
...༻⊚༺...
Lika jadi dilema. Dia berulang kali menatap Zafran dan Selia secara bergantian. Dua orang tersayangnya tersebut menatap penuh harap. Seolah tidak sabar menanti jawaban Lika.
"Lika! Cepat lepaskan tangannya darimu! Apa yang dikatakan anak ini tidak benar kan?! Katakan sama Tante!!!" desak Selia. Ia bergegas menggapai tangan Lika yang satunya. Berniat menjauhkan sang keponakan dari Zafran. Namun cowok itu tidak terima. Zafran bertahan menguatkan cengkeramannya. Sekarang posisi Lika dalam keadaan diperebutkan.
Lika menoleh ke arah Zafran sejenak. Kekasihnya itu terlihat memancarkan sorot mata yang berbinar. Lika dapat melihat harapan Zafran dari tatapan tersebut.
Mata Lika bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya. Setelah berpikir puluhan kali, Lika akhirnya membuat keputusan.
Lika bergerak cepat menghempaskan tangan Zafran. Lalu lekas-lekas memeluk Selia.
"Ayo kita pulang, Tante!" ujar Lika. Sungguh, dia tidak berani lagi menatap Zafran. Rasa bersalah tentu menyelimuti perasaannya.
Lika tidak punya pilihan. Baginya, Selia sudah seperti seorang ibu kandung. Selalu menjaga sepenuh hati semenjak orang tuanya meninggal ditimpa kecelakaan.
Sedangkan Zafran, bagi Lika dia hanyalah cinta pertama dan orang baru. Terlebih cowok itu juga merupakan bagian dari musuh keluarganya sendiri.
Lika tidak menimbang semuanya lewat hati. Akan tetapi juga lewat logika. Dia sadar bahwa dirinya dan Zafran masih muda. Jadi Lika yakin, masih banyak kesempatan untuknya menjalin hubungan dengan Zafran. Setidaknya begitulah menurut Lika.
Sayangnya, Zafran tidak berpikir begitu. Baru kali ini dia tidak memakai logikanya dalam bertindak. Terutama setelah berpacaran dengan Lika. Zafran selalu bertindak mengikuti kata hatinya.
Ditambah, sudah dua kali Lika mengabaikannya seperti patung pajangan tak berarti. Zafran pastinya merasa terhina. Perkataan kasar dari Selia bahkan masih terngiang dalam ingatan.
"Tega kamu, Lik... kau udah bikin aku kayak orang halu tahu nggak!" cetus Zafran. Matanya terlihat sudah berpendar akan cairan bening.
Lika menelan salivanya sendiri. Dia mencoba menahan diri agar bisa mengabaikan Zafran.
Berbeda dengan Selia. Justru dia yang berbalik dan membalas ucapan Zafran.
"Hei! Bilang aja kau suka sama Lika! Cowok kayak kamu itu jelas bukan tipe keponakanku! Udah anak haram, tukang merokok lagi!" pungkas Selia sambil mengangkat dagunya.
Lika semakin merasa tidak enak. Dia berusaha membawa Selia pergi. Namun tantenya itu menolak. Selia malah menyuruh Lika bicara.
__ADS_1
"Katakan, Lik! Perjelas semuanya biar orang nggak salah paham. Dia tadi udah ngaku-ngaku jadi pacarmu loh!" ucap Selia sembari menarik Lika mendekat. Kemudian memaksanya menghadap ke arah Zafran.
"Besok kau mau diajarin olahraga kan?" tanya Zafran. Dia masih berharap.
Sedari tadi kepala Lika hanya tertunduk. Dia sebenarnya tengah mengumpulkan keberanian. Setelah merasa cukup, Lika segera membalas tatapan Zafran.
"Nggak usah halu! Kita itu teman aja bukan. Pakai ngaku-ngaku pacaran segala lagi!" tukas Lika seraya menunjukkan raut wajah marah. Ia tetap bersikukuh dengan pilihannya. Bahkan saat menyaksikan ekspresi kecewa di wajah Zafran.
"Tuh! Kau dengar kan? Mulai sekarang, sebaiknya kau jangan ganggu Lika lagi!" kata Selia. Ia bergegas melakukan pembayaran ke meja kasir. Selanjutnya, Selia meraih tangan Lika. Lalu mengajaknya beranjak dari super market.
Ketika melenggang meninggalkan Zafran, barulah Lika menampakkan ekspresi yang sejak tadi dirinya tutupi. Semburat penuh kekalutan terpancar diparas cantiknya.
"Mana Chika sama Nadia? Kau ke super market sendirian?" tanya Selia.
Lika tenggelam dalam lamunan. Pertanyaan Selia tidak tertangkap ke telinganya. Gadis itu hanya berjalan dengan tatapan kosong. Seperti mayat hidup yang tidak berjiwa.
"Lika?" Selia menuntut jawaban. Ia yang tadinya sibuk menenteng barang belanjaan, kini menatap Lika.
"Kenapa, Tante?" tanya Lika gelagapan.
"Kamu tuh yang kenapa. Melamun aja. Tante tadi tanya, kau ke super market nggak bareng Chika sama Nadia?"
