Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 21 - Masih Berdebar


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran melipat tangan di dada. Dia memilih fokus menikmati makanan yang baru dipesan. Mencoba mengabaikan Lika yang ada di meja berhelat satu buah darinya.


Walau berusaha tidak peduli. Rasa penasaran Zafran lebih tinggi. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak curi-curi pandang ke arah Lika dan Ari. Dua pasangan baru tersebut tampak akrab. Ari terlihat terus mengajak Lika bercanda.


"Kak Zafran?" suara panggilan cewek terdengar. Membuat Zafran otomotis menoleh. Sosok gadis cantik terlihat memegangi sebuah hadiah. Namanya adalah Cindy. Murid kelas sepuluh yang baru masuk satu minggu lalu. Di hari pertamanya dia sudah jatuh cinta dengan Zafran.


"Aku..."


"Makasih!" belum sempat Cindy bicara, Zafran mengambil hadiah lebih dulu. Hal itu membuat semua orang terpolongo. Bahkan Cindy sendiri. Baru kali ini Zafran menerima hadiah dari seorang cewek. Apalagi Cindy tergolong murid yang masih baru.


"Kak Zafran menerima hadiahku?" Cindy memastikan.


"Terus mau gimana? Berharap hadiahnya dibuang aja?" balas Zafran.


"Bukan gitu, Kak. Aku kaget aja," tanggap Cindy.


Zafran tersenyum tipis. Lalu membuka hadiah yang diberikan oleh Cindy. Isinya ternyata adalah kue cokelat berbentuk hati.


"Aku yang buat kue itu sendiri. Aku harap Kak Zafran suka," ujar Cindy sembari menyatukan tangan ke depan badan.


"Sebenarnya gue nggak suka makan-makanan manis sih. Tapi boleh juga sekali-kali." Zafran memakan salah satu kue cokelat buatan Cindy. Ia mengunyahnya dengan pelan.


"Zaf, lo kena angin badai apa?" tegur Galih yang merasa Zafran bersikap tidak seperti biasanya.


"Tumben-tumbenan ladenin cewek. Gue kira lo cuman tertarik sama kami." Hendra ikut berkomentar.


"Apaan sih kalian? Dikira gue homo apa? Ya nggak apa-apa kan kalau gue begini," sahut Zafran.


"Hah? Terus Ramanda gimana? Bukannya lo suka--"


Plak!


Plak!


Zafran menggeplak kepala Galih dan Hendra secara bergantian. Sengaja membungkam mulut dua temannya itu. Galih dan Hendra hanya bisa mengaduh sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Udah biarin aja, guys. Gue tahu kok kenapa Zafran berbuat begitu," celetuk Ervan seraya diam-diam melirik ke arah Lika.


"Kalian bisa diam nggak?" titah Zafran. Dia kemudian menyuruh Cindy untuk duduk bergabung dengannya.


Cindy tidak berhenti tersenyum. Ia bahkan sampai menangkup wajah saking merasa senangnya. Sebagian besar siswi yang ada di kantin, otomatis iri kepadanya.


Di antara semua siswi, ada satu orang yang langsung pergi. Dia tidak lain adalah Lika. Cewek itu bergegas pergi dengan alasan ingin ke toilet.


Melihat kepergian Lika, Zafran tersenyum puas. Ia bahkan tidak lagi mengajak Cindy mengobrol. Entah kenapa dirinya senang ketika melihat Lika pergi meninggalkan Ari.


Bruk!


Lika membanting pintu toilet dengan kesal. Bukannya mengatasi perasaan yang menghantui dihati, dia justru merasa semakin gundah. Apalagi setelah melihat Zafran mau menerima hadiah dari seorang siswi.


Dua tangan yang membentuk bogem dipukulkan Lika ke wastafel. Dia berdecak kesal sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


'Dia kenapa tiba-tiba begitu? Apa dia mau bersaing lagi seperti yang dilakukannya saat di Bali? Itu manusia nyebelin banget!' gerutu Lika dalam hati. 'Kenapa gue kesal banget lihatnya! Ini gila banget!' lanjutnya.


...***...


Mendapatkan seorang pacar tentu sangat mudah untuk Zafran. Mengingat dirinya tidak hanya bintang basket, tetapi juga merupakan cowok terpopuler di sekolah.


