Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 55 - Hot Kiss


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika telah tiba di apartemen. Dia menunggu di depan pintu sambil menyandar ke dinding. Terus berusaha mengirim pesan untuk Zafran. Berharap cowok itu segera menanggapi.


Di sisi lain, Zafran sengaja mematikan ponsel. Dia tidak mau berurusan dengan Lika. Zafran benar-benar marah terhadap apa yang dilakukan gadis itu. Kini tujuannya adalah apartemen yang baru dibelinya tempo hari.


Zafran ingin menyendiri. Ia yakin tempat baru yang dipilihnya akan membuat pikirannya tenang. Zafran juga yakin kalau tidak akan ada orang yang mengganggu di sana.


Pintu lift perlahan terbuka, memperlihatkan Lika yang sudah lama menunggu. Cewek itu langsung menghampiri.


Zafran buru-buru menutup pintu lift. Dia menekan tombol berkali-kali agar pintu lift dapat terututup lebih cepat.


"Zafran! Maafin aku!" seru Lika. Dia berlari secepat mungkin. Untung saja dia mampu menggapai pintu lift. Hingga dirinya bisa berdiri berhadapan dengan Zafran.


"Apa?! Mau gampar muka gue lagi?!" timpal Zafran.


"Maaf..." lirih Lika sembari memegangi wajah Zafran. Lalu membelai lembut paras tampan tersebut.


"Pergi nggak?! Gue bukan siapa-siapa lo kan?!" hardik Zafran. Dia menjauhkan tangan Lika dari wajahnya.


Zafran membuang muka. Dia berjalan keluar dari lift. Berniat masuk ke apartemen dan meninggalkan Lika.


"Zafran... aku bisa jelaskan. Aku tuh cuman belum siap buat go publik. Aku juga nggak menyangka kamu bakalan ngomong begitu di depan orang banyak. Plis maafin aku..." mohon Lika seraya mengekori Zafran dari belakang.


Zafran tidak menggubris ucapan Lika. Ia hanya fokus membuka pintu apartemen


Ketika pintu telah terbuka, Zafran segera bergerak untuk masuk. Lika tentu tidak membiarkan. Dengan cepat gadis itu menghentikan Zafran.


Lika memeluk erat Zafran dari belakang. Upayanya berhasil membuat Zafran berhenti.

__ADS_1


"Kasih aku kesempatan..." Lika memohon sekali lagi. Dia perlahan melepas pelukannya. Kemudian menyuruh Zafran bergerak menghadapnya.


Raut wajah Zafran masih tampak cemberut. Dia bahkan malas membalas tatapan Lika.


"Lihat aku, Zaf." Lika memaksa Zafran untuk menatapnya.


"Hari ini aku memang keterlaluan banget. Terutama dibagian pas aku tampar wajahmu. Itu pasti hal yang bikin kau marah banget." Lika mendekatkan paras cantiknya ke wajah Zafran. Hidung mancung keduanya lantas saling bersentuhan.


"Bukan itu saja. Lo bahkan lebih pilih Ari dibanding gue. Kalau mau balikan sama dia lakukan aja!" sahut Zafran.


"Enggak. Satu-satunya cowok yang mau aku pacarin itu cuman kamu," ungkap Lika. "Jadi aku akan bayar tamparan tadi dengan sesuatu," sambungnya.


"Bayar?! Maaf, Lik. Gue udah punya segalanya. Tamparan itu nggak bisa dibayar--" ucapan Zafran terhenti, saat Lika meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.


"Mungkin bisa. Dengan ini," ujar Lika. Tanpa basa-basi, dia langsung mengecup singkat bibir Zafran.


Suara kecupan serta sentuhan yang diberikan Lika, sukses membuat Zafran terkesiap. Cewek itu tersenyum menyaksikan Zafran.


"Bayarannya belum cukup," kata Zafran.


Kini Lika yang terkesiap. Namun tidak berlangsung lama, karena dia tersenyum dan segera memberi ciuman kedua. Kali ini ciuman Lika lebih lama dibanding yang pertama.


Zafran tidak menolak. Dia malah menarik tangan Lika. Agar badan pacarnya tersebut dapat dipeluk olehnya.


Di waktu yang tepat, Lika melepas tautan bibirnya dari Zafran. Mencoba menjauhkan diri secara perlahan. Akan tetapi Zafran tidak membiarkan.


"Masih belum cukup," cegat Zafran. Satu tangannya begerak untuk menutup pintu.


Lika reflek menoleh, saat mendengar suara pintu tertutup. Selanjutnya, dia kembali menatap Zafran.

__ADS_1


"Hanya ciuman. Tidak lebih dari--"


"Siap!" potong Zafran. Dia yang sudah tidak sabar, menyambar bibir Lika dengan antusias.


Seperti biasa, tenaga Zafran selalu membuat Lika terdorong ke belakang. Posisinya sekarang tersudut ke dinding.


Mata Lika terbuka lebar tatkala merasakan ciuman Zafran terasa lebih liar. Entah kenapa Lika justru menyukainya.


'Mungkin inilah yang disebut hot kiss,' batin Lika. Ia menutup matanya lagi.


Nafas Zafran dan Lika mulai memburu. Keduanya sesekali memiringkan kepala agar bisa leluasa berciuman. Deguban jantung serta sensasi kupu-kupu yang beterbangan di perut begitu candu.


Entah sudah berapa lama Zafran dan Lika berciuman. Yang jelas mereka masih belum mau berhenti.


Dering ponsel Lika yang mendadak berbunyi, akhirnya mampu membuat kegiatan ciuman terhenti. Lika bergegas memeriksa panggilan dari Selia tersebut. Jujur saja, nafasnya dan Zafran masih tersengal-sengal.


"Kamu kemana? Kenapa jam segini belum pulang?" tanya Selia dari seberang telepon.


"Aku..." Lika bingung harus menjawab apa. Dengusan nafasnya yang bergerak lebih cepat, dapat terdengar jelas oleh Selia.


"Kamu kenapa ngos-ngosan gitu? Kau baik-baik saja kan?" Selia terdengar cemas.


"Bilang aja lagi latihan olahraga..." bisik Zafran memberi usul. Lika lantas mengangguk dan memakai usulan Zafran sebagai alasan.


Panggilan berakhir ketika Selia menjadi orang yang lebih dulu mengakhiri panggilan. Lika mendengus lega. Dia memperhatikan tangan Zafran yang masih melingkar dipinggul. Dada cowok itu juga menempel ke bagian depan tubuhnya.


Senyuman Lika mengembang simpul. Setelah ciuman tadi, dia merasa semakin mencintai Zafran. Rasanya Lika tidak mau jauh-jauh lagi dari cowok tersebut.


Hal serupa juga dirasakan Zafran. Mulai hari itu, hubungannya dan Lika semakin serius.

__ADS_1


__ADS_2