.
Dimas menampilkan sebuah senyuman ke Zalfa yang melihatnya dari kejauhan. Dan tak pernah Dimas sangka, ia juga akan mendapat balasan sebuah senyuman balik dari Zalfa walaupun dari kejauhan, senyuman itu tampak begitu jelas oleh Dimas.
Sepersekian detik kemudian setelah mereka saling memberi semangat lewat senyuman masing-masing, Dimas dan Zalfa pun harus kembali fokus pada tanggungjawab mereka masing-masing yang sudah menanti.
Dimas perlahan pergi dari stasiun bersama keretanya, begitu juga dengan Zalfa perlahan pergi dari stasiun menuju tempat tujuannya.
Dan stasiun itu kini telah menjadi saksi akan terucapnya cinta dari Dimas untuk Zalfa.
__ADS_1