Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 41 - Tertidur Satu Malam


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika perlahan terbangun. Dia menemukan dirinya berada di kamar asing. Lika mengerjapkan mata. Berusaha mengumpulkan kesadaran terlebih dahulu.


"Astaga! Ini dimana?!" Lika kaget setengah mati. Matanya membelalak tak percaya. Terutama ketika melihat keberadaan Zafran yang telentang di sofa.


"Zafran!" pekik Lika. Membuat Zafran tersentak dan bangun dari tidur. Cowok itu langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia melihat Lika duduk sambil menutup badan dengan selimut.


"Kamu apain aku, hah?!" timpal Lika. Wajahnya terlihat hendak menangis. Dia mengira Zafran sudah berbuat hal buruk kepadanya.


"Jangan harap karena hubungan pacaran, kamu bisa menyentuhku seenaknya ya!" geram Lika. Dia akhirnya menangis.


Zafran yang baru bangun tidur, segera angkat suara. Dia tidak mau Lika salah paham.


"Ya ampun, Lik. Kita di sini cuman tidur doang. Kemarin kita mabuk. Makanya aku nggak berani bawa kamu langsung pulang," jelas Zafran.


"Beneran? Aku nggak akan hamil kan?" Lika mulai berhenti merengek.


"Ya enggaklah! Aku aja semalaman tidur sofa. Kamu lihat sendiri kan pas bangun tadi? Kalau aku tidur di sebelahmu, baru patut dicurigai. Harusnya--"


"Oke, oke. Aku percaya. Sekarang udah jam berapa?" tanya Lika. Dia sepenuhnya berhenti menangis. Meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Udah jam delapan pagi," jawab Zafran yang baru menyalakan gawai-nya. Sederet pesan dari Gamal dan Zara langsung masuk silih berganti.


"Astaga..." Zafran mengusap kasar wajahnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Gamal ketika dirinya pulang nanti.


Hal serupa juga berlaku untuk Lika. Dia juga menerima banyak pesan dari Selia. Tantenya itu bahkan telah meminta bantuan polisi untuk mencari Lika.


"Zaf! Kita harus pulang sekarang!" Lika melompat dari ranjang. Dia berdiri ke depan cermin dan merapikan rambut serta pakaian.


"Aku tahu! Pasti tantemu nyariin kan?" Zafran ikut merapikan pakaian. Ia dan Lika buru-buru pergi dari kamar hotel.


Zafran berlari sambil menarik tangan Lika. Keduanya berhenti di pinggir jalan. Mencoba mencari taksi.


"Kemarin malam aku mabuk? Aku nggak berbuat yang aneh-aneh kan?" cetus Lika. Menatap Zafran dengan sudut matanya.


"Agak aneh sih. Kamu cium bibir aku berkali-kali," sahut Zafran.

__ADS_1


Mata Lika terbelalak tak percaya. "Bohong! Aku nggak mungkin begitu!" tanggapnya membantah tegas.


"Terserah. Tapi kalau mau bukti, tanya aja sama pelayan di restoran. Semua orang di sana pasti lihat apa yang kita lakukan." Zafran menarik sudut bibirnya ke atas. Dia selalu senang menyaksikan ekspresi Lika ketika malu.


Lika terdiam seribu bahasa. Dia menggigit bibir bawahnya. Meskipun begitu, Lika berusaha berpikir positif. Ia memilih untuk tidak mempercayai omongan Zafran.


"Bacot. Aku nggak mungkin begitu," ujar Lika.


Zafran yang melihat, hanya terkekeh. Tak lama kemudian, dia dan Lika berhasil menyinggah taksi yang lewat.


"Kau bisa pulang duluan. Biar aku cari taksi lain." Zafran mendorong Lika masuk ke dalam taksi.


"Kenapa gitu? Kita bareng aja, Zaf!" Lika sepertinya tidak setuju.


"Terlalu beresiko kalau kita terus bareng. Keluarga kita pasti lagi sama-sama cariin. Sampai ketemu di sekolah," ucap Zafran. Lalu menyuruh sopir agar bisa menjalankan taksi.


Lika lantas menerima saja. Dia terus menatap Zafran walau taksi yang dinaikinya terus berjalan. Lika merasa belum rela berpisah dengan sang pacar. Entah kenapa waktu terasa singkat.


Setelah Zafran menghilang dari penglihatan, Lika segera menghubungi Selia. Memberitahukan bahwa dirinya akan pulang.


Ketika sudah masuk ke rumah, Lika tentu mendapatkan omelan dari Selia. Tantenya tersebut sangat khawatir atas ketidakpulangan Lika tadi malam.


