Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 7 - Balas Dendam


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika sedang berada di UKS. Ditemani oleh Chika dan Nadia. Ada juga Yogi dan tiga cowok lain yang memperdulikan Lika. Sementara di depan pintu ada beberapa cowok yang khawatir.


"Astaga, gue baik-baik aja kali. Kalian lebay banget. Kalau gue terluka sampai nangis, baru kalian bisa khawatir," imbuh Lika sembari menatap orang-orang yang datang. Ia membiarkan Nadia mengobati luka di lututnya.


"Lika!!" Ari yang baru saja datang, berlari laju menghampiri Lika. Raut wajahnya terlihat panik.


Dahi Lika berkerut. Menatap heran Ari yang langsung mengambil alih tugas Nadia. Sekarang dia yang mengobati luka yang ada di lutut Lika.


"Kak Ari! Aku nggak apa-apa kok. Biar Nadia aja--"


"Udah diam. Kamu lupa ya kalau aku anggota PMI sekolah ini?" Ari lekas memotong perkataan Lika. Lalu kembali lanjut pada Luka yang ada di lutut sang gadis pujaan.


Yogi yang melihat, menatap sinis Ari. Sebagai adik kelas, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Sementara Lika, hanya bisa membiarkan. Dia menghela nafas berulang kali.


Selang sekian menit, pengobatan terhadap lutut Lika selesai. Gadis itu ingin beranjak dari keramaian. Ia permisi untuk pergi ke toilet.


Kini Lika berada di salah satu bilik toilet. Mendengus lega sambil mengingat apa yang dilakukan Zafran tadi pagi. Dia semakin membenci cowok tersebut.


Dari arah luar terdengar suara orang yang masuk. Meskipun begitu, Lika tetap diam di bilik toilet.


"Eh, lo lihat Zafran sama Lika rebutan bola tadi nggak?"


"Siapa yang nggak lihat coba. Satu sekolah juga tahu."


"Lo pernah terpikir nggak sih. Kalau Lika berbuat begitu biar dapat perhatiannya Zafran? Dia satu-satunya cewek di sekolah ini yang terus dapat tanggapan dari Zafran. Sementara kita, selalu di diamin kayak patung pajangan."


"Benar sih. Tapi itu yang bikin gue suka banget sama Zafran. Dia cool banget tahu... gue selalu gemes deh kalau lihat dia lewat. Pengen berlari ke pelukannya... huaaa..."


"Idih! Jangan halu deh. Kalau mau dapat perhatian Zafran, mending coba cara Lika aja."

__ADS_1


Lika dapat mendengar pembicaraan dua siswi yang baru masuk ke toilet. Hal itu membuatnya kesal, sampai menyebabkan matanya berkedut.


Bruk!


Lika membanting pintu bilik dengan kuat. Lalu berjalan ke depan cermin. Tepat dimana dua siswi itu berada. Ia sengaja menunjukkan mimik wajah merengut.


Dua siswi yang tadi menggosipkan Lika, langsung menundukkan kepala. Hanya dengan tatapan, Lika berhasil membuat mereka tertohok.


"Zafran itu musuh buat gue. Lihat mukanya aja gue muak, apalagi nyentuh sejengkal kulit dia! Jadi jangan pernah berpikir kalau apa yang gue lakukan ke dia atas dasar tujuan minta perhatian!" tegas Lika. Mempelototi dua siswi di sebelahnya secara bergantian.


"Sorry, Lik. Ka-kami nggak bermaksud gitu kok..." salah satu siswi menanggapi ucapan Lika. Dia dan temannya masih dalam keadaan menundukkan kepala.


Lika memutar bola mata sebal. Kemudian beranjak pergi. Dia berjalan menghentak menuju kelas.


Bertepatan dengan itu, dia melewati lorong yang menuju belakang sekolah. Di sana ada Zafran yang duduk sambil memasang mimik wajah cemberut.


Zafran melangkah sendirian ke belakang sekolah. Dia melihat ke kiri dan kanan. Lalu mengambil sebatang rokok dari saku celana.


Tidak perlu waktu lama, rokok sudah menyala. Zafran menghisap rokok tersebut. Dia sebenarnya sedang stres memikirkan semua kritikan teman-temannya. Sebab sebagian orang menganggap apa yang dilakukannya terhadap Lika keterlaluan. Tindakan Zafran tadi pagi di tegur habis-habisan oleh para murid laki-laki di sekolah.


