Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 28 - Saingan Lika


__ADS_3

...༻⊚༺...


Selia menarik sudut bibirnya ke atas. Dia mundur satu langkah. Melayangkan tatapan penuh kebencian.


"Lihat siapa yang datang." Selia berucap seolah sedang bergumam.


"Kenapa?! Kau merindukanku?" tukas Gamal sembari mengangkat salah satu alisnya.


Selia terperangah mendengar ucapan Gamal. Dia langsung melangkah ke hadapan lelaki itu. Mengarahkan jari telunjuknya dengan gamblang.


"Kau harusnya didik anakmu dengan baik! Dia hampir membuat keponakanku kecelakaan!" geram Selia.


"Jangan asal tuduh ya! Putraku nggak akan pernah mau dekat-dekat sama keponakanmu itu!" Gamal tak mau kalah.


"Orang anakmu sendiri kok yang ngaku. Dia memang sengaja mau ngerjain Lika! Mending tanya langsung sama orangnya!" balas Selia seraya menunjuk ke arah Zafran.


Gamal perlahan menatap Zafran. Menuntut sang putra untuk menjawab.


Melihat hal itu, bukan Zafran yang khawatir, melainkan Lika. Ia merasa bersalah karena sudah menimbulkan kebohongan yang berkepanjangan.


"Tante, udahlah... kita urus semuanya sama polisi aja. Di sini yang salah bukan cuma--"


"Iya, Pah! Aku memang berniat ngerjain Lika. Aku juga udah salah ngelewatin lampu merah begitu aja." Zafran sengaja memotong ucapan Lika. Dia begitu karena tidak mau melihat Gamal terus bertengkar dengan Selia. Apalagi sekarang mereka berada di kantor polisi. Perkelahian tentu akan menjadi hal memalukan baginya.


Lika terdiam seribu bahasa. Matanya memancar nanar menatap Zafran. Rasa bersalahnya semakin berkalut.


"A-apa?! Kenapa kamu begitu?!" Gamal melotot. Hingga sukses membuat kepala Zafran tertunduk.


"Anak sama ayahnya sama saja," komentar Selia. Dia tersenyum puas sambil mengajak Lika pergi menjauh.


Lika terpaksa pergi. Dia hanya bisa menahan tangis sebisa mungkin. Meskipun begitu, matanya tampak berpendar akan cairan bening. Terutama ketika menyaksikan Zafran dimarahi habis-habisan oleh Gamal. Cowok itu bahkan mendapat dorongan di kepala berulang kali.


Itulah hal terakhir Lika melihat Zafran. Tepat sebelum dirinya benar-benar pergi dari kantor polisi. Selia tentu dapat mengurus masalah kecil yang di alami oleh Lika dengan uang dan koneksi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Lika langsung masuk ke kamar. Meratapi rasa bersalahnya sendirian.


Entah kenapa kebencian yang sempat Lika rasakan, musnah begitu saja. Zafran yang terus melakukan hal tak terduga, membuat gadis itu terbawa perasaan lagi.


Lika meraih ponselnya. Dia mencoba memeriksa keadaan Zafran melalui media sosial. Namun tidak ada satu pun info terbaru yang di unggah oleh cowok tersebut.


Lika yang tadinya rebahan, merubah posisi menjadi duduk. Memeluk lututnya yang terlipat di depan dada.


'Zafran baik-baik aja kan?' batin Lika bertanya-tanya. Ia menggeser foto di media sosial Zafran terus-menerus. Bahkan sampai ke foto yang paling terakhir.


Saat itu Lika baru teringat kalau di tubuhnya masih menempel seragam Zafran. Dia bergegas melepas seragam itu. Lalu memandanginya sembari membayangkan banyak hal tentang Zafran. Termasuk momen ketika cowok tersebut hampir mencium bibirnya.


Kini Lika menyentuh bibirnya sendiri. Jantungnya jadi berdebar tidak karuan.


'Kenapa dia mau cium gue ya? Atau dia cuman ngerjain gue doang? Atau dia sengaja bikin gue baper karena emang mau main-main?' Lika jadi overthinking. Dia mengacak-acak rambut frustasi.


Sikap Zafran memang tidak bisa ditebak. Membuat rasa penasaran dan sukanya kian menggebu.


"Gue harus gimana... kayaknya gue udah suka banget sama si kampret itu..." Lika mengeluh kepada dirinya sendiri. Dia memikirkan tentang Zafran berjam-jam lamanya.


Di hari berikutnya, Lika tidak datang terlambat lagi. Sekarang dia berada di dalam kelas. Duduk mengobrol bersama kedua temannya.


