Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Cintai, Miliki dan Sayangi Karena Allah


__ADS_3

Bu Anis tersenyum tipis merasa malu kalau harus menjelaskan bagaimana ia tiba-tiba bisa datang ke stasiun kota S. Apalagi sempat menggantikan posisi Zalfa yang kalau Bu Anis tidak segera datang maka Dimas dan Zalfa akan berpelukan.


"Mama!" Dimas tak sabar mendengar jawaban dari Mamanya.


Seulas senyum ditambah raut wajah merayu pun tampak dari wajah Bu Anis saat Dimas begitu ingin tau perihal keberadaannya yang tiba-tiba di stasiun kota S tanpa sepengetahuan Dimas atau tanpa lebih dulu mengabari Dimas.


"Dimas sayang, putra kesayangan Mama dan Papa juga pastinya. Mama akan kasih penjelasan kepada kamu dengan mendetail, bagaimana saat ini Mama bisa berdiri tepat di hadapan kamu." Bu Anis memulai penjelasan dengan pembukaan terlebih dahulu alias basa basi dulu.


Dimas masih menunggu dengan cukup antusias kata perkata yang akan keluar dari Mamanya.


"Dimas, ini semua adalah rencana Mama." Bu Anis meneruskan penjelasannya dan untuk sesaat Bu Anis berganti menghadap ke Zalfa yang berada di samping kirinya seraya membelai lembut wajah Zalfa dan berucap,"Mama sengaja ke sini untuk menyaksikan moment mendebarkan dimana Bu Zalfa akan memberikan jawabannya ke kamu."


Dan sesaat kemudian setelah mengatakan itu, Bu Anis pindah menghadap ke wajah Dimas yang berdiri di samping kanannya.


Dua sejoli yang berada di samping kanan dan kiri Bu Anis itupun cukup tercengang dengan penjelasan yang Bu Anis katakan.


"Mama? Mama serius?" Dimas masih belum seratus persen percayalah,"Maksud Dimas, Mama bela-belain kesini cuma buat menyaksikan Dimas dan Zalfa?"


"Kok kamu bilang cuma sih, Dimas? Ini itu bagi kami berlima moment yang cukup sayang untuk dilewatkan." Bu Anis kembali menyakinkan pada Dimas bahwa apa yang ia lakukan adalah benar, toh dia tidak merugikan orang lain atas apa yang ia lakukan.


"Berlima?" pertanyaan yang keluar dari Zalfa secara spontan.


Bu Anis tetap terlihat begitu santai dan secara bergiliran satu persatu seseorang muncul dari suatu arah.

__ADS_1


Muncul pertama Pak Wijaya, kemudian Ica bersama Bu Ambar dan yang terakhir Ayunda yang sedari awal pada saat Dimas datang sudah izin ke toilet lebih dulu dan sekarang baru kembali, tetapi saat kembali membawa rombongan orang-orang yang sama sekali tak terlintas dihati dan fikiran Dimas dan Zalfa orang-orang itu akan berada bersama mereka.


Saat melihat satu persatu orang muncul dari suatu arah, Dimas dan Zalfa benar-benar tak menyangka dengan kejutan kedatangan orang-orang tersayang mereka di stasiun kota S untuk menyaksikan kisah cinta mereka.


Dimas dan Zalfa hanya bisa diam dan tersipu malu dibalik raut wajah yang saling menunduk dan saling salah tingkah sendiri. Atau bisa dikatakan Dimas dan Zalfa seperti malu-malu karena ketahuan sedang berduaan atau bermesraan padahal mereka hanya menghadapi moment mendebarkan yang baru saja berlalu.


"Hayooo! Kalau enggak salah tadi ada yang bilang gini nih, "kalau kamu mau saya akan menemui Mama kamu dan ..." belum selesai Ica berbicara menyelesaikan kemana arah pembicaraannya itu, Dimas yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan Ica, ia menjeda perkataan Ica dan beralih menghadapkan dirinya kepada Bu Ambar Mamanya Zalfa.


"Bu, saya Dimas Adityama Putra Wijaya." memegang tangan Bu Ambar seraya menciumnya dan berkata,"saya memohon restu dari Ibu untuk menikah dan membahagiakan putri Ibu yang bernama Zalfa Aristya Az Zahira." Dimas membuktikan ucapannya kepada Zalfa juga Ica.


