
...༻⊚༺...
Lika dan Zafran berpelukan cukup lama. Lama-kelamaan Lika semakin mengeratkan dekapannya. Dia sangat suka aroma maskulin Zafran. Khas dan begitu mudah di ingat oleh otaknya.
Ketika sudah merasa begitu nyaman, Zafran tiba-tiba melepas pelukannya. Lalu menatap Lika dan berkata, "Lik, bangun! Bu Ratih sama yang lain sudah menunggu."
"Hah?" Lika terpelongo. Dia bingung kenapa Zafran bisa membicarakan topik random begitu.
"Lika!" Zafran sekali lagi memanggil. Panggilannya kali ini berhasil membuat Lika tersentak. Dia langsung terbangun dari tidurnya.
Di hadapan Lika, bukan wajah Zafran yang menyambut. Melainkan Keyla. Temannya tersebut terlihat mengenakan handuk kimono. Sepertinya Keyla baru selesai mandi.
"Eh..." Lika merubah posisi menjadi duduk.
"Bu Ratih dan anak-anak udah pada siap. Musik lo masih nyala tuh," ujar Keyla seraya menunjuk headset yang tergeletak di atas ranjang. Persis di dekat Lika telentang tadi.
Lika segera mematikan musik yang terputar. Kini dia semakin yakin bahwa kedatangan Zafran tadi hanyalah mimpi. Lika reflek memegangi dadanya. Perasaan aneh itu kembali muncul saat dirinya mengingat Zafran.
'Ya ampun... gue kenapa...' Lika mencengkeram rambutnya dengan frustasi. Dia kesal kepada dirinya sendiri.
Lika beringsut ke ujung kasur. Kemudian segera masuk ke kamar mandi. Ia mematut diri ke depan cermin. Mencoba melupakan segala hal yang terus mengganggunya.
"Ada atau nggak ada, si kampret itu masih aja nyebelin!" gumam Lika. Menyalahkan semuanya kepada Zafran.
'Mending mulai sekarang gue berhenti ngomong sama Zafran. Pikiran gue jadi memburuk kalau terus ladenin dia,' pikir Lika. Dia segera mandi dan bersiap untuk pergi. Lika bertekad tidak akan bicara atau melakukan apapun lagi kepada Zafran.
Kini Lika dan yang lain sedang berada di bus. Mereka hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuan.
Pak Rendi terlihat lebih dulu sampai. Dia membiarkan Pak Surya menjaga Zafran di rumah sakit.
"Gimana kabar ayangku, Pak?" tanya Ayu dengan lagak centilnya.
"Ayang? Apaan sih. Alay banget deh," kritik Keyla sambil menyenggol Ayu dengan sikunya.
"Zafran kan kesayangan semua orang. Kecuali..." Ayu menjawab. Dia berakhir melirik ke arah Lika.
"Apa?!" Lika yang mengerti, segera angkat suara. Ia melipat tangan di dada. Menunjukkan raut wajah cemberut.
__ADS_1
"Udah, udah... baru datang malah berantem. Apalagi kamu, Yu. Bentar lagi tanding kan?" tukas Pak Surya seraya geleng-geleng kepala. "Masalah Zafran, kalian tenang aja. Keadaannya semakin membaik. Mungkin besok udah bisa gabung kita lagi," sambungnya. Lalu mengajak semua orang masuk ke tempat lomba diselenggarakan.
Melihat rombongan Lika datang, Ramanda datang mendekat. Dia menanyakan tentang keadaan Zafran.
"Katanya dia semakin membaik. Lo tenang aja." Keyla menjadi orang yang menanggapi pertanyaan Ramanda.
"Syukur deh. Dia nggak balas-balas pesan gue soalnya," keluh Ramanda sembari memasang raut wajah masam.
"Lo pacaran sama Zafran ya?" tanya Ayu. Jujur saja, dia merasa penasaran sejak lama.
"Astaga... enggak kok. Kami itu sahabatan sejak kecil. Hubungan gue sama Zafran udah kayak saudara kandung," jelas Ramanda. "Eh, emang kalian kenal sama gue. Maaf ya, lupa kenalan. Nama gue Ramanda," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Dia berkenalan dengan Keyla dan Ayu.
Perlahan Ramanda menatap Lika yang sejak tadi duduk menyilangkan kaki. Cewek itu fokus menonton lomba yang sedang berlangsung.
"Hai, Lik." Ramanda memberanikan diri menyapa Lika. Dia tentu mengenal sosok Lika. Mengingat gadis itu populer dibicarakan banyak cowok di sekolahnya. Selain itu, Ramanda juga tahu detail permusuhan di antara keluarga Baskara dan keluarga Laksana. Ia sering mendengarnya dari cerita ayah dan ibunya.
Lika menoleh dan tersenyum singkat. Dia malas terlalu banyak bicara dengan orang terdekat Zafran. Apalagi setelah mendengar pernyataan Ramanda tadi. Bahwasanya gadis itu dan Zafran sudah dekat semenjak kecil.
...***...
'Jelaslah dia nggak datang. Dia kemungkinan malah senang lihat gue nggak bisa ikut kejuaraan nasional. Ngapain gue mikirin mulut pantat ayam itu,' batin Zafran sembari mengedikkan bahu. Dia menghempaskan kepala ke bantal. Menyendu dengan perasaan bosan dan kalut.
