Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 29 - Kesal


__ADS_3

...༻⊚༺...


"Pa-pacar? Ya enggaklah!" tepis Lika yang sedikit tergagap. Ia membuat Jia seketika tersenyum senang.


"Bagus deh. Kalau boleh tahu namanya siapa ya? Kira-kira dia udah punya pacar belum?" Jia kembali bertanya kepada Lika.


"Lo salah kalau tanya tentang orang itu ke gue!" jawab Lika sembari melingus pergi keluar kelas. Di iringi oleh Chika dan Nadia setelahnya.


Jia mengangkat bahu tak acuh. Dia segera menanyakan perihal Zafran kepada siswi lain yang ada di kelas.


Ketika baru keluar kelas, Lika bertemu dengan Ari. Nampaknya cowok itu sudah lama menunggu. Dia membawakan sebungkus cokelat seperti biasa.


"Nih buat kamu," ujar Ari sembari menyodorkan cokelat kepada Lika.


"Makasih..." Lika terpaksa menerima. Ia memasang senyuman kecut. Jujur saja, Lika sudah bosan menjalani hubungannya dengan Ari. Padahal status pacarannya baru berlangsung beberapa hari.


"Chika, Nadia! Gue pinjam teman kalian bentar ya." Ari sudah menggenggam erat tangan Lika. Dia hendak membawa gadis itu ke suatu tempat.


Lika menatap tajam Chika dan Nadia secara bergantian. Memberikan kode agar dua temannya tersebut menolak permintaan Ari. Namun baik Chika dan Nadia sepertinya sama-sama sepakat untuk membiarkan Lika pergi.


"Bawa aja, Kak!" ucap Nadia sambil melambaikan tangan. Hal itu juga disetujui Chika dengan anggukan kepala.


Ari mengacungkan jempol, lalu menyeret Lika ikut bersamanya. Dia membawa gadis itu ke belakang sekolah. Yaitu salah satu sisi paling sepi. Kebetulan tempat tersebut juga dekat dengan toilet.


"Kenapa, Kak?" tanya Lika. Dahinya mengerut samar.


"Panggil sayang dong. Kakak mulu. Males deh." Ari merespon dengan senyuman menggoda.


"Maaf, Kak. Aku kan udah bilang kalau masih belum terbiasa." Lika memberikan alasan.


Lidah Ari berdecak. Walaupun begitu, dia tersenyum dan perlahan mendekatkan wajah kepada Lika.


"Aku akan maafin kalau kamu biarin aku cium bibir kamu," cicit Ari yang kian mendekatkan wajahnya. Hingga membuat Lika melangkah mundur dan tersudut ke dinding.


Ari menopang tangannya ke dinding. Mengurung Lika dari sisi kiri dan kanan.

__ADS_1


"Cium?" Lika membulatkan mata. Perasaannya saat Ari mendekat biasa saja. Justru dia merasa takut. Sebab Ari terasa lebih agresif dibanding biasanya.


"Aku nggak mau. Ini terlalu cepat kan? Kita bahkan belum satu minggu pacaran." Lika mencoba menolak baik-baik.


"Aku mau first kiss sama kamu. Makanya aku pengen cepat ngelakuinnya. Nggak apa-apa kan? Lagian status kita udah pacaran," sahut Ari. Atensinya terus tertuju ke arah bibir Lika yang ranum dan semerah buah cherry.


"Tapi kalau aku nggak mau, Kakak nggak akan maksa kan?" Lika berusaha mendorong dada Ari. Tetapi seperti biasa, kekuatan lemahnya bukanlah tandingan seorang lelaki. Terlebih Lika juga jarang berolahraga.


"Maaf, Lik. Sekali ini aja ya." Kini Ari memegangi tangan Lika. Menahan gadis itu agar tidak memberontak lagi. Saat itulah dia berupaya melakukan serangan. Membidik bibir Lika dengan mulutnya sendiri. Meskipun begitu, dia belum mampu memberikan sentuhan. Sebab Lika sengaja membuang muka dan mengulum bibirnya.


Sementara itu di toilet, Zafran baru keluar dari salah satu bilik. Dia mencuci tangan serta wajahnya.


Zafran terus cemberut. Dia menghela nafas panjang berulang kali. Mengingat segala masalah yang sedang menimpa dirinya.


Karena insiden pengakuan bohong kemarin, Zafran ketahuan tidak pernah mengikut jadwal les. Akibat hal itu, dia dipaksa belajar di rumah dengan bantuan seorang tutor khusus.


"Ini semua gara-gara mulut pantat ayam itu!" gerutu Zafran. Dia mengibaskan tangan dan berderap keluar toilet. Langkah kakinya terhenti, tatkala menyaksikan Lika dan Ari asyik bermesraan.


