
...༻⊚༺...
Zafran pulang lebih cepat dari biasanya. Ia menampakkan raut wajah yang begitu sendu. Berjalan dengan gontai menuju tangga.
"Kok pulang cepat? Kamu nggak pergi les?" Zara langsung menyambut dengan cecaran pertanyaan.
"Aku kecapekan." Zafran menjawab singkat. Dia berjalan pelan menaiki tangga.
"Ya udah, istirahat aja. Kamu nggak lupa kan kalau malam ini ada acara di rumah kita?" Zara berujar sambil mendongakkan kepala. Memandangi sang putra yang sedang melangkah naik.
"Iya..." sahut Zafran malas. Ia segera beranjak masuk ke kamar. Langsung menghempaskan diri ke kasur. Menghela nafas panjang sambil memasang tatapan kosong ke langit pelafon. Perlahan mata Zafran terpejam rapat. Hingga dia akhirnya jatuh ke dalam lelap.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan dari pintu. Zafran langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia melenggang dan membukakan pintu.
Betapa kagetnya Zafran, tatkala menyaksikan Lika sudah berdiri di hadapan. Gadis itu melipat tangan di dada.
"Gue udah tahu cara ciuman itu gimana!" tukas Lika dengan eskpresi serius.
"Gila! Lo ngapain datang ke rumah gue?!" Zafran membulatkan mata. Dia tentu kaget menyaksikan kedatangan Lika.
Bukannya menjawab, Lika justru menarik kerah baju Zafran. Kemudian menyatukan bibirnya dengan mulut Zafran.
Deg!
Zafran semakin dibuat terkejut. Matanya menyalang saat Lika menyerang dengan sebuah ciuman di bibir. Dia tidak menduga hal itu.
Jantung Zafran berpacu lebih cepat dari biasanya. Darah disekujur badannya berdesir hebat. Namun dia sangat menyukai perasaan itu.
Zafran sama sekali tidak memberontak. Dia mencoba menenangkan diri, lalu mendorong pinggul Lika agar bisa lebih dekat. Mata Zafran yang tadinya terbuka lebar, perlahan terpejam. Ia membalas ciuman Lika.
Belum sempat menikmati, suara dering ponsel terdengar. Membuat mata Zafran reflek terbuka. Saat itulah dia sadar bahwa apa yang dilakukannya bersama Lika tadi hanyalah mimpi.
Zafran mengatur nafas terlebih dahulu. Barulah dia mengambil ponsel yang masih tersimpan di saku celana.
__ADS_1
Sebuah panggilan telepon diterima Zafran. Orang yang menghubungi tidak lain adalah Ramanda. Tanpa pikir panjang, Zafran segera mengangkat panggilan tersebut.
"Gue lagi kesal banget sekarang!" ujar Ramanda dari seberang telepon.
"Kenapa? Apa lo--"
"Rian selingkuh! Gue hari ini lihat dia gandengan tangan sama cewek lain!" Ramanda memotong perkataan Zafran. Di antara keduanya, memang Ramanda-lah yang selalu dominan untuk bercerita. Apalagi jika cewek itu sedang memiliki masalah yang berat.
"Tuh kan. Gue udah bilang kalau dia bukan cowok yang baik. Lo nggak percaya sih!"
"Lo benar. Gue kesal banget udah kasih dia kesempatan. Pokoknya nanti gue akan ceritain pas ke rumah lo nanti. Ini gue sama keluarga lagi mau siap-siap ke sana." Ramanda mengakhiri panggilan lebih dulu.
Kini Zafran lagi-lagi melamun. Apa yang terjadi di mimpinya masih terbayang. Dia bahkan menyentuh bibirnya sendiri. Mengingat bagaimana sentuhan Lika yang terus terbayang dalam benak.
"Sial! Gue nggak mungkin suka sama si mulut pantat ayam itu kan?" Zafran mencoba menepis apa yang dirinya rasakan. Dia tidak tahu sejak kapan perasaan aneh itu muncul.
"Zafran! Cepat siap-siap! Bantuin Papah kamu di bawah!" seru Zara dari luar kamar.
"Iya!" sahut Zafran sembari bangkit dari tempat tidur. Ia segera membersihkan diri ke kamar mandi.
Usai keluar kamar mandi, Zafran menemukan setelan pakaian rapi di atas ranjang. Sepertinya Zara sudah menyiapkan pakaian tersebut untuk dipakai Zafran saat acara berlangsung.
Sekarang Zafran berdiri di depan cermin. Atensinya terfokus ke arah bibirnya sendiri. Dia lagi-lagi teringat dengan mimpinya tadi. Walau hanya mimpi, rasanya begitu membekas dan terus terbayang.