Tidak lama kemudian, Ramanda datang. Kemunculannya membuat Zafran sumringah. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Ramanda datang bersama pacarnya.
'Sialan! Mood gue tambah buruk.' Zafran merutuk dalam hati.
"Zaf, lo udah membaik kan?" tanya Ramanda sembari meletakkan parcel berisi buah-buahan ke atas meja.
"Kayaknya bentar lagi pulang. Gue udah mulai bisa jalan normal," jawab Zafran malas.
"Kata bokap gue, kalau habis sembuh dari kaki yang terkilir, lo masih harus tetap berhati-hati." Ramanda memberikan nasehat. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping kasur Zafran.
"Iya... gue tahu kalau bokap lo dokter," sarkas Zafran. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ya ampun. Sinis amat lo." Ramanda menepuk pundak Zafran. Dia tidak menyangka cowok itu akan memberikan respon seperti itu.
"Gue sekarang serius tahu. Lo suka gue yang serius apa nggak sih?" Zafran merubah posisi duduk menghadap Ramanda. Hal tersebut membuat Rian merasa cemburu. Terlebih dia merasa kalau Zafran diam-diam menyimpan rasa kepada Ramanda.
__ADS_1
"Zaf, lo kenapa bisa sampai jatuh dari tangga? Pas ikut kejuaraan nasional lagi. Random banget, sumpah..." cetus Rian sambil terkekeh. Dia sengaja angkat suara, agar bisa menghentikan interaksi yang terjadi di antara Zafran dan Ramanda.
Zafran mendengus sebal. Ia lebih memilih membuang muka. Dari pada harus menjawab ucapan Rian.
"Namanya juga musibah, nggak ada yang bisa nebaklah, sayang..." Ramanda memberikan jawaban untuk sang kekasih.
"Kamu benar juga ya, sayang." Rian mengusap puncak kepala Ramanda. Dia sengaja melakukannya tepat di hadapan Zafran.
"Kalau mau pamer kemesraan, kayaknya rumah sakit bukan tempat yang tepat deh," celetuk Zafran sembari memutar bola mata jengah.
"Idih! Siapa suruh jomblo. Padahal banyak banget cewek yang suka sama lo tahu! Teman-teman di sekolah gue aja banyak yang tanya tentang lo," sahut Ramanda.
"Udah deh. Bisa nggak kita jangan bahas masalah kejombloan gue?" Zafran berusaha merubah topik pembicaraan. Dia memang tidak suka Ramanda membicarakan tentang lelaki. Tetapi Zafran lebih tidak suka Ramanda menawarkan cewek lain kepadanya.
"Sayang, bentar lagi filmnya di mulai. Kita harus berangkat sekarang. Lagian Zafran kayaknya butuh istirahat. Dia emosi mulu dari tadi," ujar Rian sembari merangkul pinggang ramping Ramanda.
Zafran lagi-lagi membuang muka. "Dasar nggak peka, justru lo yang bikin gue emosi," gumamnya dengan suara begitu pelan. Hingga Rian dan Ramanda tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Apa? Lo ngomong apa, Zaf?" tanya Rian yang berfirasat kalau dirinya sedang di ejek.
"Bukan apa-apa. Ya udah, kalian mending pergi sekarang. Nanti ketinggalan filmnya," saran Zafran. Dia memberikan senyuman palsu kepada Rian.
Dari balik pintu, Fatih dan kawan-kawan datang. Mereka memberitahukan kabar baik. Karena Zafran diperbolehkan pulang dalam beberapa jam lagi. Tepat setelah melakukan tahap pengobatan terakhir.
Ramanda yang mendengar kabar tersebut ikut senang. Setelah itu, dia dan Rian pamit pergi. Kepergiannya membuat Zafran mendengus lega. Sia-sia Ramanda menjenguknya, jika gadis itu datang bersama cowok lain.
"Gue lega banget bisa cepat pulang! Jadi bisa ikut keliling Bali deh," imbuh Zafran kegirangan. Dia mendapat kabar itu dari teman-temannya yang sering berkunjung.
"Iya, nggak seru kalau ada yang nggak ikut," sahut Ayu yang begitu ingin mendapat perhatian Zafran. Kebetulan dia dan yang lain, turut hadir mengunjungi cowok itu. Satu-satunya orang yang tidak terlihat hanyalah Lika.
"Eh, Lika mana? Perasaan dia tadi juga ikut deh." Keyla memperhatikan wajah-wajah semua temannya .
"Katanya dia menunggu di lobi aja. Kayak nggak tahu aja gimana hubungan dia sama Zafran," tanggap Ayu santai. "Bahkan setelah apa yang menimpa Zafran," lanjutnya.
"Jangan begitu deh, Yu. Lika nggak sejahat itu kali!" Fatih melakukan pembelaan untuk Lika.
"Gue malah suka dia nggak ke sini. Lagian gue udah muak lihat mukanya," ucap Zafran sinis. Mimik wajahnya tampak cemberut. Semua teman-temannya hanya saling bertukar pandang.
__ADS_1