Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 56 - Hinaan Selia


__ADS_3

...༻⊚༺...


Apartemen benar-benar menjadi tempat pertemuan Zafran dan Lika. Mereka berniat rutin bertemu di sana.


Kini Lika dan Zafran mencoba mengisi kegiatan dengan cara belajar. Lika mengajari Zafran tentang rumus Matematika. Namun cowok itu sama sekali tidak mendengarkan. Dia lebih tertarik memandangi Lika dengan penuh kekaguman. Satu hal yang pasti, rumus-rumus Matematika tidak bersarang sedikit pun di kepalanya.


"Jadi gitu caranya. Udah ngerti..." Lika menjeda ucapannya saat berhasil memergoki Zafran tidak memperhatikan buku. Tangan Lika sontak melayang ke pipi Zafran.


Plak!


"Aduh!" Zafran reflek memegangi pipinya. Ia hanya bisa membelalakkan mata tak percaya.


"Aku udah jelasin satu jam loh. Satu jam!" Lika mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah. Dia menggertakkan gigi karena usahanya berakhir sia-sia.


"Sorry, Lik. Lagian kau lebih menarik dibanding rumus-rumus itu," sahut Zafran sembari merekahkan senyuman polos. Seperti seorang anak kecil yang tak mengenal kesalahan.


"Sempat-sempatnya gombal lagi. Nih rasain!" Lika menjewer telinga Zafran. Sampai cowok tersebut mengerang kesakitan.


"Kalau marah tenagamu ampuh banget tahu nggak!" cetus Zafran. Lika baru saja melepaskan jewerannya.


"Emang! Makanya jangan bikin aku marah!" balas Lika. Dia menutup buku dengan mimik wajah cemberut. Kemudian memasukkan semua buku ke dalam tas ransel.


"Udah mau pulang? Mager dulu lah," ujar Zafran dengan dahi yang berkerut samar.


"Aku tahu niatmu itu mesum. Kagak! Aku nggak mau ciuman terus tiap hari!" tolak Lika. Sebelum Zafran memberikan serangan ciuman seperti biasa.


"Dih! Sok-sokan. Padahal sendirinya juga suka kan?" Zafran menyenggol Lika dengan siku. Tersenyum menggoda sambil menggerakkan alisnya dua kali.


"Enggak!" jawab Lika ketus. "Aku pulang naik taksi aja," lanjutnya. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.


Zafran menarik sudut bibirnya ke atas. Dia mengambil tas ransel beserta kunci mobil. Kemudian buru-buru mengejar Lika.


"Ya udah... lain kali aku bakalan perhatikan penjelasanmu. Tadi tuh aku nggak bisa fokus karena kamu lebih cantik dibanding rumus-rumus Matematika." Zafran berucap seraya menyamakan langkahnya dengan Lika. Kebetulan mereka sudah sama-sama berada di luar apartemen.


Lika berdecak kesal. "Bohong! Aku nggak percaya. Bilang aja emang nggak niat belajar," tanggapnya. Dia dan Zafran baru masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Kasih aku kesempatan kedua. Oke? Aku aja kemarin udah kasih kamu kesempatan. Masa aku enggak." Zafran mengedipkan matanya dua kali. Dia lagi-lagi mengeluarkan ekspresi memelas agar Lika berubah pikiran.


Lika mendengus kasar. Ia menatap malas ke arah Zafran. "Ya udah... tapi kalau sekali lagi begitu, jangan harap aku mau ngajarin kamu lagi!" tegasnya memperingatkan.


"Makasih ya, sayang..." Zafran merangkul Lika. Memberikan kecupan singkat ke puncak kepala gadis tersebut.


Lika masih menunjukkan raut wajah datar. Tetapi karena rangkulan hangat Zafran, senyuman tipis mengembang di wajahnya. Dua tangan Lika perlahan melingkar ke pinggang Zafran.


"Besok giliranmu yang ngajarin aku olahraga," imbuh Lika.


"Ah! Itu gampang." Zafran mengeratkan rangkulannya. Ia dan Lika segera beranjak saat pintu lift terbuka.


Sebelum pulang, Lika meminta singgah ke supermarket sebentar. Kebetulan ada sesuatu yang ingin dibelinya.


Zafran dan Lika melangkah berbarengan. Keduanya sepakat untuk tidak berpegangan tangan. Semua itu demi tidak menimbulkan masalah tak terduga seperti biasa. Keduanya sudah kapok bermesraan di tempat umum.