"Saya akan selalu berusaha membahagiakan Zalfa dan memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Zalfa." lanjut Dimas masih mencium tangan Bu Ambar.


Dapat dirasakan oleh Dimas, Bu Ambar yang mengusap lembut punggung Dimas. Setelah itu menyuruh Dimas agar Dimas kembali berdiri dengan tegak.


Dan saat itu pula Bu Ambar mengangguk sebagai tanda restu kepada Dimas. Reflek Dimas kembali mencium tangan Bu Ambar dan bergantian pula mencium tangan Mama dan Papanya serta memeluk kedua orang tuanya tersebut.


"Pak Dimas dengan ini saya mengatakan bahwa saya menerima cinta dan pinangan dari Pak Dimas."


Ica yang usil itupun kembali berulah,"Ehemm ... ehemm ..." Ica meracau berusaha menggoda pasangan kekasih di depannya saat ini.


"Ica ...!" Zalfa merasa malu dan menegur ulah usil Ica tersebut.


Ica hanya menanggapi dengan masih tersenyum usil.

__ADS_1


"Kan sekarang udah dapat persetujuan nih dari Tante Ambar, emm ... Pak Dimas pakein cincinnya donk ke Kak Zalfa!" Ica dengan sengaja.


Dengan sepenuh hati Dimas memakaikan cincin tersebut ke Zalfa. Disaat cincin itu sudah terpasang pas dan indah dijari manis Zalfa, Dimas terpaku mendengar perkataan yang keluar dari lisan Zalfa, "Pak Dimas, sekali saya katakan bahwa saya terima cinta dan pinangan Pak Dimas. Saya harap Pak Dimas, akan cintai Zalfa karena Allah, miliki Zalfa karena Allah dan sayangi Zalfa karena Allah. Dan saya, Zalfa Aristya Az Zahira juga akan mencintai, memiliki dan menyayangi Pak Dimas karena Allah."


Mendengar ungkapan demi ungkapan hati Zalfa, Dimas sangat senang mendengar itu semua dan air matanya pun mengenang di pelupuk matanya.


Dimas menganggukkan kepalanya dengan seulas senyuman dan tanpa basa basi lagi Dimas dengan begitu berani memeluk Zalfa.


Bu Anis yang baru saja ingin mencegahnya namun kalah cepat dengan Dimas yang sudah lebih dulu memeluk Zalfa. Sementara itu, Pak Wijaya pun memberikan isyarat kepada Bu Anis agar membiarkan mereka dan memberikan mereka waktu untuk berdua. Toh mereka sudah dewasa sudah mengerti yang mana yang baik dan yang tidak baik.


"Tentu Zalfa, saya akan selalu mencintai dan menyayangi kamu." ucap Dimas masih berpelukan dengan Zalfa.


"Iya saya percaya itu Pak Dimas." jawab Zalfa dengan memeluk Dimas pula.


Dua sejoli itu dilanda asmara dan kebahagiaan yang tak terhingga dan tak bisa mereka definisikan. Tetapi yang jelas mereka sangat bersyukur satu sama lain.


Zalfa sudah menerima cinta Dimas dan mereka juga sudah mendapat restu dari orang tuanya masing-masing untuk segera menikah. Namun ada seseorang yang harus menahan rasa sakitnya karena melihat moment Dimas dan Zalfa.


"Re?" panggil seorang laki-laki yang berdiri tepat di samping Rere yang melihat moment Dimas dan Zalfa.


"Lukman, Dimas jahat banget sih!" dengan bercucuran air mata dan tanpa sadar bersandar pada bahu Lukman,"Kenapa bukan aku yang diperlukan seperti itu sama Dimas? Kenapa?"


Rere berkata asal-asalan meluapkan cintanya yang ternyata harus bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Sudah Re! Jangan sedih! Semuanya akan tetap sama seperti apa yang kita lihat walaupun yang kamu inginkan adalah Dimas mencintai dan menikahi kamu." Lukman berusaha membuat Rere agar lebih ikhlas dan lebih bisa tenang.


Namun Rere masih saja terus mengeluarkan bulir-bulir air matanya, dan sungguh itu membuat Lukman yang berada didekatnya menjadi sungguh tidak tega melihat Rere yang ia cintai harus bersedih sebegitunya.


__ADS_2