Deguban jantung yang menggebu kembali muncul. Karena pernah merasakan yang namanya cinta, Zafran kesulitan untuk membantah.
'Gue nggak bisa langsung menyimpulkan.' Zafran menggunakan logikanya seperti biasa. 'Hari ini gue ketemu Ramanda. Dialah satu-satunya cewek yang gue suka. Gue akan pastikan perasaan gue yang sebenarnya,' ucapnya lagi sambil gelen-geleng kepala.
Baru saja dipikirkan, pesan dari Ramanda tiba-tiba masuk. Gadis tersebut memberitahu kalau dia sudah ada di rumah Zafran.
Tanpa basa-basi, Zafran buru-buru keluar dari kamar. Dia segera mencari Ramanda. Cewek itu datang bersama ayah dan ibunya.
Senyuman terukir di wajah Zafran. Dia memeluk Ramanda tanpa adanya rasa malu.
"Dih... ngapain pakai peluk-peluk segala coba!" protes Ramanda dengan pipi yang memerah malu. Walaupun begitu, dia tetap pasrah menerima pelukan Zafran. Lagi pula keduanya memang sudah sering begitu sejak kecil.
"Kan ada yang lagi putus cinta. Mungkin lo bisa lebih tenang kalau begini," sahut Zafran. Mengelus pelan pundak Ramanda.
Ucapan Zafran membuat Ramanda langsung melepas pelukan. Lalu reflek mencubit bahu cowok itu.
__ADS_1
"Hush! Jangan keras-keras! Nanti bokap sama nyokap gue dengar!" tegas Ramanda dengan nada pelan namun penuh akan penekanan.
"Aaaa! Sakit... kenapa gue malah dicubit? Kuat banget lagi," keluh Zafran seraya mengusap bahu bekas cubitan Ramanda.
"Itu teguran!" tukas Ramanda tak acuh. Dia membuang muka sambil melipat tangan di dada.
"Udah... kalian itu kalau ketemu nggak pernah bisa diam," komentar Elsa yang dapat menyaksikan keakraban Zafran dan Ramanda. Dia mendekat dan mengusap puncak kepala Zafran.
"Ya ampun, Zaf. Kamu tuh makin ganteng aja. Anak-anaknya teman Tante pada banyak yang tahu sama kamu loh," ujar Elsa.
"Yang benar, Tante?" tanya Zafran tak percaya.
"Iya, banyak yang tanya kamu udah punya pacar apa nggak. Kamu mau dijodohin sama anak-anak mereka," jelas Elsa.
"Mana ada Zafran punya pacar, Mah." Ramanda menjawabkan pertanyaan dari Elsa.
"Iyalah. Aku ini kan cowok baik-baik. Makanya belum punya pacar sampai sekarang. Maunya dapat cewek yang tepat aja gitu," ucap Zafran sembari memasukkan dua tangan ke saku celana.
"Ish! Lebay banget." Ramanda berkomentar. Raut wajahnya terkesan sinis.
"Kenapa? Mau daftar jadi pacar gue juga?" Zafran menanggapi komentar Ramanda. Tangannya sigap merangkul pundak gadis tersebut.
"Iih... apaan sih!" Ramanda bersikap seolah marah. Tetapi dia tidak bisa menahan senyuman di wajahnya.
Elsa terkekeh menyaksikan keakraban Zafran dan Ramanda. Dia segera menghampiri Raffi, Gamal, dan Zara.
"Hubungan anak kita kayaknya agak mencurigakan tuh," celetuk Elsa.
"Mereka cocok banget. Kalau dinikahin hubungan kita bukan lagi sebagai teman, tapi besan," tanggap Zara sembari merapikan gelas yang ada di meja.
"Mereka dari dulu memang begitu kali." Raffi mengungkapkan pendapatnya.
"Iya, tapi bukan berarti hubungan mereka nggak bisa kayak lo sama Elsa dulu," sahut Gamal.
"Aku nggak masalah sih sama itu. Aku percaya, kau pasti mendidik Zafran dengan baik. Mengingat masa muda kita yang parahnya kebangetan." Raffi geleng-geleng kepala saat teringat dengan masa mudanya dulu.
"Kamu harusnya nggak melarang Ramanda pacaran, Raf." Gamal memberi masukan kepada Raffi.
"Memangnya kau bolehin Zafran pacaran?"
__ADS_1
"Bolehin kok. Makanya aku selalu tanya ke dia. Tapi katanya belum punya pacar. Padahal kalau udah punya, aku pengennya dia kenalin pacarnya ke aku sama Zara," jelas Gamal. Dia berniat menjadi orang tua yang baik untuk sang putra.