Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Dibalik Permintaan Maaf


__ADS_3

Tak ada yang tau hari esok akan jadi seperti apa. Dan itulah yang dialami Edo dan Sintia saat ini.


Tanpa terasa satu minggu telah berlalu dan tibalah hari keputusan untuk pemberian hukuman kepada Edo. Seluruh bukti sudah dikantongi polisi termasuk motif penembakan yang dilakukan Edo yakni motif cemburu dan tidak menerima kenyataan.


~ Hari itu di pengadilan kota S ~


"Saudara Edo, atas pencobaan penembakan yang Anda lakukan di stasiun kota S, dengan ini Anda dikenai pasal yang berlaku. Dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun."


Dok ... Dok ... Dok!


Pak Hakim mengetok palu sebagai keputusan yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.


Beberapa orang yang hadir dalam pengadilan tersebut berangsur pergi termasuk Dimas yang hadir bersama Pak Wijaya.


Sementara itu, Sintia yang turut hadir ia hanya diam tak bersuara sama sekali. Sosok wanita yang turut mendampingi Sintia pun tak hentinya memanggil nama Sinta namun Sintia sama sekali tak bereaksi. Sintia hanya termenung dengan tatapan hampa. Sosok wanita yang sempat merasa tak suka saat Pak Kepsek (Pak Wijaya) mendelegasikan Zalfa dan Ayunda yang mengikuti studi banding di SDN 1 Bumi Pertiwi Kota S. (lihat di episode "Mereka Mirip?").


Beberapa saat kemudian ...


Di ruangan gelap berpintukan jeruri besi. Di ruangan tersebutlah Edo ditempatkan sekarang dan sampai nanti. Edo harus mempertanggung jawabkan perbuatannya karena telah melakukan upaya penembakan kepada Dimas dan Edo dinyatakan dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atas perbuatannya yang tidak etis tersebut. Sebagai istri Edo, Sintia hanya bisa menangis pasrah melihat pendamping hidupnya divonis dengan begitu beratnya.


Sejenak Sintia berfikir apa ini adalah hukuman karena ia telah menyakiti Dimas waktu itu. Sintia geleng-geleng sendiri. Sedangkan Edo ia terus menundukkan wajahnya dan memberanikan diri mengatakan isi hatinya pada Sintia.


"Sintia, aku terima apapun keputusan kamu. Kalau kamu mau berpisah maka aku akan menerima itu semua." ucap Edo yang masih diberi kesempatan untuk berbicara dengan Sintia selama beberapa menit.


"Mas Edo, apapun keadaan kamu aku akan mencoba untuk tetap setia dan membersamai kamu selama yang aku bisa." Sintia memegang erat tangan Edo dan mereka saling tatap dengan linangan air mata masing-masing.


"Kamu serius Sintia?" Edo tak menyangka namun juga teramat bahagia.


Sintia mengangguk.


"Tapi ada syaratnya,"


"Kamu harus berubah demi aku dan anak kita."


"Kamu ... hamil Sintia?" Edo yang belum mengetahui kehamilan Sintia.


Sintia mengangguk dengan derai air mata yang perlahan bercucuran di kedua pipinya.


"Iya Sintia, aku akan berubah. Sayang maafkan Papa yaa! Papa, Papa tidak bisa ikut merawat kamu. Tapi Papa akan selalu berdoa dan berubah demi kamu dan Mama di sini." Ucap Edo duduk di bawah Zalfa dan membelai perut Zalfa yang masih rata.


Mereka sama-sama menangis, Sama-sama merengkuh satu sama lain dan saling menguatkan.


...


~ Rumah Sakit terbesar dan ternama kota S ~

__ADS_1


Dimas menilik kembali ke rumah sakit melihat kondisi Zalfa. Usai menghadiri persidangan pemutusan hukuman kepada Edo.


"Zalfa, pelaku itu sudah dikenai hukuman yang setimpal. Dan jujur saja saya tidak meyangka, kalau mereka yang pernah hadir dalam hidup kita dan menorehkan luka, kini mereka merasakan luka juga." Dimas berbicara dengan Zalfa yang masih koma.


Seorang wanita dengan tiba-tiba memasuki ruangan tempat Zalfa dirawat.


"Dimas!" panggil wanita yang tentu Dimas mengenalnya.


Dimas pun menoleh ke ambang pintu,


Wanita itu mendekat ke Dimas, dan Zalfa yang masih terbaring lemah.


"Aku ke sini mau meminta maaf pada kamu,"


Ia menengok ke arah Zalfa yang masih terbaring lemah,"juga Zalfa."


"Kamu?" Dimas cukup geram.


"Iya, aku mawakili Mas Edo. Aku benar-benar minta maaf dengan sangat kepada kalian semua."


Pak Wijaya, Bu Ambar dan Bu Anis yang mendengar suara permohonan maaf disertai isak tangis segera mereka ikut masuk dan memeriksa.


Bu Anis yang mengenal siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini, ia shock dan menatap tajam kepada wanita itu.


