
...༻⊚༺...
Mata Zafran memejam rapat. Dia berusaha menahan rasa sakit sebisa mungkin. Tanpa sadar dia menggenggam erat tangan Lika. Gadis itu lantas balas memegang tangan Zafran. Jari-jemari mereka saling bertautan erat.
"Bentar lagi Pak Surya pasti datang!" ucap Lika. Mencoba menenangkan.
"Sumpah... ini sakit banget..." keluh Zafran.
Dari arah lift, Bu Ratih dan yang lain berdatangan. Mereka segera menghampiri. Akibat hal itu, Lika bergegas melepas tangan Zafran. Membiarkan teman-teman lelakinya membopong Zafran.
Lika mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Dia dan teman-temannya ikut menemani Zafran ke rumah sakit.
Kini Lika sedang duduk di depan ruangan Zafran dirawat. Dia berusaha menenangkan diri.
"Lo kalau benci sama Zafran nggak perlu sampai segitunya kali!" timpal Ayu yang tiba-tiba menyalahkan Lika.
"Maksud lo apa?!" Lika berdiri menghadap Ayu.
"Lo kan yang bikin Zafran begitu? Tega lo ya! Kalau mau balas dendam itu nggak perlu sampai menyakiti ke fisik segala!" sahut Ayu. Di belakangnya ada teman-teman yang lain mendengarkan.
"Apa?! Jadi lo mengira gue yang bikin Zafran begitu? Dia jatuh sendiri kali. Tanya aja sama orangnya!" bantah Lika tegas.
"Kali ini gue kecewa banget sama lo, Lik. Kalau lo beneran berbuat begitu, itu keterlaluan tahu nggak." Keyla datang dan sependapat dengan Ayu.
"Gue nggak apa-apain Zafran! Malah gue yang bantuin dia tahu nggak!" jelas Lika yang tampak sudah frustasi.
"Zafran jadi nggak bisa wakilin sekolah kita di pertandingan karate. Puas lo!" Ayu menatap Lika dengan penuh kebencian.
"Eh! Lo jangan asal nuduh ya. Gue beneran nggak ada sedikit pun nyakitin Zafran. Lo kalau mau bukti, ayo kita tanya langsung sama orangnya. Ikut gue!" Lika menyeret Ayu masuk ke ruang dimana Zafran dirawat. Akan tetapi Pak Surya menghalangi jalan mereka.
"Kalian lebih baik kembali ke hotel. Terutama untuk Keyla dan Cakra. Kalian berdua harus bertanding besok. Jadi lebih baik fokus pikirkan itu saja," ujar Pak Surya. "Oh iya, lagian Zafran harus istirahat," tambahnya.
"Nggak, Pak. Biarin aku bicara sebentar sama Zafran. Aku mau buktiin kalau aku nggak salah," ucap Lika bersikeras. Dia hanya tidak mau terus-terusan kena fitnah oleh Ayu dan kawan-kawan.
"Udah, Lik. Besok aja." Keyla mencoba menghentikan Lika. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat Zafran.
Lika mengeratkan rahang sebal. Ia menghela nafas panjang.
"Lika emang nggak salah kok. Tadi Zafran bilang ke gue kalau dia jatuh terpeleset dari tangga." Fatih muncul dari belakang Pak Surya. Kebetulan dia baru selesai bicara dengan Zafran. Fatih merupakan salah satu di antara tujuh murid yang terpilih untuk ikut kejuaraan nasional.
Lika langsung menatap tajam Ayu dan Keyla. Dua temannya itu langsung tetunduk malu. Mereka tampak tersenyum kecut.
"Makanya jangan asal tuduh aja," tukas Lika. Dia beranjak lebih dulu dibanding yang lain.
Zafran harus dirawat di rumah sakit sampai keadaannya membaik. Dia terpaksa tidak bisa ikut kejuaraan nasional kali ini.
Selang sekian jam terlewat. Zafran membuka matanya. Waktu terlihat menunjukkan jam sepuluh malam. Sejak tadi dia berupaya untuk tidur, tetapi tidak bisa.
__ADS_1
Entah kenapa wajah Lika yang menangis selalu terbayang. Dia heran melihat gadis itu sangat mengkhawatirkannya.
Perlahan senyuman merekah di wajah Zafran. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab dia segera menampar pipinya sendiri.
'Gila! Apa yang gue pikirin?' batin Zafran. Mencoba membuang jauh-jauh segala hal tentang Lika.
Zafran meraih ponsel dari meja kecil di sampingnya. Dia mencabut pengisi daya terlebih dahulu, kemudian menyalakan ponsel. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab langsung diterima Zafran. Sebagian besar dari ayah dan ibunya sendiri.
Kebetulan Zafran sudah bicara dengan Gamal tadi. Dia melakukannya lewat ponsel milik Pak Surya.
Selain mendapat pesan dari kedua orang tuanya, Zafran juga menerima pesan dari Ramanda. Gadis itu terus memberikan kabar tentang Rian.
Zafran seketika cemberut. Dia memilih tidak membalas pesan Ramanda. Saat itulah panggilan telepon dari Zara masuk.
"Sayang, Bunda sama Papah sedang bersiap ke sana ya," ujar Zara dari seberang telepon.