"Eh... um... anu. Aku sendirian. Kebetulan mereka pengen bergadang semalaman. Aku nggak mau ikut, jadi pulang duluan aja." Lika memberi alasan sekenanya. Satu tangannya mengusap tengkuk tanpa alasan. Kegelisahan yang dia tunjukkan, jelas menunjukkan kebohongan.
"Oh, begitu." Selia percaya saja. Ia dan Lika sudah tiba di parkiran. Selia segera menyibukkan diri untuk meletakkan barang belanjaan ke bagasi mobil.
Lika memanfaatkan kelengahan Selia untuk mencari Zafran. Dia juga sesekali memeriksa ponsel. Akan tetapi cowok itu tidak ada sedikit pun menghubunginya.
'Zafran pasti marah lagi...' batin Lika. Dia berpikir sejenak. Hingga terlintas suatu hal dalam benaknya. 'Tapi kalau dikasih ciuman, dia pasti nggak marah lagi kan?' sambungnya seraya mengembangkan senyum. Lika yakin, hubungannya dan Zafran akan baik-baik saja.
Ketika sibuk mengedarkan pandangan demi mencari Zafran, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Lika. Pelakunya ternyata adalah Keyla. Membuat pupil mata Lika sontak membesar.
"Keyla?" Lika reflek menyebut nama gadis yang dilihatnya.
__ADS_1
"Gue lihat apa yang terjadi sama lo dan Zafran tadi. Ini udah yang kedua kalinya Zafran ngaku-ngaku jadi pacar lo. Pengakuan pertamanya tempo hari gue bisa paham kalau itu kesalahan. Tapi kalau untuk kedua kalinya, kayaknya enggak deh." Keyla melipat tangan di dada. Menatap penuh curiga kepada Lika.
"Sumpah! Gue nggak pacaran sama Zafran! Lo tahu sendiri kalau dia itu musuh buat gue!" Lika membantah habis-habisan.
"Kalau Zafran yang benar, gue merasa kasihan sama dia. Tadi bukan cuman gue aja yang lihat pertengkaran lo sama dia. Tapi teman kelompok gue. Salah satu dari mereka bahkan ada yang merekam semuanya." Keyla memberitahu panjang lebar. Gadis tomboy itu menatap sebal pada Lika. Sebagai salah satu pengagum Zafran, Keyla merasa apa yang dilakukan Lika dan Selia keterlaluan.
"Lo sebaiknya lakukan sesuatu sebelum nama baik Zafran tercemar!" Keyla kembali berucap.
"Maksudnya? Kenapa lo malah sindir perihal nama baik?" Lika tak mengerti.
Keyla terperangah. "Hah?! Masa lo nggak ngerti sih? Jelas-jelas tante lo tadi sudah menghina Zafran dengan sebutan anak haram!" ungkapnya dengan nada penuh penekanan. "Kalau udah begitu, lo nggak mikir kalau semua orang akan cari tahu kebenaran itu?"
Lika terhenyak. Perkataan Keyla tadi berhasil membuatnya tertohok. Kini Lika hanya bisa gigit jari dalam keadaan mata yang meliar gelisah.
"Lo pasti pacaran kan sama Zafran?" timpal Keyla. Dia dapat menduga saat melihat keresahan yang ditunjukkan Lika.
Pertanyaan Keyla, membuat Lika tersadar dari kegelisahan. Dia tetap mengelak. "Enggak!" tegasnya.
Bertepatan dengan itu, Selia muncul. Lika lantas buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Loh, Lika... kenapa temannya ditinggalin?" kening Selia mengernyit. Dia segera menghampiri Keyla. Namun gadis itu lebih dulu pergi sebelum Selia sempat mengatakan sesuatu.
"Dasar anak muda." Selia menggeleng maklum. Dia dan Lika beranjak pergi menggunakan mobil.
Di lokasi yang tidak jauh dari tempat mobil Selia di parkir, ada Zafran yang bersembunyi di balik sebuah tiang. Ia dapat mendengar segala ucapan Lika.
Zafran benar-benar sakit hati. Belum lagi dengan video pertengkaran yang telah terlanjur tersebar di internet. Penghinaan Selia yang menyebut Zafran sebagai anak haram jadi ramai diperbincangkan. Parahnya artikel lawas mengenai perselingkuhan Gamal dan Zara kembali dikuak. Semua berita itu ramai di perbincangkan di berbagai grup pertemanan SMA Permata Elit.
Rahang Zafran mengerat kencang. Dia menghentikan mobil secara tiba-tiba saat sudah sampai di rumah. Tanpa basa-basi, Zafran melangkah laju untuk mencari kedua orang tuanya.
Kebetulan Gamal dan Zara duduk bersama di teras belakang. Kedatangan Zafran dengan raut wajah cemberut, membuat keduanya langsung berdiri.
"Semuanya gara-gara Papah sama Bunda!!!" geram Zafran. Nafasnya bergerak naik turun dengan cepat. Wajah yang memerah padam, menunjukkan betapa marahnya Zafran.
__ADS_1