Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 9 - Kejuaraan Nasional


__ADS_3

...༻⊚༺...


Selepas melakukan pertarungan, tubuh Zafran dipenuhi keringat. Dia membuka sedikit setelan karate yang tampak berbentuk seperti kimono tersebut. Lalu mengambil handuk kecil.


Zafran tersenyum tipis, saat Pak Surya menyuruhnya untuk mendekat. Terlihat ada Lika juga di sana. Namun Zafran tak peduli. Ia merasa kemenangannya tadi akan membuat Lika tak bisa berkata-kata.


"Kamu hebat, Zaf. Bapak bangga sama kamu," puji Pak Surya. Walau dikalahkan, dia justru merasa bahagia. Bagi seorang guru, kesuksesan seorang murid merupakan sebuah kemenangan besar. Apalagi jika murid itu jadi lebih baik dibanding dirinya.


"Makasih, Pak. Kan yang melatih Pak Surya juga," sahut Zafran yang diam-diam melirik Lika. Dia hendak melihat raut wajah yang ditunjukkan gadis itu.


Lika tampak menghela nafas berat. Dia enggan menatap Zafran.


"Oke, sekarang Bapak tidak akan meragukan keahlianmu. Kamu bersedia kan ikut bertanding di kejuaraan nasional?" tanya Pak Surya.


"Ya iyalah, Pak! Gila banget kalau aku tolak." Zafran langsung setuju. Semakin banyak dia mendapat pujian, maka tambah cemberut pula paras Lika.


"Baiklah kalau begitu. Kamu bisa pulang setelah membantu temanmu latihan," ujar Pak surya.


Zafran mengangguk. Dia segera melaksanakan tugas yang diberikan Pak Surya.


Sedangkan Lika, menghabiskan cukup banyak waktu mengobrol dengan Pak Surya. Dia baru selesai, saat para anggota ekstrakulikuler karate bersiap untuk pulang.


Lika keluar dari lapangan indoor. Ia beranjak ke gerbang sekolah untuk menunggu jemputan. Kebetulan hari itu Pak Arman datang terlambat.


Lika terpaksa menunggu di halte yang ada di depan sekolah. Dia melipat tangan di dada sambil mencoba menghubungi Pak Arman.


"Pak Arman kemana? Ini udah lama banget loh. Harinya panas banget lagi..." ujar Lika, ketika Pak Arman baru mengangkat telepon.


"Maaf, Non. Saya lagi di bengkel. Tadi mobilnya mogok di jalan," jawab Pak Arman dari seberang telepon.


"Masih lama nggak?"


"Lumayan sih, Non. Kalau Non Lika tidak mau menunggu, saya akan--"


"Nggak usah, Pak. Aku bisa pulang sendiri kok. Aku bisa naik bus atau pakai jasa ojek online." Lika segera mengakhiri panggilan telepon. Dia hanya tidak mau merepotkan Pak Arman.


Sebuah mobil mewah perlahan berhenti. Lika dapat menebak kalau pemiliknya adalah Zafran. Mobil dengan balutan warna hitam itu sering dipakai Zafran saat pergi dan pulang sekolah.

__ADS_1


Kaca jendela menyusut ke bawah. Benar saja, ada sosok Zafran di sana. Sengaja berhenti karena melihat Lika yang termangu sendirian di halte.


"Kasihan... pasti sopirnya lupa jemput ya? Ayo! Ikut mobil gue aja. Nanti di anterin sampai depan rumah," ucap Zafran. Berbicara lebih ramah dibanding biasanya. Dia jelas-jelas hanya bermaksud mempermainkan Lika.


Lika yang paham dengan lagak manis Zafran, langsung mendelik. "Jangan harap gue sudi duduk di mobil lo!" balasnya. Reflek mengalihkan pandangan dari Zafran.


"Ayolah, gue antar beneran nih. Rumah lo ada di sebelah gang Melati itu kan?" sahut Zafran. Masih mencoba mengejek Lika.


"Dasar kurang ajar!!!" hardik Lika. Dia tahu betul kalau tempat yang disebutkan Zafran adalah daerah pemakaman umum.


"Bwahahaha!" Zafran tertawa lepas. Dia langsung mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi.


"Dasar gila!!" pekik Lika kesal. Dia mengambil botol bekas minuman yang ada di tanah. Lalu melemparkannya ke mobil Zafran yang terlanjur melaju. Lemparan Lika tentu tidak akan mengenai mobil Zafran.


Lika hanya bisa menghentakkan kaki dengan sebal. Kini dia harus memikirkan bagaimana cara untuk pulang. Gadis itu berpikir sembari melangkah maju.


"Kayaknya naik ojek online ribet deh. Tapi kalau naik bus umum bukannya lebih menakutkan?" Lika mencemaskan dirinya sendiri. Dia tidak pernah sekali pun pergi atau pulang sekolah menaiki transportasi umum.


