
...༻⊚༺...
Bus berhenti dengan pelan. Tepat di restoran yang lokasinya berdekatan dengan wisata air terjun.
Lika duduk di dekat Fatih. Membuat cowok itu otomatis merasa senang. Sebenarnya Lika hanya tidak punya pilihan. Dia tidak mau mendengar celotehan Keyla dan Ayu yang terasa menyebalkan.
"Pak Surya tahu banget sih kalau kita butuh makan di tempat begini," celetuk Lika sembari mengambil buku menu. Lalu melihat daftar makanan yang tersedia.
"Bukan Bapak yang bawa kalian ke sini, tapi Zafran. Dia yang traktir kita makan siang sekarang." Pak Surya menyahut.
"Waah... yang benar, Pak? Huaaa... kapan lagi coba kita bisa dapat traktiran makan dari Zafran." Ayu selalu merespon positif setiap tindakan Zafran.
"Gila sih, Zafran traktirnya nggak tanggung-tanggung. Makanan di tempat kayak gini mahal banget," ungkap Keyla. Dia memeriksa harga makanan yang ada di daftar menu.
Mendengar pembicaraan semua orang, Lika langsung menghempaskan buku menu ke meja. Dia mendelik ke arah Zafran yang terlihat sibuk mengambil minuman segar.
'Itu orang kenapa sih? Secara nggak langsung dia bilang kalau gue lebih miskin! Dasar kampret!' geram Lika dalam hati.
Satu per satu semua orang sudah memesan makanan. Kecuali Lika. Dia terlihat asyik bermain ponsel.
"Kamu nggak makan, Lik?" tanya Bu Ratih.
"Kebetulan aku nggak lapar. Udah banyak makan kudapan tadi kayaknya," jawab Lika sambil memegangi perut. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Beneran? Bukannya tadi katanya lapar?" Fatih memastikan. Setahunya Lika hanya sarapan dengan roti.
"Kan gue udah bilang, kalau gue kebanyakan makan kudapan." Lika bersikeras. Dia hanya tidak sudi menyuap makanan hasil dari penghinaan Zafran terhadapnya. Setidaknya begitulah anggapan cewek itu.
"Nanti kalau sakit perut jangan salahkan Bapak ya," tukas Pak Surya sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah Lika.
"Udah biarin, Pak. Aku tetap pesankan makanan buat Lika kok. Terserah dia mau makan apa nggak," ujar Zafran. Dia baru saja datang. Langsung bertukar tatapan tajam dengan Lika.
"Cih! Jangan harap gue sudi mau makan itu," balas Lika. Dia beranjak dari meja makan.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Surya. Tepat sebelum Lika terlanjur keluar dari restoran.
__ADS_1
"Tenang aja, Pak! Aku mau jalan ke sekitaran sini aja kok!" jawab Lika sembari hendak beranjak meninggalkan restoran.
"Lika! Kamu kalau berani pergi, Bapak nggak akan maafin kamu. Cepat kemari!" perintah Pak Surya yang merasa tidak tahan. Dia tidak mau Lika hilang seperti kemarin.
Lika mendengus kasar. Dia terpaksa kembali dengan berjalan gontai. Gadis itu duduk ke tempat semula.
"Lo tenang aja. Gue nggak kasih racun ke makanan lo kok!" kata Zafran sembari mengangkat satu alisnya.
"Cih! Siapa yang mau makan makanan dari traktiran lo. Gue bayar sendiri!" tegas Lika. Dia segera mengambil buku menu dan memesan makanan secara terpisah.
"Mereka mulai lagi deh, Pak. Gimana?" senggol Pak Rendi. Berbisik ke telinga Pak Surya.
"Udah... biarin aja. Aku udah capek," sahut Pak Surya. Dia sudah kewalahan mengurus para muridnya. Beliau hanya ingin mengisi perut dengan makanan mahal traktiran Zafran.
...***...
Selepas makan siang, barulah Lika dan kawan-kawan berkunjung ke wisata air terjun. Sebuah tempat sejuk nan menyenangkan.
Sebagian besar banyak yang bermain air. Bahkan ada yang mandi. Hanya Lika dan Zafran yang enggan bercebur ke sungai.
Jujur saja, Lika punya alasan tidak masuk ke air. Ia tidak bisa berenang. Entah kenapa dirinya selalu tidak pandai dengan dunia olahraga. Padahal Lika sudah beberapa kali berusaha belajar. Tetapi usahanya selalu saja gagal. Hingga akhirnya Lika memilih menyerah.
