
...༻⊚༺...
Mentari muncul dari ufuk timur. Lika selalu bangun saat waktu menunjukkan jam 06.30 pagi. Ia selalu pergi ke sekolah tepat waktu.
Sekarang Lika sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Berkutat di depan cermin untuk memperbaiki rambut panjangnya yang hitam pekat.
Lika tak lupa memoles bibir dengan liptin agar tampilannya tampak segar. Dia tak perlu bedak tebal karena telah memiliki kulit putih mulus nan bersih. Bulu matanya bahkan lentik alami. Membuat gadis mana pun merasa iri saat melihatnya.
Selain cantik, Lika juga mengutamakan kerapian dan kebersihan dalam hal penampilan. Tidak heran banyak lelaki yang jatuh cinta kepadanya. Sikapnya juga selalu ramah. Kecuali kepada satu orang. Yaitu Zafran.
Usai membenah diri, Lika segera bergabung ke meja makan. Dia menikmati sarapan bersama paman dan tantenya. Ada juga keponakannya yang baru menginjak kelas satu SMP.
Lika sudah menganggap Selia dan Tama seperti orang tua sendiri. Kebetulan ketika dia menginjak usia delapan tahun, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat. Selia sepenuhnya mendapat hak asuh atas Lika. Dia benar-benar merawat Lika seperti anaknya sendiri. Dan Lika sangat bersyukur akan hal tersebut.
Sebab itulah Lika selalu berusaha membalas budi kepada Selia. Dia berniat akan menjadi anak yang pintar, rajin, dan penurut. Satu hal yang paling utama bagi Lika, yaitu tidak akan pernah berurusan dengan keluarga Laksana. Tidak heran dirinya terus menebar kebencian terhadap Zafran.
"Tante, aku bisa pindah sekolah nggak? Aku udah malas ketemu sama anaknya keluarga Laksana itu. Orang-orang selalu bandingin kami. Aku capek," ungkap Lika. Dia baru menghabiskan roti dengan isi selai cokelat.
"Tante juga pengennya gitu, Lik. Tapi, sekolah yang sekarang kamu tempati itu adalah sekolah terbaik. Kamu akan lebih mudah mendapat beasiswa untuk kuliah keluar negeri. Sudah banyak alumni dari sekolah itu yang jadi orang-orang besar," jelas Selia panjang lebar.
"Iya sih..." Lika mendengus kasar.
"Kecuali kalau anak itu gangguin kamu terus. Dia nggak apa-apain kamu kan, Lik?" tanya Selia yang mendadak khawatir.
"Enggak, Tante. Aku bukan cewek lemah. Mana mungkin aku biarin orang-orang nginjak-nginjak harga diriku. Tante tenang aja." Lika menanggapi dengan santai.
"Tapi kalau kamu udah nggak kuat. Tante bisa carikan sekolah yang--"
"Nggak jadi deh. Lagian bentar lagi aku naik kelas dua. Toh anak itu bukan tandinganku. Dia bodoh banget." Lika membicarakan perihal Zafran.
"Ya, Tante yakin begitu. Dia tidak berbeda dari orang tuanya." Selia sependapat dengan Lika.
__ADS_1
Tama yang mendengar hanya geleng-geleng kepala. Dia sudah terbiasa mendengar keluarganya menjelek-jelekkan keluarga Laksana. Tama tidak bisa berbuat apa-apa selain tutup mulut.
Lika segera berangkat ke sekolah. Dia tidak lupa berpamitan terlebih dahulu.
Sesampainya di sekolah, Lika melangkahkan kaki dengan penuh semangat ke lingkungan sekolah. Saat dia lewat di pinggir lapangan, sebuah bola basket tiba-tiba menimpuk keras kepalanya.
Lika menggertakkan gigi. Dia segera mempelototi tersangka yang sudah melempar bola ke kepalanya. Siapa lagi cowok yang berani berbuat begitu selain Zafran. Cowok itu bahkan tertawa secara blak-blakkan. Sudah jelas lemparan bola tadi adalah disengaja.
Dengan perasaan kesal, Lika mengambil bola basket yang tergeletak di tanah. Lalu melangkah cepat memasuki lapangan.
Saat nyaris mendekati Zafran, Lika langsung melempar bola sekuat mungkin. Berharap bolanya mengenai cowok tersebut. Namun sayang, lemparan Lika begitu pelan dan gemulai. Membuat tawa Zafran kian menjadi-jadi.
"Ya ampun, lempar bola tuh yang benar dong." Zafran mengambil bola yang dilemparkan Lika. Bola itu jatuh tidak begitu jauh dari posisinya.