Waktu menunjukkan jam tiga sore. Kini Zafran akan berlatih basket. Dia dan teman-temannya harus bertanding untuk pertandingan minggu depan.


Ari kebetulan menjadi salah satu bagian tim basket. Dia menyuruh Lika untuk menemaninya berlatih hari itu.


Lika awalnya tidak mau. Mengingat musuh bebuyutannya juga ada di sana. Namun karena Ari terus memaksa, Lika tidak bisa menolak. Cowok itu juga ingin menonton film setelah berlatih basket.


Sekarang Lika baru melangkah masuk ke lapangan indoor. Ia duduk di antara banyaknya penonton. Yaitu kumpulan siswi yang merupakan penggemar berat Zafran.


Setelah Lika datang, Cindy muncul dari balik pintu. Ia langsung jadi bahan omongan semua orang.


Akibat kedekatannya dengan Zafran di kantin tadi, Cindy menjadi orang yang paling dibenci oleh para siswi. Mereka menganggap Cindy adalah gadis centil yang tidak tahu malu.


"Gue yakin Zafran cuman manfaatin Cindy doang sih."


"Benar banget. Lagian dia tadi cuman traktir Cindy doang kok."

__ADS_1


"Gue pikir Zafran cuman kasihan aja. Mengingat Cindy masuk ke sekolah ini karena beasiswa. Dia pasti anak nggak mampu kan?"


"Iya, kita tahu kalau Zafran sering bantuin murid yang nggak mampu. Paling dia jadi pesuruh Zafran selanjutnya."


Lika dapat mendengar pembicaraan para siswi di dekatnya. Ia geleng-geleng kepala mendengar obrolan mereka. Kemudian lekas menoleh sembari berkacak pinggang.


"Apa menariknya coba cowok yang kalian omongin? Dia bahkan nggak tertarik sama kalian. Nggak guna juga kalian bela-belain dia terus!" tukas Lika spontan.


"Apaan sih, ganggu aja." Salah satu siswi menanggapi perkataan Lika dengan sinis.


Lika terperangah. Dia akhirnya mengalah sambil menghempaskan dirinya duduk ke kursi.


Selang sekian menit, latihan di mulai. Semua anggota tim satu per satu masuk ke lapangan. Dari seluruh orang di sana, hanya kemunculan Zafran yang sukses membuat para siswi heboh.


Zafran terlihat melangkah dengan gagah. Mengenakan baju basket tanpa lengan, yang memperlihatkan otot bisepnya. Raut wajahnya datar seperti biasa.


"Gue nggak tahu gimana jadinya kalau di tim kita nggak ada lo, Zaf. Pasti sepi nih tempat," komentar Galih seraya menatap ke arah kumpulan penonton sedang duduk.


"Ya iyalah. Bilang makasih dong," respon Zafran. Tersenyum sampai menampakkan gigi-gigi atasnya yang rapi.


"Ampun deh, gue lupa kalau lo tergila-gila sama pujian. Lebar nggak tuh baju?" balas Galih yang menyesali kalimat pujiannya terhadap Zafran.


"Banget!" Zafran cekikikan.


Di tengah suasana ributnya para penonton, hanya Lika yang termangu. Atensinya tertuju ke arah Zafran. Bahkan saat cowok itu baru saja melangkah masuk ke lapangan.


Ari yang merupakan pacar Lika sendiri, secara alami diabaikan. Bagaimana pun usaha Lika untuk menghentikan, debaran jantungnya tetap akan berdebar cepat kala menyaksikan Zafran.


Lika lekas menggeleng kuat. Mencoba menyadarkan dirinya. Lalu melambaikan tangan kepada Ari. Ia tidak lupa mengembangkan senyumannya.


Ari membalas lambaian tangan Lika. Dia bersemangat saat melihat Lika mau datang untuk menemaninya berlatih.


Buk!


Sebuah bola tiba-tiba menghantam lengan Ari. Membuat interaksi di antaranya dan Lika terhenti.


Ari reflek menoleh ke arah orang yang berani melempar bola kepadanya. Dia ternyata adalah Zafran.

__ADS_1


"Maaf, Kak! Nggak sengaja," ungkap Zafran. Tepat saat Ari menoleh kepadanya.


Ari mengangguk. Dia mempercayai alasan Zafran begitu saja. Keduanya segera melakukan pemanasan sebelum benar-benar berlatih.


__ADS_2