Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 34 - Berbunga-Bunga


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran yang sedang dalam perjalanan pulang, tidak berhenti mengembangkan senyum. Dia merasa sangat bahagia. Sesekali cowok itu menghembuskan nafas melalui mulut. Saking bersemangatnya, keringat panas dingin sampai mengalir di tubuhnya.


"Gini ya rasanya dapat cinta yang terbalas." Zafran bergumam senang.


Di saat tak terduga, dering di ponsel Zafran bergema. Cowok itu lantas memeriksa. Dia menerima panggilan telepon dari Ramanda.


Senyuman lepas masih mengembang di wajah Zafran. Ia langsung menjawab telepon Ramanda.


"Zaf, bisa ketemu nggak? Lo nggak sibuk kan?" ujar Ramanda.


"Sekarang?" Zafran memastikan.


"Iya! Lo datang ke rumah gue ya..."


"Ya udah, gue langsung ke sana." Zafran yang sedang berada dalam suasana hati bahagia, sama sekali tidak masalah dengan panggilan Ramanda. Dia segera beranjak pergi menggunakan mobilnya.


Sesampainya di tempat tujuan, Ramanda terlihat sudah menunggu di teras rumah. Dia membawa cowok itu naik ke lantai dua.


"Ramanda? Kamu mau bawa Zafran kemana?" tegur Elsa yang kebetulan memergoki putrinya menggenggam lengan Zafran. Menuntun cowok tersebut menaiki tangga.


"Aku cuman mau ngobrol aja sama Zafran di kamar. Kayak biasanya loh, Mah..." jawab Ramanda. Ia dan Zafran berhenti sejenak di salah satu anak tangga.


"Baiklah. Tapi pintunya nggak boleh di tutup. Awas aja!" balas Elsa sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah. Dia mendengus kasar. Elsa tentu tidak akan membiarkan apa yang di alaminya juga terjadi kepada Ramanda.


"Iya, iya..." Ramanda kembali mengajak Zafran melangkah. Hingga keduanya tiba di kamar yang bernuansa kuning dan jingga.


"Kamar lo nggak pernah berubah," komentar Zafran. Dia membiarkan pintu kamar terbuka.


"Tutup aja pintunya!" titah Ramanda.


"Hah? Nanti emak lo marah lagi. Gue nggak mau!" Zafran menggeleng kuat.


"Dih! Gue mau ngomongin sesuatu tahu nggak." Ramanda menepuk bahu Zafran. Kemudian menutup pintu kamar.


"Ngomongin apa? Tentang Rian lagi? Gue udah bilang dia bukan cowok yang baik. Satu-satunya cowok baik itu ya cuman gue!" ucap Zafran seraya berkacak pinggang.


"Kepedean banget lo!" ujung tangan Ramanda terangkat untuk mendorong jidat Zafran. Namun cowok itu sigap menangkis serangan iseng tersebut.

__ADS_1


"Btw, ayo bicara! Gue pengen cepat-cepat pulang!" seru Zafran. Dia tidak seperti biasanya. Sebab selama ini Zafran selalu ingin berlama-lama di rumah Ramanda. Kepergiannya kadang harus dilakukan secara paksa. Tetapi sekarang? Sepertinya hal tersebut tidak berlaku lagi untuk Zafran.


"Lo mau ngapain pengen cepat-cepat pulang? Oh iya, pakaian lo kelihatan rapi banget hari ini." Ramanda menilik penampilan Zafran dari ujung kaki ke kepala.


"Iya... tadi gue datang ke pesta ulang tahun sebentar. Karena nggak seru, jadi gue pulang duluan. Terus lo telepon, ya gitu deh." Zafran menjelaskan sambil duduk ke tepi ranjang.


"Oh gitu..." Ramanda ikut duduk ke sebelah Zafran. Dia meletakkan tangan ke atas lutut, lalu berucap, "Emm... Gue lagi dekat sama cowok, Zaf."


"Cowok baru lagi?" terka Zafran.


Ramanda lekas mengangguk. Ujung matanya terus terarah pada Zafran. Gadis itu ternyata memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Zafran. Ia seolah hendak memastikan sesuatu.


"Udahlah, Ra. Lo mending istirahat dulu dari yang namanya pacaran. Lagian kan lo baru sakit hati," tanggap Zafran memberikan saran. Membuat senyuman terukir di wajah Ramanda. Respon Zafran tersebut adalah sesuatu yang di harapkan gadis itu.


"Lo benar. Mungkin sebaiknya gue stop pacaran dulu." Ramanda meletakkan kepala ke pundak Zafran.


"Nah gitu dong. Lo itu alay banget kalau sedang punya pacar. Apalagi pas pacaran sama Rian. Gue sebenarnya senang lo putus sama dia," ungkap Zafran sembari melingkarkan tangan ke pundak Ramanda.


