Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 10 - Perjalanan Ke Bali


__ADS_3

...༻⊚༺...


"Maksud Bapak apa ya?" Lika memastikan. Dia tentu tidak mau posisinya digantikan oleh orang lain.


"Kenapa bisa gitu, Pak?" Zafran juga ikut bertanya.


"Makanya duduk dan dengarkan dulu Bapak ngomong. Ini belum apa-apa udah berantem." Pak Surya menghela nafas panjang.


Lika yang sejak tadi berdiri, bergegas duduk ke kursi. Dia takut kesempatannya untuk ikut olimpiade pudar begitu saja.


Pak Surya menatap Lika dan Zafran secara begantian. Dia segera memberitahukan dengan baik-baik, bahwa kejuaraan nasional akan dilaksanakan dalam bentuk tim.


"Tim?" Lika dan Zafran sama-sama terkejut.


"Benar. Begitulah kebijakan yang diberikan pusat. Alasan Bapak bicara sama kalian hanya karena ingin memastikan. Kalian berdua keberatan nggak berada dalam satu tim?" Pak Surya memicingkan mata. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


Zafran dan Lika membisu. Keduanya sedang berpikir untuk membuat keputusan. Mengingat prestasi di ajang nasional sangat penting bagi mereka.


"Semuanya tidak masalah kan? Lagi pula kalian bertanding di bidang yang berbeda. Kita hanya pergi bersama ke Bali. Itu saja," jelas Pak Surya. Dia secara tidak langsung menyebutkan bahwa kejuaraan nasional dilaksanakan di luar kota. "Oh iya, yang ikut juga bukan kalian berdua saja. Ada murid lain yang menjadi bagian tim,"


"Aku tetap ikut, Pak!" Zafran lebih dulu menyetujui. Dia merasa harus melakukannya agar Lika enggan untuk ikut.


Pupil mata Lika langsung membesar. Mendengar Zafran setuju, dia merasa dituntut untuk angkat suara. Gadis itu tidak akan kalah.


"Aku juga ikut!" ungkap Lika. Membuat bola mata Zafran memutar jengah.


"Baiklah." Pak Surya senang terhadap keputusan dua murid terbaiknya. Ia melanjutkan, "tapi kalian harus berjanji satu hal, jangan pernah buat masalah saat kita mulai berangkat nanti. Bapak tidak mau mendengar ada perdebatan apalagi sampai pertengkaran fisik. Mengerti?"


Zafran dan Lika tidak langsung menjawab. Keduanya justru reflek saling bertukar pandang. Memancarkan tatapan penuh kebencian yang tertahan.


"Mengerti, Pak." Zafran dan Lika menjawab serentak.


"Nah gitu dong. Kan adem juga Bapak lihatnya. Lagian kita bisa sekalian liburan ke Bali kan?" tanggap Pak Surya. Selanjutnya, dia mempersilahkan Zafran dan Lika keluar ruangan.


"Bagi gue nggak ada kata damai buat lo!" ucap Lika sambil berjalan mendahului Zafran.


"Idih! Siapa juga yang mau damai," balas Zafran. Dia melangkah laju sambil sengaja menabrak bahu Lika. Sukses membuat gadis itu terhuyung sebentar.

__ADS_1


"Gilaaa!" geram Lika. Rahangnya mengerat kesal.


...***...


Proses penilaian berakhir. Liburan telah tiba. Tetapi tidak untuk Zafran dan Lika. Keduanya harus pergi untuk mengikuti kejuaraan nasional.


Sekarang Lika sedang berada di kamar. Dia baru saja selesai memasukkan pakaian ke dalam tas. Dirinya juga tidak lupa membawa beberapa buku.


"Kamu udah siap?" Selia muncul dari balik pintu. Dia membawa tas besar berisi beragam keperluan untuk sang keponakan.


"Ya ampun, Tante. Aku nggak bisa bawa itu semua." Mata Lika terbelalak ketika melihat tas yang dibawa Selia.


"Ini untuk kebutuhanmu." Selia bersikeras.


"Udah, aku bawa secukupnya aja." Lika mengambil beberapa barang dari tas yang dibawa Selia. Lalu memberikan ciuman singkat di pipi kepada tantenya tersebut.


"Bisa banget kamu ya, nyenengin hati Tantenya." Selia yang gemas mengusap puncak kepala sang keponakan. Lika lantas merekahkan senyuman simpul.


Di sisi lain, Zafran duduk santai di sofa. Ia bermalas-malasan karena Zara memaksa untuk sarapan sebelum berangkat.


"Berapa orang yang ikut ke Bali?" tanya Gamal sembari duduk ke sebelah Zafran.


