Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 48 - Ketahuan Lagi


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran menghubungi Ramanda. Berharap bisa dapat kabar langsung dari cewek itu. Namun hasilnya tetap sama, Ramanda tidak kunjung menjawab panggilannya.


Dari belakang, Lika datang. Mulutnya mengukir seringai licik. Keinginan untuk menjahili Zafran muncul.


Lika berjalan pelan menghampiri Zafran. Dia menggerakkan kaki dengan hati-hati. Hingga saat menemukan waktu yang tepat, Lika menepuk pundak Zafran secara mendadak.


"Duaaarrr!!!" ujar Lika. Membuat Zafran kaget sampai berjengit.


"Lika!" protes Zafran dengan dahi berkerut.


Lika malah tergelak lepas. Tawanya itu bahkan sampai menbuat matanya sedikit berair.


"Aku sedang nggak mau bercanda!" ungkap Zafran. Dia terlihat sibuk berkutat dengan ponsel.


"Ca ileh... ngambek nih..." Lika melirik Zafran. Memeluk lembut dari belakang. Sedangkan dagunya diletakkan ke atas pundak cowok itu.


"Bukan gitu, Lik. Aku baru dapat kabar kalau Ramanda dirawat di rumah sakit. Terus semenjak dari taman bermain, dia nggak pernah kasih kabar lagi ke aku." Zafran menceritakan kegelisahannya.


Pelukan Lika perlahan melonggar. Dugaan tentang Ramanda yang kemungkinan melihatnya berciuman dengan Zafran, kembali menguak.


"Mungkin dia marah, Zaf." Lika mengutarakan pendapat.


"Marah? Karena apa? Di sini harusnya aku yang marah. Karena Ramanda tinggalin aku di taman bermain demi mantan pacarnya," bantah Zafran.


"Mungkin aja dia bohong. Kamu merasa dia bersikap aneh nggak? Aku aja yang bukan temannya Ramanda bisa tahu. Masa kamu enggak," tukas Lika. Menuntut jawaban.


"Dia sedikit aneh sih. Terutama semenjak putus dari Rian. Kayaknya Ramanda suka banget sama tuh cowok," tanggap Zafran sambil geleng-geleng kepala.


"Kau itu emang nggak pekaan ya! Aku cuman mau bilang kalau Ramanda itu suka sama kamu. Aku merasa bahwa dia melihat apa yang kita lakukan saat di taman bermain," terang Lika panjang lebar.


Zafran tercengang mendengar penuturan Lika. Tak lama kemudian, tawanya muncul. Seolah tidak mempercayai pernyataan sang pacar.

__ADS_1


"Malah ketawa lagi. Ini nggak lucu tahu nggak! Coba kau pastiin sendiri sama Ramanda. Kalau dia benar-benar suka sama kamu, maka bilang aja ke dia hubungan kita yang sebenarnya!" Lika sebal dengan respon Zafran. Dia memilih beranjak saja.


Zafran dengan cepat meraih pergelangan tangan Lika. Mencegah kepergian gadis itu.


"Dih! Malah dia yang ngambek. Bukannya tadi kau orang yang bikin aku hampir jantungan ya?" ujar Zafran sembari menarik Lika ke hadapan. Ia hendak menyudutkan cewek tersebut ke dinding. Tetapi Lika menolak.


"Kebiasaan ya! Aku nggak mau rambutku kena permen karet lagi." Lika melihat keadaan dinding di belakangnya. Memastikan benda dingin itu bersih.


"Kalau kena lagi, tinggal dipotong cepak aja rambutnya. Biar kembaran sama aku," goda Zafran. Menyebabkan raut wajah Lika meringis kesal. Gadis itu menampar pelan salah satu pipi Zafran.


"Gila!" cibir Lika.


Zafran lagi-lagi tersenyum. Dia menatap lekat Lika. Membelai rambut pendek sebahu cewek itu.


Lika yang tadinya sempat kesal, merubah ekspresinya menjadi serius. Sungguh, masalah tentang Ramanda terus mengganggu pikirannya.


"Terus gimana? Kapan kamu akan jenguk Ramanda ke rumah sakit?" tanya Lika.