"Galih dan yang lain pada ikutan ngebelain Lika lagi. Aaargghh!!!" geram Zafran sembari menendang batu kerikil kecil yang dipijaknya.


Puas menenangkan diri, Zafran segera mematikan rokok. Kemudian membuangnya sejauh mungkin.


Saat berbalik badan, Zafran dikejutkan oleh kehadiran Lika. Cewek itu menatap tajam sambil berkacak pinggang. Parahnya Lika sempat mengambil foto Zafran sedang merokok.


"Mampus lo! Gue bakalan ngaduin semuanya sama guru BK. Anggap aja ini pembalasan gue sama yang tadi!" tukas Lika. Dia memiringkan kepala sembari berseringai. Lalu mencoba bergegas pergi.


Zafran tentu tidak membiarkan. Dia sigap menarik lengan Lika dan memutar tubuh cewek itu untuk menghadapnya.


Tangan Zafran yang kuat, sukses mendorong Lika ke dinding. Membuat gadis itu sontak terpojok.


Lika berusaha melakukan perlawanan. Ia melepas cengkeraman Zafran sekuat tenaga. Tetapi tidak bisa.

__ADS_1


"Lepasin! Jangan sentuh gue! Jijik tahu!" hardik Lika. Dua alisnya nyaris bertautan.


Bukannya menurut, Zafran kian menyudutkan Lika. Dia mendekatkan wajahnya ke hadapan cewek itu.


Lika terkesiap. Dia tidak pernah berhadapan dengan Zafran dalam keadaan sedekat itu. Helat wajahnya dan Zafran hanya beberapa senti.


"Pe-pergi nggak lo..." Lika sedikit menciut. Entah kenapa dia merasa gugup.


"Berani lo laporin gue merokok, maka jangan harap gue biarin hidup lo tenang." Zafran mengancam dengan nada penuh penekanan. Dia segera merampas ponsel Lika. Zafran berniat menghapus fotonya saat merokok tadi.


Lika yang sempat terpaku, segera bertindak. Dia merebut kembali ponselnya. Lalu langsung berlari meninggalkan Zafran.


"Sial!" maki Zafran seraya bergegas mengejar Lika. Sekarang keduanya sama-sama berlari.


Tujuan Lika hanya satu. Yaitu ruang BK. Dia sudah bertekad untuk balas dendam atas perlakuan Zafran tadi pagi.


"Bu Rita! Zafran merokok!" seru Lika yang telah tiba di ruang BK. Ia segera memperlihatkan bukti yang ada di ponselnya.


Ketika Lika sudah terlanjur masuk ke ruang BK, Zafran hanya bisa berdecak kesal. Dia disuruh Bu Rita untuk masuk ke ruangan.


"Nggak apa-apa gue dapat luka kecil. Asal nggak dapat poin minus," gumam Lika. Dengan maksud memanas-manasi Zafran. Dia melenggang sambil mengukir senyuman puas.


Zafran mendengus kasar. Dia terpaksa duduk di hadapan Bu Rita.


"Zafran, Ibu nggak nyangka kamu bisa merokok," imbuh Bu Rita. Sebab baru kali ini Zafran ketahuan merokok di sekolah. Dan semuanya gara-gara Lika.


"Maaf, Bu..." ucap Zafran. "Tapi jangan kasih aku poin minus ya. Aku akan terima hukuman apapun... beneran deh. Terus aku janji, nggak akan merokok lagi," lanjutnya dengan ekspresi memelas.


Semua murid di SMA Elit Permata tahu, kalau poin minus bisa merubah penentuan nilai serta kelulusan nanti. Zafran takut dirinya tidak akan berkuliah di universitas impian.


Bu Rita terlihat berpikir. Mempertimbangkan pernyataan Zafran. Dia merasa muridnya tersebut pantas dibari kesempatan. Terlebih Zafran sudah sering mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya di bidang olahraga.


"Baiklah... Ibu akan maafkan kali ini. Tapi kalau kamu ketahuan merokok lagi, maka Ibu akan beri poin minus double!" tegas Bu Rita seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah.

__ADS_1


"Makasih banyak, Bu. Ibu baik banget deh." Zafran langsung berdiri. Kemudian segera mencium punggung tangan Bu Rita. Satu hal yang pasti, Zafran tidak akan melupakan ulah Lika terhadapnya.


__ADS_2