
...༻⊚༺...
Pintu lift sudah terbuka. Saat Lika hendak melangkah masuk, terdengar suara seseorang memanggil namanya.
Dahi Lika berkerut. Ia segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu batal masuk ke dalam lift. Lika langsung mencari sumber suara.
Kebetulan dari lantai dua puluh, suara Zafran terdengar agak samar. Selain karena dinding, tetapi juga karena jarak yang cukup jauh.
Lika mendengar suara teriakan lelaki yang terus menyebut namanya. Ketika membuka pintu tangga darurat, barulah dirinya dapat mendengar suara Zafran lebih jelas.
"Bukannya itu suara si kampret itu?" gumam Lika sembari menuruni anak tangga. Hingga akhirnya dia bisa melihat sosok Zafran. Lika otomatis berhenti melangkah.
"Kaki gue kayaknya cedera deh. Gue nggak bisa jalan..." lirih Zafran seraya menahan sakit. Dia berdiri dalam keadaan menopang tangan ke dinding.
Ekspresi Lika berubah jadi cemberut. Dia mengira Zafran berniat mempermainkannya seperti biasa.
"Lo mau ngerjain gue kan? Buang-buang waktu tahu nggak!" tukas Lika seraya berbalik badan. Dia ingin kembali ke lift.
"Enggak! Ini beneran!" Zafran gelagapan. Dia terdiam sejenak. Sebab Zafran merasa sangat malu meminta bantuan kepada Lika. Tetapi karena keadaan yang mendesak, cowok itu tidak punya pilihan lain.
"Terus?!" Lika urung beranjak. Dia menatap selidik Zafran.
"Bantuin gue..." lirih Zafran sambil menundukkan kepala.
Lika tercengang. Dia tentu tidak langsung percaya. Dirinya butuh kepastian. Oleh karena itu, Lika bertanya, "Apa lo bilang? Gue nggak dengar?"
Zafran mengatup mulutnya dengan kesal. Dia mencoba bersabar.
"Gue butuh bantuan lo..." kata Zafran untuk kali kedua. Suaranya masih terdengar begitu pelan.
"Apa?! Coba lebih keras lagi." Lika akhirnya mengembangkan senyuman.
Mata Zafran mendelik. Menurutnya Lika agak keterlaluan. Mengingat dirinya sedang kesakitan sekarang.
"Gue beneran sakit tahu nggak?! Kalau lo nggak mau bantu, ya udah! Pergi sana!" geram Zafran yang tidak tahan lagi. Dia mencoba memaksakan kakinya berjalan. Akan tetapi rasa nyeri kembali muncul. Alhasil Zafran jatuh terduduk ke lantai.
Lika yang melihat akhirnya cemas. Dia bergegas menghampiri Zafran. Namun uluran tangannya ditepis begitu saja.
__ADS_1
"Lo kalau nggak ikhlas mending nggak usah!" pungkas Zafran dengan kening yang mengernyit dalam.
"Udah diam lo! Kita emang musuh! Tapi gue juga bukan psiko yang biarin anak orang sendirian di sini!" balas Lika. Dia meletakkan tangan Zafran ke pundaknya. Kemudian membopong cowok itu menuju lift di lantai 19.
Dengan hati-hati Lika membopong Zafran. Dia terpaksa melingkarkan tangannya ke pinggang Cowok tersebut. Hingga tubuhnya dan Zafran saling bersentuhan.
Lika bisa mencium aroma maskulin dari badan Zafran. Jantungnya jadi berdebar tidak karuan. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Kini Lika dan Zafran tiba di depan pintu. Saat itulah Zafran mendadak hilang keseimbangan. Kaki kirinya sudah kewalahan menopang badan.
Lika yang merasa Zafran nyaris terjatuh, sigap memegang erat. Hingga dia dan Zafran saling berpelukan tanpa sengaja.
Mata Lika membulat saat hidung Zafran menyentuh hidungnya. Jarak wajah di antara mereka hanya helat beberapa senti.
Deguban jantung Lika kian menjadi-jadi. Paras tampan Zafran begitu dekat. Dia merasakan gelitikan aneh di perutnya.
Sementara Zafran, wajahnya memerah bak tomat matang. Dia dapat merasakan dada Lika yang menempel erat ke badannya. Akibat hal itu, Zafran reflek menjauh dari Lika. Dia harus jatuh terhempas ke lantai.
"Aaa!" Zafran reflek merintih.
"Zafran!" pekik Lika. Dia segera membantu Zafran berdiri lagi.
"Gue udah jalan pelan kali!" balas Lika. Dia merasa sedikit lega setelah angkat suara.
