Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 47 - Bersaing Jadi Ketos


__ADS_3

...༻⊚༺...


Kini Zafran berada di mobil Faisal. Dia terpaksa menumpang karena ditinggal oleh Ramanda.


Zafran duduk di kursi belakang bersama Resti. Dia terus berusaha menatap ke arah Lika. Gadis itu duduk di kursi yang ada di sebelah Faisal.


Hal serupa juga dilakukan Lika. Dia beberapa kali melirik Zafran melalui kaca spion.


Tanpa sepengetahuan Zafran dan Lika, Resti memperhatikan. Cewek tersebut menyadari kalau ada sesuatu. Meskipun begitu, Resti memilih bungkam. Dia yang tahu perasaan Faisal terhadap Lika, tahu harus bagaimana. Resti akan bicara saat hanya berduaan dengan Lika.


Orang yang pertama di antar ke rumah adalah Zafran. Ia tidak lupa berterima kasih kepada Lika. Padahal orang yang memberinya tumpangan adalah Faisal.


Zafran dan Lika bicara melalui tatapan. Setelahnya, barulah mereka berpisah.


Kini Zafran menghela nafas panjang. Lalu melangkah memasuki rumah. Ia langsung ke kamar mandi.


Keesokan harinya, ketika Zafran hendak sarapan, dia mendapat kabar perihal Ramanda. Cewek itu katanya sedang sakit.


"Bunda nggak usah bohong. Orang kemarin dia baik-baik aja," cetus Zafran sambil mengoles roti dengan selai.


"Jadi kau bilang Bunda bohong? Nggak percaya gitu? Kalau mau bukti ya tanya sendiri sama Ramanda," balas Zara. Keningnya mengernyit dalam.


Zafran memajukan bibir bawahnya. Dengan malas dia mengambil ponsel dan mencoba menelepon Ramanda. Sayangnya cewek itu tidak mengangkat panggilan Zafran.


Bahu Zafran menggedik tak acuh. Dia yakin Ramanda akan menelepon balik seperti biasa.


"Gimana?" tanya Zara.


"Nggak diangkat." Zafran menjawab singkat.


"Kalian berantem ya?" Gamal ikut masuk ke dalam pembicaraan.


"Enggak kok. Aku tuh nggak pernah berantem serius sama Ramanda," tepis Zafran sembari mengibaskan tangan ke depan wajah. Dia melahap roti dalam satu lahapan saja. Kemudian menggunakan susu untuk menelan semuanya.


"Ya ampun, Zaf! Pelan-pelan makannya. Kayak orang kerasukan," tegur Zara yang cemas.


Zafran tidak bisa menyahut karena mulutnya dipenuhi makanan. Dia mengambil tas dan tiba-tiba melayangkan ciuman ke pipi Gamal. Ayah kandung Zafran itu otomatis tersentak. Sebab sang putra tidak pernah berbuat begitu sebelumnya.


"Kamu mau apa, hah?! Kau pikir Papah nggak tahu makna ciuman tadi?" timpal Gamal. Membuat Zafran tidak kuasa membendung senyuman.

__ADS_1


Tangan Zafran mengusap tengkuk tanpa alasan. Ia berkata, "Mobil, Pah... aku susah banget kalau pakai sopir. Jemputnya telat mulu."


"Ish! Bilang aja mau kelayaban sana-sini!" cerocos Zara.


"Enggak. Aku nggak pernah kelayaban kok. Ke klub malam aja nggak pernah. Tapi kalau misalnya dibolehin, aku..."


"Enggak!" Gamal dan Zara menyerukan satu kata bersamaan.


Kali ini Zafran terkekeh sambil memutar bola mata. Hingga muncul ide cemerlang dibenaknya. Seringai lantas terukir diwajahnya.


"Oke. Kalau aku nggak dibolehin pakai mobil sendiri, aku akan ikut teman dan ngajak mereka ke klub malam. Tapi jika mau aku tidak pergi, Bunda sama Papah harus kembaliin mobilku." Zafran menatap Gamal dan Zara secara bergantian. Kedua orang tuanya itu reflek saling bertukar pandang.


Kala Zara memberi anggukan kepala, maka Gamal segera menatap Zafran. Dari pada melihat putranya pergi ke klub malam, lebih baik dia membiarkan Zafran kembali menggunakan mobil.


Zafran senang tidak ketolongan. Dia langsung mengambil kunci yang disodorkan Zara. Lalu berlari cepat melewati pintu keluar.


Gamal geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zafran. "Anakmu tuh!" ucapnya seraya melirik Zara.


"Anakmu juga!" sahut Zara sambil beranjak dari meja makan. Namun tangan Gamal sigap menghentikan. Lelaki itu berdiri dan segera berbisik, "Gimana kalau kita aja yang ke klub malam?"