Bel pertanda masuk terdengar. Semua murid masuk ke dalam kelas. Mereka tinggal menunggu guru untuk masuk.


Bu Jihan masuk bersama seorang siswi baru. Seluruh murid lelaki langsung berseru kesenangan. Bagaimana tidak? Siswi baru yang bernama Jia itu tidak kalah cantik dari Lika.


"Kenapa nggak cowok ganteng aja coba," keluh Nadia sembari menopang dagu dengan tangan. Kebetulan dia duduk di sebelah Lika.


"Benar banget." Chika sependapat dengan Nadia. Sedangkan Lika hanya cekikikan mendengar keluhan dua temannya.


Lika tidak menganggap kehadiran Jia sebagai ancaman. Mungkin Jia hanya berparas cantik, tetapi mungkin tidak akan sepintar dirinya. Jadi Lika sama sekali tak peduli akan kehadiran murid baru di kelasnya tersebut.


Tetapi saat jam pelajaran dimulai, barulah Lika menyadari bahwa Jia merupakan ancaman. Setiap kali dia mengangkat tangan, Jia juga tak ingin kalah. Jia bahkan mencuri beberapa pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Lika. Parahnya semua jawaban Jia benar.

__ADS_1


Raut wajah Lika cemberut. Dia juga tidak bisa mengembangkan senyuman. Mengingat dirinya meraih posisi kedua saat olimpiade Matematika terakhir kali.


"Kayaknya bakalan ada persaingan berat nih..." sindir seorang siswi berkawat gigi.


Lika memilih bungkam. Dia berusaha untuk berpikir positif. Lika yakin, jika dirinya belajar sungguh-sungguh, maka Jia tidak akan mampu mengalahkannya.


Di akhir, Bu Jihan memberikan latihan akhir. Saat itulah Lika memanfaatkan peluang untuk membuktikan diri. Walau menjadi orang yang selesai terakhir, tetapi Lika sukses mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Dia tentu berhasil mengalahkan nilai Jia.


Bel pertanda istirahat berbunyi. Lika duduk sambil tersenyum puas. Dia dan kedua temannya duduk sebentar di kelas. Hal serupa juga dilakukan Jia. Mereka memilih tetap di kelas, ketika semua orang berdahuluan ingin pergi ke kantin.


"Gila sih, Lik. Kali ini lo berhasil dapat nilai seratus. Latihannya sulit banget lagi. Nanti kasih contekannya yang full dong, biar kami juga bisa rasain dapat nilai seratus," ujar Chika.


"Enak aja. Masih untung kalian nggak dapat nilai merah," sahut Lika percaya diri.


"Iya deh. Tapi nggak perlu menyombong sampai segitunya kali," balas Chika sembari memanyunkan mulut.


"Tau tuh, dia lagi kesenengan bisa dapat nilai seratus, Chik!" Nadia masuk ke dalam pembicaraan. Lagi-lagi interaksi di antaranya dan Chika sukses membuat Lika terkekeh.


Dari balik pintu, Zafran tiba-tiba muncul. Seluruh pasang mata sontak tertuju kepadanya. Semua orang membatu akan kehadiran Zafran. Selain karena terpesona dengan kharismanya, kemunculan Zafran di kelas Lika merupakan sesuatu hal yang tidak pernah terjadi.


Deg!


Jantung Lika berdegub kencang saat Zafran menghampiri. Dia menatap cowok itu dengan tatapan gugup.


"Mau ngapain lo?!" tukas Lika. Berlagak seakan terganggu dengan kedatangan Zafran.


Bukannya menjawab, Zafran justru bergerak mendekat. Hal itu membuat jantung Lika tambah gelagapan. Dia lagi-lagi reflek memejamkan mata.


Zafran mendekatkan mulut ke telinga Lika. "Tentang kemarin, gue pikir lo akan sepakat merahasiakan semuanya. Rahasiakan semua itu sebagai bayaran terhadap pengorbanan gue. Kalau nggak, gue nggak akan biarin hidup lo tenang..." bisiknya.


Lika buru-buru membuka mata. Bisikan Zafran membuatnya langsung sadar diri. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menganggukkan kepala dengan kikuk.


Setelah itu, Zafran beranjak dari hadapan Lika. Mengajak ketiga temannya yang sedari tadi menunggu di depan pintu.

__ADS_1


"Sumpah! Itu siapa sih? Ganteng banget..." Jia tiba-tiba berseru. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Dia bergegas mendekati Lika. Berharap pertanyaannya bisa mendapat jawaban lebih cepat.


"Dia bukan pacar lo kan?" tanya Jia lagi.


__ADS_2