
...༻⊚༺...
Zafran tidak bisa menahan tawa. Menurutnya apa yang terjadi kepada rambut Lika terasa sangat lucu.
"Malah ketawa lagi." Lika menepuk pundak Zafran dengan kuat.
"Ini kayaknya teguran. Biar kita nggak ciuman lagi di tempat sembarangan," sahut Zafran. Dia berhenti tertawa. Lalu mencoba membantu membuang permen karet yang ada di rambut Lika. Sayangnya, benda itu terlalu menempel kuat.
"Ini parah banget sih," komentar Zafran dengan dahi yang berkerut samar.
"Ini jijik banget tahu nggak. Permen karetnya pasti bekas kunyahan orang." Lika menjulurkan lidahnya dengan jijik. Dia segera ke toilet sebentar. Mencoba mengatasi masalahnya dengan air.
"Aku tunggu di sini!" seru Zafran. Ia tidak bisa menerobos masuk ke toilet perempuan.
Tak lama kemudian, Faisal datang. Saat itulah Zafran baru ingat keadaan Ramanda. Dia bergegas kembali masuk ke ruang escape room.
"Loh? Cewek itu nggak bareng lo?" Perkataan Faisal membuat langkah kaki Zafran terhenti. Dia berbalik dan menampakkan raut wajah cemas.
"Maksud lo?" tanya Zafran sembari mengangkat dagu satu kali.
"Cewek yang bareng sama lo itu. Dia tadi pergi kayak tergesak-gesak gitu. Gue kira mau ketemu sama lo," jelas Faisal.
Zafran membulatkan mata. Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Ramanda. Akan tetapi ponsel cewek tersebut sedang tidak aktif. Zafran sontak dirundung perasaan khawatir.
Bersamaan dengan itu, Lika keluar. Dia sepertinya belum bisa melepas permen karet dari rambut.
"Lo kenapa, Lik?" Faisal yang tidak tahu, segera mendekat. Namun Zafran lebih dulu bergerak. Lalu menyeret Lika menuju pintu keluar.
Kening Faisal mengernyit dalam. Ia tentu heran dengan hubungan yang terjalin di antara Zafran dan Lika. Setahunya saat awal bertemu tadi, mereka terus bertengkar. Tetapi sekarang? Nampaknya hubungan Zafran dan Lika sudah membaik.
Faisal mengabaikan apa yang mengganggu pikirannya. Ia buru-buru mengekori Lika.
Ketika sudah melewati pintu keluar, Zafran masih mencengkeram lengan Lika. Dia menengok ke kiri dan kanan berulang kali.
"Cari apaan, Zaf?" cetus Lika.
Zafran hanya diam. Sampai ada sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya. Yaitu sebuah salon. Dia segera membawa Lika ke sana.
Pupil mata Lika membesar, tatkala menyadari akan dibawa ke salon. Dia langsung mempertahankan diri dan menyebabkan jalan Zafran terhenti.
"Salon? Aku harap dugaanku salah," ungkap Lika. Dia berfirasat kalau rambutnya akan dipotong.
"Nggak ada jalan lain kan? Lagian kau mau permen karet itu terus nempel dirambut? Bukannya tadi katanya jijik?" balas Zafran.
"Aku cuman nggak mau rambutku dipotong. Nanti jelek," tanggap Lika malas.
__ADS_1
Zafran memutar bola mata jengah. Dia langsung menepis argumen Lika dengan gelengan kepala.
"Siapa yang bilang jelek? Biar kamu cebur ke comberan pun cantiknya nggak akan hilang! Coba tanya ke semua cowok di sekolah, mereka pasti sependapat sama aku!" tukas Zafran serius. Dia lagi-lagi terlihat mengedarkan pandangan ke sekitar.
Mendengar ucapan Zafran, Lika sedikit tersenyum. Meskipun begitu, dia masih enggan masuk ke dalam salon. Dirinya juga berhasil memergoki gelagat Zafran.
Lika mencari jawaban dengan cara berpikir. Hingga terlintas dalam benaknya nama Ramanda. Mengingat sahabat kecil Zafran itu tidak kelihatan sejak tadi.
"Pasti cari Ramanda ya?" tebak Lika.
"Kau jangan salah paham. Ramanda katanya sudah pergi, tapi aku nggak tahu kemana. Teleponnya juga nggak aktif. Kalau dia kenapa-kenapa, bokap sama nyokapku pasti marah besar," tanggap Zafran yang tampak cemas.
"Ya udah. Biar aku bantu cariin!" Lika memutuskan untuk membantu. Dia jadi ikut khawatir setelah mendengar penjelasan Zafran.
"Tapi rambutmu? Kan masih--"
"Nggak apa-apa. Aku akan urus ini nanti." Lika bersikeras. Dia sengaja memotong ucapan Zafran. Cewek itu juga tidak lupa mengajak Faisal ikut.
Zafran Lika, dan Faisal mencari Ramanda kemana-mana. Mereka bahkan terpaksa berpencar agar bisa menemukan Ramanda lebih cepat.
"Ra, lo dimana?..." gumam Zafran. Ia terus menelepon Ramanda sambil menelusuri beberapa tempat.
Satu jam berlalu. Ramanda belum juga ketemu. Zafran, Lika, dan Faisal berkumpul lagi. Mereka istirahat sembari berdiskusi.
