Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 22 - Menjadi Saling Tidak Kenal


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran tersenyum miring, ketika bolanya berhasil mengenai Ari. Ia segera berdalih dengan cara melakukan pemanasan.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit lebih untuk melakukan pemanasan. Barulah seluruh tim dibagi agar bisa saling bertanding.


Lika mencoba sebisa mungkin memusatkan perhatiannya kepada Ari. Berharap perasaannya terhadap cowok itu dapat benar-benar tumbuh.


Namun pada kenyataannya, Lika tak bisa menahan diri untuk tidak menatap Zafran. Bagaimana tidak? Keahlian Zafran dalam bermain basket tidak bisa tertandingi. Keahlian Ari bahkan berada jauh di bawah cowok itu. Lika tentu tidak bisa membanggakan Ari jika faktanya terlihat begitu.


Lika lekas menggeleng kuat. Berusaha menyadarkan dirinya agar tidak memperhatikan Zafran lagi.


'Ampun deh. Bukannya gue udah sering lihat dia main basket? Kampret itu biasa aja kali! Lagian gue nggak peduli dengan hal yang berkaitan sama olahraga,' keluh Lika dalam hati. Dia memfokuskan perhatiannya lagi kepada Ari.


Kebetulan Zafran dan Ari berada di tim berbeda. Sebagai kapten, Zafran sengaja memasukkan Ari ke dalam tim lawannya. Sehingga dengan begitu, dirinya dapat dengan mudah mengalahkan cowok tersebut.


Suara sepatu mahal Zafran yang berdecit melantun di lapangan. Gerakannya tidak hanya lincah, tetapi juga gesit. Zafran sudah memasukkan bola ke ring sebanyak lima kali lebih. Membuat para kaum hawa semakin heboh.


Lika yang mendengar, reflek menutup telinga. Semangat yang dia lantunkan untuk Ari, tenggelam oleh suara-suara orang di sekitar. Gadis itu lantas berhenti dan memutuskan duduk tenang. Lalu menyibukkan diri bermain ponsel.


Upaya Lika kali ini berhasil. Dia tidak lagi peduli dengan penampilan Zafran di lapangan. Lika hanya asyik melihat-lihat perkembangan media sosialnya.


Sebagai cewek cantik dan populer, Lika tentu mempunyai banyak sekali pengikut di media sosial. Jumlahnya sendiri mencapai lima puluh ribu lebih.


Tanpa terasa, latihan basket telah selesai. Lika buru-buru beranjak dari kursi penonton. Kebetulan dia membelikan minuman khusus untuk Ari.


"Tunggu ya, Lik. Aku mau ke toilet dulu," ujar Ari sembari melangkahkan kaki dengan cepat.


Lika lantas menunggu dipinggir lapangan. Saat itulah atensinya teralih ke arah Zafran. Cowok itu tampak mendapat banyak minuman dari para siswi. Namun Zafran tidak meminum satu pun minuman tersebut. Ia malah membagikannya kepada semua anggota tim basket.

__ADS_1


"Apaan sih!" komentar Lika seraya mengalihkan pandangan dari Zafran.


Cindy mendadak berjalan melewati Lika. Ia terlihat membawa minuman segar. Sepertinya sudah jelas kalau minuman tersebut akan diberikan kepada Zafran.


Berbeda dari yang lain, Zafran langsung meminum minuman pemberian Cindy. Hal itu sekali lagi membuat para siswi lain merasa iri.


Anehnya Lika merasakan hal serupa. Apalagi ketika menyaksikan Zafran mengembangkan senyuman kepada Cindy. Galih dan kawan-kawan bahkan tercengang.


"Zaf, lo nggak berniat main-main kan? Lo beneran suka sama Cindy?" timpal Galih tak percaya. Dia angkat suara saat Cindy sudah beranjak pergi.


"Mau tahu aja lo." Zafran menanggapi dengan santai.


"Tunggu, tunggu. Lo lakuin ini bukan karena Lika kan?" Galih menebak sambil melebarkan kelopak mata.


"Hah? Ya enggaklah! Semuanya nggak ada kaitannya sama si mulut pantat ayam itu!" balas Zafran berkilah.


"Tapi..." Galih ingin menyahut, tetapi urung dilakukan saat dirinya melihat Lika sudah ada di belakang Zafran.


"Sini lo!" Lika menarik tangan Zafran. Membawa cowok itu agar bisa bicara empat mata.