"Aku tahu! Tapi bukan berarti salah satu di antara kalian bisa tahan sama perasaan. Kebanyakan orang nggak bisa tahan buat jatuh cinta sama sahabat sendiri," potong Lika.


Zafran mengangguk pelan. Ia tidak bisa membantah ucapan Lika. Mengingat dirinya juga pernah menyukai Ramanda.


"Sebenarnya dulu aku sempat suka sama Ramanda," celetuk Zafran.


Lika terkesiap. Entah kenapa pernyataan Zafran membuatnya sedikit resah.


"Tapi tenang aja. Aku sudah pastiin kalau perasaan itu telah hilang. Semuanya gara-gara kamu, Lik..." tutur Zafran membetulkan.


Lika tidak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum. Perasaan resah hilang dalam sekejap. Wajahnya jadi tersipu. Dia membalas, "Gara-gara ejekan yang kau terima dariku? Gitu?"


"Mungkin..." Zafran menjawab sambil mengarahkan bola mata ke kanan atas. Mengingat segala pertengkaran gila yang pernah dilakukannya dan Lika.


"Sumpah! Hubungan kita ini aneh banget." Lika menangkup wajah Zafran. Keduanya tidak berhenti saling melemparkan senyum.

__ADS_1


"Oh iya, aku mau bicarain sama yang kau lakukan tadi pagi. Gitu ya strategimu biar bisa jadi ketos. Nggak ada bilang-bilang sama aku lagi," ujar Zafran.


"Katanya mau bersaing secara sehat. Oh iya, kalau kau mau, kita bisa diskusi bareng pas weekend nanti. Jika mau, mungkin aku bisa bantu kamu tingkatin nilai di bidang akademik. Emm... sebenarnya aku pengen banyak belajar tentang olahraga sama kamu." Lika memanyunkan mulut. Sengaja sedikit menggembungkan pipi yang putih bersih.


"Boleh juga. Mungkin aku bisa mudah paham bila kau yang ngajarin," respon Zafran. Dia menyempatkan diri mencium pipi Lika yang menggembung. Tidak tanggung-tanggung, Zafran menempelkannya cukup lama.


"Zafran! Udah... nanti ada yang lihat kan bisa kacau!" Lika mencoba menghentikan Zafran. Akan tetapi cowok itu memeganginya dengan kuat. Sehingga Lika tak mampu berkutik sama sekali.


Lika akhirnya terkekeh. Terutama saat Zafran mengeluskan bibir ke pipinya. Hal itu tentu membuat Lika merasa geli.


Kemesraan kembali terjadi. Zafran dan Lika tenggelam dalam cinta mereka. Sekali lagi keduanya harus menerima resiko tak terduga. Karena sosok Pak Surya sukses memergoki. Guru yang kebetulan dekat dengan Lika dan Zafran itu mematung di tempat. Di salah satu tangannya terdapat bak sampah yang penuh dengan beragam pelastik bekas.


Satu menit terlewat. Pak Surya masih termangu. Sama seperti Galih, dia juga syok menyaksikan kedekatan Zafran dan Lika. Setahunya dua anak didiknya tersebut tidak pernah akur. Mereka bahkan sangat sulit dilerai ketika sedang bertengkar.


Zafran dan Lika masih tidak sadar dengan kehadiran Pak Surya. Zafran yang sudah puas mencium pipi Lika, kini hendak membidik bibir cewek itu. Kala dirinya baru mendekatkan wajah, saat itulah Pak Surya angkat suara.


"Zafran!" pekik Pak Surya.


Deg!


Jantung Zafran dan Lika serasa di sembar petir. Keduanya tentu sangat terkejut. Mengingat orang yang memergoki mereka adalah seorang guru.


"Anjir, Lik! Pak Surya!" rutuk Zafran pelan.


"Gimana nih?" Lika menatap Zafran dengan nanar. Berharap sang kekasih mempunyai solusi terbaik.


Zafran menenggak salivanya sendiri. Terutama ketika melihat Pak Surya berjalan mendekat. Mimik wajah gurunya tersebut tampak murka.


..._____...


Catatan Author :


Ada yang mau double up?

__ADS_1


__ADS_2