Belum sempat tiba di lift, keringat Lika sudah terlihat mengalir deras. Nafasnya bahkan terdengar sulit dikontrol.
"Berhenti!" cegah Zafran. Dia perlahan melepas pegangannya dari pundak Lika. Lalu berpegangan ke dinding.
"Kenapa?" tanya Lika seraya mengusap peluh yang ada di pelipis.
"Mana hp lo? Kita hubungi Pak Surya aja. Gue nggak mau bikin lo kecapekan. Baru beberapa langkah udah berkeringat aja," ucap Zafran. Sejak tidak sengaja jatuh ke pelukan Lika tadi, Zafran jadi enggan menatap gadis itu.
"Ya udah. Gue telepon Pak Surya." Lika segera sibuk dengan ponsel. Dia berusaha menghubungi Pak Surya.
Untung saja Pak Surya langsung merespon. Dia menyuruh Zafran dan Lika untuk menunggu.
Zafran yang lelah berdiri, memutuskan untuk duduk di lantai. Lalu menselonjorkan kaki kanannya agar lebih baik.
__ADS_1
"Lo kenapa repot-repot turun lewat tangga? Jelas-jelas ada lift yang lebih cepat dan praktis," imbuh Lika seraya menyandarkan punggung ke dinding.
"Bilang aja lo senang kan lihat gue begini? Sekarang gue nggak yakin bisa ikut kejuaraan nasional," sahut Zafran.
Lika terdiam seribu bahasa. Dia memang senang melihat Zafran kalah. Tetapi bukan dengan cara begini.
"Lo kalau mau ke kamar, pergi aja gih! Gue nunggu Pak Surya aja." Zafran menyarankan.
"Enggak! Nanti gue dimarahin Pak Surya lagi," kilah Lika beralasan.
Menit demi menit berlalu. Pak Surya tidak kunjung datang. Lika lebih memilih sibuk bermain ponsel. Sedangkan Zafran, sejak tadi hanya memasang tatapan kosong. Dia merasa ragu dirinya akan dibiarkan ikut kejuaraan nasional. Mengingat keadaan kaki kanannya sedang tidak mendukung.
Perlahan bola mata Zafran mengarah kepada Lika. Perhatiannya terfokus ke dada cewek itu. Dia sontak kembali teringat dengan pelukan tidak disengaja tadi.
'Astaga, Zaf. Pikiran lo kotor banget sumpah. Ini Lika loh! Harusnya lo jijik sama dia!' Zafran membatin untuk memperingatkan dirinya. Dia langsung berhenti menatap Lika dan lebih memilih memejamkan mata.
"Pak Surya lama banget. Gue coba telepon lagi deh." Lika segera kembali menghubungi Pak Surya. Ternyata gurunya itu sedang menunggu ambulan terlebih dahulu. Pak Surya masih tidak memperbolehkan Zafran berjalan.
"Pak Surya nunggu ambulan katanya," ujar Lika.
"Hah? Ngapain pakai panggil ambulan segala," keluh Zafran sambil berdiri dengan hati-hati.
"Zaf! Kata Pak Surya lo nggak boleh jalan dulu!" tegas Lika. Namun Zafran tidak mendengarkan. Dia berjalan dengan cara berpegangan ke dinding.
Lika lantas mencoba menghentikan. Takut kalau cedera Zafran akan semakin parah.
"Zaf! Lo itu emang belagu ya!" Lika memaksa Zafran berhenti.
"Pergi lo! Gue tahu lo terpaksa bantuin gue kan? Balik ke kamar gih!"
Raut wajah Lika terlihat masam. Dia tidak bisa menghentikan Zafran. Cowok itu terus memaksakan diri untuk berjalan.
Karena tidak mendengarkan saran Pak Surya serta peringatan dari Lika, kaki Zafran jadi tambah sakit. Nyeri yang begitu menyengat mendadak muncul.
"Aaaaaaaaarggghhh!!!" kali ini Zafran berteriak sangat lantang. Dia merasa sakit setengah mati.
"Zafran!" Lika buru-buru menghampiri. Lalu membawa Zafran duduk terlebih dahulu. Tetapi cowok itu masih belum berhenti merintih. Saking sakitnya, wajah Zafran sampai memerah.
__ADS_1
Di saat Zafran kesakitan, Lika diserang rasa panik. Tangannya hendak berbuat sesuatu ke kaki Zafran, namun dia tidak tahu harus bagaimana.
"Gimana ini... hiks... gimana..." akhirnya Lika hanya bisa menangis.