Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 43 - Pura-Pura Menjadi Musuh


__ADS_3

...༻⊚༺...


"Lih, gue akan jelasin." Zafran bicara dengan pelan. Dia menarik Galih mendekat. Nampaknya cowok itu masih berusaha mencerna apa yang terjadi.


Sementara Lika, dia memilih diam. Membiarkan kekasihnya bicara kepada Galih. Zafran terpaksa memberitahu hubungan istimewanya dengan Lika.


"Lo pasti bercanda. Lo pikir gue akan percaya kalau kalian pacaran?" Galih merasa sulit mempercayai. Bola matanya perlahan menatap Lika.


"Zaftan benar, Lih. Kami memang pacaran. Tolong jangan--" ucapan Lika terhenti ketika Galih tiba-tiba ambruk ke lantai. Raut wajah cowok itu meringis sedih.


"Apa ini mimpi? Gue pasti mimpi kan?" Galih menepuk pipinya berulang kali.


Zafran mendengus kasar. Lalu segera memaksa Galih berdiri. Tidak tanggung-tanggung, tangannya melayangkan sebuah tamparan keras.


"Zafran!" Lika dibuat begitu kaget. Menurutnya tamparan Zafran cukup berlebihan.


Zafran justru terlihat santai. "Gimana? Sakit kan? Ini jelas bukan mimpi. Jadi lo mending rahasiakan apa yang udah lo tahu. Oke?" ucapnya pada Galih.


"Bagaimana kalian bisa..." Galih memegangi pipinya. Dia menatap Zafran dan Lika secara bergantian.


"Udah... jangan lebay!" Zafran merangkul Galih. Membawa pergi temannya itu dari belakang sekolah.


Lika hanya menggeleng maklum. Dia sengaja pergi belakangan dari Zafran dan Galih.


Ketika pulang sekolah, Zafran mendapatkan pesan dari Ramanda. Gadis itu minta ditemani pergi ke suatu tempat.


Zafran menghela nafas panjang. Dia memindai pandangan ke sekeliling. Memastikan Lika tidak ada.


Kebetulan Ramanda akan datang menjemput Zafran. Itulah alasan kenapa cowok itu takut Lika mengetahui kepergiannya dengan Ramanda. Zafran belum siap memberitahu bagaimana kedekatan dirinya dan Ramanda.


Beberapa saat kemudian, mobil Ramanda datang. Kepala Zafran kembali celingak-celingukan.


"Kenapa, Zaf? Ayo masuk!" ujar Ramanda. Dia membukakan pintu mobil untuk Zafran.


Dari kejauhan, ternyata Lika melihat semuanya. Dia merapatkan mulut dengan erat. Lalu melangkahkan kaki cepat.


"ZAFRAN!!" Lika memekik nyaring. Seluruh pasang mata sontak tertuju ke arahnya. Cewek itu berjalan mendatangi Zafran.

__ADS_1


Menyaksikan kemunculan Lika, mata Zafran membuncah hebat. Dia tidak jadi masuk ke dalam mobil Ramanda.


"Astaga. Lika kayaknya marah banget. Lo apain dia, Zaf?" tanya Ramanda sembari keluar dari mobil. Posisinya berdiri tepat di samping Zafran. Menyebabkan rasa cemburu Lika kian memuncak.


Zafran membisu. Dia tersentak saat Lika berhenti di hadapannya.


"Lo kan yang ambil ponsel gue?! Cepat kembalikan!" timpal Lika dengan wajah cemberut. Dia menggunakan topik asal untuk memulai pertengkaran.


"Ponsel apaan? Jangan nuduh-nuduh sembarangan ya?!" Zafran paham betul kalau Lika hanya berakting.


"Nuduh lo bilang?! Jelas-jelas orang yang ada dekat ponsel gue itu cuman lo!"


"Cuman gue?! Mending lo ingat baik-baik. Mana mungkin gue sudi berduaan sama lo dalam ruangan!"


"Jangan bohong lo! Maling mana ada yang mau ngaku!"


Sandiwara di antara Zafran dan Lika benar-benar terasa nyata. Mereka mungkin bisa saja menyabet piala oscar. Respon orang-orang di sekitar bahkan sama seperti biasa. Kecuali Ramanda, gadis yang sedari tadi merasa tidak nyaman.


"Emang ponsel lo hilang, Lik?" tanya Ramanda. Dia sukses menjeda perdebatan Lika dan Zafran.


Mata Lika meliar sejenak. Lalu mengangguk sambil mengucapkan kata iya.


"Ramanda!" Zafran membulatkan mata. Dia tentu tidak mau Ramanda ikut terlibat. Mengingat apa yang dilakukannya dengan Lika hanyalah kebohongan belaka.