"Sewot banget lo." Ramanda tergelak kecil. Entah kenapa semenjak pernyataan iseng Zafran kemarin, dia jadi terbawa perasaan. Ramanda merasa cowok itu benar-benar menyukainya. Terutama setelah menyaksikan tanggapan Zafran sekarang.


Zafran tiba-tiba mendapat pesan di ponselnya. Dia memeriksa dan menemukan ada pesan baru dari Lika. Cewek itu mengirimkan nomor WA melalui pesan media sosial.


...'Aku tunggu pesan darimu...'...


'Aku kamu? Jadi bukan gue lo lagi? Lika ternyata manis juga,' batin Zafran. Senyumannya masih belum memudar.


"Lo kenapa senyum-senyum nggak jelas? Lo dapat pesan dari gebetan?" tegur Ramanda. Dia tentu bisa melihat ekspresi bahagia yang ditampakkan Zafran.


"Iya, dari gebetan gue. Kenapa? Nggak boleh?" Zafran melepas rangkulannya. Ia menyenggol Ramanda dengan bahu.


"Nggak lah! Kalau gue jomblo, lo harus jomblo juga," sahut Ramanda.


"Idih! Enak aja. Lo nggak sadar, kalau selama ini lo selalu bikin gue jadi nyamuk pas pacaran, hah?" Zafran yang geram mencubit hidung mancung Ramanda.


Ceklek!


"Ramanda! Zafran! Tadi aku bilang apa? Kenapa pintu kamarnya ditutup?!" Elsa datang sambil menyalangkan mata.


Zafran dan Ramanda sontak gelagapan. Keduanya langsung berdiri untuk menghadapi Elsa yang murka.

__ADS_1


"Tadi ketiup angin, Tante." Zafran memberi alasan asal-asalan. Membuat Ramanda otomatis menggertakkan gigi. Alasan tersebut terlalu berlebihan.


"Kalian mau aku nikahin? Mau nikah muda?!" ancam Elsa.


"Enggak, Mah!"


"Enggak, Tante!" Ramanda dan Zafran menyahut bersamaan. Mereka menggeleng seraya mengangkat dua tangan ke depan. Menolak tegas ancaman yang dilayangkan Elsa.


"Ya udah, mending aku pulang aja. Maaf ya, Tante." Zafran menyodorkan tangan ke arah Elsa. Dia ingin bersalaman dengan ibu kandung dari Ramanda itu.


"Mulai sekarang, kalian dilarang berduaan di kamar. Kalau mau ngobrol di ruang tamu atau teras aja." Elsa memberikan nasehat.


"Siap, Tante." Zafran melakukan hormat sebentar. Lalu berpamitan pulang. Tingkahnya membuat Ramanda tidak kuasa menahan tawa.


...***...


Lika merebahkan diri di kasur. Sekarang dia asyik berbalas pesan dengan Zafran.


Ketika mendapat balasan dari Zafran, maka Lika akan berguling tidak karuan sambil memeluk bantal. Hatinya sedang berbunga-bunga.


Kala sedang menikmati kesenangan, grup pertemanan Lika mendadak ramai. Nadia dan Chika menceritakan pembicaraan mereka dan Zafran saat di pesta tadi.


Pupil mata Lika membesar. Dia justru semakin girang. 'Ternyata Zafran udah sesuka itu ke gue. Dia sampai langsung berani tanya sama Chika dan Nadia. Dia nggak malu apa? Huaaa...' batinnya sembari menangkup wajah sendiri.


Lika segera memberitahu teman-temannya kalau dia tidak jadi pindah sekolah. Kabar tersebut sontak membuat Chika dan Nadia senang. Mereka bersyukur Lika mengurungkan niat.


Malam itu, Lika tidak bisa tidur. Usai berkirim pesan dengan dua temannya, dia mendapat telepon dari Zafran.


"Udah mau tidur?" tanya Zafran dari seberang telepon.


"Belum. Gimana aku bisa tidur coba. Susah deh kalau dijelasin," jawab Lika. Dua kakinya bergelayut tidak karuan.


Zafran terkekeh. "Sumpah aku bingung harus gimana. Aku nggak pernah pacaran sebelumnya. Apalagi pacaran sama musuh sendiri," ungkapnya.


Lika ikut tertawa kecil. Dia membalas, "Sama aja dong."


"Elah... jangan bohong! Semua orang tahu kali, kalau kamu pernah pacaran sama Ari. Sampai pernah ciuman di belakang sekolah lagi," kata Zafran yang terdengar sinis.


"Enggak! Kami nggak sempat ciuman kok! Beneran!" Lika membentuk tangannya jadi huruf v, meski tidak bicara berhadapan dengan Zafran.

__ADS_1


"Ya ampun... nggak ngaku lagi."


"Beneran! Karena teguranmu kemarin, Ari nggak sempat cium aku. Pokoknya ciuman pertamaku itu cuman sama kamu!" Lika menegaskan.


__ADS_2