
...༻⊚༺...
Sama seperti Zafran, Lika sebenarnya juga tidak diperbolehkan keluar rumah. Tepatnya saat waktu menunjukkan jam sembilan malam.
Lika yang terlanjur membuat rencana, sangat ingin semuanya berjalan lancar. Gadis itu diam-diam keluar ketika Selia lengah. Ia sengaja lewat pintu belakang dan pergi menaiki ojek mobil.
Jantung Lika berdegub kencang karena takut. Dia tidak menyangka pelariannya dapat berjalan begitu mulus. Kini Lika dalam perjalanan menuju rumah Zafran.
Setelah memakan waktu sekian menit, Lika sampai di rumah Zafran. Dia langsung memberitahukan kedatangannya melalui pesan.
Dari lantai dua, Zafran membuka jendela kamar. Dia memastikan keberadaan Lika.
Tanpa basa-basi, Lika keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan ke arah Zafran.
"Aku nggak bisa keluar lewat pintu depan. Bokap sama nyokap masih nongki di ruang tamu!" ujar Zafran yang tengah bicara melalui telepon. Pandangannya terus tertuju ke arah Lika.
"Emang nggak bisa lewat pintu belakang? Waktu kita nggak banyak loh," sahut Lika.
"Kamu rencanain apaan sih? Kenapa aku nggak di kasih tahu coba?"
"Udah! Cepetan keluar. Kau bikin cewek nunggu kelamaan." Lika mendesak.
"Aku akan coba. Bentar ya..." Pembicaraan Lika dan Zafran berakhir.
Zafran tampak menutup jendela dan masuk ke dalam rumah. Cowok itu keluar dari kamar. Lalu berderap menuruni tangga.
Zafran melangkah dengan hati-hati agar tidak diketahui Gamal dan Zara. Ia berjalan berjinjit supaya langkahnya tidak menimbulkan suara.
"Zafran! Kamu belum tidur?!" tanpa disangka, Zara menegur. Menyebabkan Zafran terpaksa berhenti.
"Aku mau minum," kilah Zafran sembari menyembunyikan pakaian yang dibawanya.
"Minum? Bukannya di kamarmu ada kulkas pribadi?" Gamal memicingkan mata.
"Air putihnya habis!" Zafran berucap dengan cepat. Kemudian bergegas masuk ke dapur. Dia mengelus dada ketika berhasil melewatkan penyelidikan dari kedua orang tuanya.
Sebelum keluar, Zafran mengganti pakaian terlebih dahulu. Dia tentu tidak mau berpenampilan asal saat pergi bersama Lika.
Zafran keluar lewat pintu belakang. Usahanya sukses besar seperti Lika. Dia tidak lupa menutup mulut satpam dan para pembantu dengan sogokan uang.
__ADS_1
Sekarang Zafran masuk ke mobil yang dipesan Lika. Keduanya duduk bersama di kursi belakang.
"Habis ini kita singgah ke toko baju!" cetus Lika. Membuat mata Zafran sontak membola.
"Jadi rencanamu adalah jadiin aku teman shopingmu, gitu?" Zafran memastikan.
"Lihat aja nanti." Lika masih berusaha merahasiakan rencananya.
"Dasar mulut pantat ayam." Zafran yang gemas, mengapit leher Lika dengan lengan. Lalu mengusap puncak kepala cewek itu.
"Astaga... masih aja ya aku di ejek begitu. Dasar kampret!" Lika tak ingin kalah. Meski saling mengejek, mereka melakukannya sambil tertawa. Dunia seolah hanya milik Zafran dan Lika.
Sopir yang mengemudi geleng-geleng kepala. Entah kenapa kebahagiaan penumpangnya menular secara alami. "Jadi kangen masa muda," komentarnya pelan.
...***...
Ketika sampai di toko baju, Lika menarik Zafran ikut bersamanya. Dia menyuruh cowok itu untuk mengenakan setelan jas. Sementara dirinya mengenakan gaun selutut berwarna merah.
"Ngapain pakai baju beginian? Kita mau ke pesta presiden?" tanya Zafran. Dia dan Lika sedang berganti pakaian. Kebetulan ruang ganti mereka bersebelahan. Jadi keduanya dapat saling bicara satu sama lain.
"Oke, sekarang aku bocorin sedikit rencananya. Kita berdua akan berpura-pura jadi orang dewasa. Kita adalah dua pengusaha yang sedang berkencan," jelas Lika.