Zafran dan Lika bahkan sengaja berjalan memisah. Meskipun begitu, keduanya selalu menyempatkan diri untuk saling melirik.


"Aku ke sana bentar ya. Mau cari sesuatu," ucap Zafran. Setelah melihat Lika mengangguk, dia segera pergi.


Jujur saja, Zafran berusaha keras menyembunyikan kebiasaan merokoknya. Ayah dan ibunya tentu akan marah besar jika mengetahui Zafran sering merokok. Terutama ketika berada di lingkungan sekolah.


"Beli yang magnum dua bungkus." Zafran memesan rokok pada kasir.


Tanpa diduga, dari belakang Zafran ada Selia. Wanita itu berhenti sejenak. Memperhatikan Zafran dari ujung kaki sampai kepala. Memasikan anak berseragam SMA di depannya merupakan keturunan dari keluarga Laksana.


Selia semakin terperangah tatkala menyaksikan Zafran membeli rokok. Dia lantas tersenyum miring. Kemudian melangkah ke samping Zafran.


"Lihat apa yang kutemukan," sindir Selia. Tanpa menoleh ke arah Zafran.


Melihat kemunculan Selia, jantung Zafran serasa disambar petir. Matanya membola. Lalu bergegas menyembunyikan rokok yang sudah dibeli.


Zafran juga terlihat gelagapan menengok ke kiri dan kanan. Memastikan Lika tidak ada di sekitar. Untung saja kekasihnya itu tidak terlihat sama sekali.


"Kau tidak perlu menyembunyikannya. Aku sudah melihat benda yang kau beli itu," ujar Selia.

__ADS_1


Zafran membisu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sebab Selia terlanjur menangkap basah dirinya.


"Kau tenang saja. Aku sangat memahami kebiasaanmu itu. Dasar anak haram." Selia kembali berucap. Namun kali ini ucapannya disertai penghinaan yang sukses membuat mata Zafran mendelik.


"Maksud Tante?" Zafran menuntut penjelasan.


Selia tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia yang tadinya enggan menoleh, akhirnya mampu menatap Zafran. "Semua orang tahu kalau kau adalah anak haram. Begitu pun adikmu. Kedua anak Gamal dan Zara tidak ada yang lahir dengan benar. Kalau aku jadi kakekmu, aku tidak akan menyerahkan harta warisan pada keturunan seperti itu," sindirnya.


Mata Zafran membuncah hebat. Ia mengeratkan rahang dan sepenuhnya memutar badan menghadap Selia. Zafran tidak habis pikir, orang dewasa seperti Selia tega berkata begitu di depan umum. Terlebih mereka sekarang ada di depan meja kasir. Otomatis ada banyak orang yang mendengar.


"Tante boleh ya menghina aku sepuasnya! Tapi aku nggak akan tinggal diam kalau nama keluargaku juga terseret!" Zafran tersungut amarah.


"Apa?! Memangnya kamu mau apa?!" Selia justru menantang. Dia bahkan berkacak pinggang sambil membalas pelototan Zafran.


Dari kejauhan Lika dapat menyaksikan yang terjadi. Tanpa pikir panjang, dia bergegas menghentikan Selia.


"Tante udah! Kita dilihatin banyak orang." Lika mencoba menenangkan sang tante.


"Lika? Kamu di sini juga?" atensi Selia sontak teralih. Dia fokus menatap pakaian Lika. Keponakannya tersebut masih mengenakan seragam sama seperti Zafran.


"Aku cuman beli barang-barang kebutuhan. Cemilan yang ada di rumah pada habis." Lika memberi alasan apa adanya.


Selia menatap penuh selidik. Keadaan tenang daam sekejap. Tetapi tidak berlangsung lama. Sebab Zafran mendadak angkat bicara.


"Tante tadi tanya aku mau apa kan?" ujar Zafran. Membuat Lika dan Selia menoleh ke arahnya.


"Gimana kalau aku ambil Lika dari Tante." Zafran menarik tangan Lika. Dia segera melingkarkan satu tangan ke pinggul cewek itu. "Tante bisa terima kenyataan kalau kami pacaran nggak? Keponakan Tante ini sama sekali tidak masalah berpacaran sama anak haram. Iyakan, Lik?" ungkapnya blak-blakkan.


Kini jawaban ada di tangan Lika. Zafran ingin menyaksikan keputusan gadis tersebut.


..._____...


Catatan Author :


Oke guys, kita udah masuk ke konflik akhir.

__ADS_1


Menurut kalian Lika pilih siapa? Zafran atau Selia?


__ADS_2