Lika semakin kesal. Wajahnya memerah padam. Dia menghentakkan satu kakinya ke tanah. Lalu bergegas mengambil bola yang ada di tangan Zafran.
Melihat Lika mendekat, Zafran tersenyum miring. Dia dengan sigap menjauhkan bola dari jangkauan Lika. Itu mudah baginya. Karena badan Zafran lebih tinggi dibanding Lika.
"Aaarghh!!!" Lika menggeram sambil berusaha meraih bola yang dipegang Zafran. Dia semakin tidak bisa, saat cowok itu melangkah jauh.
"Kalau lo bisa ambil bolanya. Gue akan mengalah sama lo. Gue nggak bakalan ganggu lo dan mengakui lo lebih hebat!" imbuh Zafran. Mengabaikan peringatan dari Galih.
"Lo pikir gue takut?!" tantang Lika. Dia langsung bergerak untuk merebut bola basket. Tetapi gerakan Zafran tentu lebih gesit darinya.
Zafran dengan lihai menjauhkan bola dari gapaian Lika. Dia bahkan sempat-sempatnya memantulkan bola ke tanah. Kemudian memutar tubuh dan membelakangi Lika.
Senyuman Zafran melebar, ketika melihat wajah Lika mulai berkeringat. Dia sengaja berlari menghampiri ring basket.
Suara hentakan kaki Zafran dan Lika terdengar berderap di lapangan berbentuk persegi tersebut. Pergerakan cepat Zafran tidak sebanding dengan Lika. Cewek itu sudah kewalahan. Meskipun begitu, Lika bukanlah tipe orang yang mudah menyerah.
"Ini udah tiga menit lebih. Lo bahkan nggak bisa menyentuh bola yang gue pegang," remeh Zafran. Membuat tekad Lika semakin membara.
__ADS_1
Lima menit berlalu. Lika diam sejenak untuk beristirahat. Dia tersengal-sengal sambil memegangi lutut.
Zafran sengaja meletakkan bola ke atas telapak tangan. Kali ini dia ingin memberi kemudahan kepada Lika. Padahal dirinya merencanakan sesuatu hal lain.
"Nih ambil. Gue akan biarin bolanya begini dalam hitungan... satu... dua..."
Lika gelagapan. Dia yang terpancing amarah serta tawaran emas Zafran, segera berlari. Tetapi ketika Lika hampir meraih bola, Zafran dengan cepat melempar bola itu ke arah ring.
Akibat terlalu cepat berlari, Lika tidak sengaja terjerembab. Dia tersungkur ke lapangan yang berlapis semen tersebut. Raut wajahnya langsung berubah masam. Lika merasakan sakit di kedua lututnya.
"Likaaa!!!" Para cowok-cowok yang memperdulikan Lika berdatangan. Dua teman dekatnya yang baru tiba di sekolah, juga ikut andil menghampiri.
"Lo nggak apa-apa kan, Lik?" tanya Chika seraya membantu Lila berdiri.
"Mau aku gendong ke UKS?" tawar Yogi yang terkesan agak berlebihan.
Sementara Zafran lebih peduli untuk mengambil bola. Dia berdiri mematung dan menampakkan ekspresi datar.
"Tuh kan! Gue udah bilang jangan berlebihan!" Galih memukul pundak Zafran. Dia mencemaskan Zafran sekaligus Lika.
Lika meringiskan wajah sembari memeriksa lutut yang terluka karena beberapa goresan kecil. Matanya langsung mendelik ke arah Zafran.
"Puas kan lo?!" timpal Lika pada Zafran.
"Banget!" jawab Zafran seraya membuang muka.
Lika lantas beranjak meninggalkan lapangan. Ditemani oleh Chika dan Nadia.
"Lo bisa berhenti gangguin Lika nggak sih?!" Yogi datang untuk menimpali Zafran.
"Nggak usah sok-sokan jadi pahlawan! Lo pikir Lika nggak pernah jahat ke gue?! Sini lo kalau berani!" Zafran naik pitam. Ia melempar bola dengan kuat. Kemudian melangkah lebih dekat ke hadapan Yogi. Memasang tatapan tajam yang mengancam.
__ADS_1
"Gu-gue cuman pengen peringatin lo kok..." Yogi menciut. Sebab dia tentu tahu kalau Zafran jago karate. Para kakak kelas bahkan tidak ada yang pernah bisa mengalahkannya saat bertanding.
"Bacot!!!" hardik Zafran. Lalu melangkah pergi meninggalkan lapangan.