
...༻⊚༺...
"Lo jangan bicara omong kosong. Gue nggak akan percaya semudah itu! Kebencian Lika sama lo itu jelas banget tahu nggak. Lo pun sama!" tukas Galih tak mau percaya.
Zafran memutar bola mata jengah. Dia menghela nafas panjang. Pernyataan Lika memang sulit dipercaya.
Niat Zafran bicara dengan Galih hanya berusaha untuk menemukan solusi. Akan tetapi menyaksikan respon Galih yang terkesan tidak percaya, membuat Zafran urung memberi penjelasan lebih lanjut.
"Lupain aja! Lo nggak guna banget jadi teman." Zafran memilih menyimpan masalahnya sendiri.
"Tunggu, tunggu. Jangan-jangan lo yang suka sama Lika? Lo haluin dia kan?" tebak Galih yang malah membuat rasa kesal Zafran kian memuncak.
"Udah, udah! Sana balik ke kantin gih!" hardik Zafran tak peduli.
"Astaga... benar tebakan gue. Lo pasti beneran suka sama--"
"Ya ampun! Bacot banget lo!" Zafran dengan cepat membekap mulut Galih yang tidak berhenti berceloteh. "Pokoknya lupain apa yang gue omongin tadi!" titahnya menegaskan.
Galih menjauhkan tangan Zafran dari mulut. Lalu berucap, "Lo kalau suka sama Lika. Mending tembak aja langsung. Gue penasaran gimana--"
"Lo bisa diam nggak?! Diam! Nggak ngerti bahasa Indonesia?!" Zafran sekali lagi membungkam mulut Galih dengan telapak tangan. Dia juga tidak lupa menambahkan tepukan kencang ke kepala temannya tersebut.
Galih hanya bisa mengaduh. Dia mengukir mimik wajah cemberut dan tidak lagi meneruskan perkataannya. Galih lantas kembali ke kantin.
Sementara Zafran, dia menyandarkan punggung ke tembok. Mendongak sambil memejamkan mata. Tanpa sengaja, wajah Lika terbayang dalam benak. Belum lagi harum semerbak dari cewek itu begitu mudah di ingat.
Zafran mencoba tenang. Dia terus mengabaikan kegelisahan. Zafran bahkan mencoba bermain basket agar bisa melupakan Lika. Namun karena gadis itu, Zafran tidak bermain sebaik biasanya.
Saat latihan basket pun Zafran jadi serampangan. Hatinya tidak karuan. Entah kenapa dia sangat ingin bertemu dengan Lika.
Ada perasaan menggebu dihati Zafran. Rasa penyesalan bahkan berkalut. Ia merasa tidak seharusnya berkata kasar kepada Lika. Terlebih dia tega menyebut kata jijik dan najis secara blak-blakan. Padahal sebenarnya Zafran menikmati ciuman dan getaran jantung yang diberikan Lika.
"Zafran! Lo lagi sakit? Permainan lo buruk banget hari ini!" kritik Galih dengan dahi berkerut. Dia mengamati Zafran baik-baik. Hingga terlintas dalam benaknya tentang suatu hal.
"Jangan-jangan ini karena Lik... aduh!" Galih reflek mengerang kesakitan. Sebab Zafran tiba-tiba menginjak salah satu kakinya.
__ADS_1
"Lo bukan teman gue lagi kalau coba-coba bahas cewek itu terus!" ancam Zafran dengan tatapan tajam.
"Galak banget. Oke deh! Tapi nggak perlu sampai siksa gue dong. Sakit tahu..." protes Galih dengan ekspresi wajah mengerucut. Dia terduduk di lantai untuk mengelus kaki yang terasa sakit.
"Sorry, Lih. Sini biar gue pijat." Zafran duduk di hadapan Galih. Menarik kaki temannya itu, kemudian memberikan pijatan tertentu. Namun Galih justru tidak terima. Dia berupaya keras menarik kakinya kembali.
"Jangan, Zaf! Ja-jangan!" tolak Galih sembari meringiskan wajah. Bersiap terhadap serangan pijat Zafran yang lain. Semua orang tahu bagaimana kuatnya tenaga cowok itu.
Bukannya menurut, Zafran malah tambah semangat menggoda Galih. Dia tertawa sambil melepas sepatu Galih. Lalu menggelitiki telapak kaki temannya tersebut. Gelak tawa otomatis muncul dari mulut Galih.
Bersamaan dengan itu, Lika memilih tidak sekolah karena tidak mampu menemui Zafran. Dia bahkan terpikir untuk pindah sekolah. Lika berniat memberitahu keputusannya itu kepada Selia.