"Jangan-jangan dia pulang duluan lagi," imbuh Faisal menduga.
"Kalau begini, mending kita minta tolong pihak keamanan taman bermain aja." Lika memberikan usul.
Zafran membisu sambil menyurai rambut karena merasa cemas. Dia beberapakali mengedarkan penglihatan ke sekeliling. Hingga atensinya tertuju ke arah wahana bianglala. Zafran ingat betul kalau bianglala adalah wahana bermain favorit Ramanda.
"Kalian tunggu di sini. Ada satu tempat yang belum aku periksa!" Zafran beranjak begitu saja. Dia berlari menuju wahana bianglala.
Lika menatap sayu punggung Zafran yang kian menjauh. Dia jadi merasa bersalah dengan Ramanda.
'Tapi kenapa Ramanda mendadak pergi? Kok gue merasa aneh ya? Ramanda nggak lihat gue ciuman sama Zafran kan?' benak Lika bertanya-tanya. Dia tenggalam dalam banyak pertanyaan.
Sementara Zafran, dia menunggu di depan bianglala. Mengamati satu per satu orang yang ada di wahana bermain tersebut.
Tanpa sepengetahuan Zafran, Ramanda baru berjalan menjauh dari bianglala. Dia melenggang menuju gerbang keliar. Berniat ingin langsung pulang saja.
Sebelum nekat pulang sendiri, Ramanda menyalakan ponsel yang sedari tadi dia aktifkan ke mode terbang. Cewek itu menemukan banyak sekali panggilan tak terjawab dari Zafran.
"Zaf, gue pulang duluan. Bokap sama nyokap gue paksa gue pulang soalnya." Ramanda menelepon balik Zafran.
"Lo kemana aja sih?! Gue dari tadi cariin lo tahu nggak!" omel Zafran.
__ADS_1
"Gue tadi cuman nggak sengaja ketemu Rian. Dia paksa gue buat naik bianglala bareng. Ini dia lagi anterin gue pulang. Kayaknya gue sama dia bakalan CLBK."
"Tapi--" Zafran tidak jadi bicara, karena Ramanda mengakhiri penggilan secara sepihak. Kini Zafran hanya bisa terperangah tak percaya.
"Dasar! Orang pada capek nyariin, dia malah pacaran." Zafran geleng-geleng kepala. Dia kembali menemui Lika. Namun gadis itu sudah tidak lagi ada di tempat tadi.
"Hei! Lika-nya ada di salon!" seru Faisal.
Zafran lantas beranjak ke salon. Dia tidak lupa memberitahu Lika dan Faisal kabar tentang kepulangan Ramanda. Sekarang Zafran dan Faisal menunggu di luar sambil menikmati soda.
"Lo siapanya Lika sih? Tadi berantem, sekarang kayak dekat banget. Aneh..." ucap Faisal. Usai meneguk soda.
"Gue bisa dibilang musuh sekaligus pacarnya," jawab Zafran ambigu. Menyebabkan dahi Faisal mengerut dalam.
"Apaan tuh? Nggak jelas banget." Faisal tentu tak mengerti.
Zafran terkekeh melihat respon Faisal. Akibat tawa kecil itu, Faisal menganggap pernyataan Zafran hanya sebagai candaan.
"Lo sekolah dimana?" tanya Zafran.
"Gue tinggal di luar kota. Sekarang emang lagi jalan-jalan aja ke rumah Lika. Dia sepupu gue," jawab Faisal seraya memasukkan dua tangan ke saku celana.
"Gue boleh kasih masukan nggak?" ujar Zafran.
"Apaan?"
"Lo kalau mau pacaran mending nggak usah ke taman bermain. Jangan sampai gebetan lo lihat ketakutan lo."
Faisal tersenyum malu. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan. Dirinya memang tidak bisa menbantah ucapan Zafran.
"Makasih, masukannya. Itu berguna banget. Tapi gue udah terlanjur memperlihatkan ketakutan gue sama cewek itu," ungkap Faisal. Secara alami, obrolannya dan Zafran terus berlanjut. Gadis yang dibicarakannya tentu adalah Lika.
Zafran sontak menatap selidik. Seolah mencurigai suatu hal. Tetapi belum sempat berucap, Lika tiba-tiba keluar dari salon.
Gaya rambut baru Lika sukses membuat Zafran dan Faisal terpana. Gadis itu dua kali lebih cantik dengan rambut pendek sebahu.
"Lik, lo cantik banget..." komentar Faisal. Tak bisa mengalihkan pandangan dari Lika.
"Gue pernah bilang nggak, kalau tipe cewek yang gue suka itu rambut pendek?" ujar Zafran. Dia membuat Lika memutar bola mata jengah.
"Idih! Kalian lebay banget." Lika melayangkan pukulan kepada Zafran dan Faisal secara bergantian.
"Beneran, Lik! Lo mau tahu nggak alasannya apa?" Zafran sepertinya ingin memberikan pujian serius.
"Gue nggak mau dengar! Ayo kita pergi!" Lika menutup telinga. Lalu melangkah cepat meninggalkan Zafran.
__ADS_1
"Karena nyokap gue juga berambut pendek, Lik!" teriak Zafran.
"Elaah... gombalan lo basi banget," komentar Faisal sembari bergegas menyusul Lika.