Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 53 - Rencana Gagal


__ADS_3

...༻⊚༺...


Pupil mata Lika membesar, tatkala melihat kemunculan Zafran. Menurutnya cowok itu terlampau gila. Menemuinya saat jam pelajaran? Bagaimana bisa? Hanya guru dan murid pelanggar aturan saja yang dapat melakukan itu.


'Jangan-jangan Zafran...' batin Lika menduga. Ia memberikan kode pada Zafran agar segera pergi. Intinya, Lika mengusir Zafran secara halus.


Zafran tak peduli. Dia justru menampakkan setengah badannya. Sekarang semua murid yang duduk di dekat Lika bisa melihat kehadiran Zafran. Terutama Chika dan Nadia.


Lika sontak bingung. Dia takut semua orang akan curiga. Walau hubungan rahasia begitu menyiksa, tetapi bukan berarti Lika siap untuk mengungkapkan segalanya.


Untung saja guru yang mengajar tengah sibuk menulis di papan tulis. Jadi dia belum tahu keberadaan Zafran.


"Mau ngapain?!" tanya Lika dengan nada berbisik. Namun pergerakan mulutnya tampak sangat jelas. Dia juga menampakkan raut wajah tidak suka. Jelas Lika ingin Zafran pergi.


Zafran memutar bola mata jengah. Dia mengambil ponsel. Lalu menunjukkan kalimat yang ditulis dengan huruf besar di sana.


...'Sampai ketemu di kantin!'...


Begitulah kalimat yang tertulis di layar ponsel Zafran. Dia mengukir senyuman terpaksa, kemudian beranjak sambil melambaikan tangan.


Lika terkesiap. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Zafran. Lika memiringkan kepala. Menemukan segala kemungkinan di otaknya.


"Kayaknya Zafran rencanain sesuatu tuh. Dia sampai datang ke sini! Pas jam pelajaran lagi," bisik Chika. Dia duduk tepat di sebelah Lika.


"Kemungkinan Zafran ke sini cuman ada dua. Pertama, dia pacaran sama Lika. Dan kedua karena dia mau ngerjain Lika!" Nadia ikut menyahut. Tempat duduknya berada di belakang Lika.


Deg!


Mendengar dugaan dari Nadia, jantung Lika berdegub kencang. Dia sudah mengangakan mulut untuk melakukan pembelaan. Tetapi urung dilakukan, karena Nadia lebih dahulu bicara.


"Kemungkinan yang pertama tidak mungkin! Jadi satu-satunya alasan Zafran cari lo ke sini, ya karena dia udah siap ngerjain lo di kantin," ucap Nadia dengan penuh keyakinan. Membuat kekhawatiran Lika pudar dalam sekejap.


"Kalau begitu, gue sebaiknya bersiap sama rencana dia. Iyakan?" tanggap Lika seraya mendengus lega.


Akibat penasaran, Lika diam-diam mengirim pesan pada Zafran. Menanyakan apa yang direncanakan cowok itu.


...'Gue punya rencana agar kita bisa sering ketemu pas di sekolah.'...


Hanya itu penjelasan dari balasan pesan Zafran. Lika tetap tidak paham. Dia bertanya sekali lagi.

__ADS_1


Tanpa diduga, guru yang mengajar mendekat. Mengharuskan Lika menyimpan ponsel kembali ke dalam tas.


Setelah tiga jam terlewat. Bel istirahat akhirnya berbunyi. Lika dengan cepat memeriksa ponsel. Tetapi sayang, dia tidak mendapat balasan dari Zafran.


"Kenapa ngecek handphone mulu? Lo punya pacar ya?" tegur Nadia curiga.


"Enggak kok! Gue cuman dapat pesan dari tante. Dia ngingatin jadwal les gue hari ini," kilah Lika. Berlagak tenang. "Yuk! Ke kantin!" ajaknya yang sudah tidak sabar ingin mengetahui rencana sang pacar.


"Eh, Lik! Lo yakin mau ke kantin? Zafran pasti ngerjain lo." Chika mencegat kepergian Lika.


"Kalian tahu kan, menghindari masalah itu bukanlah cara gue. Gue sama sekali nggak takut!" kata Lika. Dia dan kedua temannya segera pergi ke kantin.


Zafran terlihat duduk bersama teman-temannya. Dia langsung mengangkat satu tangan ke atas untuk memanggil Lika. Gadis itu lantas mendekat.


Seperti biasa, interaksi di antara Zafran dan Lika selalu menarik perhatian. Pertengkaran keduanya sudah menjadi konsumsi rutin penghuni sekolah.


"Mau ngapain?!" timpal Lika sambil melipat tangan di dada.


Zafran berdiri dan tersenyum licik. "Ayo kita tanding! Siapa yang kalah, dia harus mundur dari pemilihan ketua osis," tantangnya. Mendekat satu langkah lebih dekat.


Zafran justru salah fokus. Dia terpaku menatap wajah cantik Lika. Hal serupa juga dilakukan Lika. Hening menyelimuti dalam beberapa saat.