Dua tangan Zafran mengepal erat. Dia mengetatkan rahang dan menendang sebuah bak sampah.


Bruk!


"Lihat! Siapa yang melanggar peraturan sekolah. Berbuat mesum itu lebih menjijikan dari pada merokok tahu nggak!" timpal Zafran.


"Tutup mulut lo ya!" balas Ari yang segera melakukan pembelaan.


Entah kenapa Lika hanya terdiam. Dia malah menjadi orang yang pertama kali pergi. Zafran bahkan terkejut dengan tindakan yang dilakukan gadis itu. Lika terlihat beranjak masuk ke dalam toilet.


Melihat Lika pergi, Zafran memilih ikut menjauh. Parasnya semakin cemberut. Wajah Zafran tampak memerah padam. Entah kenapa dia sangat marah dengan Lika.


"Aaarggghh!" Zafran menggeram kesal. Bogem di tangannya dihantamkan ke tembok. Rasanya sakit, tetapi tertahan karena amarah yang lebih mendominasi.


"Lo kenapa? Muka lo kayak mau meledak tahu nggak. Ada yang ngajak lo berantem?" tegur Ervan yang baru menghampiri Zafran. Keduanya berpindah posisi dan menduduki bangku panjang pinggir lapangan.


"Gue benci banget sama Lika!" ungkap Zafran sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Itu kalimat bikin gue bosan tahu nggak!" Ervan mendorong pundak Zafran. Dia tidak menyangka, temannya itu masih belum berhenti menebar kebencian kepada Lika.


"Kali ini gue pengen ngerjain dia habis-habisan. Lo punya usul nggak?" cetus Zafran yang tiba-tiba ingin meminta pendapat.


"Udahlah, Zaf. Lo nggak muak apa, ngurus hidup Lika terus-menerus?" ujar Ervan. Bersamaan dengan itu, Galih datang. Dia berhenti tepat di hadapan Zafran dan Ervan.


"Ada anak baru! Parah sih. Dia cantik banget!" seru Galih sambil mengatur nafas. Dia begitu karena datang dalam keadaan berlari.


"Yang benar? Kelas berapa? Cantikan mana dibanding Lika?" Ervan bersemangat.


"Terus?" berbeda dengan Ervan, Zafran merespon dengan malas.


"Dia pokoknya nggak kalah cantik dari Lika!" Galih mendorong wajah Zafran dan memilih mengobrol bersama Ervan saja. Dia tahu Zafran tidak pernah berminat dengan cewek lain selain Lika dan Ramanda. Ulah Galih berhasil membuat tubuh Zafran terjengkang dan jatuh dari bangku panjang.


Zafran mendengus kasar. Dia menyapu wajahnya beberapa kali, kemudian perlahan berdiri. Zafran langsung melayangkan tendangan ke bokong Galih yang sibuk menungging.


Serangan Zafran sukses menyebabkan Galih jatuh ke arah Ervan. Keduanya lantas jatuh bersama ke tanah. Akibat hal itu, tawa Zafran otomatis terdengar.


...***...


Lika masuk ke bilik toilet. Dia duduk ke atas closet. Memegangi bibirnya dan mengingat semua kelakuan Ari tadi. Anehnya semua itu membuat Lika merasa tidak nyaman. Dia ingin jauh-jauh dari Ari selamanya.


'Kalau nggak ada si kampret itu, Ari pasti udah cium bibir gue,' batin Lika seraya menggigit bibir bawahnya. Niat untuk putus dengan Ari akhirnya muncul.


Lika mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada Ari. Memberitahukan kalau hubungan pacaran yang dijalaninya harus berakhir.


"Lika! Ini aku! Cepat kita bicara! Kamu marah karena tadi ya?!" suara Ari tiba-tiba terdengar. Dia tidak berhenti menggedor pintu agar Lika bisa cepat-cepat keluar.


Lika tersentak. Dia awalnya ragu. Namun dirinya merasa harus menghadapi Ari.


Saat Lika keluar dari toilet, Ari langsung duduk bersimpuh di lantai. Ia memasang ekspresi memelas.


"Plis jangan putusin aku, Lik. Maafin aku ya... aku janji nggak bakalan begitu lagi," mohon Ari. Seolah akan menangis.


"Eh, Kak. Kenapa gini?" Lika menjauhkan kakinya dari Ari.

__ADS_1


"Plis, Lik... jangan putusin aku..." Ari menatap penuh harap.


"Maafin aku, Kak. Aku tetap nggak bisa. Sejak awal harusnya aku nggak pernah terima cinta Kakak. Aku nggak bisa bohongin perasaanku terus-menerus!" Lika menggeleng tegas. Dia berlari meninggalkan Ari yang terlihat menampakkan tatapan tak percaya. Cowok itu termangu dan perlahan mengalirkan air mata.


__ADS_2