"Untuk apa kamu ke sini Sintia?" Bu Anis cukup tak suka dan kemudian menatap Zalfa dengan berucap,"kamu mau menertawakan anak saya. Karena kini, wanita yang dicintainya dan ingin dinikahi juga olehnya harus terbaring lemah."


Sintia menggelengkan kepalanya dan ia memberanikan diri memegang tangan Bu Anis.


"Tante, kedatangan saya ke sini saya mau minta maaf kepada kalian semua."


Lantas menatap satu persatu dari orang yang ada di ruangan tersebut.


Dengan cepat pula, ia meraih tangan Bu Ambar.


"Tante, Anda pasti Ibunya Zalfa kan? Saya atas nama suami saya Mas Edo, saya meminta maaf Bu. Saya minta maaf."


Bu Ambar seorang Ibu yang berhati lembut itupun mengangguk dan memaafkan.


"Iya Nak, ini bukan salah kamu. Ini adalah salah suamimu, dia yang seharusnya meminta maaf kepada kami. Tapi, hari ini kamu rela meminta maaf kepada kami demi dia."


Tak selang berapa lama, Bu Ambar memeluk Sintia. Menganggapnya sebagai putrinya sendiri.


Dimas dan Bu Ambar hanya diam dan masih tak percaya dengan permintaan maaf dari Sintia tersebut.


...

__ADS_1


Beberapa menit kemudian sesi minta maaf Sintia pun selesai. Sintia pun keluar dari ruangan tersebut. Saat sudah di area luar rumah sakit Sintia bertemu dengan seorang wanita.


"Bagaimana? Berhasil?" tanya wanita itu antusias.


Sintia mengangguk sambil menampakkan senyumnya.


"Sintia, kamu harus bisa ambil perhatian dan cintanya Dimas kembali."


"Iya Mbak. Aku akan buat Dimas mencintai aku lagi. Karena aku enggak mau anak aku ini hidup tanpa sosok seorang ayah apalagi kalau ia tau ayahnya seorang ..."


Sintia tak sanggup meneruskan perkataannya dan bayangan yang tidak-tidak menghantuinya begitu saja.


"Makasih ya Mbak Meta, Mbak udah sadarin aku. Kalau Mbak enggak sadarin aku, tadi aku mungkin akan tetap setia dan menunggu Mas Edo dengan kondisiku yang berbadan dua."


"Iya Sin, Mbak ngelakuin ini semua untuk kamu dan anak dalam kandungan kamu. Mbak enggak mau kalau kamu menghabiskan masa muda kamu hanya untuk menunggu Edo, apalagi dengan anak kamu nantinya." ucap wanita yang sedari tadi membersamai Sintia.


"Iya Mbak, harusnya aku enggak ngomong gitu sama Mas Edo. Tapi, ya udahlah toh Mas Edo juga enggak akan tau kalau aku udah berubah fikiran."


Seringai jahat dan kelicikan terpampang pada Sintia dan Meta.


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓷~


Usai menemui Edo di penjara.


Dengan langkah cepat wanita yang sedari tadi mendampingi Sintia itu menggandeng tangan Sintia dan berbicara empat mata kepada Sintia.


"Sintia apa yang kamu lakukan?" tanya wanita yang tak sengaja mendengar dengan jelas pembicaraan Sintia dan Edo.


"Kamu mau menunggu Edo dan menghabiskan masa muda kamu hanya untuk setia pada Edo?"


"Maksud Mbak Meta?" Sintia belum mengerti ke arah mana pembicaraan wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Mbak tersebut. Wanita yang ia anggap seperti kakaknya sendiri walaupun dulunya mereka kenal dengan tidak sengaja saat kuliah dulu. Meta yang tidak memiliki siapa-siapa lagi hingga ia pun mengganggap Sintia sebagai adiknya sendiri. Walaupun sekarang ini, karena tuntutan pekerjaan Meta harus tinggal di kota M sedangkan Sintia masih tinggal di kota S.


Sepersekian detik kemudian, Sintia faham maksud arah pembicaraan Meta. Mengetahui itu, Sintia pun setuju dengan ucapan Meta dan langsung berubah fikiran. Bahkan dengan senyum smirksnya Sintia menyusun sebuah rencana.


~ 𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓯𝓯 ~


"Maaf Zalfa aku harus melakukan ini. Karena apa? Karena anakku ini butuh sosok ayah dan menurutku aku lebih bisa membahagiakan Dimas daripada kamu yang sudah diambang kematian." Sintia mengatakan itu dengan penuh percaya diri dan keangkuhannya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penentuan hukuman untuk Edo. Dan harap untuk tidak mencontoh hal yang tidak sepatutnya dicontoh karena adapun hal tersebut author tulis hanya sebagai pelengkap cerita ini.


Terimakasih atas perhatiannya!🙏


Salam manis dan semangat dari saya🤗🥰.

__ADS_1


Dan Happy Reading! 🤭😉


__ADS_2