"Aku ketiduran di rumah teman, Tante..." lirih Lika seraya menundukkan kepala.


Selia melakukan tatapan menyelidik. Atensinya tertuju pada gaun mahal yang dikenakan Lika.


"Kamu kenapa pakai gaun pesta begini? Kamu nggak clubing kan, Lik?!" timpal Selia. Mengguncang pundak Lika cukup kuat.


"Enggak, Tante. Aku tadi malam ke pesta ulang tahun teman, terus ketiduran di sana." Lika membuat alasan lagi.


"Terus kenapa kamu nggak izin dulu sama Tante? Coba jelaskan alasannya apa?!" Selia melipat tangan di dada. Menanti jawaban dari sang keponakan.


"Aku takut Tante nggak ngizinin. Soalnya pestanya berlangsung pas jam sembilan malam," jawab Lika yang merasa tidak enak. Karena berbohong, dia tidak berani menatap tantenya.


Selia terdiam dalam beberapa saat. Ia memikirkan konsekuensi yang pas untuk Lika. Sampai pada akhirnya Selia lebih memilih memaafkan saja. Dia merasa tidak tega bertindak terlalu buruk kepada Lika. Mengingat keponakannya tersebut sudah yatim piatu.


"Tante akan maafkan untuk kali ini. Tapi kalau nanti terulang lagi, Tante pasti akan kasih hukuman yang bikin kamu kapok!" tegas Selia sembari mengarahkan jari telunjuk ke wajah Lika.

__ADS_1


"Iya, Tante!" Lika mengangguk. Secercah senyuman tipis terukir di wajahnya. Dia senang bisa terhindar dari hukuman.


Bersamaan dengan itu, Zafran baru pulang ke rumah. Dia langsung mendapatkan pelototan dari Gamal.


"Kamu kemana?!" timpal Gamal.


"Ke rumah teman, Pah. Aku terlalu seru main game sampai nggak sengaja ketiduran di sana," jawab Zafran.


Gamal mendengus kasar. Dia menilik penampilan Zafran dari ujung kaki sampai kepala. Dahinya lantas mengerut dalam.


"Kenapa pakai baju rapi sekali?" tanya Gamal yang terdengar mulai melembut.


"I-ini karena aku kalah main game, Pah!" Zafran memberi alasan sambil tergagap. Dia mengusap tengkuk karena merasa bingung.


"Zaf, lain kali kalau mau pergi itu izin dulu sama Bunda atau Papah. Kami cariin kamu kemana-mana loh," tutur Zara. Menasehati Zafran baik-baik.


Jujur saja, saat menyaksikan kenakalan Zafran, Gamal dan Zara selalu teringat dengan masa muda mereka. Jadi seringkali keduanya tidak kuasa memarahi dengan cara kasar.


"Ya udah, cepat masuk kamar! Hari ini jadwal les akan dilakukan lebih awal dari biasanya," ujar Gamal. Mengakhiri pembicaraannya dengan Zafran.


"Baik, Pah." Zafran mendengus lega. Dia tidak menyangka ayah dan ibunya akan memberi respon tidak berlebihan.


...***...


Lika baru saja keluar dari mobil. Dia segera melangkah memasuki lingkungan sekolah. Seperti biasa, cewek populer sepertinya selalu mendapat teguran dari banyak orang.


Perhatian Lika langsung tertuju ke lapangan. Di sana ada Zafran yang asyik bermain basket.


'Dia akhir-akhir ini nggak pernah telat lagi,' batin Lika. Dia merasa berjasa merubah kebiasaan buruk Zafran. Hingga terlintas sesuatu hal dalam benaknya. Yaitu niat untuk membantu Zafran dibidang akademik. Lika juga terpikir meminta bantuan Zafran agar bisa ahli dibidang olahraga.


"Lik!" panggilan dan tepukan dipundak dari Nadia, sukses menyadarkan Lika dari lamunan.


"Nadia! Lo bikin jantung gue hampir copot tahu nggak!" keluh Lika seraya mengelus dada.


"Lo sendiri yang melamun. Lo lamunin apa sambil ngeliatin Zafran?" tanya Nadia.


Mendengar pertanyaan Nadia, Lika merasa tertangkap basah. Otaknya otomatis mencari-cari alasan yang tepat.

__ADS_1


"Gue tahu. Lo pasti berniat ngalahin Zafran di pemilihan ketua osis kan?" tebak Nadia.


Lika yang bingung harus menjawab apa, mengiyakan begitu saja. "Tahu aja lo. Orang kayak Zafran nggak mungkin jadi ketua osis," katanya. Dia hanya asal berucap.


__ADS_2