Sekarang Lika dan Selia baru menyelesaikan makan siang. Mereka duduk bersebelahan sambil menikmati minuman segar.
Lika mengatakan yang di inginkannya kepada Selia. Dia bicara baik-baik agar tantenya mau setuju.
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Selia. Dia tentu bingung. Sebab selama ini Lika-lah yang selalu menolak untuk pindah sekolah. Tetapi sekarang?
"Aku merasa nggak nyaman terus-terusan ketemu sama anak keluarga Laksana itu." Lika memberikan alasan.
"Nggak kok, Tante. Pokoknya aku nggak mau lagi ketemu atau dengar hal tentang dia. Makanya Tante harus bantu aku buat pindah ke sekolah lain." Lika menggenggam jari-jemari Selia. Memasang tatapan penuh harap.
Selia melembut. Dia mengusap puncak kepala Lika. "Kamu memang anak baik. Sampai rela mengalah buat pindah sekolah," tuturnya yang merasa terharu.
Lika membalas dengan senyuman. Berterima kasih, lalu memeluk Selia.
...***...
Pesta ulang tahun Jia sudah tiba. Zafran datang bersama ketiga temannya. Dia memilih hadir, karena berharap bisa melihat Lika ada di sana.
Pupus sudah harapan Zafran, kala tidak menyaksikan kemunculan Lika. Dia jadi duduk disudut sembari melipat tangan di dada.
"Zaf! Sini! Bentar lagi DJ-nya mainin musik!" ajak Hendra antusias.
Zafran langsung menggeleng. Dia tidak memiliki minat untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Dari arah pintu, Chika dan Nadia terlihat datang. Zafran sontak berdiri. Dia melangkah cepat menghampiri dua teman dekat Lika itu.
"Teman kalian mana? Dia nggak kelihatan selama beberapa hari?" pungkas Zafran.
"Lo nanyain Lika?" Nadia memastikan. Zafran langsung menjawab dengan anggukan.
Chika dan Nadia saling bertukar pandang sejenak. Keduanya menghela nafas dan memberitahu tentang kabar Lika.
"Kenapa? Lo kesepian ya kehilangan musuh? Lo tenang aja, Lika nggak bakalan ganggu lo mulai sekarang," ujar Nadia. Menatap selidik Zafran. Namun yang dilihatnya hanyalah ekspresi lesu.
"Udah, Nad. Zafran pasti senang pas dengar Lika akan pindah sekolah," sahut Chika.
"Pindah?" Zafran dibuat kaget.
"Iya, mungkin Lika lagi pilih-pilih sekolah yang bagus sekarang," ucap Nadia tak acuh.
"Tapi tenang aja, Zaf. Lika mungkin cuman bosan. Orang tajir kayak dia bisa ngelakuin apa aja. Lo pasti tahu kan?" Chika tersenyum tipis. Dia dan Nadia segera beranjak.
Zafran gelagapan. Dia berlari masuk ke dalam mobil. Jantungnya berdebar tidak karuan karena mencemaskan Lika. Entah kenapa dia tidak terima cewek itu pindah sekolah.
Kini Zafran berniat pergi ke rumah Lika. Dia singgah ke pinggir jalan karena mencoba menemukan alamat Lika.
Zafran berinisiaif mencari alamat keluarga Baskara melalui internet. Dia mendapat banyak sekali alamat. Zafran tentu tidak tahu rumah mana yang ditinggali Lika.
"Ini gila sih! Tapi gue nggak punya pilihan!" gumam Zafran sambil mengusap kasar wajahnya. Dia menjalankan mobil ke alamat pertama.
Zafran tiba di tempat tujuan. Dia hanya bertanya kepada satpam komplek yang berjaga. Tetapi sayang, alamat pertama merupakan rumah yang sudah ditinggali orang lain.
"Oke, alamat selanjutnya." Zafran mendengus kasar. Dia melakukan pencarian sampai mendatangi tiga buah rumah lebih.
Saat tiba di rumah ke-lima, barulah Zafran menemukan kediaman Lika. Sekarang dia bingung harus bagaimana menemui gadis itu.
Zafran tidak punya pilihan selain menghubungi lewat media sosial. Dia mengirimkan pesan pribadi. Memberitahukan kalau dirinya sudah di depan rumah.
"Astaga, kenapa nggak kepikiran dari tadi coba? Bodoh banget gue!" Zafran tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Dia menepuk jidatnya berkali-kali. Harusnya sejak tadi dia mengirim pesan kepada Lika.
__ADS_1