Plak!


...***...


Zafran baru saja tiba di sekolah. Puluhan murid langsung menyambut saat dia keluar dari mobil. Hal itu sukses membuat Zafran bingung. Mengingat sambutan tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Lihat! Kandidat ketos kita datang..." tegur Ervan sembari merangkul Galih yang menunjukkan ekspresi datar.


Zafran menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau dirinya sudah terdaftar sebagai kandidat ketua osis.


"Lo siapin apa biar bisa ngalahin Lika?" tanya Ervan.


Zafran tersenyum kecut. Dia hanya bertukar pandang dengan Galih yang kebetulan sudah tahu semuanya.


"Biasa aja. Gue nggak siapin apa-apa." Zafran terkesan santai. Dia berjalan lebih dulu menuju gerbang sekolah.


"Kenapa? Nanti kalah loh. Gue dengar, Lika lagi siapin banyak hal biar bisa menang," imbuh Ervan. Berlagak seolah apa yang dikatakannnya benar.


"Nggak usah sok tahu." Zafran mendorong dahi Ervan. Dia tentu tidak mempercayai omongan temannya itu.

__ADS_1


Dari kejauhan, Zafran melihat banyak murid bergerombol di sekitar lapangan indoor. Dia dan teman-temannya penasaran. Mereka bergegas melihat apa yang terjadi.


Semua pasang mata tertuju ke arah Zafran. Kehadiran cowok tersebut seakan seperti malaikat pencabut nyawa. Bagaimana tidak? Gerombolan orang yang diterobos oleh Zafran merupakan para pendukung Lika.


"Lo ngapain ke sini?" tukas seorang siswa kelas sepuluh. Ucapannya tidak digubris oleh Zafran sama sekali.


Dari jarak beberapa meter, Lika tengah sibuk membagikan bingkisan. Posisinya sedang dikerumuni banyak murid. Jadi Zafran tidak bisa langsung menemukan keberadaannya. Bahkan sebaliknya.


Orang yang pertama kali tahu kehadiran Zafran justru adalah Nadia. Dia menyenggol Lika dengan siku dua kali.


"Lik! Ada Zafran!" ucap Nadia dengan nada penuh penekanan.


Kelopak mata Lika seketika melebar. Dia menelan salivanya sendiri. Kebetulan Lika memang sengaja merahasiakan strateginya untuk menjadi ketua osis.


Sejujurnya Lika ingin mendiskusikan banyak hal tentang pelajaran dan ketua osis. Tetapi akibat kejadian di taman bermain kemarin, Lika harus berpikir dua kali untuk angkat suara.


"Ngapain lo ke sini?!" timpal Lika.


"Terserah gue dong. Lagian ini tempat umum!" balas Zafran. Dia terdiam sejenak dan melanjutkan, "ternyata gini ya cara lo. Licik banget. Kenapa nggak guru aja sekalian dikasih ginian!" Zafran merampas bingkisan Lika dari tangan seorang siswa. Lalu melemparnya ke bak sampah.


"Mending gue-lah! Dari pada lo yang kerjaannya cuman mainin bola di lapangan!" tanggap Lika. Dia segera membuang muka.


Karena tidak mau pertengkaran terus berlanjut, Zafran segera beranjak. Dia pergi dengan di iringi oleh Ervan dan Galih.


Tangan Zafran diam-diam mengambil ponsel ke saku celana. Dia menyuruh Lika untuk bertemu di belakang sekolah.


Setibanya di depan kelas, Galih menghentikan pergerakan kaki Zafran. Dia memutar tubuh cowok itu agar bisa menghadapnya.


"Hubungan lo sama Lika emangnya gimana sih? Gue bingung lihatnya tahu nggak!" ujar Galih dengan nada pelan. Hingga orang-orang di sekitar tidak dapat mendengar.


Sebelum bicara, Zafran menoleh ke kiri dan kanan. Dia mendekatkan mulut ke telinga Galih.


"Kan gue udah bilang kalau hubungan pacaran kami itu rahasia terbesar. Andai banyak orang tahu, maka otomatis keluarga kami juga akan tahu..." desis Zafran.


"Jujur, gue capek lihatnya. Emang kalian nggak capek?" tanya Galih.


"Ya capeklah! Gue sama Lika nanti pasti butuh bantuan lo." Zafran menepuk pelan pundak Galih. Dia masuk ke kelas dan meletakkan tas ke meja. Zafran buru-buru menemui Lika.


Saat dalam perjalanan ke belakang sekolah, Zafran mendapat telepon dari sang ibu. Dia diberitahu kalau Ramanda sudah dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Langkah Zafran sontak terhenti. Matanya membelalak. Dia tidak menyangka Ramanda sakit sampai separah itu.


__ADS_2