"Ya ampun..." Lika memutar bola mata malas. Kebetulan dia telah selesai mengganti pakaian. Cewek itu buru-buru menemui Zafran ke ruang ganti sebelah.
Deg!
Lika dibuat kaget saat tidak sengaja melihat Zafran bertelanjang dada. Dia salah tingkah. Kepalanya langsung menunduk. Bingung harus berbuat apa.
"Eh, sorry." Lika reflek melangkah mundur. Dia berniat hendak keluar dari ruang ganti. Namun Zafran sigap menghentikan.
"Mau kemana? Ini bukan pertama kalinya kan kau lihat aku telanjang dada? Pakai malu segala lagi. Kayak anak kucing aja," goda Zafran. Ia justru semakin mendekatkan diri ke hadapan Lika. Hingga gadis itu tersudut ke dinding.
"Ja-jangan coba-coba!" tukas Lika terbata-bata.
Zafran menarik sudut bibirnya ke atas. Niat jahilnya dalam mode aktif. Terutama ketika melihat wajah Lika yang memerah malu bak kepiting rebus.
Perlahan Zafran membawa Lika masuk ke dalam pelukan. Dia melakukannya dengan keadaan masih bertelanjang dada.
"Sini dipeluk dulu. Biar rasa malunya bisa hilang," ujar Zafran iseng.
__ADS_1
Sementara Lika hanya bisa pasrah. Dia menyatukan dua tangannya ke depan dada. Mata Lika memejam rapat sembari meringiskan wajah. Jantungnya berdebam keras. Sekujur badan Lika meremang karena merespon sentuhan langsung dari kulit Zafran.
"Zafran...udah deh! Bikin malu tahu nggak!" keluh Lika. Merah di wajahnya telah menjalar sampai ke telinga. Ia berharap Zafran segera melepas pelukan. Walaupun begitu, Lika sama sekali tidak melakukan perlawanan.
"Malu? Sama siapa? Di sini kita cuma berduaan. Malu sama cermin?" Zafran justru tambah gemas menyaksikan tingkah Lika.
"Zafran!" Lika menghentakkan dua kakinya secara bergantian.
"Idih! Memaksa pengen dilepas, tapi diam-diam aja kayak patung." Zafran akhirnya melepas dekapannya.
"Dasar nyebelin!" balas Lika. Dia menepuk pelan dada bidang Zafran. Lalu beranjak sambil menundukkan kepala.
Zafran tertawa geli. Ia segera mengenakan kemeja serta jas yang sudah dipilihkan Lika. Tampilannya sekarang benar-benar seperti seorang CEO perusahaan.
"Lika cantik banget pakai gaun begitu," komentar Zafran. Ia dan Lika sudah siap untuk pergi. Mereka beranjak agar bisa melangsungkan rencana selanjutnya.
Saat ada di mobil, Zafran tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Lika. Dia sengaja berbuat begitu, karena gemar melihat Lika yang salah tingkah.
"Zafran! Bisa berhenti nggak?" pungkas Lika.
"Berhenti ngapain? Emang aku ngapain?" Zafran bersikap seakan tidak mengerti.
"Iiiih... kamu tuh ya!" Lika memberikan pukulan bertubi-tubi ke pundak Zafran.
"Mantap, Lik. Enak banget pijatannya. Kalau bisa di pinggangnya juga ya." Candaan Zafran kian menjadi-jadi. Membuat Lika akhirnya tertawa lepas.
Tidak terasa, Zafran dan Lika tiba di lokasi tujuan. Ternyata tempat yang dipesan Lika merupakan restoran bintang lima super mewah.
"Hmmm... reservasi. Jadi kamu udah pesan tempat untuk kencan kita berdua?" Zafran menatap Lika dengan sudut matanya.
"Iya." Lika tersenyum lebar. Dia keluar lebih dulu dari mobil. Di ikuti oleh Zafran setelahnya.
"Mau gandengan?" Zafran menyerahkan lengannya agar bisa jadi gandengan sang kekasih.
Lika mengulum senyuman. Dia tentu tidak menolak lengan Zafran yang menyodor ke arahnya. Mereka melenggang bersama memasuki restoran.
"Harusnya aku yang traktir kamu ke tempat beginian. Masa ceweknya yang ngajak," sindir Zafran yang merasa sadar diri.
"Mikir sendiri dong. Kalau mau balas, jangan lakuin hal yang sama kayak rencanaku," jawab Lika. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Puluhan pelayan restoran langsung menyambut.
__ADS_1
Zafran dibuat agak kaget. Sebab dia tidak melihat pelanggan lain selain dirinya dan Lika.