"Nggak usah deh!" sama seperti Zafran, Lika juga dibuat kaget dengan usulan Ramanda. Dia bergegas pergi sebisa mungkin.


Ramanda tidak membiarkan. Tangannya dengan cepat mencekal kepergian Lika.


"Nggak apa-apa, Lik. Ayo! Tunjukin tempat lo terakhir kali taruh ponselnya." Ramanda bersikeras. Dia diam-diam mengedipkan mata kepada Zafran. Hal itu sebagai kode agar Zafran bersedia ikut.


"Gue bisa cari sendiri kok! Lo nggak usah ikut campur!" Lika kali ini bersikap tegas. Dia menjauhkan tangan Ramanda dengan kasar. Ulahnya sukses membuat Ramanda sedikit terdorong ke belakang. Pinggul cewek itu terhantam ke mobil.


Lika membulatkan mata. Dia menyesal karena tidak sengaja membuat Ramanda terhuyung. Meskipun begitu, Lika terlalu gengsi untuk minta maaf. Dia buru-buru melangkah jauh.


Mata Zafran mendelik. Entah kenapa dia tidak suka terhadap sikap kasar Lika tadi.


"Ra, lo nggak apa-apa kan?" Zafran memeriksa keadaan Ramanda.

__ADS_1


Langkah Lika otomatis terhenti. Perlahan dia menoleh ke belakang. Menyaksikan bagaimana perhatiannya Zafran kepada Ramanda.


"Iya, gue nggak apa-apa. Kepentoknya pelan banget kok." Ramanda bicara sambil tersenyum lebar. "Gitu aja khawatirnya nggak ketolongan. Gimana kalau gue hilang coba?!" sambungnya. Mendekatkan wajah ke hadapan Zafran.


Lika langsung berhenti melihat. Dia memasamkan wajah dan berjalan melewati gerbang. Sungguh, dirinya tidak tahan melihat kedekatan Zafran dan Ramanda.


Setelah kejadian itu, Zafran dan Lika sama-sama tidak berkirim pesan. Keduanya malah saling menunggu siapa yang menghubungi lebih dulu. Sesekali mereka memeriksa ponsel masing-masing.


Sekarang Zafran masih bersama Ramanda. Cewek itu mengajak Zafran pergi ke taman bermain.


"Kali ini gue nggak jadi nyamuk lagi kan?" tanya Zafran.


"Seratus persen! Gue sekarang jomblo, Zaf. Pokoknya kita bisa naik wahana bermain sampai puas," jawab Ramanda seraya membentuk huruf v dengan dua jemari.


"Awas aja kalau bohong." Zafran menanggapi sambil memajukan bibir bawahnya. Dia dan Ramanda tiba di taman bermain setelah memakan waktu sepuluh menit.


Di sisi lain, Lika sedang tengkurap di sofa dekat kolam renang. Dia terus menggeser menu di layar ponsel karena menanti pesan dari Zafran.


"Lika?" Selia mendadak muncul dari belakang. Dia segera menghampiri keponakannya.


"Kenapa, Tante?" Lika merubah posisi menjadi duduk.


"Faisal sama Resti datang tuh. Dia ngajak kamu ke taman bermain katanya," imbuh Selia. Jari telunjuknya mengarah ke ruang tamu. Dimana dua sepupu seumuran Lika sudah duduk menunggu.


Lika menghela nafas panjang. Dia tidak perlu berpikir lama untuk mengiyakan. Sebab dirinya memang butuh pengalihan sejenak dari Zafran.


"Dasar kampret! Dia pasti lupain aku karena cewek itu." Lika menggerutu sembari mematut dirinya ke depan cermin. Dia dan dua sepupunya segera pergi bersama. Kini mereka telah berada di dalam mobil.


"Eh! Nanti kalau udah sampai, gue pisah sama kalian berdua ya. Gue mau berduaan sama cowok gue," celetuk Resti sembari melirik ke arah Faisal. Dia tahu kalau cowok itu memendam rasa terhadap Lika. Statusnya sebagai sepupu, tentu tidak akan menghalangi rasa suka Faisal kepada Lika.


"Lo nggak seru banget sih!" protes Lika dengan kening yamg mengernyit.


"Makanya punya pacar dong," sahut Resti. Menyebabkan mimik wajah Lika langsung meringis.


Mobil akhirnya sampai di lokasi taman bermain. Resti segera menemui pacarnya yang sudah menunggu.


Lika mendecakkan lidah. Dia menatap selidik Faisal. "Lo nggak akan tinggalin gue juga kan?" tanya-nya memastikan.

__ADS_1


"Lo tenang aja. Pokoknya gue bisa temanin lo sampai larut malam." Faisal menjawab sambil menepuk dada penuh keyakinan.


__ADS_2