"Hah? Nggak salah? Kakiku cuman terkilir doang kok. Kata dokter, dua atau tiga hari pasti sembuh. Nggak usah ke sini lah, Bunda..." mohon Zafran. Sejak kecil dia memang mendapatkan perhatian berlebih dari ibu dan ayahnya.
"Beneran? Kamu sekarang di rumah sakit sama siapa?"
"Sama Pak Surya dan Pak Rendi. Mereka nggak pernah tinggalin aku. Bunda tenang aja pokoknya. Lagian kan Bunda sama ayah sedang mempersiapkan acara besar sebentar lagi." Zafran bertutur kata lembut. Berharap sang ibu mengerti.
"Kau benar juga. Ya sudah, jangan lupa kasih tahu Bunda sama Papah kalau ada apa-apa."
Pembicaraan Zafran dan ibunya berakhir. Sekarang Zafran mencoba untuk tidur.
"Aaaargghhh!!!" Lika mengacak-acak kesal rambutnya. Dia tidak tahu kenapa otaknya tiba-tiba terus memikirkan Zafran.
Di ranjang sebelah, ada Keyla yang melihat gelagat Lika. "Lo kenapa kayak cacing kepanasan gitu? Masih kesal sama yang tadi? Gue sama Ayu kan udah minta maaf," cetusnya merasa bersalah. Dia dan Ayu memang telah minta maaf saat dalam perjalanan pulang tadi.
"Eng-enggak kok. Bukan karena itu. Gue pusing aja." Lika menepis sambil memegangi kepalanya. Dia merubah posisi menjadi duduk.
"Pasti karena kekalahan lo tadi ya?" tanya Keyla. Dia ikut duduk untuk menemani Lika.
"Ya, itu pasti sih..." Lika mendengus kasar.
"Masih banyak lomba-lomba lain kok. Lagian gue yakin banget, lo pasti udah banyak koleksi piala di rumah. Lah gue? Cuman satu doang." Keyla berusaha menghibur temannya. Benar saja, usaha Keyla sukses membuat Lika mengukir senyuman.
"Oh iya, katanya pas hari pertandingan terakhir Pak Surya mau ngajak kita jalan-jalan keliling Bali. Lo udah dengar?" Keyla kembali berucap.
"Beneran? Seru dong." Lika menanggapi dengan antusias. Dia cukup senang mendengar kabar baik itu.
"Iya, gue udah nggak sabar. Berharap ketemu bule yang mirip Justin Bieber." Keyla sudah berekspetasi tinggi. Lika yang mendengar hanya mengikik geli.
Karena malam semakin larut, Lika dan Keyla berhenti mengobrol. Keduanya mencoba untuk tidur. Namun lagi-lagi Lika kesulitan untuk terlelap.
'Jangan-jangan Zafran nanti nggak bisa ikut keliling Bali. Kakinya masih sakit atau nggak ya? Dia tadi kayak tersiksa banget,' batin Lika. Dia kembali memikirkan keadaan Zafran.
__ADS_1
'Astaga... kenapa gue mikirin si kampret itu lagi...' Lika menyadarkan dirinya. Dia memutuskan untuk memasang headset ke telinga. Berharap lagu dapat mengalihkan pikirannya. Mata Lika akhirnya menutup rapat. Ia jatuh ke dalam lelap.
Ponsel mendadak berdering. Dahi Lika berkerut, ketika mendengar nada deringnya memakai lagu berbeda. Meskipun begitu, dia tetap mengangkat panggilan tanpa nama yang masuk.
"Likaaaa!! Gue butuh bantuan lo..." orang yang menelepon ternyata adalah Zafran. Lika sangat mengenali tipe suara cowok itu. Anehnya suara nada dering telepon terdengar masih berbunyi. Lagu Yura Yunita yang berjudul Sudut Memori terus melantun. Seakan menjadi backsound musik kegiatan Lika sekarang.
"Lo kenapa?" Lika turun dari kasur.
"Cepat! Sumpah... ini sakit banget."
"Kenapa lo nggak telepon Pak Surya aja sih?!" Lika bergegas mengenakan sepatu. Dia berlari keluar kamar begitu saja.
Ketika pintu terbuka, Zafran terlihat sudah berdiri di hadapannya. Mengukir senyuman cerah, seperti yang dilakukannya saat bersama Ramanda di pesawat.
"E-e-elo udah bisa jalan?" gagap Lika tak percaya. Bukannya menjawab, Zafran justru memberikan pelukan hangat.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Lika serasa mau meledak. Kupu-kupu serasa beterbangan di perutnya. Sentuhan Zafran membuat tubuh Lika seolah dialiri listrik ribuan volt.
Lika seakan membeku. Tangannya segera membalas pelukan Zafran. Dia tenggelam dalam suasana dan lagu yang masih terdengar menggema.
...~~~...
...Mengulang sendiri...
...Ke sudut memori...
...Ruang tempat kita...
...Saling lempar puji...
...Kau dan aku punya...
...Dunia sendiri...
...Tetap terpejam kuingat harummu...
...Tak mau terjaga...
...Sadar kau tak ada...
Lirik by Yura Yunita.
__ADS_1