Lama-kelamaan Lika merasa bosan. Ia akhirnya berdiri dan menjelajah ke pinggiran sungai. Lika bermain-main sendiri. Meloncat dari batu ke batu.
Sementara Zafran, dia sibuk menjelajah demi mendapatkan koleksi foto. Cowok itu memasuki area yang cukup sepi. Zafran mengambil foto hewan-hewan yang tidak pernah ditemuinya saat di kota.
Sesekali Zafran akan mencuri beberapa kegiatan turis yang berkunjung. Ia merekahkan senyuman ketika mendapat foto yang bagus.
Lelah berjalan terlalu jauh, Zafran memutuskan kembali ke tempat rombongan berkumpul. Ia sudah puas bermain dengan kameranya.
Dari kejauhan, Zafran bisa melihat kemunculan Lika. Gadis itu berdiri di sebuah batu besar. Lika tampak memejamkan mata sambil mendongakkan kepala. Ia menikmati udara segar yang ada di sekitar.
Zafran tersenyum licik. Niat jahilnya seketika muncul. Zafran berjalan mengendap-endap. Kebetulan posisi Lika berdiri membelakanginya.
Saat berhasil mendekat, Zafran langsung berteriak.
__ADS_1
"Duaaarrr!!!" pekikan Zafran sukses membuat Lika tersentak kaget. Cewek itu reflek membuka mata serta melangkah mundur. Ia sempat terhuyung.
Zafran sigap memegangi. Dia terkejut Lika nyaris jatuh karena teriakannya.
"Jangan sentuh gue!" tolak Lika. Dia sigap melepas cengkeraman tangan Zafran. Hingga tanpa sengaja, kakinya memijak udara. Lika sontak jatuh ke sungai. Kali ini Zafran tidak bisa membantu lagi.
"Astaga... udah di tolongin juga. Jadi jatuh sendiri kan," ujar Zafran santai. Dia yakin, Lika pasti pandai berenang. Terlebih gadis itu dikenal berasal dari keluarga kaya raya. Kolam renang pribadi pasti ada di rumahnya.
"Tolong... gue nggak bisa berenang!" teriak Lika sambil berusaha naik ke permukaan air. Itu tentu tidak mudah untuk orang yang tak bisa berenang.
"Elaah... sempat-sempatnya mau ngerjain gue. Cara lo mempermainkan gue makin unik ya," komentar Zafran yang masih berdiri dengan tenang.
"Tolong... eummphh..." Lika sudah kewalahan bertarung dengan air. Tubuhnya tidak bisa mengatasi.
Ekspresi Zafran berubah, saat keadaan Lika kian serius. Apalagi ketika wajah gadis itu sudah tidak muncul ke permukaan.
"Gila! Lo beneran nggak bisa berenang!" ujar Zafran panik. Dia langsung masuk ke air untuk menyelamatkan Lika.
Zafran yang ahli berenang, dapat dengan mudah menggapai Lika. Dia membawa tubuh gadis tersebut keluar dari air. Meletakkannya ke bebatuan di pinggir sungai.
Nafas Zafran tersengal-sengal. Tubuhnya basah kuyup seperti Lika.
Tanpa pikir panjang, Zafran segera melakukan aksi pertolongan pertama. Dia menekan dada Lika berkali-kali. Kemudian memberikan nafas buatan melalui mulut.
"Gue nggak akan anggap ini sebagai ciuman pertama!" ungkap Zafran. Tepat sebelum bibirnya menyentuh mulut Lika.
Setelah memberikan satu kali nafas buatan, Zafran kembali menekan dada Lika. Entah kenapa atensinya terus tertuju ke bibir Lika.
Akibat Lika tidak kunjung bangun, Zafran harus memberikan nafas buatan kedua. Bibirnya dan bibir Lika kembali bertemu.
Bertepatan dengan itu, Lika tersadar. Matanya langsung terbelalak. Mengingat bibirnya sedang bersentuhan dengan mulut Zafran.
Karena tak bisa menahan, Lika langsung terbatuk dan mendorong Zafran. Ia merubah posisi menjadi duduk. Mulutnya memuntahkan cukup banyak air.
Lika melayangkan pelototan kepada Zafran. Kemudian menampar wajah cowok itu. Perbuatannya berhasil membuat Zafran terperangah.
__ADS_1