Setelah merasa berada di tempat yang tepat, Lika langsung menghempaskan tangan Zafran. Akan tetapi dia tidak bisa, karena Zafran balik memegangi tangannya.


"Lo mau ngomong apa?!" timpal Zafran.


"Lo itu kenapa sih?! Ngelunjak terus! Padahal gue nggak ada niat lagi ngajak lo bersaing atau apapun itu! Pokoknya mulai sekarang, jangan pernah ikut campur lagi urusan gue!" geram Lika dengan dahi yang berkerut dalam.


"Lo ngomong apa sih? Sumpah gue nggak ngerti arah omongan lo kemana?" Zafran terheran. Sebab Lika marah dengan alasan yang tidak jelas.


Lika mendengus kasar. Dia menarik tangannya dan berhasil lepas dari genggaman Zafran.

__ADS_1


"Pertama-tama, pas di Bali. Gue traktir semua orang bukan karena mau saingan sama lo! Itu murni niat baik gue. Tapi lo, menganggap apa yang gue lakukan sebagai perang. Lo kekanak-kanakan banget tahu nggak?!"


"Terus yang kedua? Apa lo berpikir alasan gue dekatin Cindy karena mau saingan sama lo juga? Gitu?"


"Iya! Lo dekatin Cindy pas udah tahu hubungan gue sama Ari kan?" Lika mengarahkan jari telunjuk ke wajah Zafran. Menyalang lepas penuh amarah. "Gue peringatin sama lo ya! Gue pacaran sama Ari itu juga murni karena pilihan hati! Gue cinta sama dia! Gue nggak pengen apa yang lo lakukan jadi berdampak sama hubungan gue!" tegasnya sambil menepuk dada dua kali.


Zafran terkesiap. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat Lika mengucapkan kata cinta untuk lelaki lain. Dia terdiam seribu bahasa. Zafran memang tidak dapat membantah, bahwa kedekatannya dengan Cindy bukanlah apa-apa. Tidak lebih dari sekedar caranya untuk menyaingi dengan Lika.


"Mulai sekarang, gue nggak pengen ada persaingan atau perdebatan lagi di antara kita! Gue udah capek begitu terus setiap hari. Jika kita benar-benar musuh, mungkin bersikap saling tidak mengenal adalah hal terbaik!" pungkas Lika disertai raut wajah serius.


"Oke! Kita mending nggak usah saling ngomong lagi kayak sekarang. Apalagi sampai adu bacot dan kehebatan. Lo benar! Itu mungkin yang terbaik." Zafran setuju dengan pendapat Lika. Keduanya berbalik badan di waktu bersamaan. Berjalan ke arah yang berlawanan satu sama lain.


Baik Zafran maupun Lika, mereka sama-sama terus melangkah maju. Bahkan tidak satu kali pun menengok ke belakang.


Lika mengatup rapat mulutnya. Satu hal yang membuat dia heran. Air matanya menetes secara alami. Gadis itu tidak tahu kenapa. Ada rasa sesak di dada yang sulit untuk dijelaskan. Walaupun begitu, Lika berusaha keras agar tangisannya tidak terlalu jelas. Dia berulang kali menghapus cairan bening di mata dan pipinya.


Bersamaan dengan itu, Zafran berjalan dengan langkah berat. Entah kenapa keinginan untuk menoleh ke belakang sangat kuat. Hatinya masih terasa janggal. Zafran merasa ada sesuatu yang hilang. Terutama ketika Lika berbicara serius mengenai berakhirnya segala persaingan yang terus terjadi.


"Zaf, muka lo kenapa kusut gitu?" tegur Galih yang bisa menyaksikan mimik sendu yang ditunjukkan Zafran.


"Gue mau pulang," jawab Zafran.


"Hah? Kita nggak jadi nge-gym bareng?" Galih sedikit terkejut. Sebab Zafran tidak pernah sekali pun melewatkan jadwal olahraganya di gym. Dia bahkan sampai membolos dari jadwal lesnya demi pergi ke gym. Hal itu tentu membuat Galih bertanya-tanya.


"Lika ngomong apaan?! Apa kali ini kuat banget, sampai lo kayak frustasi gitu? Dia nggak hina keluarga lo kan?" Galih memastikan.


"Enggak. Gue mau pulang aja. Sampai ketemu besok!" Zafran enggan menjelaskan. Dia mengambil tas dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Maaf ya guys, nggak ada double up sama sering up telat. Itu karena minggu ini aku sibuk banget. Lagi ada transisi perubahan hidup. Tapi aku usahain up satu chapter tiap hari. 😘


__ADS_2