Lelah menimbang-nimbang, Lika akhirnya memutuskan menaiki bus. Dia meringiskan wajah sambil terus berpegangan ke tali tas ranselnya.


Panas dan bau tidak enak membuat Lika ingin muntah. Dia mencoba bertahan, setidaknya sampai tiba di komplek rumahnya.


"Baru pulang, Dek?" tanya seorang lelaki yang berdiri tidak jauh. Sejak Lika datang tadi, matanya terus jelalatan.


Lika memilih diam. Ia melepas tas ransel. Lalu memeluknya dengan erat. Berharap hal itu dapat menenangkan dirinya.


Sepanjang perjalanan, Lika hanya menoleh ke arah jendela. Sejak awal dia merasa terus di amati. Sungguh, mulai saat itu Lika kapok menaiki bus.


...***...


Liburan sebentar lagi tiba. Mengingat seluruh pelajaran sudah merampungkan proses penilaian akhir.


Sekarang seluruh guru sedang melakukan rapat. Selain membahas hal terkait penilaian, mereka juga membicarakan tentang kejuaraan nasional yang akan diselenggarakan saat liburan.


"Aku sudah memilih murid terbaik. Tapi masalahnya di sini adalah..." Pak Surya tidak menyelesaikan ucapannya. Dia justru mendengus kasar.


"Zafran dan Lika menjadi bagian tim. Benar bukan?" terka Bu Dini yang bisa menebak kekhawatiran Pak Surya. Semua guru tentu tahu bagaimana buruknya hubungan yang terjadi di antara Zafran dan Lika.

__ADS_1


"Benar. Aku masih belum ngomong sama mereka kalau kita akan berangkat sebagai tim. Yang aku takutkan mereka malah akan membuat keributan sendiri dibanding dengan lawan." Pak Surya menerangkan hal yang membuatnya khawatir.


"Bagaimana kalau kita buat tawaran kepada mereka. Jika Lika dan Zafran tidak bersedia, mungkin kita bisa memberi kesempatan pada murid lain yang berprestasi," usul Bu Dini.


Kelopak mata Pak Surya melebar. Dia merasa ide Bu Dini ada benarnya. Mengingat Zafran dan Lika sama-sama mengutamakan prestasi dalam bersekolah. Walau keduanya memiliki kekurangan, tetapi hal itu bisa ditutupi dengan kelebihan yang mereka punyai.


"Baiklah, aku akan coba bicara pada Zafran dan Lika." Pak Surya bangkit dari tempat duduk.


Kebetulan di lapangan ada acara class meeting. Seluruh murid sibuk menonton para siswi yang bertanding voli. Kecuali Lika, yang lagi-lagi memilih perpustakaan sebagai tempat nongkrong. Cewek itu sibuk mempersiapkan diri untuk olimpiade Matematika nanti.


Tiba-tiba seorang siswi menyampaikan pesan Pak Surya kepada Lika. Siswi tersebut mengatakan kalau Pak Surya sudah menunggu di ruang BK.


Lika bergegas pergi dari perpustakaan. Saat dia memasuki koridor sekolah, Zafran muncul dari belakang. Tanpa sengaja, keduanya melangkahkan kaki bersamaan. Akan tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang tertarik untuk bicara.


Kala Lika berbelok, Zafran juga mengikuti. Hal itu membuat matanya langsung mendelik.


"Apaan sih ngikut-ngikut? Mulai suka sama gue ya?" timpal Lika.


"Kepedean banget. Jangan halu deh." Zafran tak acuh. Dia terus berjalan lurus dan mendahului.


Lika terperangah menyaksikan sikap Zafran. Dia semakin dibuat kaget, saat tahu kalau cowok itu juga masuk ke ruang BK. Kini keduanya disuruh duduk bersebelahan.


Sama seperti Lika, Zafran juga dibuat kaget. Dia tercengang melihat Lika dipersilahkan duduk oleh Pak Surya.


"Ngapain lo ngikutin gue?" tukas Zafran sinis.


"Lo yang ngikutin gue kali! Gila bener cewek yang ngikutin cowok. Nggak ada dalam kamus gue!" balas Lika sambil mengibaskan tangan ke wajah. Dia memasang raut wajah jijik.


"Terus lo ngapain di sini, hah?!" Zafran kembali menimpali.


"Lo bisa diam nggak? Gue capek ngeladenin lo terus!"


"Lo tuh yang diam! Mulut lo kayak pantat ayam tahu nggak!"


"Apa?!!!" Lika mengepalkan tinju di kedua tangannya. Perselisihannya dan Zafran terus berlanjut.


Pak Surya jadi pusing sendiri. Dia memijit-mijit kepala berulang kali.

__ADS_1


"Kalau kalian begini terus. Bapak nggak jadi pilih kalian untuk ikut kejuaraan nasional!" cetus Pak Surya. Membuat Lika dan Zafran membulatkan mata secara bersamaan.


__ADS_2