"Oke! Gue--"


"Jangan! Kamu nggak perlu ladenin tawaran nggak berguna itu!" Ari tiba-tiba datang. Menarik tangan Lika. Lalu memposisikan gadis tersebut ke balik punggungnya. Dia seakan hendak melindungi Lika dari Zafran.


"Gue kali ini nggak akan takut sama lo! Terserah lo mau pukulin gue sampai babak belur sekalipun. Tapi jangan harap lo bisa jatuhin Lika!" pungkas Ari. Matanya menyalang hebat pada Zafran. Kini keadaan jadi tegang. Baik Zafran maupun Lika, keduanya tidak akan menduga akan seperti ini.


"Kak Ari..." Lika mencoba membawa Ari pergi.


Ari menoleh ke arah Lika. Dia memegang lembut tangan halus cewek itu. Tepat di depan Zafran. "Udah, Lik. Anggap aja apa yang aku lakukan ini sebagai permintaan maaf," tuturnya dengan semburat wajah menenangkan.


"Lo nggak usah ikut campur ya!" melihat sikap Ari, Zafran naik pitam. Ia menarik bahu cowok itu. Hingga menyebabkan pegangan Ari terlepas dari tangan Lika.


"Lika penting buat gue! Ya iyalah gue ikut campur!" balas Ari.


Mata Zafran membuncah hebat. Satu tangannya sudah membentuk bogem. Dia mengarahkan bogemnya ke wajah Ari.


Belum sempat memberi pukulan, sebuah tangan tiba-tiba mengentikan. Dia tidak lain adalah Jia. Cewek yang diketahui sudah menyatakan perasaannya kepada Zafran. Jia juga dianggap sebagai satu-satunya cewek yang menjadi teman Zafran di sekolah.

__ADS_1


"Udah, Zaf... lo kalau mau jadi ketua osis, mending nggak usah bikin masalah," imbuh Jia. Bola matanya bergerak menatap sinis Lika. "Mungkin ini bisa aja rencana mereka buat ngalahin lo. Harusnya lo hati-hati," sambungnya sembari menyentuh lembut pundak Zafran.


"Gue traktir cola sama burger gimana?" tawar Jia. Dia mengajak Zafran menjauh dari Lika. Membawa cowok itu untuk duduk kembali.


Kali ini Lika yang dibuat kesal. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Untung saja apa yang Lika lakukan tidak sampai membuat bibirnya berdarah.


Lika langsung beranjak dari kantin. Ari buru-buru mengikuti. Menyebabkan Zafan reflek berdiri.


"Lo mau kemana?" tanya Ervan dengan dahi yang berkerut.


"Zaf?" Jia ikut heran. Dia memperhatikan ekspresi Zafran. Kemudian melihat ke arah sesuatu yang sedang ditatap Zafran. Jia hanya bisa menatap Lika yang pergi sambil dikejar Ari.


Galih menatap iba Zafran. Ia merangkul pundak temannya itu. "Kalau hubungan kalian terus dirahasiakan, cepat atau lambat pasti bakalan ada orang ketiga..." bisiknya.


Zafran mendengus kasar. Dia menatap malas Galih. Zafran tambah gelisah memikirkan apa yang dilakukan Ari terhadap Lika. Ia akhirnya melangkah pergi dari kantin.


Di waktu yang sama, Lika dan Ari duduk di pinggir lapangan. Lika sengaja memilih tempat ramai agar Ari tidak berbuat aneh-aneh lagi kepadanya. Mereka duduk tepat di bawah pohon rindang. Dimana angin segar akan selalu berhembus menenangkan.


"Aku benar-benar minta maaf sama apa yang udah aku lakukan, Lik. Aku harap kamu mau maafin..." lirih Ari. Memulai pembicaraan lebih dulu.


Lika membisu. Bukan karena bingung harus menjawab apa, tetapi karena dirinya tenggelam memikirkan Zafran. Apa yang dilakukan Jia tadi membuat perasaannya gelisah.


"Lik?" panggil Ari.


Angin berhembus melewati Lika. Sebuah daun kering di tanah terbang menghantam mata kanannya. Lamunan Lika sontak buyar. Sekarang dia justru merasakan sesuatu yang mengganjal di mata kanannya.


"Aaa..." Lika reflek menutup mata kanannya yang terasa di masuki benda asing.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ari cemas.


"Mata gue kayaknya kelilipan," jawab Lika.


Ari sigap membantu. Dia berdiri ke hadapan Lika. Kemudian memberikan tiupan pelan ke mata gadis itu. Ari melakukannya agar benda asing di mata Lika keluar.


..._____...


Catatan Author :


Beberapa bab lagi novel ini akan tamat ya guys. Jadi bersiap aja sama konflik akhir. Tapi tenang aja, konflik akhirnya nggak berat kayak novel-novelku yang lain... 😆

__ADS_1


Makasih buat yang selalu setia pantengin cerita ini... 😘


__ADS_2