"Anaknya keluarga sebelah itu nggak ikut kan?" Gamal membicarakan perihal Selia. Pertanyaannya kali ini membuat Zafran berhenti bermain ponsel.


Zafran menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia tahu bagaimana ayah dan ibunya sangat membenci keluarga Baskara.


"Zaf? Kamu nggak dekat-dekat anak itu kan?" Karena Zafran tidak kunjung menjawab, Gamal kembali angkat suara.


"Enggak kok! Papah tenang aja. Aku malah nggak kenal sama sekali sama dia." Zafran membantah.


"Bagus kalau gitu." Gamal mendengus lega.


Zafran menatap selintas. Dia sebenarnya tahu betul masalah yang pernah terjadi di antara keluarganya dan keluarga Baskara. Sebagai anak yang patuh, dirinya berniat akan menuruti semua ucapan Gamal.


Waktu menunjukkan jam 07.30 pagi. Kali ini Zafran di antar oleh sopir. Ia langsung pergi ke bandara.


Ponsel terus berdering sedari tadi. Sebab Zafran datang sangat terlambat. Pak Surya dan yang lain berusaha memberitahunya agar segera datang.

__ADS_1


Sesampainya di bandara, Zafran berlari semaksimal mungkin. Hingga dia dapat bergabung dengan rombongan.


"Kamu selalu aja telat! Nggak pernah berubah." Pak Surya menimpali sembari mengangkat satu tangan ke arah Zafran. Dia marah dalam mode bercanda.


"Sorry, Pak. Yang penting pesawatnya belum berangkat kan?" Zafran terkesan santai.


"Bentar lagi berangkat kayaknya." Pak Surya menyahut sembari melihat ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Di jarak yang tidak begitu jauh, Lika nampak sibuk memegang buku. Dia ditemani oleh Keyla, gadis yang kebetulan mewakili sekolah untuk lomba debat.


Lika diam saja ketika melihat kehadiran Zafran. Dia bahkan cenderung tidak peduli. 'Seharusnya Pak Surya nggak usah telepon dia. Biar aja ditinggal sekalian. Ini namanya bukan liburan kalau pergi bareng si kampret itu," komentarnya dalam hati.


"Zafran kalau telat emang ngeselin. Tapi pas lihat dia datang, gue selalu senyum. Dia ganteng banget ya," cetus Keyla.


"Lo kalau mau muji orang itu jangan ngomong di telinga gue. Itu salah besar!" mata Lika mendelik ke arah Keyla.


"Ups, sorry... gue lupa kalau lo satu-satunya haters Zafran di sekolah." Keyla menanggapi dengan santai. Gadis tomboy sepertinya bahkan menganggap Zafran sebagai cowok keren.


Tidak lama kemudian, semua orang dipersilahkan berjalan untuk memasuki pesawat. Sebelum masuk, Pak Surya membagikan tiket terlebih dahulu kepada rombongannya.


Di tiket sudah tertera nomor kursi dimana penumpang harus duduk. Kini Lika tengah mencari kursi yang sesuai dengan nomor di tiket. Sampai akhirnya dia menemukan kursi tersebut. Tempatnya persis berada di tengah.


Posisi dekat jendela terlihat sudah di tempati oleh seseorang. Lika yang ingin cepat, duduk ke kursi begitu saja. Saat itulah dirinya sadar, kalau orang yang duduk dekat jendela adalah Zafran. Keduanya sontak terkejut.


"Sial!" umpat Zafran.


"Gila!" Lika merutuk bersamaan dengan Zafran.


"Lo ngapain duduk dekat gue?!" timpal Zafran.


"Nomor yang ada di tiket gue emang sesuai sama kursi ini! Lagian siapa yang mau duduk dekat lo!" Lika mengatup mulutnya kesal. Dia berdiri dan mencoba mencari Keyla. Berharap temannya itu bersedia bertukar tempat duduk.


Sayangnya posisi Keyla agak jauh di belakang. Parahnya gadis itu sudah sibuk menutup telinga dengan headset.


Lika mendengus kasar. Dia tidak punya pilihan selain menghampiri Keyla. Namun belum sempat dirinya beranjak, seorang pria berbadan sangat gemuk duduk di kursi sebelah kanannya.


Kebetulan barisan kursi yang ditempati Lika dan Zafran terdiri dari tiga buah. Zafran duduk di kursi paling kiri, sementara Lika di tengahnya.

__ADS_1


Akibat kedatangan pria berbadan gemuk tersebut, Lika jadi kesulitan lewat. Dia ingin bicara baik-baik, tetapi merasa tidak enak. Sebab pria itu sudah memejamkan mata dengan nyaman. Alhasil Lika terpaksa duduk lagi.


"Lo ngapain duduk lagi?!" geram Zafran.


__ADS_2